
"Cih!" berdecit jijik melihat penghianat di depannya. "Apa gaji yang ku berikan sedikit sehingga kau mencuri uang perusahaan?" ketus Inder menatap tajam penghianat di depannya. "Kembalikan uang itu!" perintah Inder dengan penuh penekanan.
"Ma_maaf Tuan, uang itu sudah saya gunakan untuk membeli ginjal istri saya." ucap pria itu membuat Inder tersentak. Inder menatap Marco seakan meminta penjelasan.
"Pria ini membeli ginjal seorang wanita di pasar gelap Tuan, dan_" ucap Marco terputus. Inder mengangkat satu alisnya menunggu penjelasan selanjutnya. "Ginjal itu milik Nona Laura tuan, istri rival anda, Arsenio." ucapnya membuat Inder tersenyum senang mendengar kabar itu.
"Bravo." ucap Inder kembali bertepuk tangan. Mafia kejam itu bangkit dari duduknya dan berjalan mengelilingi pria penghianat itu.
__ADS_1
Inder mendekatkan tubuhnya pada pria itu dengan senyum devil yang tak pudar. Mata tajam itu menghunus tajam menatap sang penghianat. "Marco, bawah dan siksa istrinya. Itu hukuman karena telah berani membeli ginjal menggunakan uangku!" ucap Inder membuat pria di sampingnya melebarkan kedua matanya. Air mata itu keluar seketika. Dia sangat mencintai istrinya.
Pria itu bersujud di kaki Arsenio memohon agar istrinya di lepaskan. "Tolong jangan ganggu istri saya Tuan. Dia baru sembuh dari sakitnya. Hukum saja saya Tuan. Hiks,hiks." ujarnya dengan air mata yang mengalir deras.
"Kau dengar Marco? dia bersedia di hukum demi istri tercinta nya?" ucap Inder menatap Marco dengan mata tajam yang memerah. "Baiklah, karena aku sedang senang hari ini, aku akan melepaskan mu." ucap Inder tersenyum setulus mungkin. Inder bangkit dari duduknya lalu segera pergi. Sebenar pergi, Inder menghentikan langkahnya sesaat dengan kepala yang menoleh ke arah samping. "Marco." panggil Inder dengan datar. "Berikan rusa kecil itu hadiah!" perintah Inder lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
"A_aku me_men_cin_tai_mu Ka_rii_na." setelah menyelesaikan kalimatnya terakhir nya, pria itupun tumbang dan menutup matanya untuk selamanya.
__ADS_1
Marco berjalan ke arah pria yang sudah tak bernyawa itu dan memastikan jika peluru yang di lepaskan telah berkerja dengan baik. Setelah merasa pria di depannya sudah tewas, Marco segera menyuruh anak buahnya untuk menguburkan jasad penghianat itu.
Di luar sana, terlihat anak buah Inder mengejar seorang perempuan yang tak lain adalah Karina. Wanita itulah yang menerima ginjal Laura. Sebelum suami di tangkap, Rio segera menyuruh anak buahnya untuk membawah Karina pergi. Tetapi naas, anak buah Inder bergerak sangat cepat. Karena tembakan anak buah Inder, mobil yang di tumpangi Karina mengalami kecelakaan. Beruntung wanita itu masih selamat dan sepat melarikan diri dari kejaran anak buah Inder. Anak buah Inder tak henti-henti nya mengejar Karina.
"Tolong, Hiks, hiks." teriaknya sembari menangis. Dia berlari dengan keadaan kaki yang terkilir di sebabkan terjepit kursi mobil. Satu tangannya memegang perutnya yang sakit di sebabkan jahitan operasi. "Tolong,,,hiks, tolong,,," teriaknya frustasi dengan wajah yang terlihat sangat ketakutan. Tubuhnya bermandikan keringat. Wajahnya lusuh dan kusam. Karina berlari dengan kepala yang melihat ke arah belakang. Karena tak melihat arah depan, akhirnya karena menabrak seseorang.
"Bruk." tubuh kotor berkeringat itu masuk kedalam pelukan seseorang. Nafasnya naik turun melihat orang yang menangkap tubuhnya.
__ADS_1