World Lion Mafia

World Lion Mafia
Hukuman Arsenio


__ADS_3

"Lepaskan aku Tuan." mohon Laura tanpa menatap wajah Arsenio.


"Cih, kau sudah mulai berani ya." Arsenio tersenyum mengejek ke arah Laura. Gigi rata nan putih itu terlihat jelas. Jarang sekali gigi itu terlihat, dan dari sekian lama nya, baru inilah terlihat kembali. "Apa yang kau lakukan dengan bedeb*h sial*n itu? huh? Jawab!" ucap Arsenio dengan bentakan di ujung kalimat.


"Aku tak melakukan apapun Tuan." ucap Laura dengan nada sedikit ketakutan.


"Pembohong!" bentak Arsenio tepat di depan semua orang. Pria gila itu tak malu bersikap seperti itu di depan para bawahan nya.


"Berhenti menyentuh ku Tuan." bentak Laura dengan mata tajam menatap Arsenio. Tidak tau dapat keberanian darimana gadis itu. Laura tersadar jika dia sudah membentak Arsenio. Gadis itu refleks menundukkan wajah nya sembari berkata, "Maaf." suara itu terdengar sangat lirih namun masih bisa di dengar Arsenio.

__ADS_1


Para pelayan dan Axel terkejut dengan keberanian Laura. Baru kali ini ada wanita yang berani membentak mafia kejam dan menakutkan itu. Arsenio tersenyum kecut menatap wajah sendu Laura. "Hebat!" ucap Arsenio sembari menepuk tangannya dengan sangat pelan dan elegan. "Aku tidak bisa menetralisir kekurang ajaran mu sayang!" ucapan itu terdengar sangat dingin dan beku. Arsenio menekan ucapan nya di ujung kalimat.


"Axel." panggil Arsenio dengan nada tinggi dan tegas. Tangan kokoh pria itu sudah lepas dari tangan Laura.


Axel yang di panggil pun segera memajukan sedikit tubuhnya lalu berkata, "Iya Tuan." ucap Axel seakan menunggu perintah.


"Pernikahan?" ucap Laura menghentikan langkah panjang Arsenio. Laura menatap tak percaya punggung Arsenio. Arsenio melirik ke samping tampan membalikkan tubuhnya.


"Itu hukuman untuk penghianat seperti mu!" ucap Arsenio lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga. "Antar kan makanan ke kamarku, jangan lupa berikan gadis jelek ini makan. Aku tak ingin dia pingsan karena kehabisan tenaga." ucap Arsenio tanpa menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Aku tak mau menikah dengan mu!" teriak Laura frustasi tetapi tak di tanggapi Arsenio. Jangankan menanggapi Laura, menoleh saja ia enggan.


Pak mun melirik ke arah Nila seakan berkata, 'Bawah Nona Laura ke kamar nya' itulah sekiranya yang di tangkap oleh Nila. Tak ingin Pak Mun marah, Laura segera bergegas mendekati Laura dan membantu gadis itu untuk berdiri. "Mari Nona, saya mengantar anda ke kamar." ucap Nila dengan tangan yang menggandeng tangan Laura.


Setelah Nila dan Laura pergi, Pak Mun melirik para pelayan lain nya seakan berkata, 'Antara makanan ke kamar Nona Laura' seperti itulah yang di tangkap oleh para pelayan. Karena tak ada kerjaan lagi, Axel pergi menuju kamar nya di lantai atas. Kamar Axel bersebelahan dengan kamar milik Arsenio. Axel sengaja memilih kamar yang dekat dengan Arsenio Agar pria itu lebih muda dan cepat ketika Arsenio membutuhkan nya.


Tak lama Axel pergi, kepala pelayan pun segera beranjak pergi menyelesaikan tugas nya yang lain. Ruang tengah itu sepi dan senyap seketika. Kini hanya ada beberapa pelayan yang bertugas membersihkan tempat itu tanpa bersuara.


Di kamar terlihat Laura memeluk tubuh Nila dengan erat. Gadis itu menangis mencurah kan semua isi hati nya. "Nila...Aku tak ingin menikah dengan nya. Hiks, hiks." aduh Laura dengan wajah yang di banjiri air mata. Nila tak bisa berbuat apa-apa selain menenangkan dan mengelus punggung Laura. Bibir Nila bungkam dengan mata yang sedikit berkaca. Seperti nya wanita itu merasakan apa yang Laura rasakan.

__ADS_1


__ADS_2