World Lion Mafia

World Lion Mafia
Amarah Alex


__ADS_3

Vino yang memperhatikan bos nya sendari tadi tak tinggal diam. Dia ikut membantu mencari keberadaan Laura. Vino mencoba bertanya pada sekretaris pengganti, tapi nihil, sekretaris cantik itu tak melihat keberadaan Laura. Vino menghubungi keamanan dan segera mengecek cctv di kantor itu.


"Maaf tuan, kami melihat beberapa menit yang lalu Nona pergi ke lantai bawah, seperti nya Nona ingin membeli makanan di depan kantor." ucap salah satu security.


Alex mencoba menahan emosi nya. Tanpa memerintah siapapun, Alex segera bergegas turun ke lantai bawah. Mafia licik itu menampil kan wajah khawatir dengan langkah yang berjalan menuju pedagang kaki lima. Alex mendekati salah satu pedagang kaki lima. "Pak, apa anda melihat gadis cantik bergaun merah disini?" tanya Alex to the poin pada pedagang bakso.

__ADS_1


"Maaf Tuan, kalau tidak salah, gadis itu tadi membeli martabak bapak ini." ucap penjual bakso sembari menunjuk ke arah penjual martabak.


Tanpa mengucap terima kasih, Alex langsung melangkah kan kaki nya menuju ke arah sih penjual martabak. "Maaf Pak, apa anda melihat gadis cantik bergaun merah? dia membeli martabak anda satu jam yang lalu." ucap Alex dengan wajah yang sangat serius.


"Loh, bukan nya tadi Nona itu sudah di jemput ya sama supir pribadi nya. Tadi kalau tak salah lihat, saya melihat Nona bergaun merah itu masuk ke dalam mobil hitam di ujung sana Tuan." ucap penjual martabak dengan tangan yang menunjuk ke pagar perusahaan.

__ADS_1


"Sama, aku pun juga begitu." ucap penjual martabak tak mau kalah.


Saat ini Alex sudah berada di ruang cctv perusahaan nya bersama Vino, mata elang nya menatap dengan teliti setiap sudut ruangan yang di tangkap setiap cctv. Alex melihat cctv yang mengarah keluar pagar, rahang nya mengeras lalu menghantam meja di depan nya dengan sangat kuat. "Sialan kau Arsenio!" umpat Alex dengan tangan yang sudah berumur darah, di sebab kan menghantam meja kayu yang sangat kuat.


"Apa yang harus kita lakukan tuan?" tanya Vino dengan wajah yang datar nan dingin nya.

__ADS_1


"Ikut ke ruangan ku." perintah Alex dengan tegas lalu berjalan meninggal kan ruangan cctv itu. Tetesan darah di tangan Alex jatuh di karpet yang berada di tengah lorong mewah itu. Tetesan darah itu tak terlihat di sebab kan berwarna sama dengan darah Alex. Tak lama Alex keluar, Vino pun terlihat keluar dan menyusul Alex ke ruangan nya.


Di ruangan nya Alex masih diam dengan tangan yang sedang di perban. Luka di tangan nya sangat lebar dan dalam. Vino sudah menyaran kan pada Vino untuk pergi ke rumah sakit agar luka nya bisa di jahit, namun pria keras kepala itu menolak dan membiar kan tangan nya terjahit dengan sendiri nya. Fikiran Alex saat ini di penuhi dengan Laura. Ia benar-benar sangat marah dan geram.


__ADS_2