Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Jangan pernah kau berniat menggodaku


__ADS_3

Hari akan beranjak sore, Delima keluar dari ruangan pribadi Harin setelah menemaninya bermain. Harin masih tertidur kala itu.


Dilihatnya Harvan dan Jodi tengah berbincang duduk di sofa. Kemudian Delima mendekati mereka dan duduk bersama mereka. Melihat kedatangan Delima keduanya mengarahkan pandangannya pada wanita itu.


“Bagaimana akting saya tuan-tuan?.” Tanya Delima pada kedua pria yang duduk bersamanya.


“Sempurna.” Jawab Jodi.


“Hanya saja begini Delima, sepertinya kita harus melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh kita.” Sambung Jodi.


“Ada apa tuan?.” Tanya Delima penasaran, kemudian Harvan menjelaskan.


“Harin pasti mengharapkan kamu ada di dekatnya setiap hari. Karena dia menganggap kau adalah ibunya yang telah lama menghilang. Delima bisakah kamu tinggal di rumah bersama kami?, pasti sekarang Harin ingin selalu dekat dengan kamu karena dia menganggap bahwa kamu adalah ibunya. Dia pasti ingin tidur denganmu dan apa pun ingin selalu dekat dengan kamu. Hal ini lah yang tidak terpikirkan sama sekali oleh saya. Untuk itu saya meminta sama kamu, agar kamu mau tinggal bersama kami..” jelas Harvan.


Delima terdiam dan berfikir.


“Saya akan menambahkan bayaran pada kamu untuk hal ini, bagaimana?.” Sambung Harvan kembali.


Setelah lama berpikir, akhirnya Delima menyanggupi.


“Baiklah tuan, saya bersedia.” Jawab Delima.


“Oke, kalau begitu, sekarang juga kamu tanda tangani kontrak kerja sama kita.” Kata Harvan.


“Baik tuan!.”


“Jod, urus sekarang Juga.” Perintah Harvan yang berlalu menuju kursi kebangsaannya meninggalkan mereka berdua.


Jodi yang berada di depan laptopnya mengirimkan berkas-berkas digital mengenai perjanjian kerja sama mereka.


“Delima, saya akan kirim berkas perjanjian pada ponselmu, bacalah dengan teliti, jika ada poin yang kurang berkenan, silahkan ajukan keberatan kamu. Kita bisa rundingkan kembali untuk mendapatkan kesepakatan bersama, agar tidak ada pihak yang merasa di rugikan. Jika semua telah kamu baca dan kamu sepakat, silahkan bubuhkan tanda tangan digitalmu pada kolom yang sudah tersedia disana.” Jelas Jodi.


“Baik tuan!.” Jawab Delima yang kemudian membaca berkas yang baru saja Jodi kirimkan ke ponselnya. Ia baca dengan teliti berkas perjanjian itu. Pada saat matanya tertuju pada nominal yang akan ia terima sebagai bayaran kerja samanya, ia tersentak membulatkan matanya.


“Apa?! Ini tidak salah tuan nominalnya?.” Tanya Delima seakan tak percaya.


“Kenapa? Apa masih kurang?.” Tanya Jodi.


“Tidak.. tidak… tuan! Justru ini terlalu besar bagi saya!.” Delima masih dalam keadaan terkejutnya.


“Delima, saya percayakan segalanya padamu. Apa yang akan kamu lakukan untuk putriku mungkin beresiko besar, untuk itu saya harus membayarnya dengan harga yang pantas.” Jelas Harvan.


“Nominal itu untuk kontrak selama 2 tahun, dan setiap bulannya kamu akan mendapatkan kompensasi 1% dari nominal itu, bagaimana?.” Sambung Harvan.


Delima masih terdiam terkesima melihat nominal itu. Kemudian ia berusaha meyakinkan tuannya,


“I-ini semua benar Tu-tuan?.” Delima masih tidak percaya. Bagai mimpi ketiban durian jatuh ia tanyakan itu.


“Kamu masih tidak percaya Delima?!.” Tanya Jodi dengan menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.


“Baiklah, agar kamu merasa yakin. Jod panggil notaris kita sebagai saksi sekarang juga.” Perintah Harvan.


Kemudian Jodi menghubungi seseorang, tak lama seseorang itu masuk kedalam ruangan dan duduk bersama mereka.


“Nah Delima ini notaris yang bekerja sama dengan perusahaan kami, beliau akan menjadi saksi sekaligus akan menangani perjanjian kita, dan jika anda merasa di curangi di kemudian hari, beliau yang akan menyelesaikan segalanya, bagaimana?.” Jelas Jodi.


“Baik tuan, saya setuju dengan perjanjian kita.” Kata Delima lantas menandatangani perjanjian mereka di hadapan Harvan, Jodi dan Notaris itu.


Dan mereka pun bersalaman tanda kesepakatan dari perjanjian kerja sama mereka, yang tertanggal hari ini perjanjian itu mulai di laksanakan.


Setelah mereka sepakat, notaris itu pergi meninggalkan ruangan tersebut, tinggallah mereka bertiga.


“Delima, mulai malam ini kamu tinggal bersama kami di rumah kami.” Jelas Harvan.


“Baiklah tuan, kalau begitu saya akan pulang dulu sebentar, mengambil semua pakaian saya.” Kata Delima.

__ADS_1


“Tidak perlu Delima, kamu tetap tinggal disini, biar Jodi yang akan mengambilnya ke tempat kamu, kamu tinggal berikan saja alamat kamu padanya.” Perintah Harvan.


“Baik tuan! Saya tinggal di kontrakan, alamatnya segera saya kirimkan pada anda.” Kata Delima yang kemudian mengirimkan alamat kontrakannya pada ponsel Jodi.


“Baik Delima, sekarang juga saya akan membawa semua barang-barangmu keluar dari kontrakanmu. Kamu tidak perlu khawatir semuanya akan aman. Apabila ada sesuatu yang sangat rahasia, percayalah semuanya akan terjaga.” Jelas Jodi.


“Tidak ada sesuatu yang penting kok tuan, jadi tidak masalah bagi saya.” Kata Delima.


“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu..” Ujar Jodi.


“Oya Jod, elo langsung bawa kerumah aja, soalnya kita juga sekarang mau langsung pulang ke rumah.” Kata Harvan pada Jodi.


“Oke.” Jodi meninggalkan ruangan itu. Sementara Delima masuk keruangan Harin untuk membawanya pulang bersama dengan Harvan.


Jodi langsung meluncur bersama seseorang menggunakan mobil kantor menuju kontrakan Delima, sementara Harvan menaiki mobilnya bersama putrinya dan Delima.


Di dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Harvan yang mengemudikan kuda besinya memperhatikan Delima di sampingnya yang tengah memeluk putrinya dalam pangkuannya itu.


“Ayah, terima kasih atas kejutannya.” Kata putrinya dengan senyuman kebahagiaannya.


“Iya sayang… kau senang?.” Tanya sang ayah.


“Senang sekali ayah.”


“Ibu, apa kau bahagia?.” Tanya Harin pada Delima.


“Tentu saja sayang, ibu sangat bahagia. Hari ini adalah hari terbahagia ibu karena ibu dapat bertemu kembali denganmu.” Kata Delima dengan pelukan hangatnya. Harvan memperhatikan wanita di sampingnya itu.


Akhirnya mereka pun sampai di kediaman mereka. Melihat penampakan rumah besar yang sangat mewah itu Delima terkagum-kagum dibuatnya.


(Wah… rumah yang sangat luas sekali. Apakah aku mimpi bisa tinggal disini mulai hari ini?. Terima kasih Tuhan kau telah memberikan tempat yang aman buatku.) Bathin Delima.


Mereka bertiga pun memasuki rumah mewah itu. Pada saat orang-orang yang bekerja di rumah itu melihat sosok Delima, mereka semua terkejut karena apa yang mereka lihat adalah sosok nyonya mereka yang telah lama meninggal. Terutama bu Nanah yang sangat terkejut melihat penampakan itu.


Kemudian Harvan membawa Delima yang masih memangku Harin menuju kamar Harin.


“Ya.” Delima menganggukan kepalanya membawa Harin masuk ke dalam kamar tersebut.


Di dalam kamar,


“Ibu tidur disini kan bersamaku?.” Tanya Harin.


“Tentu saja ibu akan tidur menemanimu sayang.” Jawab Harin.


“Lalu ayah kita biarkan tidur sendiri tanpa kita?.” Tanya Harin kembali.


“Iya, kita biarkan saja ayah tidur sendiri.” Jawab Delima.


Di balik pintu Harvan mendengarkan percakapan mereka. Kemudian ia berlalu menuju kamarnya.


Malam telah tiba, waktunya mereka makan malam.


Harvan nampak telah duduk di ruang makan, ia tengah berbincang dengan bu Nanah dan beberapa pelayan, ia menjelaskan bahwa wanita yang mereka lihat adalah seseorang yang mirip dengan istrinya sebagai guru pembimbing putrinya itu.


Semuanya Harvan jelaskan pada mereka. Karena putrinya menganggap bahwa wanita itu adalah ibunya, jadi Harvan memerintahkan pada semua pekerjanya untuk menganggap bahwa wanita itu adalah Intan.


Pada saat mereka melihat Delima turun dari tangga dengan menggendong Harin, mereka pun pergi meninggalkan tuannya.


Harvan menyuruh Delima duduk pada kursi makan di sebelahnya. Ia melihat putrinya telah memakai pakaian tidur sementara Delima masih memakai pakaian yang ia lihat tadi siang.


“Jodi belum kembali ya?.” Tanya Harvan.


“Belum, mungkin sebentar lagi.” Jawab Delima. Kemudian ia mengambilkan nasi dan lauk pada piring Harvan. Harvan sedikit tertegun mengingat bahwa itu lah yang selalu Istrinya lakukan. Ia terdiam sejenak.


Kemudian Delima mengambil makan untuk Harin dan mulai menyuapinya.

__ADS_1


“Ibu, aku sudah mandiri. Aku sudah bisa makan sendiri jadi ibu tidak usah menyuapiku.” Kata Harin.


“Oya? Wow anak ibu sudah mandiri rupanya, tapi ibu ingin menyuapimu malam ini sayang.” Kata Delima.


“Baiklah.” Kata Harin seraya membuka mulutnya.


Tiba-tiba Jodi yang baru datang, mendekati mereka membawa koper berukuran sedang.


“Udah sampai rupanya.” Kata Harvan pada Jodi.


“Di taro dimana nih?.” Tanya Jodi pada Harvan.


“Suruh bu Nanah membawanya ke kamar atas sebelah kamar gue Jod, itu kamar yang sudah di siapkan buat mereka tidur.” Jelas Harvan.


“Oke.” Kemudian Jodi memanggil bu Nanah untuk menyimpan koper Delima ke kamar atas. Lalu bu Nanah membawa koper itu ke kamar bersama salah seorang pelayan.


“Gue ke kamar dulu ya? Capek nih.” Kata Jodi pada Harvan.


“Gak makan dulu?.” Tanya Harvan.


“Gampang, mau mandi dulu, gak enak nih badan pada lengket.” Kata Jodi seraya berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Tinggallah Harvan, Delima dan putrinya di ruang makan tersebut.


“Setelah Harin tidur, datanglah ke ruangan kerja saya di lantai tiga.” Kata Harvan pada Delima.


“Baiklah.” Jawab Delima.


Setelah selesai makan, Delima membawa Harin dalam pangkuannya masuk ke kamar mereka, sementara Harvan berlalu ke ruang kerjanya di lantai tiga.


Di dalam kamar, seperti sudah terbiasa, Delima mengajak Harin bermain dan belajar seperti apa yang Intan lakukan di dalam videonya. Karena memang Delima sudah mempelajari semuanya. Sampai bagaimana cara membuat Harin tidur pun, Delima dapat melakukannya dengan mudah.


Setelah Harin tertidur, delima beranjak dari tempat tidur, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, ia mengenakan gaun tidurnya, lalu merapikan rambutnya.


Di ruang kerja lantai tiga, nampak Harvan tengah fokus di depan laptop pada meja kerjanya.


Terdengar suara pintu di ketuk, ia mempersilahkan masuk dan terlihat Delima masuk ke ruangan kerjanya.


Harvan merasa sedikit gugup saat melihat Delima menghampirinya dengan memakai gaun tidur yang sedikit menerawang menurutnya. Tentu saja membuat pikirannya mengingatkan pada tubuh istrinya.


“Duduklah.” Harvan mempersilahkan Delima duduk pada kursi yang berada di depan meja kerjanya.


“Baik tuan.” Jawab Delima yang lantas duduk pada kursi di hadapan tuannya itu.


“Terima kasih Delima, hari pertama kamu bekerja, sangat memuaskan.” Kata Harvan yang tanpa sengaja matanya tertuju pada dada Delima yang sedikit terbuka.


Menyadari tatapan tuannya pada area dadanya, Delima menutupi bagian dadanya dengan gaun tidur bagian lapisan luarnya.


“Baik tuan terima kasih.” Delima sedikit risih.


Kemudian Harvan menjelaskan dari awal sampai akhir mengenai istrinya sampai menjelang hari kematiannya. Termasuk menjelaskan siapa Selvy, Reyhan dan Revy dan segala sesuatu yang menyangkut kehidupannya.


“Ku harap kau memahami segalanya Delima.” Kata Harvan dengan terus menjuruskan pandangannya pada wanita di hadapannya itu, walau sesekali pandangannya terganggu saat memandang area dadanya.


“Baik tuan!.” Jawab Delima menundukkan pandangannya.


“Baiklah Delima, kembalilah ke kamar putriku.” Perintah Harvan. Lalu delima beranjak pergi dari tempat duduknya menuju pintu keluar, cahaya lampu yang menyoroti tubuhnya semakin jelas menerawang pada pakaian dalam yang ia kenakan, membuat mata Harvan sulit di kendalikan dari tubuh perempuan itu.


Dada nya berdegup kencang kala melihat pemandangan yang ia lihat. Pada saat Delima akan melewati pintu keluar,


“Tunggu Delima.” Kata Harvan, lalu delima menghentikan langkahnya.


“Iya Tuan.” Delima menoleh ke arah tuannya.


“Satu lagi!. Jangan pernah kau berniat mengggodaku! Karena itu tidak akan pernah bisa, aku pastikan itu Delima!.” Kata Harvan menatap wajah Delima.

__ADS_1


Delima mengangguk pelan dan pergi meninggalkan tuan nya yang tengah terpaku memandangi tubuhnya sampai luput dari pandangannya.


❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️


__ADS_2