Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Penyesalan


__ADS_3

Setelah ia meluapkan seluruh emosinya pada Delima, Ia beranjak dari ruang kerjanya menuju kamar putrinya. Ia lihat putrinya tengah terlelap tidur. Ia pandangi ke sekeliling kamar, tidak terlihat siapa pun lagi di sana, ia menyadari Delima sudah pergi dari rumah itu, karena ia mendatangi kamar itu satu jam setelah kepergian Delima meninggalkan rumah tersebut.


Ada rasa sepi dalam dirinya kala ia tak melihat sosok wanita itu lagi. Namun rasa kecewanya mengalahkan rasa cintanya sehingga ia sepertinya tak perduli. Perlahan ia mendekati putrinya dan merebahkan tubuhnya di samping putri kecil itu. Dipeluknya tubuh mungil itu dengan rasa haru. Tak sedikit pun terpikirkan olehnya bahwa putrinya akan mencari sosok ibu pada saat ia terbangun. Yang ingin ia rasakan saat ini adalah ia menemani putrinya yang tengah terlelap sendiri.


Ia menangis dalam diam. Memyesali rasa yang tumbuh dalam hatinya. Hingga tak terasa tangisannya membuai ia ke alam mimpi.


Waktu pun bergulir hingga pajar menyingsing. Putri kecil terjaga dari peraduannya. Ia lihat ke samping kirinya terlihat sang ayah masih terlelap. Namun pada saat ia melihat ke sisi kanan, ia tak melihat sang ibu yang selalu menemaninya tidur.


“Ibu… bu… ibu dimana?.” Panggil Harin. Namun sang ibu yang ia panggil tak menyahut juga.


“Ayah… ayah bangun! Ayaaah.” Teriak Harin. Karena suara nyaring memekik memasuki gendang telinganya membuatnya Terjaga.


“Iya sayang… kenapa?.” Suara serak khas bangun tidur keluar dari mulut sang ayah.


“Mana ibu!.”


DUG dada sang ayah berdegup kala mendengar nama ibu keluar dari mulut sang anak. Ia bingung hendak menjawab apa,


“Ayah… mana ibu? Aku mau mandi sama ibu, kenapa ibu tak ada.” Harin mencari dengan pandangannya ke sekeliling kamar sosok yang ia cari.


Harvan diam masih bingung apa yang harus ia katakan karena jelas dalam ingatannya bahwa semalam ia telah menyuruh Delima untuk pergi dari rumahnya.


“Ibu… ibu… ibu dimana?.” Harin bangkit dari atas tempat tidur berlalu menuju kamar mandi namun tak ia temukan ibu yang di carinya, kemudian ia lari ke dapur tak juga nampak sok yang ia cari,


“Ibuuuu… ibu kemanaaaa.” Harin mulai berkaca-kaca, ia lari ke taman yang biasa ia dan ibunya bermain disana namun tak ia temukan juga.


Harvan yang melihat anaknya mencari sosok ibunya membuntuti kemana anaknya pergi. Ia dalam kebingungan karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sang anak mulai menangis karena ibu yang ia cari tak kunjung ada.


“Ibuuuu… hiks..hiks ibu kemana… ibuuu hua…” Pecah air mata Harin kala itu membuat seisi rumah ramai memburu suara putri kecil tuannya. Terlihat bu Nanah meraih putri kecil itu. Sementara Jodi menuruni tangga sembari memakai dasinya.


“Ada apa ini?.” Tanya Jodi.


“Ini nona kecil mencari ibu nya den.” Kata bu Nanah yang kala itu sudah memangku Harin,


“Coba cari di depan bu,” Kata Jodi yang tidak tahu kalau Harvan sudah mengusir Delima tadi malam.


Jodi mendekati Harvan yang kala itu duduk di atas sofa ruang tengah dengan kedua tangannya menggenggam kepalanya.


“Har, kemana Delima?.” Tanya Jodi. Tapi Harvan diam membisu.

__ADS_1


“Har! Elo gak denger apa! Kemana Delima? Itu anak elo nangis kejer nyari Delima.” Ujar Jodi.


Perlahan Harvan mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya pada Jodi. “Gue udah menyuruhnya pergi tadi malam Jod.”


“Apa!! Elo ngusir dia Har?!!.” Sentak Jodi, Harvan mengangguk pelan dengan mata yang berkaca-kaca.


“Elo sudah gila!? Kenapa elo usir dia Har?.” Jodi terhenyak.


“Gue emosi saat elo kirim informasi tentang dia yang di cari polisi Jod, gue langsung datangi dia di kamar dan mengusir nya.” Dengan mulut bergetar ia mengatakan itu.


“Elo gila!! Kenapa elo setega itu Har! Elo gak mikirin perasaan anak elo hah! Gue kan udah wanti-wanti ke elo jangan dulu gegabah! Informasinya belum jelas, belum tentu juga dia yang bunuh itu pengusaha! Bener-bener elo jahat Har, elo biarin Delima tengah malam keluar rumah! Bagaimana kalau dia bukan pembunuhnya! Siapa tahu semua ini fitnah yang di lontarkan padanya! Gue bilang elo cukup diam dulu, biarkan gue yang urus ini semua, elo gak denger apa yang gue omongin Har!.” Jodi sedikit emosi melihat kelakuan Boss nya itu.


Sementara Harvan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Entah apa yang kini ada dalam pikirannya.


“Sekarang elo mandi dulu sana, kita cari Delima. Mudah-mudahan dia belum jauh.” Kata Jodi.


Harvan tak berbicara apa-apa, ia beranjak dari duduknya melangkah menuju kamarnya.


“Bener-bener ini orang gak mikir. Apa sebenarnya yang ada di dalam pikirannya.” Gumam Jodi.


Kemudian Jodi melangkah ke depan rumah dimana bu Nanah tengah menenangkan Harin dalam pangkuannya.


“Gak mau… hua… aku mau ibu, aku mau mandi sama ibu hua..” Harin nangis kejer.


“Mungkin Ibu lagi olah raga sayang.. nanti kita cari di taman ya, yuk sekarang mandi dulu.” Bujuk Jodi.


Mendengar bujukan Jodi, Harin sedikit tenang. Kemudian Jodi membawa ke dalam pangkuannya dari bu Nanah untuk membawanya mandi.


“Den biar saya saja yang memandikannya, aden sudah rapi nanti bajunya basah.” Kata bu Nanah.


“Baiklah bu. Sayang mandi sama nena ya?.” Jodi membujuk Harin agar mau mandi dengan bu Nanah.


Lalu bu Nanah membawa Harin berlalu dari tempat itu untuk membawanya mandi.


Sementara Jodi merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang. “Ren tolong cariin orang hilang ya? Nanti datanya gue kirim.” Jodi bicara melalui sambungan ponselnya. Kemudian ia memutuskan sambungannya dan mengirim data Delima pada orang tersebut.


Ia berjalan menuju ruang makan dan sudah terlihat Harvan disana. Kemudian ia duduk pada kursi di sebrang Harvan. Tanpa bicara ia menyantap sarapannya.


“Kenapa diam! Ayo makan, karena kita butuh energi ekstra hari ini.” Kata Jodi. Kemudian Harvan menuruti apa yang dikatakan Jodi.

__ADS_1


“Sorry Jod gue gak denger omongan elo, gue kebawa emosi.”


“Nyesel gue ngomong ke elo, tahu gitu gue gak akan kasih tahu elo. Elo tahu gak info itu kapan gue dapat? Minggu yang lalu kalau elo pengen tahu. Gue tahan selama seminggu karena gue takut saat elo dengar elo gak kontrol.” Jelas Jodi.


“Gue nunggu saat yang tepat buat bilang semuanya ke elo, gak tahu nya gue salah, kemarin bukan saat yang tepat buat nyampein semuanya itu. Sekarang udah terlanjur dia pergi, mau gimana lagi.” Kata Jodi datar sembari menikmati sarapannya.


“Kemana Delima pergi ya Jod? Gue nyesel udah usir dia.”


“Mana gue tahu! Sekarang gue mau nanya ke elo! Penyelidikan Delima mau di lanjutin gak? Kalau gue mah terserah elo, dilanjut ayo, gak dilanjut juga gak apa-apa. Orang nya juga udah gak ada.”


“Elo jangan gitu sama gue dong Jod, jangan bikin gue merasa tambah bersalah.”


“Lagian elo gak mau denger omongan gue sih. Elo tuh egois sekarang Har, cuma mikirin perasaan elo aja tanpa mikirin perasaan orang lain terutama putri elo. Kenapa gue tahan-tahan gak ngomong langsung ke elo? Karena gue mikirin dampaknya. Sekarang begini kan jadi nya. Sekarang terserah elo deh, gue lepas tangan.” Kesal Jodi.


“Jod gue minta maaf sama elo, oke gue salah dan gue nyesel, bantu gue cari Delima, gue mau minta maaf sama dia, gue gak akan bikin dia kecewa lagi. Apa pun tentang dia gue akan hadapi, sekali pun memang dia seorang pembunuh gue akan mengerti karena semua pasti ada alasannya.”


“Kenapa elo gak mikir gitu dari awal Har, coba kalau elo berpikir jernih gak akan semua ini terjadi.”


Di tengah obrolan mereka Harin datang dalam pangkuan bu Nanah. Terlihat Harin masih sesegukan dan terlihat sedih.


“Sayang.. kita cari ibu ya? Maaf ayah lengah gak jagain ibu dengan baik.” Harvan meraih tubuh putrinya dari pangkuan bu Nanah.


“Sekarang kamu sarapan dulu ya sayang.” Kemudian Harvan menyuapi sang putri.


Setelah mereka selesai sarapan akhirnya mereka meninggalkan ruang makan menuju kuda besi mereka di halaman depan.


Dalam perjalanan.


“Kita nyari kemana Jod?.” Tanya Harvan sedikit berbisik agar tak terdengar oleh putrinya.


“Gue udah suruh orang nyari, jadi elo tenang aja, kita tinggal tunggu kabar aja, sekarang kita ke kantor ada meeting jam 09.00 WIB.” Jawab Jodi.


“Terus kalau dia nanya gimana?.” Harvan mengisyaratkan dengan melirik putrinya yang berada dalam pangkuannya.


“Itu urusan elo, gimana caranya elo bisa jelasin sama dia agar dia ngerti kalau emaknya akan kembali. Lagian ini kan gegara elo jadi elo tanggung sendiri.” Jodi masih kesal akan apa yang telah di lakukan Harvan.


Sementara Harvan diam. Ia menyadari akan kesalahannya itu.


💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔

__ADS_1


__ADS_2