Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Malam pertama Sang Pendekar wanita


__ADS_3

WARNING!!!


Mengandung Konten 21+


Harap Bijak Menyikapinya!.


Dirumah mewah kediaman Harvan.


sore itu orang-orang tengah sibuk dengan aktivitas yang berbeda dari biasanya. Pasalnya sang Tuan rumah dan calon istrinya hendak kembali pulang ke istana megahnya.


Ibu dan Bapak si Tuan rumah sudah tidak sabar menunggu kedatangan anak dan calon menantunya. Kali ini Bapak dan Ibunya kebetulan tidak sedang sibuk, jadi bisa menyambut kepulangan anaknya.


Terdengar suara gerbang dibuka dan mobil mewah milih sang Tuan pun memasuki gerbang melaju ke parkiran depan.


Sang Tuan rumah keluar dari mobilnya dengan menggandeng wanita cantik nan menawan, di ikuti oleh si pengendali kendaraannya.


Riuh ramai sambutan dari orang rumah. Bergegas sang Ibu menghampiri wanita yang digandeng anaknya seraya memeluknya dengan suka cita.


“Selamat datang kembali ke rumah, Intan kesayangan Ibu.” Kata Ibu dalam pelukannya.


“Iya Ibu, terima kasih.. aku sayang Ibu.” Jawab hangat Intan.


Sang Bapak pejabat pun bergegas memeluk anak tampan semata wayangnya.


“Selamat datang kembali dirumah anakku.” Kata Bapak dengan tegas.


“Iya Pak terima kasih.” Jawab anaknya.


Setelah mereka saling berpelukan, mereka duduk bersama diruang tengah. Tak lupa para pekerja pun datang satu persatu menyalami Tuan dan calon istrinya. Yang paling terharu adalah Bu Nanah si pelayan senior yang melihat nona cantiknya seraya memeluk erat.


Ibu, Bapak, Harvan, Intan dan Jodi, duduk diruang tengah. Melepas rindu dengan berbincang.


“Bagaimana perjalanannya?.” Tanya Sang Bapak.


“Alhamdulillah Pak lancar Jaya.” Jawab Sang anak.


“Intan, bagaimana rasanya setelah di operasi wajah kamu Nak?.” Tanya Bapak.


“Alhamdulillah sekarang gak sakit lagi.” Jawab Intan.


“Waktu awal-awal sih masih terasa sakitnya.” Jawab Intan lagi.


“Iya, pasti kebayang sakitnya seperti apa ya?.” Komentar Ibu.


“Bayangkan coba itu wajah disayat-sayat, ibu aja ada jerawat satu sakitnya gak tahan.” Kata Ibu kembali.


“Ah Ibu, memangnya waktu wajah disayat-sayatnya gak pakai anestesi apa!.” Jawab Harvan.


“Bu, kalau wakah calon menantu ibu itu waktu dioperasi gak pakai bius, saya yakin ruang operasinya bakal hancur lebur melebihi kapal pecah hahah.” Kata Jodi ngakak.


“Hah! Masa sih sampai sebegitu nya? Paling juga menantu Ibu yang meraung-raung nangis kejer.” Kata Ibu.


“Yah ibu gak tahu sih, tadi saja ditengah jalan waktu kita mampir makan, ada orang yang tersakiti, diobrak abrik tuh orang yang nyakitinnya sama calon menantu ibu. Tiga orang jadi pasien tuh kayaknya haha.. apalagi kalau dirinya sendiri yang disakitin, udah deh gak kebayang itu lawan jadinya seperti apa, haha.” Kelakar Jodi.


“Ah masa sih? Benar itu Intan?” Tanya Ibu penasaran.


Intan hanya tersenyum malu.


“Makanya nanti kalau Ibu mau kemana-mana gak usah bawa ajudannya Bapak, ajak saja menantunya dijamin aman haha.” Kelakar Jodi kembali.


“Tapi memang gak heran sih, Bapak percaya itu, soalnya, dulu juga ayah nya memang jagoan, kalau Bapak ada masalah, yang bikin masalahnya suka dikejar sama ayahnya Intan.” Ujar Bapak.


Ya memang ayahnya Intan dan Bapaknya Harvan adalah dua sahabat seperjuangan. Mereka sekolah di Perguruan tinggi yang sama dan tugasnya pun sama-sama menjadi Pejabat Pemerintah Pusat. Jadi hubungan mereka sangat dekat layaknya saudara.


Tapi sayang karena kejadian nahas itu mengubah kehidupan dua keluarga ini.


“Oya Intan, maaf kalau Bapak bertanya tragedi yang sudah lalu. Bapak masih penasaran, itu bagaimana awal mula kejadiannya, bisa sampai terjadi kecelakaan?.” Tanya Bapak.


“Iya Pak gak apa-apa. Saat itu kami sampai di Pelabuhanratu, bahkan kami sudah cek in hotel tempat kami menginap. Kemudian kami penasaran pada satu objek wisata yang sangat bagus kata orang-orang. Namanya Puncak Habibie. Sore hari kami berangkat bersama. Kami tidak tahu kalau jalanan kesana banyak tanjakan curam. Mungkin ayah belum terbiasa dengan medan terjal seperti itu. Dan tidak bisa menguasai. Pada saat kita mencapai tanjakan curam yang memiliki belokan tajam, ayah tidak bisa mengendalikan mobil, akhirnya mobil kami melesat kedalam jurang. Ayah, Ibu dan Adik terpental keluar mobil didalam jurang itu, sementara aku berada didalam mobil yang sudah terbakar. Sampai pada akhirnya, aku merasa ditarik seseorang dan sudah tidak sadarkan diri.” Intan menceritakan kejadian nahas itu.


Tak terasa air matanya mengalir. dan cepat-cepat Ibu memeluk Intan.


“Maaf ya Intan, Bapak membuat kamu bersedih.” Ujar Bapak.

__ADS_1


“Tidak apa-apa Pak. Saya hanya teringat Ayah dan Ibu juga Adik saja.” Jawab Intan lirih.


“Sudah jangan dipikirkan lagi ya Nak. Ada Ibu dan Bapak disini, ada Harvan juga yang akan menjagamu. Maaf waktu itu, ibu terpaksa menikahkan Harvan dengan Selvy, kami terpaksa karena kejiwaannya terguncang kala itu. Kami berpikir mungkin dengan menikahkannya akan menjadi obat bagi depresinya. Kami sudah menyerah mencari keberadaanmu, tapi tidak dengan Harvan, Justru pernikahan itu malah membawa bencana berkelanjutan. Maafkan Ibu.” Kata Ibu dengan suara lirihnya.


Kedua wanita itu menangis saling berpelukan. Harvan, Bapak dan Jodi hanya diam menyaksikan keduanya. Kemudian Bapak berdiri, lalu masuk ke kamarnya, tak lama keluar lagi dengan membawa sebuah map berwarna merah.


“Nak Intan. Maaf, Bapak baru sempat menyampaikan Amanat ini. Didalam map merah ini adalah dokumen peninggalan Ayahmu Nak. Didalamnya ada Sertifikat Rumah yang kalian tempati dulu, kemudian Surat Tanah dan Bangunan milik keluarga kalian, serta Surat-Surat berharga lainnya. Entah kenapa dulu sebelum kalian berangkat wisata, Ayahmu menitipkannya pada saya.” Jelas Bapak.


FLASHBACK ON


Ayah Intan : “Kang, saya nitip surat-surat berharga saya ya sama akang. Saya mau pergi wisata sama keluarga.”


Bapak Harvan: “Loh, kenapa di titipin ke Saya? Masukan saja ke brankas.”


Ayah Intan : “Ini juga asalnya dari dalam brankas Kang, cuman saya ingin Akang yang pegang dulu, saya rasa ditangan akang berkas ini aman.”


Bapak Harvan : “Kamu tuh aneh-aneh aja ya.. ya sudah sini saya simpan.”


FLASHBACK OFF


Kemudian Bapak menyerahkan map merah itu pada Intan, lalu Intan pun menerimanya dengan penuh rasa haru.


“Oya, lalu kapan kalian akan melangsungkan pernikahan Har?.” Tanya Bapak.


“Gimana baiknya ya Pak?.” Tanya Harvan.


“Loh kok malah nanya sama Bapak.” Kata Bapak.


“Ya, kalau aku sama Intan sih ingin secepatnya Pak, cuman kan aku minta pendapat Bapak sama Ibu dulu.” Ujar Harvan.


“Kalau Bapak sama Ibu, bagaimana baiknya kamu saja Har, lagi pula nunggu apa lagi sih?.” Kata Ibu.


“Tapi maunya Intan, kita akad aja dulu Bu, mengingat masalah kemarin masih menggantung, kalau Resepsi kita pikirin lagi belakangan yang penting halal dulu.” Jelas Harvan.


“Ya sudah kalau begitu mau nya, Bapak sama Ibu setuju-setuju saja.” Kata Bapak.


“Baiklah kalau begitu, kepada Bapak dan Ibu saya mohon ijin dan doa restunya, saya berencana minggu depan melaksanakan akad nikah dirumah ini. Yang kumpul keluarga inti saja. Jodi sudah siap mengurusi administrasi besok.” Jelas Harvan.


“Ya sudah kalau begitu semuanya sudah jelas kan ya. Ibu sama Bapak mau pamit pulang.” Kata Ibu.


“Loh Bu, kok pulang? Kenapa gak nginep saja.” Kata Harvan.


“Besok pagi-pagi Ibu harus berangkat mendampingi Bapak ke Lombok, tiga hari kita disana, Ibu belum packing Nak.” Jelas Ibu.


“Iya Har, mau nya sih kita juga nginap disini, tapi Tugas Negara menanti. Mungkin lain waktu saja. Ya sudah kita pamit dulu ya. Kalian baik-baiklah di rumah ini. Bapak akan kosongkan jadwal hari Minggu di waktu pernikahan kalian.” Jelas Bapak.


“Yah sudah, hati-hati ya Pak… Bu.” Kata Harvan seraya menyalami Ibu dan Bapaknya disusul oleh Intan dan Jodi.


Akhirnya Bapak dan Ibu nya Harvan pun meninggalkan kediaman mereka. Harvan, Intan dan Jodi, mengantarkan ibu dan Bapak ke teras depan sampai mereka memasuki mobil mereka. Lalu mobil mereka pun berlalu meninggalkan kediaman Harvan.


“Acie..cie… yang tongkat komando nya siap dihentak-hentakan.” Goda Jodi pada Harvan dengan senyum-senyum.


“Sialan luh!.” Geram Harvan yang melayangkan tinjunya pada tangan Jodi.


“Sayang, aku mau ke kamar dulu ya istirahat.” Kata Intan yang berlalu pergi menuju kamarnya.


“Ya, mimpi yang indah.” Jawab Harvan.


“Ya udah, gue juga balik ya Har, mau istirahat juga, besok kan mau ngurusin administrasi akad elo.” Kata Jodi.


“Oke, makasih ya Jod.” Ujar Harvan.


Dan mereka pun menyelamatkan dirinya masing-masing dari kegelapan malam. Jodi berlalu meninggalkan rumah itu. Lalu Intan sudah masuk kedalam kamarnya. Dan Harvan pun memasuki kamar tidurnya.


*


*


Waktu pun bergulir dari hari ke hari. Mentari menyambut indahnya pagi. Malam pun menyambut datangnya rembulan dan bintang gemintang. Sampailah pada hari yang ditunggu-tunggu, yaitu hari dimana dua insan akan dipertautkan dalam ikatan suci pernikahan. Yang disaksikan oleh kesucian Sang Maha Cinta dan Malaikat-malaikat-Nya.


Pagi itu rumah kediaman Harvan telah dihiasi dengan bunga-bunga potong yang segar dan wangi. Tidak banyak tenda-tenda layaknya pesta pernikahan. Kedua mempelai menginginkan interior yang sederhana tapi mewah. Karena Akad Nikah yang digelar hanya disaksikan oleh kerabat dekat saja. Mungkin kurang dari 100 orang tamu yang menghadiri.


Disudut kamar pengantin, nampak Calon Pengantin Wanita duduk diranjang pengantinnya, dengan riasan yang sederhana namun elegan, tubuh indah nan langsing itu dibalut kebaya tradisional adat Sunda yang kental dengan bunga melati kuncupnya. Warna kebaya putih yang ia kenakan begitu serasi dengan paduan kain yang menutupi kaki mulusnya.

__ADS_1


Sementara dikamar lain nampak calon pengantin pria tengah berdiri gagah berani, tampan rupawan dan karismatik. Bibir tipis, Sorot mata tajam terpercaya membuat setiap mata luluh menatapnya. Tubuhnya yang tinggi atletis di balut dengan pakaian pengantin pria adat Sunda yang senada dengan calon mempelai wanita. Sungguh pasangan yang sangat serasi.


Waktu Akad pun tiba,


Raja dan Ratu tengah duduk berdampingan. wejangan dari Tetua Keluarga tengah dilantunkan, Setelah Kasepuhan menyampaikan petuahnya. Tibalah saatnya mempelai pria mengucapkan Ijab Kabul.


SAH… SAH…SAH


Menggema berdengung diseluruh ruangan di rumah mewah itu. Haru tangis bahagia, rasa syukur bercampur menjadi satu.


Tamu kerabat dekat dan keluarga silih berganti mengucapkan selamat dan berdoa untuk pasangan terbahagia.


Hidangan penggugah selera berjajar rapi di taman rumah yang luas itu. Berbagai macam pemuas nafsu lapar dan dahaga terpampang nyata disana, melambai-lambaikan baunya yang menggoda, yang siap disantap oleh siapapun mata yang menginginkannya.


Tak terasa hari pun beranjak senja. Tamu keluarga dan kerabat dekat, satu persatu mengundurkan diri hendak kembali ke peraduannya masing-masing.


Tinggal lah di rumah sang pengantin itu menyisakan orang-orang rumah yang biasa bekerja disana.


Sang pengantin wanita telah memasuki kamarnya. Sementara pengantin pria dan asistennya, juga beberapa pengawal tengah bersenda gurau ditaman samping rumah yang dijadikan tempat jamuan penggugah selera.


Kesetiaan antara Tuan, asisten dan juga pengawal selalu terlihat pada kebersamaan mereka. Mereka selalu menjagaTuannya siang malam. Dan sampailah pada saat dimana Tuannya beranjak pergi meninggalkan mereka setelah saling mengisi canda tawanya.


Pengantin pria dengan gagah berani memasuki kamar pengantinnya. Deru nafas mengiringi jiwa dan raganya kala melihat sang pengantin tengah tertidur cantik diranjang indah. Wangi kelopak bunga bunga mawar yang bertaburan menggugah nafsu birahi dengan kesempurnaan tubuh indah berbalut gaun malam yang menerawang terhampar disekitarnya.


Sang pengantin pria mendekat duduk di samping raga indah yang menggoda. Dibelainya rambut panjang nan indah, disentuhnya wajah cantik dengan jemari-jemari kokohnya.


Perlahan bibir tipis sang pengantin pria menyusuri bibir merah delima sang pengantin wanita.


Terasa manis dan ranum. Di pautnya bibir indah itu dengan bibirnya. Semakin dalam semakin gairah membuncah. ******* liar menjalar semakin tak terkendali. Menyusuri indah lekuk dagu dan semakin ke bawah. Sampai pada dada yang menggoda. Dikecupnya perlahan dada yang menggoda itu dengan deru nafas yang semakin tak terkendali.


Sang pengantin wanita usik dalam keadaan masih tak sadar. Kembali bibir sang pengantin gagah meraup bibir merah delima dengan penuh nafsu birahi yang semakin dalam semakin liar tak terkendali, memghipnotis Indra lain untuk meremas dada yang menggeliat. Tiba-tiba sang pengantin wanita merasa terusik masih dalam ketidaksadarannya.


BUG


Pengantin wanita itu menyerang suami tercintanya. Dengan jurus serangan delapan penjuru mata angin.


Sang pria terpental jauh, tubuhnya jatuh menabrak TV lead dikamarnya, memekik kesakitan


PRANG… DUG… AAH… HIAAT


Masih dalam ketidaksadarannya, Sang Pengantin wanita menyerang pada pengantin Pria yang terkapar dilantai. Menyerang dengan lompatan dan mengeluarkan jurus kuncian untuk menahan perlawanan. Dagu dan leher sang pria di kunci dengan jurusnya.


“Sayang.. hey… sayang… ah.. aw.. sadarlah.!” Seru Harvan pada Istrinya.


Sementara di lantai bawah, para pengawal dan asisten dikejutkan dengan suara gedebag gedebug dari kamar pengantin.


“Hah! suara berisik apa ya?” Pengawal A.


“Entahlah berisik sangat ya?.” Pengawal B.


“ Hey, Tuan kita itu lagi malam pertama, ternyata Tuan ganas juga ya di ranjang..hehe.”pengawal C.


“Begitulah kalau menikah dengan pendekar wanita hahaha.. senangnya maen kasar.. biar tambah bergairah hahah.” Kata Jodi.


“Amazing gairah mereka ya haha.” Pengawal D.


“Rrruuuuarbiyasahh hahah.” Kelakar Jodi.


“Tapi saya curiga, sepertinya terjadi sesuatu deh. Kita lihat saja yuk” Pengawal B.


“Eh, hus jangan! Ganggu itu namanya.”A.


“Eh, coba dengarkan baik-baik, sepertinya ada suara rintihan.”Pengawal B.


“Ssssstt itu rintihan kenikmatan hahah.” Gelakgak Jodi.


Tiba-tiba saja mereka mendengar teriakan!


BERSAMBUNG


🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗


Pendekar wanita KDRT😀😀😂

__ADS_1


__ADS_2