Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Rencana yang Matang


__ADS_3

WARNING!!!


Mengandung Konten 21+


Harap menyikapi isi kontennya dengan Bijak!


Disebuah tempat yang entah dimana, nampak sosok pria tergesa-gesa memasuki sebuah rumah sederhana. Dialah Reyhan yang tengah memasuki rumah persembunyiannya disebuah Kota kecil yang jauh dari Ibu kota.


Reyhan memasuki rumah itu karena seseorang tengah menanti nya di dalam.


“Gimana? Informasi apa yang sudah elo dapat?.” Tanya Reyhan pada seseorang itu yang ia suruh untuk mencari informasi mengenai Harvan.


“Informasi yang gue dapat pastinya berguna buat elo dong.” Jawab seseorang itu.


“Makanya! Cepat elo sampaikan sama gue, gue sudah gak sabar nunggu nih.” Desak Reyhan.


“Tenang dong Boss, bayarannya saja belum.” Kata seseorang itu.


“Heh! Arman! Elo jangan macem-macem sama gue ya?! Gue akan bayar elo kalau informasi itu sudah elo kasih sama gue! Sekarang cepat apa yang mau elo sampaikan sama gue!.” Desak Reyhan.


“Oke Boss, slow dong. Begini Boss informasi yang gue dapat. Harvan sekarang sedang bahagia karena dia sedang menantikan anak yang dikandung istrinya, Istrinya tengah hamil muda. Sekarang Istrinya sedang di rawat di Rumah sakit karena lagi ngidam.” Jelas Informan tersebut.


Mendengar informasi tersebut sontak Reyhan tertawa bahagia.


“Haha.. informasi yang sangat bagus! Kali ini tidak hanya dua orang yang akan jadi korban gue tetapi tambah lagi satu haha.. ini akan membuat si brengsek itu jauh lebih sakit jika anaknya yang gue bunuh terlebih dahulu haha.” Tawa Reyhan menggelegar.


“Terus, ada informasi apa lagi?.” Sambung Reyhan.


“Untuk sementara hanya informasi itu saja yang bisa gue sampaikan Boss!.” Jawab Arman sang Informan.


“Oke, gue tunggu informasi selanjutnya, nih bayaran buat elo!.” Kata Reyhan seraya melempar amplop coklat pada Arman.


“Siap! Haha.. terima kasih Boss.” Ucap Arman seraya mencium amplop tersebut dan berlalu meninggalkan Reyhan.


Dengan mimik bahagia Reyhan mengumpat.


“Haha.. dengar Harvan! Kali ini gue gak mau gagal lagi. Gue akan rencanakan semuanya dengan matang. Gue gak akan gegabah lagi. Bersenang-senanglah kalian sekarang, tunggu sampai saatnya kalian menangis darah karena kehilangan anak yang kalian idam-idamkan, anak kalian dipastikan akan mati mengenaskan haha.” Umpatan Reyhan.


Reyhan tertawa dengan menggelegar di rumah sederhana itu. Informasi yang ia dapat seolah menjadi ide baru untuk melancarkan kejahatannya.


Kita tinggalkan Reyhan dengan rencana jahatnya.


*


Sementara itu di sebuah Presiden Suite Room salah satu Rumah sakit terbaik di Ibu kota. Terlihat sepasang suami istri yang tengah bercengkrama.


“Sayang, kapan infus nya mau di lepas?.” Tanya sang Istri.


“Infus itu akan dilepas kalau kamu sudah bisa makan lagi dengan normal sayang.” Jawab sang Suami.


“Tapi kan aku sudah mulai bisa makan kembali sayang.” Kata sang Istri.


“Iya. Tapi belum banyak makannya, makanya makan yang banyak biar infusnya bisa dilepas.” Ujar sang Suami.


“Ya sudah kalau begitu.” Kata sang Istri.


“Sabar ya Sayang.” Ucap sang suami seraya mengecup kening sang Istri.


Lama Harvan menciumi kening Istrinya, dengan perlahan ciuman itu mengarah pada bibir merah delima. Kemudian kedua bibir itu saling berpaut mesra.


“Sayang, sepertinya calon anak kita ingin di tengok sama ayahnya.” Bisik Harvan pelan pada telinga istrinya. Tak ada jawaban apapun dari sang Istri, hanya tatapan mesra seperti sebuah kode bahwa ia pun menginginkan hal yang sama dengan sang Suami.


Dengan kecupan lembut dari Sang istri membuat Harvan bergelora tak tahan lagi dengan nafsu yang mulai memanas. Dipautnya kembali bibir merah delima sang Istri, semakin dalam dan semakin tak tertahan. Perlahan ia mengangkat tubuhnya pada velbed tempat Istrinya berbaring.

__ADS_1


Semakin dalam cumbu yang bergejolak pada keduanya, hingga birahi tak terbendung lagi. Perlahan ia lepaskan pakaian dalam sang istri dengan di iringi cumbuan yang kian menderu. Tongkat komando yang semakin tak terkendali pun memaksa masuk pada kuncup kenikmatannya.


Suara mesra bersahutan pun tak terelakan mengiringi gairah terdalam mereka, semakin dalam dan semakin cepat tarik ulur diantara mereka hingga buncahan hangat meluluh lantakan peluh mereka berdua yang membuat tubuh lemas seakan pasrah.


*


Sementara itu di halaman rumah sakit, nampak sang asisten Jodi dan Istrinya bergegas masuk hendak menuju lantai President Suite Room, setelah mereka sampai didepan pintu.


“Jangan diketuk, langsung saja kita masuk takutnya mengganggu mereka.” Kata Vivi.


“Iya ya nanti mereka terbangun.” Ujar Jodi sang Suami. Yang dengan pelan membuka pintunya.


Tetapi baru saja mereka membuka pintu, terdengar suara si pasien dengan suaminya saling bersahutan merdu melepaskan gairah.


“Ssstt.. jangan bersuara.” Bisik Jodi nyaris tak terdengar pada Istrinya.


“Kenapa?.” Tanya istrinya yang sama-sama berbisik.


“Itu pasieun nya lagi di suntik.” Bisik Jodi


“Hihi.. sempat-sempatnya ya mereka tempur di atas velbed.” Kata Vivi yang dengan langkah pelan mengendap duduk di sofa.


“Mungkin karena sudah tidak kuat menahan gairah hehe.” Ujar Jodi masih dengan suara berbisik.


“Sayang, lama-lama kita dengar mereka jadi pengen ya hihi.” Kata Vivi


“Iya sayang sama, ini tongkat komandoku jadi berdiri mendengar suara mereka hehe.. bener-bener ini sih siaran langsung sayang.” Ujar Jodi.


“Saking mereka konsentrasi sampai tidak menyadari kalau kita ada disini ya hehe.” Bisik Vivi.


“Iya, aduh sayang aku gak kuat dengar suara mereka, mending kita keluar dulu yuk, nanti balik lagi kesini, sepertinya aku juga pengen mantap-mantap.” Kata Jodi menarik tangan Istrinya.


“Lama lagi waktunya kembali kesini, kalau kita pulang dulu sayang.” Jelas Vivi berbisik.


“Kita di mobil aja yuk ah, udah gak kuat nih sayang.” Bisik Jodi seraya menarik tangan istrinya keluar dari ruangan itu.


“Ah gila memang tuh Pendekar wanita sama Pangeran Harvan, sempet-sempetnya ya mantap-mantap di siang bolong, mana suara mereka keras lagi, hadeuh bikin kita *****.” Gerutu Jodi.


“Iya sayang, aku sampai ngebayangin kalau kita yang berdua disana hehe.” Balas Vivi.


“Ah udah yuk ah kita ke mobil udah gak kuat nih.” Tarik Jodi pada Istrinya.


“Eh sayang, gila aja kali ya, masa kita mau ngelakuin di mobil sih, entar ketahuan orang loh, di sangkanya kita lagi mesum.” Tolak Vivi.


“Terus bagaimana dong sayang, aku bener-bener udah gak kuat nih, ini gegara duo angin ribut itu ah.” Kesal Jodi.


“Ya udah kita ke hotel terdekat sini aja ya sayang, ayo.” Ajak Vivi.


Dan mereka pun dengan tergesa menaiki mobilnya menuju hotel terdekat.


*


Sementara itu di dalam Presiden Suite Room, dimana Harvan dan Intan masih menyatu pada velbed ruangan itu. Mereka saling berpelukan dengan kondisi yang sudak tak karuan.


Perlahan Harvan membuka matanya dan semakin mendekap erat Istrinya. Dikecupnya kening Istrinya itu yang tengah terlelap. Pada saat ia melihat kearah tangan istrinya, ia melihat penampakan bercakan darah pada seprei. Ternyata tanpa mereka sadari pergulatan mereka mengakibatkan jarum infus di tangan Intan terlepas. Sontak Harvan terkejut dan bergegas merapikan dirinya dan merapikan tubuh Intan kemudian ia menghubungi perawat jaga melalui Nurse Call.


Tak lama salah seorang perawat memasuki ruangan mereka.


“Maaf pak, ada yang bisa saya bantu.” Tanya perawat yang masuk.


“Maaf suster, itu jarum infus Istri saya terlepas.” Ujar Harvan sedikit panik.


“Oh baiklah akan saya pasang kembali.” Kata perawat itu.

__ADS_1


Kemudian perawat itu memasangkan kembali jarum infus pada tangan Intan. Perawat itu tidak banyak bertanya pada mereka, kenapa jarum itu bisa terlepas, sepertinya perawat mengerti apa yang telah terjadi diruangan itu.


“Nanti akan ada yang datang menggantikan seprei nya ya Pak.” Kata perawat.


“Iya Suster, terima kasih.” Ujar Harvan.


“Baiklah Pak saya permisi dulu, jarum nya sudah terpasang kembali, mari Pak.” Kata Suster itu dengan ramah kemudian berlalu meninggalkan mereka.


“Sayang, tanganmu bagaimana? Sakit tidak?.” Tanya Harvan pada Istrinya.


“Tidak, sayang.” Jawab Intan.


“Syukurlah kalau begitu.” Kata Harvan sedikit lega.


“Tapi dimana pakaian dalamku sayang?.” Tanya Intan.


“Apa? Pakaian dalam?.” Tanya Harvan balik.


“Iya, tadi kan kamu yang melepasnya, kamu taruh dimana?.” Tanya Intan kembali.


“Aduh dimana ya? Aku lupa sayang, pakai yang baru saja ya? Nanti aku cari.” Kata Harvan.


Kemudian Harvan mengambil pakaian dalam Intan yang baru, lalu memakaikannya pada istrinya itu. Sementara ia mencari-cari pakaian dalam Intan yang ia lupa entah terlempar kemana.


“Kamu aneh sayang, masa kamu lupa ditaruh dimana?.” Tanya Intan.


“Betul-betul aku lupa sayang, tadi kan aku gak sadar.” Jawab Harvan yang matanya masih melihat kesetiap sisi ruangan tersebut mencari segi tiga Bermuda milik Istrinya itu.


Pada saat mereka berdebat, tiba-tiba masuk salah seorang perawat yang akan mengganti seprei mereka.


“Maaf Bapak, Ibu, saya akan mengganti sepreinya dulu, bisa menunggu di ruang depan?.” Kata perawat itu.


“Baiklah.” Jawab Harvan, yang lantas memapah istrinya keluar dari kamar tersebut menuju sofa.


Tak lama Harvan dan Intan bersantai di sofa itu, dari arah pintu masuk, Jodi dan Vivi menghampiri mereka.


“Loh, kok pasiennya duduk disini?.” Tanya Vivi, dan mendekat duduk disebalah Intan.


“Itu seprei nya lagi di ganti sama perawat.” Jawab Harvan.


“Oh.” Jawab Jodi yang menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, karena teringat dengan peristiwa yang ia saksikan tadi. Sementara Vivi hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Kemudian perawat yang telah menggantikan seprei keluar,


“Pak, Bu, sepreinya sudah terpasang kembali, mari saya permisi dulu.” Kata Suster.


“Baik Suster terima kasih ya.” Ujar Intan pada perawat tersebut.


Kemudian Intan yang di papah oleh Vivi kembali menuju ruangan kamar, dengan botol Infus ditangannya. Pada saat Intan akan beranjak naik ke velbed ia melihat segi tiga Bermuda miliknya yang tadi hilang sudah berada di atas ujung velbednya. Bergegas Intan mengambilnya dan melemparkannya pada tempat pakaian kotor yang berada di samping lemari.


Vivi hanya tersenyum kecil menyaksikan tingkah Intan. Ia tidak banyak bertanya karena mengerti pasti Intan merasa sedikit malu.


Sementara diruang tamu pada bagian Presiden Suite Room tersebut, nampak Harvan dan Jodi tengah berbincang.


“Eh Har, gue lihat di sprei yang di bawa perawat tadi kok banyak bercak darah nya, darah apaan tuh?.” Tanya Jodi.


“Itu darah dari tangan nya Intan, tadi jarum Infus nya lepas.” Jelas Harvan.


“Kok bisa lepas gitu sih.” Tanya Jodi penasaran.


“Tadi ketarik pada waktu Intan tidur, jadi darahnya keluar.” Jawab Harvan.


“Oh, dikirain darah sisa-sisa pembantaian haha.” Kelakar Jodi yang sebenarnya ia tahu kenapa jarum infus Intan bisa sampai terlepas.

__ADS_1


“Sialan luh!.” Ujar Harvan dengan mimik canggung.


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


__ADS_2