Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Bertemu Ibu melalui VR


__ADS_3

“Hai ayah Harin, lagi apa?.” Bunda Claire.


“Hallo ayah ganteng, udah makan belum?.” Bunda Valent.


“Hai, maaf ganggu waktu nya ya, ayah Harin.” Bunda Ajriel.


“Maaf cuman mau tanya aja, kenapa teleponnya gak diangkat.” Bunda Cira.


“Ayah Harin, malam minggu ada waktu gak?.” Bunda Lolita.


“Balas dong, sekali aja hehe.” Dari semuanya


“Ayah Harin mirip mantan aku waktu SMA loh, hehe.” Bunda Claire.


“Sekali-kali ikut kita jalan yuk?.” Bunda Valent.


“Pasti lagi sibuk, maaf ya ganggu.” Bunda Claire.


Dst.


Suara tanda chat masuk dan nada panggilan membuat Jodi gerah, meski ponselnya ia simpan di laci terdalam meja kerjanya.


“Aaaah, berisik banget sih.” Kata Jodi, membuka laci meja kerjanya lalu merogoh ponsel berisik tersebut.


“Buset dah.” Ia lihat layar ponselnya chat masuk mencapai ratusan begitu pun missed call.


“Ini emak-emak kurang kerjaan banget ya!.” Gerutu Jodi seraya berlalu dari ruangannya menuju ruangan Harvan.


Setelah sampai didalam ruangan,


“Ada apa Jod?.” Tanya Harvan.


“Eh gara-gara elo ya, nih lihat!.” Memperlihatkan layar ponselnya pada Harvan.


“Haha, udah elo balas satu-satu?.”


“Gila kali ya! Gue balas satu-satu itu chatnya personil Kejo Empire, bisa kaku jempol gue.” Mimik kesal Jodi.


“Ya udah biarin aja? Gak usah di pikirin kali Jod.”


“Eh gimana gak kepikiran, dia berisik terus di dalam laci Har, ganggu konsentrasi gue aja!.”


“Silent aja udah! Bereskan?!.”


“Bikin emosi bener ya itu emak-emak, pada keganjenan banget sih.”


Harvan hanya tersenyum sembari anteng pada laptopnya.


“Eh ruangan green screen nya udah selesai belum ya?” Kata Jodi sembari melemparkan pandangannya pada pintu sebelah ruangan pribadi Harin.


“Coba aja elo lihat, tadi sih kata orangnya Hari ini juga Kelar.”


Kemudian Jodi melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan itu, setelah ia buka, nampak lima orang tengah menyelesaikan pekerjaannya. Pada saat mereka melihat Jodi membuka pintu dan menampakan dirinya,


“Tinggal finishing Boss, bentar lagi kelar.” Kata seorang pekerja.

__ADS_1


Lalu Harvan mengikuti Jodi untuk melihat ruangan tersebut.


“Loh, kok tempat tidurnya gak ada sih Jod?.” Tanya Harvan.


“Apa! tempat tidur! Buat apaan?.” Jodi Heran.


“Ya buat gue lah sama….”


“Eh jangan gila luh ya! Elo masih aja mikirin mantap-mantap sama Intan lewat virtual?!.”


“Ya terus, masa gue cuma ngobrol doang sih.”


“Emang setiap ketemu harus mantap-mantap gitu? Bener hyper luh ya!.”


“Eh sialan luh!”


“Lagian elo tuh ya, yang di pikirin mantap-mantap aja terus, gak ada bosen nya.”


“Eh, gue gak pernah bosen ya sama bini gue.”


“Ya tapi Har, mikir dong dikit, elo mantap-mantap sama Intan udah deh di mimpi aja, gak usah dibawa-bawa di area green screen, elo gak malu apa! Gue lihat kalian di layar monitor lagi begituan?, mesum memang nih bapak yang satu ini huh!.”


“Eh siapa bilang gue mau di tonton elo, pada saat gue interaksi sama Intan lewat VR, gak boleh ada yang kontrol, kalau gue lagi pake alat itu mah, kecuali kalau pada saat Harin yang berinteraksi baru kita kontrol bareng-bareng.”


“Aah susah emang ngomong sama elo!.”


“Ayaaaah.” Suara putri kecil memanggil. Kemudian Harvan membuka ruangan dimana putrinya tengah beristirahat.


“Eh, anak ayah sudah bangun.”


“Mau makan apa sayang?.”


“Aku mau makan nasi bento pake ayam.”


“Baiklah, ayah pesan sekarang ya sayang.”


Harvan menghubungi sekretarisnya Diana untuk memesan bento yang Harin minta.


“Tunggu ya sayang, nasi bentonya sebentar lagi dibawa kesini sama tante Diana.”


“Baik ayah.”


“Oya sayang, sebentar lagi kamu akan dipeluk ibu.”


“Benar kah? Apa ibu akan datang padaku?” Seketika roman bahagia terpancar dari wajah putri kecil itu.


“Ya sayang,, sebentar lagi ibumu akan menemuimu. Apa kau bahagia?.”


“Tentu saja aku bahagia ayah, karena aku sudah menanti cukup lama.”


Sang ayah mendekap erat putri kesayangannya itu. Rasa haru dan bahagia menjadi satu. Tiba-tiba pintu diketuk,


“Iya Jod ada apa?.” Tanya Harvan dengan tangan masih memeluk putrinya.


“Barangnya udah datang, cuma lagi di cek dulu.”

__ADS_1


“Ok, nanti setelah Harin makan siang, baru VR nya di coba sama dia.” Kata Harvan seraya membawa putrinya dalam pelukan berlalu meninggalkan ruang pribadi putrinya itu.


“Ok, sekarang lagi pasang monitor dulu katanya.”


Tak lama Diana memasuki ruangan Boss nya itu dan memberikan satu paket nasi bento yang dipesan Harin.


Harin pun langsung melahap makan siangnya tersebut dengan disuapi ayah tercinta.


Seperti biasa sembari ia menikmati makan, ia selalu ditemani sang ibu, dengan melihat wajah sang ibu pada layar tab nya. Sambil mengunyah makanan sesekali ia tertawa melihat ibunya melakukan kekonyolan dalam videonya itu.


*


Sehabis makan siang, sampailah saat yang ditunggu-tunggu. Dimana Harin dibawa oleh Ayahnya dan Jodi ke sebuah ruangan green screen.


“Ayah, kita mau apa disini?.” Tanya Harin bingung, matanya melintasi sekeliling.


“Kita ketemu ibu disini sayang.”


“Oh baiklah.” Jawab Harin dengan roman bahagianya.


Perlahan Harin dipakaiakan VR tersebut oleh ayahnya, sementara Jodi berada di depan layar monitor masih pada ruangan yang sama.


Setelah Harvan memakaikan VR itu pada anaknya, kemudian membawanya ketengah ruangan green screen itu. Lalu barulah VR itu dinyalakan.



Harvan perlahan meninggalkan putrinya itu, ia mendekat ke arah Jodi yang berada di depan layar monitor. Berdebar hati Harvan begitu pun yang di rasakan Jodi, pada saat melihat Harin mulai tersenyum.


“Ibu….! Benarkah yang datang itu ibu?.” Suara putri kecil itu dengan mimik bahagia yang terpancar dari bibir mungilnya.


“Hai kesayang ibu”


“Hai ibu, benarkah aku sekarang sedang bertemu ibu?.”


“Tentu saja sayang, apa kau rindu padaku?.”


“Tentu saja aku rindu pada ibu, ibu terlalu lama pergi, aku hanya dapat melihatmu saja dari video.”


“Kalau begitu, kemarilah sayang… peluk ibu yang erat.”


Pada layar monitor Harvan dan Jodi melihat kebersamaan Harin dan Intan. Ia lihat Intan mendekati putrinya, kemudian berbicara, mereka melihat pada monitor itu Intan membelai wajah Harin kemudian Harin memeluk Ibunya tersebut.


Betapa terenyuh hati Harvan dan Jodi kala memperhatikan layar monitor itu, betapa mengharukan kala mereka melihat Harin menangis di pelukan sang Ibu.


“Kenapa ibu pergi dariku.” Rengek Harin dalam pelukan sang ibu.


“Hei, anak ibu tak boleh cengeng. Kau harus menjadi pribadi yang kuat. Kau harus lebih hebat dariku menjadi seorang pendekar wanita yang tangguh. Ibu tahu, momen inilah yang sangat kau tunggu bukan?… aku bahagia memilikimu putriku, kau adalah putri yang cerdas dan periang, aku bangga padamu nak, karena itu, jangan pernah sekali-kali mengecewakan ibu dan ayah. Jadilah anak yang baik, yang tahu adab, menghormati yang lebih tua, menghargai yang lebih muda, dan menyayangi sesama. Kau jangan berpikir ibu jauh karena tak ada di dekatmu, simpanlah ibu dihatimu, maka kau tidak akan merasa jauh dariku. Belajarlah dengan baik sayang, terutama belajar kehidupan. Raihlah kunci hidupmu sehingga segalanya akan terasa mudah bagimu. Kenapa Tuhan mengambilku saat kau terlahir ke dunia? Sebab Tuhan akan menjadikanmu manusia yang istimewa, percayalah. Berbahagialah kau hidup bersama ayah yang begitu menyayangimu, juga om yang selalu setia menjagamu. Mereka adalah pelindungmu kini dan harus kau lindungi mereka kelak. Ibu akan sangat bahagia seandainya kau mampu melewati kepahitan ini sayang, karena dari kepahitan, kau akan merasakan manisnya kehidupan. Ibu akan senang sekali seandainya kau mampu ridho menerima ini semua, karena saat kau ridho, saat itu pula Tuhan ridlo akan kehidupanmu. Kehidupan akan mengajarkanmu dengan dirinya sendiri, yang akan menguat kan mu, dan menunjukan arah kembalimu.”


Melihat kebersamaan Istri dan anaknya itu membuat Harvan tak kuasa menahan bendungan air matanya hingga tumpah. Bergetar hatinya kala melihat penampakan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Penampakan yang selalu didambakan oleh putri kecilnya. Haru dan bahagia menjadi satu, ia tenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.


Begitupun Jodi yang melelehkan air matanya seolah ia tengah melihat sebuah tayangan drama mengenai cerita seorang anak yang dipertemukan kembali dengan ibunya.


Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa sekali yang membuat hati mereka berdua luluh, menumpahkan air mata lelaki, yang hanya dapat membuncah mana kala perasaan terdalam menyentuh bathin dan jiwanya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


Tinggalkan jejaknya readers sayang🥰


__ADS_2