Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Dan terjadi lagi


__ADS_3

Warning!!!


terdapat konten 21+


Harap bijak dalam menyikapinya.


Harvan dan Jodi telah selesai melakukan aktivitas kantornya. Mereka bersiap pulang ke kediamannya.


Setelah sampai halaman rumah. Harvan dan Jodi telah di sambut oleh Harin yang di pangku Delima. Terlihat rasa canggung saat tatapan Harvan dan Delima beradu namun Jodi belum menyadari perubahan pada mereka.


Jodi melangkah lebih dulu langsung meraih tubuh Harin dalam gendongan Delima, dan membawanya masuk, sementara Harvan dan Delima berjalan di belakang mereka.


Harvan membuka Jas dan dasinya lalu ia berikan pada Delima. Mereka duduk bersama pada meja mini bar.


“Gue mandi dulu, lengket nih badan.” Kata Jodi meninggalkan mereka, lalu ia letakan Harin duduk di sebelah ayahnya pada meja bar tersebut.


Lalu Harin menikmati sesuatu di samping ayahnya itu.


“Sayang lagi makan apa?.”


“Pisang coklat.”


“Wah enak tuh.”


“Ayah mau?. Nih a…” Harin menyuapi sang ayah.


“Mh.. benar enak sekali, siapa yang bikin sayang?.”


“Ibu.”


“Oh… ibu yang buat ya?.” Kata Harvan lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menyerahkan pada Delima saat delima menghampiri mereka.


“Ini obatnya, di oles sebelum tidur.” Kata Harvan sembari menyerahkan obat itu.


“Oh iya makasih.”


“Buatkan aku kopi.” Kata Harvan.


“Mandilah dulu, nanti setelah mandi baru aku buatkan.”


“Oke.” Kemudian Harvan pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Tak menunggu waktu lama, Harvan bersamaan dengan Jodi menuruni anak tangga menuju mini bar yang memisahkan ruang keluarga dan ruang makan.


Nampak dua cangkir kopi sudah tersaji pada mini bar tersebut.


“Mmh… mantaps kopinya.” Kata Harvan seraya duduk pada kursi sebelah putrinya yang masih anteng menikmati pisang coklat.


“Tapi sayang gak ada susunya hahah.” Kata Jodi berkelakar.


“Hati-hati luh ngomong, ada bocah di sini.” Bisik Harvan pada Jodi.


“Oops! Sorry… lupa gue hehe.” Kata Jodi yang tidak sadar kalau Harin ada bersama mereka.


Kemudian mereka sama-sama menyeruput kopinya. Delima tengah membuat makanan ringan tidak jauh dari mereka duduk, posisi Delima membelakangi mereka. Harvan dan Jodi sama-sama memperhatikan Delima.


“Ssst… bohay.” Bisik Jodi pada Harvan mengarahkan matanya pada bokong Delima.


Plak.. Harvan menoyor kepala Jodi. “Gila luh!.” Bisik Harvan merekatkan giginya.


Delima membalikan badannya membawa camilan untuk mereka, kemudian mereka berdua membuang muka ke sembarang arah agar Delima tak curiga kalau mereka memperhatikannya sedari tadi.


“Ayo sayang kita ke taman.” Ajak Delima pada Harin, membawanya dalam pangkuan, membiarkan ke dua lelaki itu duduk berdua.


Kembali Harvan dan Jodi memperhatikan Delima yang berlalu hendak ke taman samping.


“Elo gak tertarik sama dia Har?.” Tanya Jodi.


“Gila luh apaan sih!.” Jawab Harvan salah tingkah, mengingat Harvan yang sebenarnya sudah pernah mencium Delima sementara Jodi tidak pernah tahu apa yang pernah terjadi di antara mereka.


“Ya kali aja elo tertarik, secara dia gak jauh beda sama Intan, terus kelihatannya juga sayang banget sama Harin.”


“Tapi kita belum tahu asal usul dia Jod, siapa tahu dia menyimpan sesuatu yang kita tidak tahu. Oya gimana? Udah dapat info belum tentang dia?.” Tanya Harvan.


“Belum Har, team gue masih mencari tahu informasinya.” Kata Jodi.


“Gue harap, tidak ada kabar yang buruk tentang dia.” Kata Harvan seraya menyeruput kopinya dan meraih camilan berupa kue tradisonal yang dibuat Delima.


“Ya, mudah-mudahan. Oya buat sidang gugatan yang di tujukan ke elo sama si Selvy itu yang akan dilangsungkan minggu depan, semua alat bukti udah gue sampaikan ke pengacara yang kita tunjuk Har.” Jelas Jodi.


“Oke, makasih Jod. Jadi semua udah lengkap ya? Kita tinggal menunggu hari H nya saja.”

__ADS_1


“Iya Har, eh kabar Opa sama Revy gimana Har?.” Tanya Jodi.


“Kemarin Opa hubungi gue, katanya mereka belum bisa balik ke sini lagi, soalnya Opa harus menemani paman disana, paman kan sangat dekat dengan Opa jadi dia pengen Opa yang ngurusin dia.” Jelas Harvan.


“Oh begitu.”


“Iya, tapi orang-orang elo masih jagain mereka kan disana?.” Tanya Harvan.


“Ya iya lah, sebelum semua nya kelar pokoknya orang-orang gue masih harus standby disana.”


“Bagus kalau gitu.”


Sepanjang mereka berbincang, mata Harvan terus memperhatikan Harin bersama Delima di taman, meski terhalang pintu slide tetapi keberadaan mereka masih nampak oleh keduanya.


“Eh Jod lihat! Sepertinya Harin lagi di ajarin sesuatu deh?.” Kata Harvan sembari terus memperhatikan Harin yang tengah mengikuti beberapa gerakan mengikuti Delima.


“Mana..?!.” Jodi menjuruskan pandangannya pada mereka.


“Sepertinya Delima sedang mengajarkan gerakan bela diri ya Jod?.” Selidik Harvan.


“Iya bener Har… Intan banget dia. Ternyata dia juga punya ilmu bela diri Har.”


“Iya Jod, semakin hari semakin kita tahu yang tersembunyi dari wanita itu.” Harvan yang terus memperhatikan mereka.


“Wah, kalau misalnya elo ngapa-ngapain dia, siap-siap aja elo di bikin babak belur, seperti Intan yang bikin elo babak belur di malam pertama kalian hahah.” Kelakar Jodi.


“Anjir!!” Kembali kepala Jodi mendapatkan toyoran dari Harvan.


“Haha.. aneh ya Har, kok mereka bisa sama banget, dari wajah, suara dan sama-sama memiliki ilmu bela diri. Dia Intan kali Har, bangkit dari kubur kayaknya bini luh, haha.”


“Sialan luh!”


“Eh bisa saja kan? Intan sebenarnya gak mati. Dia bersembunyi karena akan menuntut balas.”


“Ah ngarang aja luh, kebanyakan nonton film horor luh.”


“Haha… kalau misalkan iya gimana?.” Goda Jodi.


“Gak mungkin lah.” Kata Harvan yang kemudian berlalu menuju kamarnya karena hari mulai maghrib.


Delima dan Harin pun terlihat masuk kedalam rumah dan pergi menuju kamar mereka. Sementara Jodi leket memperhatikan Delima dengan sorot mata menyelidiknya.


Dan malam pun tiba.


Harvan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Terlihat di ruang makan Delima tengah mempersiapkan makan malam untuk mereka, sementara Harin duduk di meja dapur tidak jauh dari Delima.


“Ehem.. kalian makin kompak saja.” Kata Harvan.


“Ayah, aku sedang belajar masak bersama ibu.” Seru putrinya sembari naik kedalam gendongan sang ayah.


“Benar kah? Sayang belajar masak apa?.” Tanya Harvan pada putrinya seraya membawanya duduk di atas pangkuannya pada kursi makan.


“Masak nasi, ayam goreng kriuk, sama capcay.” Jawab putrinya dengan senyuman.


“Wah keren banget, kesayangan ayah sekarang sudah pintar masak.”


“Iya ayah, ibu yang ajarin.”


“Bagus deh kalau gitu.” Kata sang ayah. Tak lama Delima menghampiri dan menghidangkan beberapa menu makan malam untuk mereka.


Harvan memandangi wajah Delima yang tengah menghidangkan makanan.


“Kenapa tidak suruh pelayan saja yang memasak?.” Tanya Harvan.


“Tidak apa-apa, aku masih bisa sendiri lagian yang aku masak tidak banyak kok.” Jawab Delima.


“Kamu kan sudah seharian mengurus Harin, nanti kamu capek.” Kata Harvan.


“Tidak ada pekerjaan yang tidak melelahkan, tapi seandainya kita mengerjakannya dengan hati, rasa capeknya akan hilang.” Jawab Delima.


Tak lama Jodi menghampiri mereka dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Harvan.


“Ayo.. makan.” Kata Jodi lantas membubuhkan nasi dan lauknya diatas piring yang telah tersedia untuknya kemudian melahapnya.


Dan mereka pun menikmati makan malamnya bersama.


Setelah makan malam selesai, seperti biasa Delima membawa Harin dalam pangkuannya menuju kamar mereka. Sementara Jodi dan Harvan berlalu menuju ruang keluarga untuk berbincang.


Mereka berdua membicarakan segala sesuatu dari mulai pekerjaan mereka sampai rencana mereka untuk menghadapi tuntutan Selvy.


Tanpa terasa waktu sudah semakin malam dan rasa kantuk sudah menyerang mereka. Akhirnya Jodi melangkah menuju kamarnya untuk beristirahat. Sementara Harvan menuju kamar miliknya.

__ADS_1


Pada saat Harvan sampai di depan pintu kamarnya, ia melirik pada pintu kamar putrinya. Entah kenapa kaki nya membawa ia menuju pintu kamar putrinya tersebut.


Ia buka pintu kamar putrinya itu, nampak di atas tempat tidur Harin masih terjaga, ia tengah mendengarkan Delima yang sedang membacakan dongeng sebelum tidur.


Pada saat pintu kamar terbuka, Delima dan Harin menoleh, terlihat Harvan menghampiri mereka.


“Kau belum tidur sayang?.” Tanya Harvan pada sang putri.


“Belum ayah aku lagi mendengarkan ibu membacakan dongeng.” Jawan sang putri.


“Oh baiklah, tidur yang nyenyak ya sayang.” Ujar sang ayah seraya mencium putrinya itu.


Pada saat Harvan akan meninggalkan kamar itu, baru beberapa langkah saja, dari tempat tidur sang anak memanggil.


“Ayah… mau kah ayah tidur bersama kami? Aku kangen tidur bersama ayah?.” Pinta sang putri.


Harvan terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa, begitu pun dengan Delima, ia merasa tidak enak dan tidak tahu harus bagaimana. Harvan tersenyum pada putrinya, kemudian,


“Ayo sini ayah… ayah tidur di samping kananku dan ibu di samping kiriku. Setelah ibu kembali, aku belum pernah merasakan tidur bersama kalian.” Ujar sang putri lirih.


Melihat reaksi putri nya seperti itu, Harvan langsung mendekat, ia tak ingin melihat putrinya bersedih.


“Baiklah sayang… ayah akan tidur bersama kalian.” Kata Harvan yang kemudian memandangi Delima. Delima sedikit gugup, ia menjatuhkan pandangannya menunduk merasa bingung dan tidak tahu harus bagaimana.


Kemudian Harvan naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya lalu memeluk putrinya.


“Ayo ibu, lanjutkan ceritanya.” Pinta Harin pada Delima. Kemudian Delima melanjutkan membaca dongengnya dengan debaran jantung yang tidak menentu dan sesekali memandang ke arah Harvan dan berkali-kali juga mereka saling menatap.


Perlahan Harin terlelap tidur. Setelah Delima memastikan Harin sudah pulas dan melihat mata Harvan terpejam, ia turun dari atas tempat tidur tersebut.


Tapi tiba-tiba Harvan bangkit dari tidurnya. Ternyata ia hanya berpura-pura tidur saja. Ia berjalan ke arah Delima, menarik tangannya dan menyeret tubuh Delima menuju jendela balkon dan menyandarkan tubuh delima pada jendela lalu menghimpit dengan tubuhnya hingga rapat.


Deru nafas dari keduanya saling memacu. Berdebar hati Delima karena ia berpikir pasti kejadian malam lalu akan kembali terulang. Harvan terus memandangi wajah Delima yang hanya beberapa inci saja dari wajahnya.


Hembusan nafas Harvan terasa hangat pada kening Delima menerpa beberapa helai rambutnya yang terurai, deru nafas itu membuat Delima merasakan hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Perlahan Harvan meraih dagu Delima dan mengangkat wajahnya hingga wajah mereka saling berdekatan. Dengan lembut ia membelai wajah cantik itu, hingga menyentuk bibirnya. Terlihat dari sudut bibir itu sedikit ada sobekan kecil karena ulahnya, kemudian


“Diletakan dimana obatnya?.” Bisik Harvan pelan.


“Di atas meja nakas.” Jawab Delima.


Perlahan Harvan melirik ke atas meja nakas, nampak obat yang ia belikan tadi siang. Lalu ia mengambilnya dan melangkah kembali ke arah Delima.


Di tariknya tubuh Delima ke arah sofa.


“Duduklah.” Perintah Harvan. Kemudian Delima duduk. Lalu Harvan duduk disebelahnya. Kemudian Ia buka tutup obat itu,


“Kemarilah, dekatkan wajahmu, aku akan mengobati luka pada bibirmu itu.” Kata Harvan.


“Tu-tuan… saya bisa melakukannya sendiri.” Ucap Delima merasa canggung.


Harvan tidak memperdulikan apa yang Delima katakan. Ia semakin mendekatkan tubuhnya,


“Angkat wajahmu.” Bisik Harvan. Perlahan Delima mengangkat wajahnya, ia pandangi wajah cantik itu, perlahan ia oleskan obat pada bibir yang sedikit ada sobekan kecil itu.


Sepanjang ia mengoleskan obat pada luka itu, sepanjang itu lah getaran dalam hatinya bergemuruh, semakin lama melihat dekat wajah itu, semakin gairahnya membuncah membawa pikirannya kemana-mana, begitu pun dengan apa yang di rasakan Delima, degupan jantungnya semakin memacu kencang.


Harvan merasa sudah tak bisa menahan gairahnya, kala memandangi bibir itu seolah menariknya untuk meraupnya. Ia berusaha menguasai dirinya dan sekuat tenaga menahannya. Dengan cepat ia bangkit, mundur beberapa langkah dengan nafas yang terengah. Ia balikan badannya hendak berlalu pergi. Namun baru beberapa langkah, terdengar ucapan lembut yang malah memacu gairahnya lebih dalam.


“Tuan… terima kasih.” Suara itu seolah memanggilnya untuk kembali.


Tanpa menunggu waktu ia balikan badannya kembali, dengan cepat mendekati tubuh indah itu, ia baringkan tubuh itu di atas sofa lantas menindih kan tubuh kekarnya di atas tubuh yang menggairahkan itu.


Delima terkejut, matanya membulat, mulutnya menganga kala tubuhnya di tindih oleh tubuh kekar tuannya di atas sofa itu.


Tanpa permisi Harvan menyerang bibir yang tengah menganga itu. Ia sudah tak mampu lagi membendung hasratnya, tak perduli di kamar siapa ia tengah berada, terus dan terus ia mainkan lidahnya pada bibir manis itu.


Delima tidak mampu melepaskan himpitan tuan nya dan serangan bertubi-tubi yang di lancarkan dari bibir kokoh sang tuan.


“Hump.. hamp…tuan… Hm… tolong lepaskan, aku mohon.” Lirih Delima.


Namun Sang tuan yang telah kalap terus membabi buta meluncurkan serangan bibirnya hingga turun ke area leher, Delima tidak kuasa atas serangan itu, desiran darahnya merubah rasa menjadikan sesuatu yang melenakannya. Hingga tercetus ******* lembut kala bibir kokoh sang tuan semakin menjalar pada buah kenyal di dadanya.


Mereka telah lupa diri, dan nafsu birahi telah menguasai keduanya. Tanpa disadari Harvan meninggalkan banyak tanda pada leher dan benda kenyal itu. Hingga pada saat tangan Harvan sudah bergerilya kedalam segi tiga bermuda milik Delima dan hendak melepaskannya, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara teriakan,


“Ibuuuuu!!.”


BERSAMBUNG


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2