Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Akhirnya ketahuan juga


__ADS_3

Harvan telah kembali ke kantornya, ia duduk pada kursi kebangsaannya. Wajahnya nampak sumringah.


Ia merogoh ponsel pada saku celananya, kemudian ia memandangi layar ponsel tersebut. Kali ini ia melihat aktivitas Harin melalui layar ponselnya dari Microchip yang di pasang pada tubuh anaknya itu, yang dapat ia kontrol melalui ponselnya.


Penampakan Delima semakin jelas dan begitu dekat disana, ia kembali tersenyum-senyum sendiri kala melihat wajah mempesona pada layar ponselnya.


Perlahan Jodi masuk ke dalam ruangan Harvan, ia memperhatikan Boss nya yang tengah senyum-senyum sendiri memandangi layar ponselnya. Jodi duduk pada sofa di ruangan tersebut sembari terus memperhatikan kelakuan Boss nya yang tak biasa. Dan Harvan tidak menyadarinya.


(Ini orang semakin hari semakin aneh… apa yang dia lihat pada layar ponselnya ya? Dia lagi bucin kali ya? Tapi sama siapa? Sepertinya gue harus selidikin dia, biasanya kalau ada apa-apa dia suka ngomong sama gue.) Bathin Jodi sembari terus memperhatikan Boss nya itu.


“Ehem…” Jodi berdehem sedikit keras membuat Harvan sedikit terhenyak. Dengan cepat ia menyimpan ponselnya diatas meja.


“Apa?.” Tanya Harvan.


“Gak ada apa-apa.” Jawab Jodi datar.


“Kalau masuk tuh Ketuk pintu dulu jangan asal masuk saja.” Kata Harvan sembari menyalakan laptopnya.


Sementara Jodi terus memandangi mimik Boss nya itu.


“Kenapa sih luh?.” Tanya Harvan yang merasa di perhatikan asistennya itu.


“Yang ada gue nanya sama elo, elo itu kenapa? Sekarang elo terlihat aneh suka senyum-senyum sendiri, gue khawatir elo gila.”


“Eh anjir! Sembarangan aja luh ngomong.”


“Lagian elo tuh kenapa sih Har? Gue menduga elo lagi bucin deh. Elo kayanya lagi merahasiakan sesuatu dari gue, kayaknya gue harus selidikin elo.”


“Eh sembarangan luh mau nyelidikin gue! Apa elo udah gak ada kerjaan lagi di kantor gue hah?! Enak aja mau nyelidikin hidup gue. Pake nyangka gue bucin segala lagi. Emang nya gue anak ABG apa!.”


“Abisnya elo gak cerita sama gue.”


“Eh apa yang mau gue ceritain sama elo, orang gue gak ada apa-apa juga.”


“Ya gue ngerasa aneh aja sih. Oya tadi elo kemana?.” Tanya Jodi menyelidik.


“Ada yang ketinggalan di rumah.”


“Kenapa gak nyuruh gue aja?.”


“Ah elo banyak ngomong Jod.”


“Hehe.. udah berani main belakang ya sama gue?.”


“Eh elo jangan mancing-mancing ya?.”


“Har, apa pun itu, kalau memang bikin elo senang, gue dukung deh.”


“Nah gitu dong baru itu namanya sobat.”


“Eh emang nya elo lagi bucin sama siapa sih?”


“Ish… nyambung lagi deh.”


“Hahaha… gak kok gue becanda Har.” Kata Jodi sembari membaca ekspresi Boss nya itu.


(Jangan senang dulu luh, gue akan cari tahu yang bikin elo jadi aneh kayak gini.) Bathin Jodi.


*


*


Sementara itu nun jauh disana, tepatnya di daerah puncak Cianjur, nampak sepasan manusia tengah berbincang. Ialah Selvy dan Reyhan yang tengah membicarakan sesuatu yang penting tentunya bagi hidup mereka.


“Bagaimana kata pengacara kita?.” Tanya Reyhan.


“Dia bilang semua nya sudah lengkap, dan kalau nanti pengadilan minta saksi, ya kamu yang akan bersaksi.” Jelas Selvy.


“Ya tentu saja aku, memangnya siapa lagi yang bisa di jadikan saksi yang dapat menguatkan dan meyakinkan pengadilan kalau bukan aku?.” Kata Reyhan dengan penuh percaya diri.


“Memang sialan si Harvan itu! Bisa-bisanya dia mempengaruhi papaku dan Revy, bodohnya lagi, itu orang tua dan bocah, mau-maunya lagi tinggal sama mereka, cih.” Selvy dengan tatapan psikopatnya.


“Biarkan saja mereka! Kita gak butuh mereka, yang kita butuhkan itu data-data dari anak kita, masalah dia mau tinggal dimana sekarang terserah. Tetapi saat uang itu sedikit demi sedikit bisa kita kuasai, mau tidak mau anak itu harus bersama kita untuk meyakinkan aparat hukum.” Jelas Reyhan.


“Oya? Tuntutan biaya untuk Revy 10 milyar perbulan apa terlalu sedikit ya? Mengingat Harta si Harvan itu kan banyak, tidak akan bisa habis sampai tujuh turunan.” Kata Selvy.


“Gak apa-apa yang penting kita dapat hak asuh dulu dan biaya untuk Revy tiap bulannya, setelah itu baru kita pikirkan rencana selanjutnya.” Jelas Reyhan.

__ADS_1


“Oke kalau begitu. Beberapa hari lagi kita akan tahu di persidangan. Seperti apa mereka melawan kita haha.” Kelakar Selvy.


“Aku rasa mereka tidak akan bisa berbuat banyak haha.” Reyhan tertawa bahagia.


Mereka berdua tertawa bahagia karena menurut mereka bahwa kali ini rencana mereka akan berhasil. Memang tidak semudah membalikan telapak tangan untuk merebut begitu saja harta seseorang, apalagi harta orang yang memiliki pengaruh dan kekuatan yang sangat besar.


Karena itu Selvy dan Reyhan memakai cara yang lebih mudah menurut mereka sebelum mereka menguasai segalanya.


Dalam rencananya, ia menggugat hak asuh atas Revy dengan tunjangan perbulan sebesar 10 miliar untuk biaya sekolah dan lain-lain. Lalu apakah tuntutannya itu akan berhasil? Entahlah, karena Harvan dan orang-orang terdekatnya tidak tinggal diam. Mereka pun menyusun strategi semaksimal mungkin untuk melawan tuntutan Selvy.


Selvy dan Reyhan sangat yakin mereka akan memenangkan perkara ini karena selain menggunakan jasa pengacara yang hebat, mereka pun banyak mengantongi bukti-bukti kongkrit yang mampu meyakinkan pengadilan.


*


Kembali pada Harvan dan Jodi yang kala itu tengah kembali pulang dari aktivitas kantornya.


Sore itu mereka memasuki kediaman mereka. Nampak Harin dan Delima tengah asyik di dapur.


Jodi langsung bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya.


“Kenapa luh!.” Tanya Harvan.


“Gak kuat sakit perut gue.” Kata Jodi bergegas naik kedalam kamarnya.


“Makan gak bener kali luh.” Kata Harvan yang langsung menghampiri putrinya dan menciuminya serta membawa dalam pangkuannya menuju kursi ruang keluarga. Lalu ia berikan tab pada anaknya itu untuk menonton sesuatu. Entah apa maksudnya.


Sementara ia perlahan berjalan menuju Delima yang kala itu membelakanginya tengah memasak sesuatu.


Dari arah belakang ia peluk tubuh wanita itu. Delima sedikit terhenyak dan berusaha melepaskannya.


“Jangan seperti ini, tidak enak dilihat orang.” Kata Delima merasa risih.


“Gak akan ada yang melihat kita, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.” Bisik Harvan mulai nakal mengendus telinga Delima dan tengkuknya.


“Lepaskan, ganti baju dulu sana! Nanti aku buatkan kopi.” Kata Delima yang terus berusaha melepaskan pelukan itu. Namun semakin berusaha melepaskan pelukan itu semakin di rekatkan.


“Aku gak mau kopi, aku mau kamu.” Kata nakal Harvan yang terus menggoda wanita yang tengah di peluknya itu.


“Tolong jangan seperti ini, aku gak enak kalau ada orang yang lihat, apalagi di depan anak.”


“Dimana Harin?.” Delima berusaha mencari keberadaan putri kecil itu dengan melihat sekeliling ruangan.


“Ia lagi konsen dengan tab nya di ruang keluarga.” Jawab Harvan yang semakin nakal menggigit-gigit telinga kanan Delima. Membuat Delima bergidik merasa geli.


“Sudah lepas dulu, nanti ada orang yang datang!.” Delima sudah mulai kesal.


“Jangan menolak dan jangan banyak bicara, kamu cukup diam saja, aku suka wangi tubuhmu jadi biarkan aku menghirupnya sebentar saja.” Bisik nakal Harvan.


Tanpa mereka sadari, Jodi yang kala itu hendak menuruni anak tangga di buat terkejut melihat penampakan yang ia lihat. Dengan cepat Jodi naik kembali beberapa langkah dan bersembunyi di balik tembok mengintip mereka.


“WHAT!!!.” Jodi membulatkan matanya.


“Apa gue salah lihat ya?.” Jodi perlahan mengintip dari balik tembok. Betapa terkejutnya ia melihat Harvan memeluk Delima dari belakang dan mengendus-ngendus telinga wanita itu.


(Gila! Oh… gue tahu sekarang… jadi ini yang membuat dia bertingkah aneh akhir-akhir ini. Haha, dasar muna luh, bilangnya gak ada apa-apa, gak tahu nya dah maen nemplok-nemplok aja. Awas ya abis luh gue kerjain haha).” Gumam Jodi. Ia terus mengintip kelakuan temannya itu di balik tembok.


(Anjir! Mesum luh… dasar duda gatal maksa-maksa nyipok tuh cewek haha..) Gumam Jodi.


Melihat Harvan melepaskan pelukannya dan hendak berlalu naik ke arah tangga, dengan cepat Jodi berlari seolah ia baru keluar dari kamarnya.


Harvan menaiki anak tangga menuju kamarnya, di depan pintu kamar ia berpapasan dengan Jodi. Melihat Jodi senyum-senyum dengan memicingkan matanya Harvan sedikit heran.


“Kenapa luh?.” Tanya Harvan Heran.


“Gak kenapa-napa, gue aus pengen minum kopi buatan si bohay Delima.” Sengaja Jodi menggoda Harvan ingin melihat reaksinya.


Tapi Harvan tidak menjawab hanya menatapnya dengan tatapan membunuh.


(Haha… ketahuan luh, cemburu dia haha.) Bathin Jodi melengos pergi menuruni anak tangga sambil bersiul.


Singkat cerita. Waktunya makan malam tiba.


Harvan, Jodi dan Delima juga Harin, telah berkumpul di meja makan. Mereka menikmati makan malamnya.


Jodi memperhatikan kelakuan Harvan yang sesekali tertangkap matanya memandangi wajah Delima. Sementara Delima ia perhatikan sesekali beradu pandang dengan Harvan dan ia merasa sedikit kaku. Melihat kejanggalan itu Jodi semakin yakin kalau diantara mereka memang ada sesuatu yang tidak ia ketahui.


Setelah selesai makan malam, seperti biasa Delima membawa Harin masuk ke kamarnya. Tinggallah Jodi dan Harvan di ruangan tersebut.

__ADS_1


“Eh Har, apa kabar bini luh? Masih suka datang di mimpi gak?.” Tanya Jodi menyelidik.


“Udah gak pernah lagi.” Jawab Harvan pendek.


“Kenapa ya? Terus gimana nasib luh?.”


“Gak tahu.”


“Eh kalau gue inget-inget bini elo gak datang lagi bersamaan dengan kemunculan Delima, iya kan?.” Selidik Jodi, dan Harvan berusaha mengingat-ingat.


“Apa mungkin bini luh cemburu kali ya?.”


“Ah ngawur aja luh.”


Kemudian Jodi mengalihkan pembicaraan,


“Eh Har, bagaimana kalau misalkan nanti hasil penyelidikan kita, menunjukan bahwa Delima itu wanita yang bermasalah? Apa yang mau elo lakuin sama dia?” Tanya Jodi.


“Ya kita lihat dulu masalahnya apa?.” Jawab Harvan datar.


“Kalau misalkan dia ternyata istri simpanan pengusaha itu, bagaimana?.”


Pada saat Jodi bertanya demikian pada saat itu juga Harvan tengah meminum kopinya, sehingga membuat ia tersedak mendengar pertanyaan yang membuatnya sedikit terkejut.


“Uhu… Uhu..Kok elo sampai kepikiran kesana sih?.” Harvan menjawab dengan terbatuk karena tersedak minuman, dari situ Jodi dapat membaca reaksi Boss nya itu.


“Ya bisa saja kan? Mana kita tahu? Kan kehidupan Delima masih menjadi misteri buat kita.” Jodi semakin ingin tahu bagaimana tanggapan Harvan.


“Makanya elo cari infonya sedetail mungkin biar kita cepat tahu siapa dia sebenarnya?.” Jawab Harvan datar untuk mengelabui Jodi agar tak tercium hubungannya dengan Delima, namun terlihat ia seperti tengah berfikir.


“Oke.” Ujar Jodi dengan tampang menyelidiknya.


Akhirnya mereka beranjak dari ruangan itu menuju kamarnya masing-masing.


Setelah memastikan Jodi telah masuk ke dalam kamarnya, Harvan membuka kembali pintu kamarnya dan keluar menuju pintu kamar anaknya. Namun pada saat ia memegang handle pintu dan mendorongnya, sepertinya pintu itu terkunci dari dalam.


Dengan rasa kecewa ia kembali ke dalam kamar nya dan mengambil ponselnya menghubungi Delima di kamar sebelah, video call mode on,


“Apa?.” Terlihat wajah ngantuk Delima pada layar ponsel Harvan dengan suara serak khas bangun tidur.


Melihat penampilan Delima memakai gaun malam tanpa lengan yang memperlihatkan kemolekannya, membuat Harvan mulai merasakan perasaan anehnya.


“Kenapa pintunya di kunci? Ayo buka!.” Perintah Harvan.


“Aku takut ada nyamuk lagi dan menggigitku.”


“Kali ini nyamuknya tidak akan menggigit, percayalah, ayo buka pintunya!.” Harvan mulai memaksa.


“Gak ah, aku ngantuk.!”


“Hei buka sebentar saja! Aku ingin mengucapkan selamat tidur pada putriku.” Paksa Harvan.


“Ucapkan saja melalui ponsel ini.”


“Tidak bisa! Ayo cepat buka!.”


“Gak! Aku takut.”


“Aku janji gak akan berbuat seperti malam kemarin. Ayo buka!.”


“Gak mau!.”


“Ini perintah! Cepat buka!.”


“Kalau begitu aku akan mengundurkan diri jadi guru pembimbing Harin!.” Ancam Delima.


“Hei jangan mengancam begitu! Awas saja kalau kamu berani pergi dari sini.”


“Kalau aku terus diperlakukan seperti itu, aku akan pergi.”


“Jangan… jangan katakan itu. Aku minta maaf. Aku janji gak akan ngelakuin itu lagi, ayo lah buka pintunya sebentar saja. Aku tidak bisa tidur kalau tidak mencium kalian dulu.” Harvan sedikit memohon.


Delima terdiam, ada rasa kasih pada sosok tuannya itu. Namun ia merasa takut kalau-kalau tuannya melakukan hal seperti malam itu lagi.


Akhirnya Delima memutuskan untuk pembuka pintu itu.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️

__ADS_1


__ADS_2