
Suasana yang tenang kini kembali menjadi riuh karena sesuatu terjadi di seberang sana. Jodi yang di perintahkan Harvan untuk menghubungi teamnya di Jerman, langsung mendapat respon.
“Hallo Boss!.” Suara dibalik ponsel.
“Hallo John, bagaimana mereka?.” Tanya Jodi.
“Kami masih dibelakang ambulance yang membawa oma nya Revy Boss.” Jawabnya.
“Oke, nanti kalau sudah sampai di Rumah sakit, elo turun dan langsung urus administrasi semuanya, dan tanyakan pada opa dan Revy apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.” Ujar Jodi.
“Oke, siap Boss laksanakan.” Jawab dibalik ponsel.
“Gue tunggu info secepatnya.” Kata Jodi.
TUT. Sambungan ponsel terputus.
“Mereka sedang menuju Rumah sakit Har.” Kata Jodi pada Harvan.
“Oke, kita tunggu informasinya.” Kata Harvan.
“Ayah ada apa?.” Tanya Harin yang kala itu berada disamping ayahnya.
“Tidak ada apa-apa sayang, oma di Jerman sepertinya lagi sakit. Mereka sekarang sedang membawanya ke Rumah sakit.” Jelas Sang ayah.
“Bagaimana dengan Kak Revy?.” Tanya Harin.
“Kak Revy juga ikut bersama mereka. Kita tunggu kabar dari mereka ya sayang.” Jawab Harvan.
“Jod, coba elo cek nomornya si Selvy sama si Reyhan. Bisa jadi mereka penyebabnya kan?.” Sambung Harvan.
“Oke, gue cek sekarang.” Kata Jodi, yang kemudian ia menyalakan beberapa alat yang berada diruangan Harvan.
“Sayang, bisa kah kau keruanganmu? Bukankah hari ini kau belum melihat ibumu?.” Kata Harvan pada putrinya.
“Baiklah ayah.” Jawab Harin Patuh.
“Ayah mau bicara sama om Ijong dulu sebentar ya? Sementara kamu di ruanganmu melihat video ibu, gak apa-apa kan?.” Tanya Harvan pada putrinya kembali.
“Tidak apa-apa ayah.” Jawab Harin, kemudian Harvan membawa putrinya ke ruangan pribadi yang serba pink itu. Lalu ia meletakan anaknya diatas tempat tidur dan memberikan tab yang biasa ia pakai untuk putrinya melihat video ibunya.
Kemudian Harvan kembali keruangan kerjanya dimana Jodi berada disana.
“Bagaimana Jod, sudah ada kabar?.” Tanya Harvan mendekati Jodi.
__ADS_1
“Belum Har, gue masih nunggu.” Jawab Jodi.
“Oya Har, apa perlu sekarang ini kita pasang implan Microchip itu pada Harin?. Gue rasa Selvy dan Reyhan semakin mendekat pada kita.” Kata Jodi.
“Ya udah elo hubungi saja pihak dari Swedia sekarang juga.” Perintah Harvan. Lalu Jodi langsung menghubungi pihak Swedia yang menciptakan implan Microchip tersebut dan langsung memintanya untuk segera mengirimkan dokter dari sana untuk memasangkan implan Microchip tersebut.
Dan langsung pihak Swedia pun menyetujui bahwa merekanya saat ini juga akan mengirimkan teamnya.
“Kalau hari ini mereka berangkat, besok sudah bisa dipasang Har.” Kata Jodi.
“Oke, lebih cepat lebih bagus.” Ujar Harvan.
Tak lama team Jodi dari Jerman menghubungi Jodi.
“Hallo John, bagaimana?.” Tanya Jodi.
“Gue udah urus semuanya disini Boss, sekarang oma lagi di observasi di ruang ICU, tadi juga gue sempet bicara pada opa dan Revy, menurut keterangan mereka, oma kena serangan jantung setelah menerima telepon dari Selvy.” Suara di balik ponsel.
“Oke, gue akan cek dulu apa yang menyebabkan oma jadi seperti ini. Pantau terus ya John, kalau ada apa-apa hubungi gue.” Kata Jodi.
TUT sambungan ponsel terputus.
Segera Jodi mengecek nomor ponsel Selvy dan melihat apa yang telah ia bicarakan dengan ibunya.
“Pantas saja oma terkena serangan jantung, ternyata anak durhaka itu memang benar-benar sudah membuat syok.” Ujar Jodi sembari mendengar apa yang telah dikatakan Selvy pada ibunya.
“Dasar perempuan jahat, bisa-bisa dia berkata demikian pada ibu sendiri.” Kata Harvan.
“Apa yang harus kita lakukan Har?.” Tanya Jodi.
“Pantau saja terus ponsel Selvy sama Reyhan Jod, kita perlu tahu apa yang akan mereka rencanakan selanjutnya.” Jawab Harvan.
“Prediksi gue sih mereka sedang mencari cara agar bisa mengambil Revy kembali.” Ujar Jodi.
“Apa sebaiknya Revy kita amankan disini sama kita saja ya Jod? Bagaimana menurut luh?.”
“Sebaiknya elo bicarakan saja dulu sama opa juga oma bagusnya gimana! Soalnya elo tahu sendiri kan? Duo dajjal itu kalau sudah nekad kayak gimana?.” Jelas Jodi.
Harvan terdiam, ia berfikir lama sekali, begitu pun dengan Jodi. Hingga suara dari ponsel Jodi membuyarkan fikiran mereka berdua.
“Hallo John, ada apa?.” Tanya Jodi.
“Boss, oma tidak dapat tertolong.”
__ADS_1
“Apa?!.” Jodi terkejut mendengar apa yang dikatakan team nya itu.
“Dokter sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain.” Jelas John.
“Sekarang elo dimana? Opa sama Revy bagaimana?.” Tanya Jodi.
“Gue lagi bersama team medis membicarakan pengurusan jenazah, sementara opa dan Revy ada di ruang tunggu, sepertinya mereka syok Boss.” Jelas John kembali.
“Ada apa Jod?.” Tanya Harvan pada Jodi yang kala itu memperhatikan pembicaraan Jodi dengan seseorang melalui saluran ponselnya.
“Har, oma tidak dapat tertolong, kata team disana opa sama Revy syok.” Jelas Jodi.
“Apa?! Coba bilang ke team elo, gue mau ngomong sama Revy.” Pinta Harvan.
Lalu Jodi menyuruh team nya untuk menyerahkan ponselnya pada Revy, sementara ponsel yang ia pegang ia serahkan pada Harvan.
Pada saat Harvan mendengar isak tangis Revy, ia berbicara melalui sambungan ponsel tersebut.
“Hallo Revy sayang, ini ayah.”
“Ayaaaah.” Suara tangisan Revy pecah, ia meraung histeris, hanya tangisan yang keluar dari suaranya.
“Sayang, yang sabar ya? Ayah dan adikmu, secepatnya akan segera ke tempatmu. Mana opa? Berikan ponselnya pada opa.” Kata Harvan.
“Hallo opa.” Sapa Harvan pada saat ia mendengar isak tangis lelaki tua pada saluran ponselnya.
“Har, oma telah tiada, anak durhaka itu penyebabnya, aku tidak bisa terima ini Har, aku tak akan pernah bisa memaafkan dia Har, kenapa dia tega membunuh ibunya sendiri, kenapa bukan aku saja yang ia bunuh. Sungguh keterlaluan anak itu.” Suara parau Ronald terdengar dalam sambungan ponsel tersebut.
“Opa yang sabar ya? Kita akan segera kesana, opa tunggu kami. Sekarang opa tenanglah, untuk mengurus segalanya, ada team disana. Tunggu kami ya opa.” Kata Harvan menguatkan opa, kemudian,
“Jod, sekarang juga kita berangkat kesana, cepat siapkan private jet nya.” Perintah Harvan.
“Oke.” Jawab Jodi yang kemudian langsung menghubungi seseorang yang ia tugaskan untuk menyiapkan segalanya.
Bergegas Harvan melangkahkan kaki nya menuju ruang pribadi dimana Harin berada. Setelah Harin berada dalam pangkuannya, langsung ia meninggalkan ruangannya itu di ikuti oleh Jodi dibelakangnya.
“Kita mau kemana ayah?.” Tanya Harin dalam pangkuan sang ayah.
“Kita ke rumah kak Revy sekarang.” Kata Harvan dengan langkah seribunya.
Setelah mereka sampai di halaman parkir kantor, mereka langsung memasuki kuda besinya dan kuda besi itu pun langsung berlari dengan kecepatan diatas rata-rata menuju tempat dimana jet pribadi mereka yang tengah bersiap mengantar mereka ketempat tujuan.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1