
Hari Ini adalah 90 hari kemudian, setelah pertemuan Harvan juga Intan dengan Tuan Chin Hwa. Sepanjang waktu itu mereka habiskan dengan rutinitas sehari-hari. Di mana Harvan seperti biasa di sibukkan dengan kegiatan kantornya, sementara Intan lebih senang tinggal di rumah, menjadi ibu rumah tangga pada umumnya. Karena memang seperti itu keinginannya.
Lalu, apa kabar dengan Jodi dan Vivi? Selama tiga bulan terakhir ini, mereka di sibukkan dengan persiapan resepsi pernikahan mereka. Di mana hari ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu.
Mereka menggelar acara resepsi pernikahan di salah satu hotel bintang lima di Ibu kota. Mereka bahagia menyambut hari bahagia mereka, resepsi pernikahan mereka akan di gelar nanti malam. Karena pagi ini mereka akan melangsungkan akad nikah di kediaman Vivi.
Pagi-pagi sekali Intan sudah bersiap-siap untuk menghadiri acara akad nikah Jodi dengan Vivi. Intan bergegas beranjak dari tempat tidurnya. Tapi tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing dan perutnya mual, Uo…uo…. Suara Intan di kamar mandi. Harvan yang kala itu baru terjaga, merasa terkejut mendengar istrinya muntah-muntah, bergegas Harvan menghampiri Intan menuju kamar mandi.
“Sayang kamu kenapa?.” Tanya Harvan. Intan tidak menjawab, ia terus saja memuntahkan apa yang ada di perutnya hingga terkuras. Dengan lembut Harvan memijat-mijat leher bagian belakang Intan, Intan terus memuntahkan isi perutnya sampai ia lemas. Kemudian setelah di rasa tidak ada lagi yang ingin ia muntahkan, ia kembali ke tempat tidur dengan di papah oleh suaminya.
“Aku pusing sayang dan perutku mual-mual.” Kata Intan.
“Ya sudah, aku telepon dokter dulu.” Ujar Harvan, kemudian Harvan mengambil ponselnya, lalu menghubungi dokter pribadinya.
“Hallo dokter Wisnu. Bisa ke rumah sekarang? Istri saya tidak enak badan.” Seru Harvan.
“Baik, saya akan segera ke tempat bapak.” Suara di balik telepon.
“Ditunggu dok ya?.” Kata Harvan.
“Iya siap, sekarang juga saya meluncur.” Jawab dokter Wisnu.
Setelah Harvan menutup pembicaraannya dengan dokter, ia menghampiri istrinya yang tidur terlentang di tempat tidur.
“Sayang, sebentar lagi dokter Wisnu akan datang, tunggu sebentar ya.” Kata Harvan kepada istrinya.
“Iya.” Jawabnya lemas.
“Kamu masuk angin kali ya sayang, abis tidurnya gak pake baju terus.” Kata Harvan.
“Biasanya juga setiap hari gak pake baju, kamu yang lucuti, tidak pernah merasakan apa-apa, kenapa sekarang jadi begini ya.” Ujar Intan.
“Hehe.. mungkin anginnya numpuk sayang, jadi baru kerasanya sekarang.” Jawab Harvan.
“Masa sih, kamu juga tidur telanjang dada terus, gak pernah masuk angin.” Kata Intan.
“Aku kan cowok sayang, jadi sudah kebal.” Kata Harvan sambil mengelus-elus tangan istrinya.
“Apa mungkin aku hamil ya sayang?.” Tanya Intan, Harvan terdiam, kemudian,
“Iya betul.. mungkin kamu hamil sayang.” Jawab Harvan dengan perasaan senang.
“Soalnya bulan kemarin aku tidak datang bulan.” Jelas Intan.
“Iya ya setiap hari kita melakukannya. Bahkan pagi, siang dan malam, kayak minum obat aja, sehari tiga kali hehe.” Ujar Harvan.
“Apa kita periksa saja ke dokter spesialis Obgyn sayang?.” Tanya Intan.
“Baiklah nanti kita ke dokter Obgyn ya setelah dokter Wisnu memeriksamu.” Kata Harvan.
“Iya, tapi bagaimana dengan acara akad nikah kak Jodi? Kita kan akan menghadirinya pagi ini sayang?.” Ujar Intan.
“Tidak apa-apa sayang, nanti kita datang kesana setelah kita pulang dari dokter Obgyn, telat sedikit gak masalah, nanti aku akan telepon Jodi.” Jelas Harvan.
“Baiklah kalau begitu.” Ucap Intan.
Tak lama dokter Wisnu datang, di antar oleh bu nanah ke kamar mereka. Kemudian dokter Wisnu pun memeriksa Intan. Sesuai dengan prediksi, dokter Wisnu menyarankan Intan untuk datang ke dokter spesialis Obgyn untuk memastikan kehamilan Intan. Kemudian dokter Wisnu pun meninggalkan mereka.
“Betul sayang, sepertinya kamu hamil.” Harvan memeluk Intan dengan rasa bahagia.
“Akhirnya aku akan menjadi ayah yeah.” Seru Harvan bahagia.
__ADS_1
“Hallo anak ayah? Baik-baik ya di dalam, nanti ayah akan sering tengokin kamu hehe.” Kata Harvan berbisik pada perut Intan sambil mengelus-ngelusnya.
“Ih mau nya.” Jawab Intan seraya menekan kepala Harvan ke perutnya.
“Hehe.. Ya sudah sayang, ayo cepat kita ganti baju.” Ajak Harvan, kemudian Intan membersihkan diri dan berganti pakaian, begitupun Harvan, selepas mandi ia berpakaian rapi karena setelah dari dokter Obgyn, mereka akan langsung, menghadiri akad nikah Jodi dan Vivi.
“Sayang aku mau telepon Jodi dulu ya?.” Ujar Harvan semangat.
“Iya sayang.” Jawab Intan.
Setelah Harvan selesai menelepon Jodi, kemudian Harvan menggandeng istrinya turun kelantai bawah menuju garasi.
“Sayang kamu tidak makan dulu?.” Tanya Intan.
“Kamu lapar sayang?.” Tanya balik Harvan.
“Tidak sayang, aku gak selera, kamu makanlah dulu, ayo aku temani.” Jawab Intan.
Kemudian Intan dan Harvan berlalu ke ruang makan, Intan di bantu oleh pelayan menyiapkan hidangan untuk suaminya. Harvan pun menyantap sarapannya. Sementara Intam menemaninya duduk di samping Harvan seraya menutup hidung dan mulutnya dengan kelima jarinya.
“Kenapa sayang?.” Tanya Harvan.
“Bau masakan bikin aku mual sayang.” Jawab Intan yang masih menelungkupkan kelima jari pada hidung dan mulutnya.
Harvan tersenyum sambil melanjutkan sarapannya. Setelah selesai sarapan, mereka berlalu meninggalkan ruang makan dan menaiki kuda besinya. Kuda besi yang mereka tumpangi pun meninggalkan kediaman mereka. Lalu di dalam mobil Harvan bertanya pada istrinya.
“Apa sekarang masih mual sayang?.” Tanya Harvan.
“Sekarang mendingan tapi pusingnya masih.” Jawab Intan. Lalu Harvan menepikan mobilnya, memegangi kening istrinya. Dan merentangkan sandaran jok kebelakang.
“Istirahatlah.” Kata Harvan, kemudian melanjutkan kembali memacu kuda besinya.
Setelah 20 menit, sampailah mereka di tempat yang di tuju, kemudian mereka mendatangi dokter Obgyn, dan dokter Obgyn pun memeriksa Intan.
Betapa senang hati Harvan kala dokter mengatakan berita tersebut. Ia tak henti-hentinya memeluk dan menciumi pipi istrinya.
Setelah selesai dari dokter kemudian mereka melanjutkan perjalanannya untuk menghadiri akad nikah Jodi.
“Terima kasih sayang.” Ucap Harvan dengan senyuman bahagianya sambil memacu kuda besinya.
“Untuk apa?.” Tanya Intan.
“Terima kasih telah menjadi ibu bagi jabang bayi kita.” Ujar Harvan.
“Iya. Oya sayang, kamu mau anak laki-laki atau perempuan?.” Tanya Intan.
“Aku ingin bayi perempuan sayang.” Jawab Harvan.
“Kenapa?”tanya Intan.
“Aku ingin kamu versi kecilnya hehe.” Jawab Harvan dengan senyumannya.
“Kalau aku ingin anak kita laki-laki.” Kata Intan.
“Kenapa?.” Tanya Harvan.
“Agar ada yang melindungiku selain kamu sayang.” Jawab Intan.
“Ya sudah kalau begitu kita produksi banyak anak ya sayang, biar aku bisa lihat lebih banyak versi kecil kamu, dan kamu bisa dapat banyak Bodyguard hehe.” Canda Harvan.
“Iya kita produksi yang banyak biar rumah kita ramai hehe.” Tawa Intan.
__ADS_1
Tanpa terasa sepanjang perjalanan yang mereka isi dengan cerita soal anak, membawa mereka sampai di halaman rumah Vivi yang menjadi tempat akad nikah Jodi dan Vivi.
Mereka berdua di suguhkan pemandangan yang ramai, di mana tamu-tamu beramah tamah, yang menandakan acara akad nikah itu telah di laksanakan. Harvan pun mendekati Jodi yang kala itu tengah di kelilingi para tamu yang mengucapkan selamat.
“Selamat ya Jod, maaf gue telat. akhirnya elo SAH juga ya, haha.” Ujar Harvan seraya menyalami Jodi.
“Terima kasih boss haha.” Sambut Jodi.
“Gimana tadi elo ijab kabul nya? Satu tarikan nafas atau gak pake nafas? Haha.” Kelakar Harvan.
“Satu tarikan nafas dong, eh tapi tadi gue sempet lupa pas mau nyebut nama Vivi Har, tiba-tiba aja cewek yang pernah gue pacarin, semua pada ngebayangin di kepala gue, untung gue keburu ingat haha.” Kelakar Jodi.
“Bisa-bisa nya ya elo kayak gitu Jod, haha.” Gelak Harvan.
“Oya, gimana hasil pemeriksaan bini elo?.” Tanya Jodi.
“Positif Jod, usia kandungan Intan menginjak 8 minggu, dan gue bentar lagi jadi ayah paling keceh haha.” Jelas Harvan.
“Syukur deh Har, gue ikut bahagia.” Kata Jodi.
“Eh bini gue mana ya? Perasaan tadi ada di samping gue.” Kata Harvan, mencari-cari istrinya.
“Tuh di sono sama bini gue lagi di meja prasmanan, mereka berdua kan ratu kuliner haha.” Tunjuk Jodi.
“Eh bukannya bini gue suka enek cium makanan.” Ujar Harvan, yang kemudian menghampiri istrinya.
“Sayang kamu makan apa?, bukannya kalau cium makanan kamu enek?.” Tanya Harvan.
“Ini salad buah sayang, enak banget seger, mau gak? Nih a..” kata Intan seraya menyuapkan buah pada suaminya dan suaminya pun melahapnya.
“Iya benar, enak banget, a.. lagi dong sayang.” Pinta Harvan seraya membuka mulutnya dan Intan pun menyuapinya kembali.
Melihat tingkah mereka berdua, Vivi senyum-senyum kecil.
“Selamat ya Har, sebentar lagi jadi bapak.” Ujar Vivi.
“Iya Vi, makasih.” Jawab Harvan yang terus minta di suapi istrinya.
Kemudian Jodi menghampiri mereka dan memeluk Vivi dari belakang.
“Sayang.. kita ke kamar yuk.” Ajak Jodi pada Vivi.
“Ngapain?.” Tanya Vivi.
“Kita produksi yuk.” Jawab Jodi.
“Gila lo ya! Masih banyak tamu tau!.” Kata Harvan.
“Iya sayang ah malu-maluin aja.” Ujar Vivi.
“Ah udah gak kuat nih sayang, ayo ah.” Kata Jodi seraya menarik tangan Vivi membawanya ke kamar mereka.
“Ih sayang.. jangan sekarang, malu.. masih banyak tamu undangan.” Ujar Vivi.
“Ah bentar doang kok, ayo cepet.” Kata Jodi yang terus menarik istrinya untuk masuk kamar.
“Haha.. bener-bener itu penganten gak bisa nahan.” Kata Intan.
“Sayang… kita pulang yuk? Aku latah lihat mereka, jadi pengen.” Kata Harvan.
“Ih sayang, kamu sama aja gila nya ya.” Kata Intan seraya mencubit perut suaminya.
__ADS_1
“Aw.. sakit sayang.” Kata Harvan sambil meringis memegang perut bekas cubitan istrinya.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂