
Sementara itu keadaan disekolah menjadi riuh setelah terdengar kejadian kabar Harin telah diculik seseorang. Semua wali murid merasa panik. Mereka saling berkerumun membicarakan kabar hangat tersebut.
Kemudian Harvan dan kedua pengawal tadi dengan tergesa memasuki ruangan ketua yayasan sekolah tersebut. Tak lama dari itu, Jodi berlari menyusul memasuki ruangan tersebut.
Didalam ruangan ketua yayasan, nampak bapak ketua yayasan sekolah tersebut, Harvan yang duduk di kursi tamu dan kedua pengawal. Kemudian Jodi duduk di samping Harvan. Tak lama Miss Ayunda memasuki ruangan itu dan duduk bersama mereka yang telah berkumpul.
Setelah miss Ayunda menjelaskan kejadian tersebut, disusul penuturan kedua pengawal itu akhirnya Jodi meminta ijin kepada ketua yayasan untuk melihat rekaman CCTV di area sekolah tersebut. Ketua yayasan pun memberikan ijin dan membawa mereka keruang monitor sekolah tersebut.
Didalam perjalanan menuju ruang monitor Jodi menghubungi team Garuda 2 yang tengah mengejar mobil penculik.
“Gimana?.” Tanya Jodi.
“Kami masih mengejar Boss!.” Jawaban dibalik sambungan seluler.
“Gue gak mau tahu! Kejar sampai dapat!.” Tegas Jodi.
“Siap Boss!.” Jawaban dibalik seluler dan TUT suara sambungan terputus.
*
*
Sementara itu di tempat lain. Nampak terjadi aksi kejar-kejaran antara mobil Reyhan yang menculik Harin dan mobil team Garuda 2.
Mereka saling memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh.
“Kita ke arah mana Boss?.” Tanya supir pada Reyhan.
“Nanti di depan lampu merah ke dua, kita belok kanan melawan arus! Jangan hiraukan lampu lalu lintas, pokonya terobos saja! Nanti Jarak 100 meter ada gang kecil, kita masuk gang itu untuk ganti mobil yang sudah menunggu kita di gang itu.” Jelas Reyhan.
Dan aksi kejar-kejaran itu masih berlangsung, pada saat lampu lalu lintas berwarna merah, mobil Reyhan terus menerobos belok kanan melawan arus, membuat mobil pengawal kehilangan jejak.
Sementara mobil Reyhan terus melaju dengan kecepatan tinggi, pada saat menemui gang kecil mobil mereka masuk kedalam gang itu, dan didepan nampak satu unit van hitam tengah menunggu, bergegas Reyhan membawa Harin diikuti oleh supir itu menaiki van yang sudah berada disana.
Dan mereka pun lari menggunakan van tersebut.
“Kita kemana Boss?.” Tanya supir.
“Ke arah puncak Cianjur.” Jawab Reyhan.
Dan van itu pun melesat dengan kecepatan tinggi membawa mereka ke tempat yang dituju.
Sementara mobil pengawal yang mengejar mobil penculik tertinggal jauh dibelakang. Selain mereka menunggu lampu hijau menyala, mereka juga kesulitan berbelok karena melawan arus. Akhirnya mereka putar balik mencari jalan alternatif untuk menelusuri jalan yang dilalui mobil penculik tadi.
Pada saat mereka melewati gang kecil, salah satu pengawal melihat mobil si penculik terparkir di gang tersebut. Kemudian mobil pengawal memundurkan mobilnya dan memasuki gang tersebut. Setelah mereka sampai di belakang mobil penculik itu. Dengan cepat mereka keluar dan memeriksa mobil tersebut. Ternyata mobil itu telah kosong. Karena memang Reyhan telah berganti mobil.
Kemudian pengawal itu menghubungi Jodi.
Jodi yang kala itu baru sampai diruang monitor sekolah, ia mendengar nada panggilan pada ponselnya, segera jodi menerima panggilan tersebut.
“Hallo. Bagaimana?.” Tanya jodi.
“Sorry Boss, kita kehilangan jejak, sepertinya mereka mengganti kendaraannya, sementara kendaraan yang kita kejar terparkir di gang kecil dan sudah steril.” Jelas suara dibalik ponsel.
“Aaah! Sial!.” Amarah Jodi dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
“Periksa mobilnya! Cari jejak yang tertinggal dan periksa nomor polisinya! Segera temukan hasilnya, siapa pemilik kendaraan itu!.” Tegas Jodi.
“Siap Boss!.” Jawaban dibalik ponsel dan TUT sambungan terputus.
Jodi terdiam, menopangkan kedua tangannya pada meja dengan menundukkan kepalanya. Kemudian ia alihkan pandangannya pada Harvan yang tengah duduk disebuah kursi menunggu kabar dari Jodi.
“Bagaimana Jod?.” Suara Harvan dengan bibir yang bergetar.
“Har, sabar ya! Mereka kehilangan jejak.” Jawab Jodi melemah.
Mendengar kabar itu. Harvan langsung menengadahkan kepalanya seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dengan kedua telapak tangannya menjambak rambutnya sendiri.
Air matanya tak terbendung menetes di sudut pipinya. Hancur hati dan perasaannya. Pikirannya kacau memikirkan nasib anaknya.
Harin yang tak pernah lepas dari pangkuannya kini entah dimana. Ia membayangkan apa yang akan dilakukan penculik itu pada putri kesayangannya itu.
Terlintas dalam pikirannya apa yang dikatakan Aldo padanya tempo hari. Bergegas ia merogoh ponsel dari saku jas nya berniat menghubungi Aldo. Ia sentuh layar ponselnya untuk menghubungi Aldo. Tetapi lama Aldo tak menjawab panggilannya sampai panggilan itu terputus. Kembali ia mencoba menghubungi Aldo, tapi tiba-tiba ia mendengar suara dibalik ponselnya.
“Hallo Har, Sorry gue tadi dikamar mandi, ada apa?.” Tanya Aldo.
“Do, putri gue di culik!.”
“Apa diculik?, oke gue coba hubungi si Reyhan, gue curiga sama dia, bisa jadi dia pelakunya dan ini memang rencananya, elo yang sabar ya Har, tunggu kabar dari gue.” TUT tanda panggilan terputus.
*
Sementara itu didalam van Reyhan yang akan membawa mereka ketempat tujuan melesat dengan kecepatan sedang karena mereka merasa sudah aman.
“Haha, akhirnya kali ini rencana gue berhasil haha.” Kelakar Reyhan, sementara Harin tertidur pulas disampingnya.
“Hallo sayang, haha coba tebak! Apa kali ini aku berhasil? Atau tidak? Haha.” Reyhan begitu bahagia
“Kalau aku dengar dari nada suaramu sepertinya kali ini kau berhasil.” Suara dibalik ponsel.
“Haha, betul sekali sayang, anak si Harvan kini sedang bersamaku, menuju ketempat kita, haha.” Kembali jodi tertawa dengan penuh semangat.
“Haha, akhirnya keberuntungan berpihak pada kita. Baiklah aku tunggu. Dan kita harus rayakan keberhasilan kita ini haha.” Selvy pun merasakan kebahagiaan karena rencananya kali ini berhasil.
*
Sementara ditempat lain. Aldo berusaha menghubungi Reyhan tetapi nomor yang dituju sibuk. Aldo terus saja melakukan panggilan hingga akhirnya panggilan yang ia lakukan diterima oleh Reyhan.
“Hallo Do, tumben luh telepon gue.” Kata Reyhan.
“Elo lagi sibuk ya? Kalau lagi sibuk lain kali aja gue hubungi.” Kata Aldo berpura-pura agar tidak dicurigai kalau dia tengah mencari tahu apa yang Reyhan lakukan.
“Gak kok Do, gue gak lagi sibuk, gue cuma lagi diperjalanan aja mau pulang, memangnya ada apa?.” Tanya Reyhan.
“Ini Rey, gue mau ngadain pesta, nanti malam, gue mau elo datang.” Kata Aldo.
“Pesta apaan? Tumben luh ngundang gue haha.” Kelakar Reyhan.
“Gue gak pernah ngadain pesta tahu! baru kali ini gue adain pesta minuman, gue harap elo bisa datang. Tapi kalau elo sibuk sih gak apa-apa.” Kata Aldo.
“Ya sudah, kalau gue sempet gue pasti datang, soalnya gue lagi ada urusan penting dulu, mudah-Mudahan nanti malam kelar ya.” Kata Reyhan.
__ADS_1
“Oke, memangnya urusan penting apa Rey?.” Tanya Aldo.
“Biasalah haha, rencana diatas rencana Do, nanti gue kasih tahu deh haha.” Kelakar Reyhan.
Mendengar dari suara Reyhan yang sepertinya bahagia puas, aldo sedikit curiga bahwa Reyhan memang telah melakukan penculikan itu, tetapi tidak ada bukti yang meyakinkan bagi Aldo. Dan dia pun tidak ingin bertanya lebih banyak karena takut Reyhan curiga.
“Oke, kalau gitu. Udah dulu nya Rey nanti gue hubungi elo lagi, gue lagi sibuk persiapan nih.” Kata Aldo menutup pembicaraannya dengan Reyhan.
Aldo terdiam memikirkan apa yang dikatakan Reyhan tadi. Kemudian cepat-cepat ia menghubungi Harvan.
*
Sementara itu Harvan yang berada diruang monitor sekolah tengah memperhatikan rekaman CCTV bersama Jodi dan ketua yayasan juga beberapa orang yang bertugas diruang monitor tersebut. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, bergegas ia terima panggilan tersebut, saat ia melihat pada layar ponselnya bahwa Aldo yang memanggilnya.
“Terima! Loadspeaker, lalu minta sama si Aldo nomor ponsel si Reyhan, kita lacak keberadaan dia!.” Tegas Jodi pada Harvan.
Lalu Harvan menerima pangggilan dari Aldo tersebut. Loadspeaker mode on,
“Hallo Do! Gimana?.” Suara Harvan setengah putus asa.
“Gue barusan udah hubungi si Reyhan, gue tanya dia lagi ngapain, terus gue pura-pura minta dia supaya nanti malam datang ke pesta gue. Dari nada bicaranya sepertinya dia lagi senang, tetapi dia gak bilang apa yang lagi dia lakuin, dia cuma jawab lagi melakukan rencana diatas rencana, gue gak ngerti maksudnya apa. Kalau gue desak juga takutnya dia curiga sama gue Har, jadi cuma Info itu aja yang bisa gue kasih ke elo, tapi sepertinya gue memang harus ngadain pesta nanti malam, takutnya memang dia bersedia datang. Rencana gue nanti malam kalau dia datang mau gue bikin dia mabuk, biar tanpa sadar dia bisa ngomongin apa yang udah dia lakuin, gitu Har.” Jelas Aldo.
“Oke Do, makasih infonya, biar gue pelajari, tapi bisa kan elo kirimin nomor ponsel Reyhan ke gue, mau gue lacak posisi dia.” Kata Harvan.
“Ya udah, langsung gue kirim ya sekarang.” Kata Aldo dan sambungan ponsel pun terputus.
Tanpa menunggu lama Aldo pun mengirimkan nomor ponsel Reyhan pada Harvan.
Bergegas Jodi mengambil ponsel Harvan. Mengirimkan nomor ponsel Reyhan pada ponselnya. Kemudian Jodi langsung menghubungi team cybernya untuk melacak keberadaan nomor Reyhan.
Sementara pada layar monitor rekaman CCTV mereka melihat penampakan lelaki kurus dengan memakai baju batik serta kopiah dengan jelas melakukan tindakan penculikan pada Harin, tetapi karena hampir seluruh mukanya ditutupi oleh masker jadi wajahnya tidak begitu dikenali.
“Oke baik, terima kasih pak ketua yayasan yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk melihat rekaman CCTV kejadian penculikan ini. Kami mencurigai seseorang yang kami kenal.” Tegas Jodi.
“Baik Tuan, apa perlu saya melaporkan pada polisi?.” Kata ketua yayasan.
“Tidak perlu pak, biar kami yang urus sendiri.” Tegas Jodi.
Setelah Jodi dan Harvan juga pengawal mereka selesai menyelidiki hasil rekaman CCTV tersebut, mereka pun pamit pada ketua yayasan dan meninggalkan sekolah tersebut.
Didalam mobil Harvan tak berbicara sepatah katapun, ia hanya terdiam menyesali kelalaiannya terhadap putrinya itu.
Sembari menyetir, sesekali Jodi memalingkan penglihatannya pada Harvan yang duduk disampingnya.
“Sabar ya Har, gue pastikan Harin secepatnya kembali dan gue dapat nangkap si Reyhan. Gue yakin dia pelakunya.” Tegas Jodi.
“Gue salah Jod, gue benar-benar menyesal tidak bisa jaga Harin dengan baik. Gue gak bener jadi ayah.” Sesal Harvan dengan air muka kesedihannya.
“Elo jangan ngomong gitu Har, ini musibah, kita tidak tahu musibah itu kapan datangnya, sekalipun kita sudah melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain. Gue janji akan menemukan Harin secepatnya.” Ujar Jodi.
“Kenapa gue sama Harin gak bisa hidup tenang Jod. Kenapa selalu saja ada masalah yang mengancam keluarga gue, apa salah gue Jod, kalau memang si Reyhan mau apa yang gue miliki. Silahkan ambil semua, asal jangan putri gue, dia harta satu-satunya yang sangat berharga buat gue, dia satu-satunya permata yang Intan tinggalkan buat gue. Gue janji sama Intan untuk menjaganya dengan baik. Tapi gue gak becus jadi ayah Jod. Gue gak bisa melindungi putri gue, sementara jelas-jelas bahaya ada di depan mata. Kalau terjadi sesuatu pada Harin, gue gak akan pernah bisa maafin diri gue sendiri.” Keluh Harvan lemah dengan cucuran air mata.
“Har, elo jangan ngomong kayak gitu. Yakinkan hati elo, kalau Harin bisa kita temukan kembali. Percaya sama gue! Gue akan cari Harin sampai dapat walau pun nyawa gue taruhannya. Harin udah gue anggap anak gue sendiri Har. Kalau pun ada orang yang paling bersalah dalam kehidupan kalian, gue orangnya Har! Gue yang salah telah membiarkan gue hidup sama iblis yang memisahkan Harin sama ibunya. Gue yang paling berdosa Har, karena memelihara pembunuh dirumah gue sendiri. Karena itu, gue akan bayar semuanya dengan nyawa gue sendiri.” Teriak Jodi dengan air muka penyesalan.
Mereka berdua pun terdiam dengan menyimpan penyesalannya masing-masing.
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥