Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Mencari Pondok Emak (2)


__ADS_3

Pagi menjelang, suara kicauan burung dan deburan ombak sayup-sayup menyentuh telinga siapapun yang berada disekitar tempat itu.


Pagi-pagi sekali Harin dan Revy sudah terbangun, mereka pergi ke dapur sederhana rumah itu hendak menemui ibu Aminah yang sedang sibuk membuat gorengan.


“Ibu sedang apa?.” Tanya Harin.


“Ibu sedang membuat gorengan nak.” Jawab bu Aminah.


“Aku bantu ya bu?.” Kata Revy


“Boleh, memangnya kamu bisa memasak?.” Tanya bu Aminah pada Revy.


“Hehe, gak sih bu tapi aku mau belajar sama ibu.” Jawab Revy.


“Hehe, sekarang lihat saja dulu ya bagaimana ibu membuat gorengan ini, setelah kamu amati baru nanti belajar memasak sendiri.” Kata bu Aminah.


Lalu Revy dan Harin melihat bagaimana cara bu Aminah membuat gorengan dari mulai meracik adonannya hingga memasukannya pada penggorengan.


“Oya bu, bapak sama Sulaiman belum pulang ya?.” Tanya Harin.


“Belum nak, mungkin nanti siang, karena bapak dan Sulaiman harus ke dermaga dulu menjual hasil tangkapan ikannya.” Jelas bu Aminah.


“Jauh gak bu dermaganya dari sini?.” Tanya Revy.


“Dekat na, sepertinya kemarin kamu juga lewat dermaga pada saat Sulaiman membawa kalian ke sini.” Jelas bu Aminah.


“Iya mungkin bu, aku tidak memperhatikan karena asyik ngobrol sama Sulaiman hehe.” Kata Revy.


Mereka bertiga seperti ibu dan anak di dapur tersebut. Saling berbagi cerita berbagi pengalaman sembari memakan gorengan yang mereka masak. Setelah mereka selesai melakukan aktivitas di dapur, kemudian mereka bersiap untuk pergi ke pasar seperti yang telah mereka janjikan pada malam tadi.


Dan mereka pun berjalan menyusuri gang sempit, sampai tibalah mereka disebuah toko pakaian anak di pinggir jalan kota kecil tersebut.


“Kita gak jadi ke pasar bu?.” Tanya Revy.


Nanti kita ke pasar belanja kebutuhan dapur setelah belanja baju untuk kalian ya.” Jawab bu Aminah.


“Baiklah.” Jawab Revy.


Kemudian Revy dan Harin memilih pakaian untuk mereka sendiri beberapa stel. Mereka cukup bahagia dan tidak banyak protes, biasanya mereka memakai pakaian branded, sementara disini, meski bukan baju mahal, mereka cukup senang.


*


Sementara itu Sulaiman dan ayahnya yang berada di dermaga tengah berbincang dengan beberapa nelayan lain.


“Oya mang Ramadhan, kira-kira amang pernah dengar tidak? kalau di sekitar tempat kita, ada seorang nenek yang rumahnya di pinggir pantai dan mempunyai padepokan silat?.” Tanya Pa Ahmad.


“Kalau disekitar kita sih sepertinya tidak ada karena pinggiran pantai disekitar sini tidak ada rumah-rumah pribadi, sudah penuh sama hotel dan tempat rekreasi, paling juga ke daerah barat sana pak.” Jawab Ramadhan sembari mengeluarkan ikan dari keranjang dan menata rapi pada lapak ikan.


“Iya ya sepertinya bukan di daerah kita.” Kata pak Ahmad.


“Ada apa kang?.” Tanya seorang nelayan lain yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


“Ini pak Ahmad mencari rumah nenek-nenek yang punya padepokan dan rumahnya di pinggir pantai.” Jelas pa Ramadhan pada seorang nelayan itu.


“Emang ada apa pak Ahmad?.” Tanya nelayan itu.


“Ah tidak ada apa-apa, saya ada tamu yang mencari rumah neneknya itu.” Jelas pak Ahmad.


“Eh tunggu pak, sepertinya saya pernah dengar dari tetangga saya pak, dia pernah cerita saudaranya menjadi pendekar di padepokan silat yang gurunya itu si emak.” Jelas nelayan itu.

__ADS_1


“Yang benar pak?.” Pak Ahmad penasaran.


“Iya pak, tapi saya tidak yakin apakah emak itu yang tamu bapak cari atau bukan, karena kan disini banyak padepokan.” Kata nelayan itu.


“Iya sih, tapi mungkin saja emak itu adalah emak yang tamu saya cari, oya apa saudara akang cerita? Dimana si emak itu tinggal?.” Tanya pak Ahmad.


“Kalau tidak salah, dia cerita di daerah Sukawayana pak.” Jelas nelayan itu.


“Oh daerah Sukawayana ya. Ya sudah nanti saya akan coba kesana, mungkin saja emak itu adalah emak yang dimaksud tamu saya itu.” Kata pak Ahmad.


“Terima kasih ya kang informasinya.” Sambung pak Ahmad.


“Sama-sama pak, mudah-mudahan memang si emak itu yang dicari tamu pak Ahmad ya.” Kata nelayan tersebut.


Akhirnya mereka kembali menata ikan yang mereka susun pada lapak mereka masing-masing untuk mereka jual.


“Sulaiman, bagaimana kalau kamu jaga dulu lapak ya? Bapak mau mencoba mencari emaknya nak Harin ke daerah Sukawayana.” Kata pak Ahmad pada Sulaiman.


“Baik pak, biar saya yang jaga lapak sendiri.” Jawab Sulaiman.


“Ya sudah bapak berangkat dulu ya.”


“Iya pak, hati-hati ya.” Kata Sulaiman.


Lalu pak Ahmad pergi menuju parkiran motor dan mengambil motor bututnya yang selalu setia mengantarnya kemana pun ia pergi.


Dengan motor bututnya pak Ahmad keluar dari parkiran dermaga tempat pelelangan ikan itu. Ia menyusuri jalan ke arah barat menuju tempat yang ia hendak datangi.


Sampailah ia di pantai Sukawayana. Pantai yang menyimpan banyak cerita dan sejarah bagi para leluhur masyarakat disana.


Bahkan menurut sejarah, Sukawayana adalah tempat yang selalu dipakai meditasi oleh Presiden pertama Republik Indonesia, hingga Bapak Soekarno membangun sebuah hotel bintang empat di tempat itu, yaitu hotel Inna Samudera.


Kemudian ia kembali melangkahkan kakinya kearah motor yang ia parkir untuk menyusuri jalan lebih ke daerah barat lagi melewati hotel Inna Samudera. Ia terus memacu motornya melewati hotel itu hingga sampailah ia pada sebuah jalan yang menurutnya, mungkin disanalah ia dapat menemukan sebuah rumah milik seseorang yang ia cari. Setelah menempuh jarak 300 meter, dari kejauhan nampak dalam pandangannya sebuah pondok yang menarik perhatiannya.


Pak Ahmad terus memacu kendaraannya hingga ia sampai disekitar pondok itu. Ia turun dari motor bututnya, dan memarkirkan motornya di sebelah mobil hitam yang terparkir di sana.


Ia langkahkan kakinya untuk mendekat ke arah pondok itu. Setelah sampai di depan pondok itu ia mengetuk pintunya, dan tak butuh waktu lama keluarlah dari balik pintu seorang pria tampan.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.”


“Maaf, apakah betul ini rumah emak?.” Tanya pak Ahmad pada seseorang yang membuka pintu.


“Iya betul pak.”


“Apa saya bisa bertemu dengan emak?.” Tanya Pak Ahmad kembali.


“Oh silahkan masuk pak, biar saya panggilkan emaknya.”


“Baik terima kasih.”


Lalu pak Ahmad masuk keruangan tamu dari pondok tersebut, kemudian ia duduk pada salah satu kursi sederhana di ruang tamu itu.


Setelah seseorang yang membuka pintu tadi memanggil emak dari belakang, tak lama emak masuk keruangan tamu itu dan duduk didepan pak Ahmad.


“Maaf, ada perlu apa anda mencari saya?.” Tanya emak.


“Maaf mak saya mengganggu, sebelumnya perkenalkan, nama saya Ahmad, saya adalah seorang nelayan. Maksud kedatangan saya kemari adalah ingin menanyakan sesuatu pada emak.” Kata pak Ahmad.

__ADS_1


“Silahkan, bicaralah.”


“Begini mak, saya mau bertanya apa emak memiliki padepokan?.”


“Iya saya memiliki padepokan bela diri, hanya saja padepokan saya berada di kampung sebelah.”


Pak Ahmad semakin yakin bahwa emak yang ia datangi adalah emak yang Harin maksud.


“Begini mak, anak saya Sulaiman kemarin menemukan dua orang anak yang tersesat dari Jakarta katanya mereka korban penculikan dan setelah mereka berhasil kabur dari penculik itu, mereka lari ke kota ini untuk mencari emaknya.” Jelas Pak Ahmad .


“Mereka hanya mengatakan bahwa emaknya tinggal dipinggir pantai dan memiliki padepokan, jadi hanya itu informasi yang menjadi petunjuk untuk saya, setelah saya bertanya pada teman saya, dia memberitahu saya ketempat ini, maka dari itu saya menemui emak.” Sambung pak Ahmad.


“Hihihi… ternyata buyutku ada bersamamu Ahmad hihi.” Seperti biasa emak mengeluarkan jurus pekikak tertawa khas nya.


“Jadi benar?! Yang mereka cari itu emak?.” Tanya pak Ahmad seakan tak percaya.


“Betul mereka sedang mencari saya, bagaimana keadaan mereka?.” Tanya emak.


“Alhammdulah mereka sehat mak, merek anak-anak yang baik.”


“Syukurlah kalau demikian. Har, nak Harvan, kemarilah.” Panggil emak.


“Ada apa mak?.”


“Tolong ambilkan minum untuk tamu kita.”


“Ini saya sudah ambilkan mak.” Jodi datang membawa nampan yang berisi satu kendi dan beberapa gelas dari tanah liat.


“Nah Ahmad, salah satu dari mereka adalah ayah anak itu.” Kata emak dihadapan mereka bertiga.


Harvan dan Jodi yang masih berdiri sedikit bingung dengan apa yang emak bicarakan. Kemudian pak Ahmad memandangi ke arah Jodi dan Harvan bergantian.


“Ada apa mak?.” Tanya Harvan heran.


“Anak mu ada di rumah tamu kita.”


“Apa!!!” Harvan dan Jodi sama-sama terkejut.


“Iya, mereka ada bersama kami dari hari kemarin.” Kata Pak Ahmad.


Betapa terkejutnya Harvan kala mendengar apa yang dikatakan tamu yang datang itu. Begitu pun dengan Jodi.


“Bagaimana keadaan putri saya pak?.” Tanya Harvan dengan mata yang berkaca-kaca mendekat ke arah pak Ahmad.


“Alhamdulillah mereka baik-baik saja.” Jawab pak Ahmad.


“Oh ya Tuhan… terima kasih Kau telah memberikan jalan kepada kami sehingga putri kami dapat ditemukan.” Harvan menelungkupkan kedua telapak tangan pada wajahnya.


“Pak, saya rindu putri saya, dia tidak pernah lepas dari pelukan saya, saya sangat mengkhawatirkannya, bisa kah bapak membawa saya ke tempat bapak untuk menemui anak saya?.” Kata Harvan dengan bibir yang bergetar menahan kerinduannya.


“Tentu saja tuan, mari sekarang ikut saya.” Kata pak Ahmad.


“Gue ikut Har.” Kata Jodi.


Lalu Jodi dan Harvan meminta ijin pada emak untuk menjemput putrinya di rumah pak Ahmad.


Setelah mereka meminta ijin dan emak pun memperbolehkan mereka pergi. Akhirnya Harvan dan Jodi meninggalkan pondok itu.


Jodi dan Harvan menunggangi kuda besinya mengikuti dari belakang motor pak Ahmad yang menuntun mereka menuju kediaman pak Ahmad dikampung nelayan.

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2