
Hari ini adalah beberapa hari setelah kepulangan Harvan dan putrinya juga Jodi, kembali dari Jerman. Sejauh ini mereka dalam keadaan aman tinggal di rumah mereka.
Harvan dan Jodi seperti biasa melakukan aktivitas kantornya dengan membawa Harin setiap harinya. Kemana pun mereka pergi Harin selalu mereka bawa.
Sementara Selvy dan Reyhan masih belum menemukan anak-anak yang mereka cari yaitu Revy dan Harin. Padahal tanpa sepengetahuan mereka, Revy sudah kembali ke Jerman dan Harin sudah kembali kepada Ayahnya.
Sementara Marlish setiap hari selalu berpura-pura menghubungi Selvy untuk menanyakan Revy, agar Selvy tidak curiga kalau sebenarnya Revy sudah berada di Jerman.
Karena telepon dari ibu nya itu sudah dirasakan seperti teror baginya, akhirnya Selvy tidak pernah menjawab panggilan telepon dari ibunya lagi.
“Ah menyebalkan! Semua ini gara-gara anak sialan itu!.” Teriak Selvy.
“Gak ada bosannya tiap hari kau marah-marah terus.” Kata Reyhan.
“Bagaimana aku tidak marah! Harapan kita semakin tipis untuk merebut segalanya dari si Harvan itu!.”
“Heh! Kau jangan asal ngomong ya! Gue akan kejar dia sampe mati! Selama gue hidup, selama itu lah gue akan jadi teror buat dia!.” Geram Reyhan.
“Cepat lakukan sesuatu! Aku sudah bosan dengan semua ini. Kalau kita hanya menunggu, kita akan terus-terusan seperti ini!.” Selvy dengan gemuruh di dadanya.
Selvy dan Reyhan tiada hentinya berdebat dan berdebat. Hanya kemarahan yang terlontar disetiap harinya. Mereka sudah kehabisan akal untuk mencari anak-anak yang mereka cari, sampai pada suatu ketika Reyhan dengan tidak sengaja melihat dalam media sosial, dimana ia melihat Revy pada akun media sosialnya mengunggah beberapa foto.
Betapa terkejutnya Reyhan melihat Revy tengah selfie bersama oma dan opanya. Ia lihat pada tanggal unggahannya baru beberapa menit yang lalu Revy mengunggah foto tersebut.
“Sialan! Bagaimana anak ini bisa sampai kembali ke Jerman! Dan dimana anak sialan itu! Sejak kapan dia kembali kesana!.” Reyhan marah sejadi-jadinya.
“Coba kau lihat ini!.” Reyhan melemparkan ponselnya pada Selvy. Kemudian Selvy mengambil ponsel Reyhan, pada saat Selvy melihat pada layar ponsel itu, betapa terkejutnya ia dan langsung mengambil ponselnya untuk menelepon ibu nya.
“Hallo mama!.” Teriak Selvy.
“Apa yang mama lakukan padaku?.” Sambungnya.
“Apa maksudmu? Setelah kau tidak mau mengangkat teleponku, akhirnya kau menyerah?!.” Jawaban ibunya dibalik ponsel.
“Jangan bohon padaku mama! Sejak kapan anakku kembali ke Jerman?. Aku melihat dia mengunggah fotonya di media sosialnya.” Tanya Selvy kasar.
“Owh, akhirnya kau tahu juga kalau Revy sudah kembali pada kami.”
“Katakan! Siapa yang membawa Revy kembali kesana! Kenapa mama bohong padaku! Aku disini capek-capek mencarinya ternyata dia sudah ada disana!.” Teriak Selvy.
“Hei anak tidak tahu diri! Siapa sebenarnya yang berbohong! Revy bilang kalau kalian tidak akan membawanya kembali ke Jerman, kau bersekongkol dengan lelaki itu menculik Revy dari kami untuk kalian jadikan alat dalam hal kejahatan. Kau tahu! Aku tidak akan pernah membiarkan kalian melakukan itu!.”
__ADS_1
“Tapi dia anakku mama! Apapun yang akan ku lakukan padanya itu hak ku!.”
“Apa?! Anakmu! Kalau kau merasa dia anakmu, kenapa tak kau urus dia? Kenapa kau serahkan kepada kami?, dan sekarang saat kau ingin menggunakan dia untuk alat kejahatan kalian, kau ingin mengambilnya? Enak saja!.”
“Kembalikan dia padaku mama! Kembalikan dia! Kalau tidak….”
“Kalau tidak apa hah!! Kau akan membunuh kami! Silahkan kalau kau berani!.”
“Dengan baik-baik mama! Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang lebih jahat dari ini!! Kembalikan dia padaku!.”
“Aku tak akan membiarkan cucuku berada ditangan manusia-manusia jahat seperti kalian! Meskipun aku harus mengorbankan nyawaku, aku tidak akan pernah memberikan dia pada kalian!.”
“Baiklah mama! Kau sudah memaksaku untuk melakukan hal yang kalian tidak harapkan selama ini. Bagaimana pun caranya, aku akan mengambil Revy kembali bersama kami!.”
“Lakukanlah jika kau bisa! Aku akan laporkan kalian pada polisi! Sebelum kamu menculiknya kembali, polisi akan lebih dulu menangkapmu!.”
“Ah sial! Dasar ibu durhaka kau!.”
“Mana ada ibu yang durhaka pada anak bajingan seperti kamu Selvy! Sadarlah bahwa kamu telah dikuasai nafsu setan!.”
“Alah! Omong kosong dengan ceramahmu itu! Aku tidak perduli sekalipun aku menjadi setannya! Dengar baik-baik orang tua dungu! Apapun akan kulakukan untuk membuat Revy kembali padaku! Tunggu sampai aku mengambilnya kembali!.”
“Kamu benar-benar telah di butakan oleh nafsu durjanamu Selvy, kamu benar-benar telah memanipulasi dirimu, aku kira kau adalah anak yang baik, aku kira kau adalah korban dari kejahatan seorang lelaki, tetapi ternyata aku salah, ternyata kau sendiri penjahatnya! Aku tidak menyangka kau berbuat seperti itu Selvy. Aku adalah ibumu yang telah susah payah melahirkan kamu, tapi kau tak sedikitpun punya hati untuk melihat semua itu dengan kebaikan, kau telah lupa dari mana asalmu Selvy.”
“Tutup mulutmu anak kurang ajar!.” Teriak Marlish.
Tanpa sepengetahuan Marlish, ternyata Revy melihat neneknya tengah menerima telepon dari ibunya itu. Melihat neneknya menangis sembari memegang dadanya yang sakit akibat efek dari kata-kata anaknya yang kasar, Revy langsung merebut ponsel neneknya itu.
Pada saat ponsel itu ia letakan ditelinganya, ia mendengar umpatan-umpatan dari ibunya itu yang di lontarkan untuk neneknya, tanpa berfikir panjang ia berteriak,
“Kau bukan ibuku! Kau hanya menjadi setan dalam hidupku! Kau tidak akan pernah bisa kembali mengambilku dari oma dan opaku. Aku tidak sudi hidup di bawah pengasuhan wanita jahat sepertimu! Kalau terjadi sesuatu pada oma, ingat! Kau harus bertanggung jawab.” Terisak Revy dengan amarah yang membuncah saat melihat nenek di sampingnya terkapar pucat pasi.
Lalu Revy berteriak memanggil kakeknya. Tak lama kakeknya mendekat dengan tergopoh-gopoh karena ia berlari dari taman, masuk ke dalam rumahnya saat mendengar cucuknya berteriak memanggil namanya.
“Ada apa sayang?.” Ujarnya, pada saat melihat istrinya terkapar di samping cucunya, dengan cepat ia meraih istrinya itu.
“Kenapa oma mu Revy?.” Sambungnya.
“Gara-gara menerima telepon dari mama, oma jadi seperti ini opa.” Ucapnya dengan tangisan di wajahnya.
Lalu sang kakek mengambil ponselnya dan menghubungi rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Setelah menghubungi rumah sakit terdekat, sang kakak membawa tubuh istrinya keatas sofa yang tidak jauh dari ditempat itu.
“Marlish bangunlah sayang, kau harus kuat Marlish demi Revy dan aku bertahanlah.” Suara parau kakek itu memeluk istrinya yang terbujur kaku karena serangan jantung yang di alaminya.
“Oma please bertahanlah, sebentar lagi mobil ambulance akan datang menjemput kita.” Pelukan gadis 9 tahun itu semakin erat, dengan deraian air mata ia menjatuhkan kepalanya ditubuh nenek kesayangannya itu.
*
Tak menunggu waktu lama, ambulance yang mereka hubungi datang. Dengan segera beberapa team kesehatan turun dari mobil ambulance tersebut memasuki rumah itu dan dengan segera membawa tubuh nenek itu kedalam ambulance tersebut.
Sang suami dan sang cucu pun ikut masuk kedalam mobil ambulance tersebut.
Sementara itu, team yang sengaja Jodi simpan di area rumah itu menyaksikan kejadian yang mengharukan itu. Dengan cepat satu mobil mengikuti kemana ambulance itu pergi, sementara yang lainnya merogoh ponselnya hendak menghubungi seseorang.
“Hallo Boss, sepertinya oma Revy dibawa oleh ambulance menuju salah satu rumah sakit.”
“Cepat kejar informasinya.” Suara di balik ponsel.
“Siap Boss.” Jawab salah seorang team tersebut.
*
Sementara itu, di sebuah gedung bertingkat di kawasan pusat Ibukota. Nampak Jodi setengah berlari bergegas meninggalkan ruangannya menuju ruangan Bossnya.
Tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk kedalam ruangan itu. Di dapatinya Harvan dan putrinya tengah bermain pada playground diruangan tersebut.
“Ada apa Jod?.” Tanya Harvan.
“Ada laporan dari team gue disana, oma dilarikan ambulance ke salah satu rumah sakit.” Jodi sedikit panik.
Pada saat Jodi menyampaikan kabar tersebut, langsung saja Harvan merogoh ponselnya dan menekan salah satu nomor untuk ia hubungi. Namun nomor yang ia hubungi tidak menjawab. Beberapa kali ia mengulang panggilannya, namun tak kunjung mendapatkan jawaban.
“Jod, opa tidak menjawab panggilan gue.” Kata Harvan.
“Mungkin ponsel opa ketinggalan Har, karena menurut team gue opa sama Revy ikut ke dalam ambulance tersebut.” Jelas Jodi.
“Ya sudah elo hubungi lagi team elo, tanyakan apa yang terjadi. Dan beri pertolongan pada mereka!.” Perintah Harvan.
“Oke siap! Gue hubungi sekarang.” Jawab Jodi.
Bergegas Jodi menghubungi teamnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤