Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Hanya ada 2 Bidadari


__ADS_3

Siang yang terik tidak menyurutkan semangat bagi makhluk yang terus mencari rejeki untuk kehidupannya. Begitu pun bagi Harvan dan Jodi, panas terik atau hujan tidak merubah semangat kedua anak manusia ini yang selalu semangat dalam aktivitasnya.


Siang ini Harvan dan Jodi tengah melaksanakan meeting di kantornya. Selesai meeting Harvan dan Jodi berbincang di ruang kerjanya.


“Har, tadi team gue laporan mengenai masalah Delima. Gue mau ngomong ke elo tadi tapi keburu meeting.”


“Ada info apa Jod?.”


“Begini, tadi mereka bilang bahwa polisi menangkap adanya kejanggalan dari laporan Almira.”


“Maksudnya gimana?.”


*“Menurut data dari kepolisian pernyataan si Almira berubah-rubah, yang pertama,* sebelumnya Almira bilang, dia melihat pembunuhan itu dilakukan oleh Delima, dan yang menyaksikan bukan hanya dia tetapi bersama asisten suaminya. Pertanyaan dari pihak kepolisian, kalau misalkan mereka melihat Delima dengan jelas membunuh Jaya Sukmana itu, kenapa malah di usir? Bukannya langsung saja saat itu dibawa ke kepolisian. Memang pada saat itu waktu si Almira ditanya polisi dia mengaku yang mengusir Delima pada saat kejadian ia melihat Delima yang menghunuskan pisau itu ke perut suaminya, langsung Delima mereka usir. Tapi waktu di tanya lagi pernyataannya berubah lagi, katanya dia tidak menyaksikan pembunuhan itu melainkan hanya asisten suaminya saja yang melihat. Terus ke janggalan yang ke dua, awalnya dia bilang ada CCTV di rumahnya cuma pada waktu kejadian CCTV nya mati, kemarin waktu di tanya lagi dan pihak kepolisian mengecek ke TKP di setiap ruangan tidak ada CCTV, di duga semua kamera CCTV sudah di copot. Pada saat pihak kepolisian bertanya siapa yang mencopot? Mereka tidak bisa jawab, Sementara yang tahu dimana-dimananya letak kamera CCTV terpasang tentunya hanya orang yang punya rumah, kecil kemungkinan kalau Delima yang melakukan mencopot semua camera CCTV sebelum dia membunuh pengusaha itu. Sehingga polisi mengembangkan penyidikan itu, selain tetap mencari Delima polisi juga menduga ada pelaku lain karena yang menduga Delima pelaku pembunuhan itu kan berdasarkan pelaporan dari si Almira saja.” Jelas Jodi.


Sementara Harvan mendengarkan dengan serius apa yang di sampaikan oleh asistennya itu. Kemudian,


“Har, apa sebaiknya kita bawa Delima saja ke kantor polisi untuk di mintai keterangan? Kita dampingi saja dia, bagaimana?.” Sambung Jodi. Sementara Harvan masih diam mencerna apa yang Jodi sampaikan tadi.


“Mungkin saja jika Delima memberi keterangan, bisa memberikan kemudahan dalam menguak siapa pembunuh yang sebenarnya.” Kata Jodi kembali.


Setelah lama berpikir. Akhirnya, “Baiklah Jod, besok kita dampingi Delima ke sana, dan malam ini gue mau ngomong pelan-pelan sama Delima.”


“Oke, kalau begitu elo sama Delima akan berangkat di dampingi beberapa team gue dan kuasa hukum kita untuk jaga-jaga. Sementara gue gak ikut, biar gue di sini yang jaga Harin. Kalau Gue ikut bagaimana Harin? Siapa yang menjaganya?. Kalau dia dibawa ke sana, gue takut akan mengganggu psikologisnya karena dia belum pantas mendengar dan melihat yang terjadi disana.” Kata Jodi.


“Oke. Baiklah kalau gitu.”


“Kalau kita terus mengamankan Delima, gue khawatir untuk menguak siapa pelaku yang sebenarnya akan alot Har, tapi jika Delima datang kesana dan memberikan keterangan tentunya akan membantu pihak kepolisian dalam penyidikan.”


“Oke Jod, elo atur saja semuanya.” Ujar Harvan.


“Siap! Gue akan coba hubungi team gue yang lagi disana ya.” Kemudian Jodi menghubungi seseorang, sementara Harvan memperhatikan Jodi yang tengah berbicara melalui ponselnya.


Namun tiba-tiba saja ponsel Harvan berbunyi, ia melihat pada layar yang memanggil adalah ibu nya.


“Hallo bu!.” Sapa Harvan.


“Hallo nak, bagaimana kabarmu dan Harin?.”


“Allhamdulilah kita sehat bu. Ibu Bagaimana?.”


“Alhamdulillah ibu dan bapak juga sehat, oya bapak bilang katanya kamu sudah menikah lagi, kenapa kamu tidak di beritahu kami nak?.”


“Maaf sebelumnya bu, sebenarnya kejadiannya begitu mendadak jadi saya tidak sempat menghubungi ibu dan bapak. Rencananya saya akan bilang sama ibu kalau masalah saya sudah selesai disini, tapi saya masih sibuk bu, Insha Allah secepatnya kami akan mengunjungi ibu dan bapak sekalian membicarakan rencana kami kedepannya.”


“Iya bapak juga bilang sama ibu begitu, ya sudah apa pun yang kamu lakukan asal buat kamu dan Harin bahagia, ibu selalu mendukung dan mendoakan, memang akhir-akhir ini juga ibu sama bapak lagi sibuk-sibuknya keluar daerah terus, jadi tidak ada waktu untuk berkunjung juga ke tempat kalian. Nanti kamu kasih tahu saja kapan siapnya kita silaturahmi agar waktunya tidak bentrok dengan kegiatan kita ya nak?.”


“Iya bu, saya pasti akan menghubungi ibu dan bapak terlebih dahulu sebelum kesana. Sekarang saya lagi sibuk menyiapkan projek baru perusahaan dulu setelah segalanya selesai saya akan langsung hubungi ibu dan bapak.”


“Baiklah kalau begitu. Jaga diri kalian baik-baik. Sekarang ibu lagi di Kalimantan sama bapak sampai beberapa hari kedepan. Udah dulu ya Har.”


“Iya bu, ibu sama bapak juga jaga kesehatan ya? Jangan sampai sakit.”

__ADS_1


“Iya Har, sudah dulu ya?, bye.”


Dan TUT…. Sambungan ponsel terputus.


“Ibu yang telepon?.” Tanya Jodi.


“Iya, ibu sedikit kecewa karena gue kawin gak bilang dulu hehe.”


“Ya gimana mau ngomong, orang segalanya serba dadakan.”


“Tapi ibu ngerti kok Jod.”


“Ya syukur deh kalau gitu.”


“Oya? Gimana kata team elo Jod?.”


“Iya mereka siap nganter elo sama Delima besok kesana. Pokoknya elo tenang aja, semuanya udah gue urus tinggal elo aja yang ngomong sama Delima.”


“Oke, kalau begitu. Eh makan siangnya gimana nih kok Diana belum bawa makan siang buat kita?.”


“Yah gue lupa belum suruh dia haha.. sibuk telepon sana sini.” Kemudian Jodi menelepon sang sekretaris untuk membawakan makanan siap saji sebanyak dua porsi untuk mereka.


Tak beberapa lama Diana sang sekretaris membawakan makanan yang di pesan tadi. Setelah meletakkan makanan itu di meja, dia kembali keruangannya.


Harvan dan Jodi pun menyantap makan siangnya. Setelah selesai makan siang kemudian mereka kembali melakukan aktivitas kantornya hingga sore hari.


Sore harinya mereka pulang ke rumah mereka. Sampai di rumah, mereka di sambut oleh orang-orang terkasih mereka.


“Sayang, besok kita berangkat ke sana ya? Untuk menyelesaikan masalahmu biar cepat kelar.” Kata sang suami membuka pembicaraan mereka.


“Kita ke Surabaya?.”


“Ia, aku akan menemanimu bersama kuasa hukum dan team yang sudah Jodi siapkan, kamu bersedia kan?.”


Setelah lama berpikir Delima menganggukan kepalanya, “Ya… tapi aku takut mereka akan melakukan sesuatu pada kita.”


“Tenang saja sayang, kamu tidak perlu takut kan ada aku yang menemanimu. Nanti kamu disana tinggal mengatakan yang sebenarnya saja. Pihak kepolisian pun tidak akan gegabah dalam menyelidiki pembunuhan ini sayang. Kita tunjukan kepada mereka kalau kamu kooperatif dan siap menjelaskan segalanya.”


“Baiklah. Aku akan menjelaskan segalanya di sana. Lalu apakah aku akan bertemu dengan Almira dan asisten itu?.”


“Mungkin saja kita akan ketemu dengan mereka, tapi kau jangan khawatir karena kau tidak salah.”


“Sayang, kenapa ya aku merasa curiga pada asisten itu, sepertinya aku menangkap bau-bau perselingkuhan antara Almira dan asisten itu. Aku melihat mereka sangat akrab sekali layaknya seseorang yang memiliki hubungan kekasih. Apakah mungkin mereka dalang di balik semua ini?.”


“Bisa jadi mereka pelakunya sayang, dan kamu yang dijadikan kambing hitamnya. Sayangnya pengusaha itu sekarang masih koma, seandainya saja dia sadar pasti dia akan menjelaskan segalanya.”


“Seandainya benar mereka pelakunya, kok mereka sampai tega ya melakukan rencana ini.”


“Ya namanya juga orang sudah gelap mata, apa pun bisa saja mereka lakukan demi tujuannya tercapai.”


“Kalau di pikir-pikir, sebenarnya Almira sudah hidup enak, meski jarang bertemu dengan suaminya tapi suaminya telah menjamin kehidupannya.”

__ADS_1


“Lalu kenapa kamu menolak untuk di jadikan istri ke empatnya? Bukankah kamu juga akan hidup enak seperti Almira nanti?.”


“Ish amit-amit aku gak mau jadi istri ke empat.”


“Kalau jadi istri pertama mau sayang? Hehe.”


“Oh jadi kamu punya rencana mau nambah istri lagi?.”


“Kamu cemburu ya? Hehe.”


“Ya iyalah, mana ada perempuan yang mau di duakan!.”


“Kalau aku niat punya banyak istri tentunya itu sudah aku lakukan sejak dulu sayang, ngapain aku lama-lama hidup menduda?, aku tidak bisa melakukan itu dan aku merasa tidak mampu seperti orang-orang. Dan kemampuan seorang lelaki yang berpoligami tidak hanya dilihat dari sisi finansialnya saja tetapi kemampuan bagaimana menyatukan banyak hati dan perasaan. Tidak banyak orang yang melakukan poligami dalam keadaan yang nyaman, rata-rata mereka menemukan konflik di dalamnya. Dan itulah yang aku hindari sayang. Aku paling tidak suka masuk kedalam masalah yang di dominasi oleh perasaan banyak wanita. Aku merasa tidak mampu bermain-main dengan perasaan mereka. Aku lebih baik fokus pada satu wanita yang mencintaiku dan aku cinta padanya.” Jelas Harvan.


“Iya aku percaya semua yang kau katakan sayang.”


“Benarkah kau percaya padaku?.”


“Tentu saja aku percaya padamu, kalau tidak percaya tentunya aku tidak bersedia menikah denganmu.”


“Lalu kenapa waktu itu kau masih bertanya padaku? Hm?.”


“Bertanya apa?.”


“Kau lupa? Kemarin lalu kau menanyakan apa aku mencintaimu atau tidak?.”


“Ya kalau itu karena aku merasa gak percaya pada apa yang terjadi padaku sayang… coba kau bayangkan, kau adalah seorang duda mapan, tampan dan punya segalanya. Aku yakin di luar sana banyak wanita yang jauh lebih baik dari pada aku sedang menantimu. Sementara kau memilih aku yang tidak memiliki apa-apa bahkan kedua orang tua pun aku tidak tahu mereka ada dimana. Aku menduga bahwa aku adalah anak yang tidak di harapkan makanya mereka membuang aku ke panti.”


Melihat sang istri berubah menjadi sedih? Harvan mendekat lantas memeluknya.


“Apa pun yang kau alami dulu dan sekarang, kau harus mensyukurinya sayang… coba kalau seandainya kau tidak dimasukkan ke panti mungkin saja aku tidak akan pernah bertemu denganmu. Mungkin jika itu terjadi, selamanya aku akan menjadi duda, apa kau tega begitu?.”


“Ya… aku sangat mensyukuri segalanya dan aku sangat bersyukur sekali dipertemukan dengan Intan yang membawaku menemukan jodohku, yaitu kamu.”


“Berarti Intan merasa cocok denganmu sayang makanya dia percaya padamu sampai menjodohkan kita. Kau tahu? Bagiku hidup dengan 2 bidadari seperti kalian sudah cukup, hehe.”


“Benar ya? cuma 2 bidadari jangan nambah lagi!.”


“Benar sayang… aku janji hanya ada 2 bidadari dalam hidup dan matiku, kecuali kalau kepepet hehe.”


“Ish…. Genit.” Delima mencubit perut sang suami.


“Aw…… sakit sayang.” Sang suami nyengir kuda.


Kemudian mereka saling berpelukan dan membenamkan diri memasuki alam mimpi mereka masing-masing. Dan seperti biasa sebelum masuk ke alam mimpi harus ada ritual penyatuan diri. Huhuy 🤪


😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂


Jangan lupa Like, vote, favorite dan hadiahnya ya readers tersayang🤗


Makasih🥰

__ADS_1


__ADS_2