
Sampailah hari dimana pertempuran dua kubu yang saling berseteru memperebutkan hak asuh anak di pengadilan tiba.
Persidangan yang pertama akan di gelar hari ini. Kedua nya telah mempersiapkan mental untuk menghadapi proses pengadilan tersebut.
Jodi sudah mengerti akan ada ritual pamit antara pasangan bucin, karena itu setelah sarapan ia lebih dulu melangkahkan kaki ke mobil dan menunggunya di sana, sementara Delima yang tengah membereskan bekas sarapan mereka, tengah mencuci piring di dapur.
Kesempatan ini Harvan gunakan untuk berpamitan pada Delima. Ia dekati wanita itu seraya memeluknya dari belakang.
“Hari ini persidangan yang pertama, doa kan aku.” Bisik Harvan di telinga Delima.
“Hm.” Jawab Delima dengan anggukan.
“Bila bosan di rumah terus, bawa lah Harin bermain, dia sudah lama tinggal di rumah terus sejak penculikan itu. Dia pasti akan senang pergi keluar bersamamu.”
“Iya nanti aku coba bicara padanya.”
“Kenapa tidak melihat padaku? Kamu takut?.”
“Tidak.” Kemudian Delima membalikan badannya dan sekarang mereka berhadapan sangat dekat.
“Aku minta maaf atas kelakuanku yang telah lalu, aku janji tidak akan mengulanginya. Ku harap kamu bisa memakluminya.”
“Iya tidak apa-apa. Aku sudah memaafkanmu. Ayo sana sekarang pergilah. Kasihan Jodi telah menunggumu.” Kata Delima seraya merapikan pangkal dasi lelaki gagah di hadapannya itu.
“Terima kasih.” Harvan tersenyum manis seraya mengecup keningnya. Tetapi ia tidak beranjak juga malah terus memandangi wajah cantik itu.
“Ayo lah, lekas pergi, aku doakan semoga semuanya lancar.”
“Baiklah, aku pergi dulu.” Dengan berat hati Harvan melepaskan pelukannya dan perlahan ia mengecup bibir Delima lalu meninggalkan nya, ia melangkah menuju putrinya lantas mengecup keningnya.
“Ayah pergi dulu sayang, doa kan ayah ya.” Ujar sang ayah terhadap putrinya. Sang putri tersenyum dan mencium pipi ayahnya.
“Iya ayah, hati-hati ya.”
Lalu Harvan pergi meninggalkan mereka menuju mobilnya yang telah menunggu di halaman parkir. Jodi yang berada di dalam mobil melihat penampakan Harvan menuju ke arahnya.
“Akhirnya keluar juga tuh si bucin, ngapain dulu sih lama sekali.” Gumam Jodi.
“Ayo gas keun…” Kata Harvan masuk ke dalam mobil seraya duduk pada jok sebelah Jodi. Dan mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah tersebut.
Dalam perjalanan mereka saling diam belum ada yang pembuka pembicaraan, sampai pada saat Jodi mengambil selembar tisu dan memberikannya pada Harvan.
“Nih.”
“Apaan?.” Harvan heran melihat Jodi menyerahkan selembar tisu padanya.
“Itu di sudut bibir elo ada noda merah.” Kata Jodi datar. Kemudian Harvan mengambil tisu yang di berikan padanya, lantas mengelap bibirnya, lalu ia melihat pada tisu tersebut, benar saja terlihat noda lipstik pada tisu tersebut.
Harvan tak berbicara apa-apa, ia menyadari mungkin Jodi telah mengetahui hubungannya dengan Delima, sementara Jodi tak ingin bertanya lebih jauh, ia sangat mengerti sekali akan sifat Boss nya itu, membiarkannya mengalir seperti air, dengan harapan, mungkin nanti ia yang akan bicara sendiri padanya.
Dalam perjalanan, mereka di temani alunan musik yang terdengar dari dalam mobil tersebut, lagu dari Loren Allred – Never Enough, mengiringi perjalanan mereka menuju kantor pengadilan,
🎼I’m trying to hold my breath
(Aku berusaha menahan nafas)
🎼Let it stay this way
(Biarkanlah terjadi seperti ini)
🎼Can’t let this moment end
(Aku tidak akan membiarkan momen ini berakhir)
🎼You set off a dream with me
(Kamu memiliki mimpi bersamaku)
🎼Getting louder now
(Semakin terdengar nyaring sekarang)
__ADS_1
🎼Can you hear it echoing?
(Dapatkah kamu mendengar gema nya?)
🎼Take my hand
(Pegang tanganku)
🎼Will you share this with me?
(Maukah kamu membaginya mimpi itu denganku?)
‘🎼Cause darling without you
(Karena tanpamu sayang)
🎼All the shine of a thousand spotlights
(Seluruh cahaya dari ribuan lampu sorot)
🎼All the stars we steal from the nightsky
(Semua bintang yang kita curi dari angkasa)
🎼Will never be enough
(Tidak akan pernah cukup)
🎼Never be enough
(Tidak akan cukup)
🎼Towers of gold are still too little
(Menara berlapiskan emas masihlah kurang)
🎼These hands could hold the world but it’ll
🎼Never be enough
(Tidak akan cukup)
🎼Never be enough
(Tidak akan cukup)
🎼For me
(Untukku).
“Cocok.” Celoteh Jodi.
“Cocok apanya?.” Tanya Harvan heran.
“Itu lagu nya cocok.” Sindir Jodi.
Harvan diam, ia mengerti akan apa yang diucapkan asistennya itu adalah sindiran untuk nya.
Tak lama mereka pun sampai di halaman parkir pengadilan negeri. Akhirnya mereka berdua keluar dari dalam kendaraannya menuju ke dalam gedung pengadilan tersebut.
*
Sementara itu, sepeninggalan Harvan dan Jodi. Setelah Harvan pamit pada Delima, Delima membawa Harin ke dalam kamarnya. Ia pangku anak itu dengan penuh kasih sayang seperti seorang ibu kandung pada anaknya.
“Kenapa ibu selalu menggendongku? Aku kan sudah bisa jalan sendiri.” Kata Harin.
“Karena ibu sayang padamu, ibu tidak ingin kamu terjatuh sayang.”
“Tapi aku bisa berjalan dengan hati-hati bu.”
“Iya, untuk sekarang ini selagi ibu bisa, biarkanlah ibu menggendongmu seperti yang ayah lakukan padamu.”
__ADS_1
“Oya bu? Kenapa beberapa hari ini ayah tidak tidur bersama kita lagi?.”
“Ayahmu sibuk sayang, nanti setelah tidak sibuk pasti ayah akan tidur bersama kita lagi.”
“Aku bosan sendiri. Kalau dulu ada kak Revy yang menemaniku.”
“Kan sekarang ada ibu, kamu tidak sendiri sayang.”
“Tapi aku ingin memiliki adik, apakah ibu dan ayah bisa memberiku adik .”
Mendengar kata-kata Putri kecil itu membuat Delima tidak bisa berkata-kata. Kemudian,
“Berdo’alah, semoga Tuhan cepat memberimu adik.” Kata Delima sedikit kikuk.
“Aku ingin adik yang banyak bu.”
“Hehe.. iya semoga kau diberikan adik yang banyak. Ayo kita mulai belajarnya.” Kata Delima seraya membawa tubuh putri itu duduk pada kursi belajar.
*
Sementara itu, di ruang persidangan, semua telah berkumpul pada posisinya masing-masing. Kubu Selvy telah siap lengkap dengan pengacaranya begitu pun dengan kubu Harvan.
Mereka saling melontarkan alasan melalui pengacara mereka masing-masing atas tuntutan dan pembelaannya mengenai kasus mereka.
Singkat cerita, setelah beberapa jam persidangan itu mereka lalui, akhirnya persidangan itu di tutup dan akan dilanjutkan beberapa minggu yang akan datang dengan jadwal mendatangkan saksi dari masing-masing antara penggugat dan tergugat.
Tanpa banyak basa-basi, Harvan, Jodi dan pengacaranya pergi meninggalkan ruang persidangan itu menuju halaman parkir.
Dan mobil yang membawa mereka pun pergi meninggalkan kantor pengadilan menuju kantor mereka.
Sesampainya di kantor, mereka memasuki ruangan nya masing-masing.
Harvan seperti biasa setelah duduk pada kursi kebangsaannya menyalakan laptopnya melihat penampakan putrinya dan Delima.
Sementara Jodi, ia langsung membuka laptop untuk melihat pekerjaannya. Selang berapa waktu ponsel Jodi berbunyi tanda panggilan masuk. Lalu ia merogoh ponselnya dan mulai berbicara dengan seseorang di balik ponsel.
“Hallo Boss laporan!.” Suara di balik ponsel.
“Ya, bagaimana John?.” Jodi tidak sabar menunggu hasil penyelidikan mengenai asal usul Delima dari team nya itu.
“Menurut informasi yang telah kami dapat, benar Delima itu memang dari kecil di rawat pada panti asuhan tersebut, dan pemilik panti itu bukan orang tuanya, melainkan orang yang telah mengurusnya sedari ia kecil. Karena orang tua dari Delima tidak di ketahui, mengingat Delima mereka temukan di depan gerbang panti sejak bayi yang usianya baru beberapa hari saja, jadi pada akta kelahirannya tertulis nama orang tuanya adalah pemilik panti tersebut. kemudian setahun yang lalu ia keluar dari panti asuhan tersebut. Ia tinggal bersama pengusaha kaya di Surabaya, pengusaha kaya itu bernama Jaya Sukmana, ia memiliki tiga istri.” Jelas team Jodi.
DUG jantung Jodi berhenti sejenak, ia memikirkan sesuatu yang tidak ingin ia pikirkan.
“Sebentar John, apa Delima salah satu istri pengusaha itu?.” Tanya Jodi dengan tampang cemasnya.
“Menurut data yang kami dapat, Delima bukan salah satu dari istri pengusaha itu Boss.”
Plong dada Jodi merasa lega, karena hal yang ia pikirkan meleset, “Terus….” Jodi menunggu informasi selanjutnya.
“Jadi dari salah satu istri pengusaha itu adalah temannya Delima semasa kuliah S2 Boss, tepatnya istri ke tiga dari pengusaha itu, namanya Almira. Almira membawa Delima tinggal di rumah mereka karena hendak memberikan pekerjaan di perusahaan suaminya itu. Tetapi terjadi sesuatu Boss, ternyata pengusaha itu menyukai Delima, dan berniat menjadikan Delima istri ke empatnya, hingga terjadilah pembunuhan pada pengusaha itu dan kini Delima adalah buronan polisi.”
“Apa!!! Buronan?!!” Seketika Jodi terkejut, ia membulatkan matanya dan terdiam. Ia membayangkan bagaimana perasaan Harvan kala mengetahui bahwa Delima adalah seorang buronan polisi dan pelaku kriminal.
“Terus info lainnya John?.” Tanya Jodi dengan pikiran yang tidak menentu.
“Info lainnya masih kita telisik Boss, karena korban masih koma sekarang, ia mendapat beberapa tusukan di perutnya, mungkin informasi itu yang baru dapat kami sampaikan.” Jelas John.
“Oke John makasih infonya, terus cari informasi lainnya.”
“Siap Boss.” Tut… suara panggilan terputus.
Jodi terdiam, ia benar-benar terkejut dengan informasi yang baru ia dapat. ia bingung bagaimana cara ia menyampaikan informasi ini pada tuan nya. Mengingat tuannya kini tengah bucin terhadap Delima yang nota bene adalah seorang buronan polisi dan kasusnya tidak main-main, ia adalah seorang pembunuh dan yang ia bunuh adalah seorang pengusaha.
Jodi merasakan seluruh tubuhnya lemas, terbersit dalam ingatannya, istrinya dulu adalah seorang pembunuh, dulu ia pernah mengatakan pada Harvan bahwa ia telah menyesal telah mencintai dan memelihara pembunuh di dalam rumahnya sendiri.
Dan yang ia rasakan dulu, kini telah ada di depan matanya. Boss sekaligus sahabatnya itu tengah mengulang momen dimana ia pernah dalam posisi seperti ini. Yaitu memelihara pembunuh di dalam rumahnya sendiri.
Jodi berpikir keras, ia tengah mencari cara untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang kini tengah melilit Tuannya, dan itu tanpa di sadari oleh tuannya sendiri.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
__ADS_1