
Duka yang dirasakan Revy dan Ronald sang Opa begitu terasa dalam. Bagaimana tidak? Kematian Marlish begitu mendadak dan sangat tidak di duga-duga. Terlebih kematian itu disebabkan oleh Selvy sang anak dari Marlish sendiri.
Setelah jenazah Marlish dikebumikan yang dihadiri oleh kerabat dekat serta kolega mereka, Ronald sang suami dan Revy sang cucu tiada hentinya meratapi kehilangan orang yang begitu mereka kasihi itu.
Harvan beserta sang putri juga Jodi merasa iba melihat keadaan mereka.
Harvan mendekat kearah mereka dan mencoba mengajaknya bicara.
“Opa, saya kira akan lebih baik jika opa dan Revy ikut kami ke Indonesia, mungkin disana opa dan Revy akan merasa aman tinggal bersama kami. Karena Selvy dan Reyhan tidak akan berhenti sampai Revy mereka rebut kembali.” Jelas Harvan.
“Iya opa bagaimana jika opa menerima tawaran Harvan, setidaknya jika opa tinggal disana, kami bisa langsung menjaga opa dan Revy.” Kata Jodi.
“Tapi saya takut merepotkan kalian.”
“Sama sekali kami tidak merasa direpotkan opa, justru kami akan sangat senang sekali jika kita dapat berkumpul di Indonesia, minimal sampai keadaan membaik opa.” Kata Harvan.
“Iya opa, kami sangat mengkhawatirkan keadaan Revy dan opa jika jauh dari kami. Kalau dekat kan ada apa-apa juga kita bisa langsung tangani.” Ujar Jodi.
Lama sekali Ronald berfikir, sementara Revy masih dalam keadaan lemah karena sedih yang ia alami.
Setelah memikirkan baik-baik bujukan Harvan dan Jodi, akhirnya opa bersedia tinggal bersama mereka.
Tanpa menunggu lama, hari itu juga mereka membawa Ronald dan Revy ke Indonesia karena khawatir Selvy dan Reyhan akan segera mendatangi mereka.
*
Sementara itu di villa puncak Cianjur, Selvy dan Reyhan tengah berbincang merencanakan sesuatu untuk mengambil Revy kembali. Sementara kabar kematian Marlish rupanya mereka telah mengetahui dari saudaranya di Jerman.
“Mampus kau mama! Itu akibat kau tidak mengikuti keinginanku.” Geram Selvy.
“Sekarang berkurang satu orang yang menghalangi rencana kita Haha.” Kelakar Reyhan.
“Lalu kapan kita akan ke Jerman mengambil anak itu?.” Sambung Reyhan.
“Secepatnya akan aku urus keberangkatan kita kesana.” Ujar Selvy.
“Bagus! Mungkin bocah tengik itu sekarang sudah kembali ke pelukan ayahnya. Tapi biarkan saja dulu mereka. Kita berikan dulu mereka menghirup udara segar, lebih baik kita urus dulu Revy dan kakek tua itu haha.” Tawa Reyhan menggema.
“Lain kali, saat ada kesempatan kita mendapatkan putri si Harvan itu. Lebih baik langsung saja kita bunuh, bila perlu dengan si Harvannya sekalian, biar kita tidak dihalangi lagi oleh kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita harapkan.” Ungkap Selvy.
“Oke, kali ini aku akan mendengarkanmu sayang haha.” Kata Reyhan.
__ADS_1
“Coba kalau dari kemarin-kemarin kamu mendengarkan aku, pasti kemungkinan kita gagal kecil sekali.” Ketus Selvy.
“Iya sayang aku terlalu ego sehingga tak mendengarkan apa yang kau katakan.” Kata Reyhan dengan tangan yang sudah bergerilya kemana-mana, membuat Selvy merasakan panas di tubuhnya.
Dan sepertinya pertempuran diantara mereka berdua pun akan segera di mulai. Reyhan menarik tangan Selvy menuju lantai atas kamar mereka.
*
*
Sementara itu ditempat lain, Ronald dan Revy yang tengah berduka karena kepergian Marlish, dengan terpaksa harus mengikuti saran Harvan ikut ke Indonesia demi keamanan mereka.
Singkat waktu, mereka pun kini telah sampai di Indonesia.
Hari ini adalah tepat 3 hari setelah kematian Marlish. Ronald yang ditempatkan dilantai satu pada kediaman Harvan sepertinya sudah mulai dapat beradaptasi dirumah itu.
Sementara Harvan menempatkan Revy dan Harin dalam satu ruangan kamar, karena permintaan mereka. Dan kamar itu berada di sebelah kamar Ronald dilantai satu, yang sebelumnya telah di desain sesuai dengan permintaan kedua anak tersebut.
Implan Microchip yang sudah direncanakan pun sudah di pasang pada tubuh Harin. Sehingga dari jarak jauh Harvan sudah dapat mengontrol putrinya itu. Bagaimana Harvan dapat mengontrol putrinya itu? Tentunya melalui signal yang ditransmisikan dari Microchip tersebut yang terkoneksi dengan ponsel miliknya.
Sehingga dimana pun berada, meski putrinya tidak bersamanya, ia dapat melihat apa yang putrinya lihat, dengan siapa putrinya berinteraksi, termasuk apa yang dirasakan putrinya itu.
*
“Opa, bagaimana perasaan opa hari ini?.” Tanya Jodi.
“Sekarang saya sudah lumayan tenang Jod, hanya saja saya masih merasa sakit kalau mengingat anak saya itu.” Ujar Ronald dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Opa jangan pikirkan macam-macam ya, lebih baik opa doakan Selvy agar dia kembali ke jalan yang benar.” Kata Harvan.
“Dari kecil saya merasa selalu mendidiknya dengan baik walau saya kadang tegas terhadapnya. Tapi semata-mata semua yang saya lakukan itu demi kebaikannya. Apa lagi Marlish, ia selalu mendidiknya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Makanya kami sampai sekarang masih tidak bisa percaya Selvy mampu melakukan kejahatan yang tidak masuk akal. Saya merasa telah menjadi orang tua yang gagal, makanya saya mendidik Revy dengan begitu hati-hati, karena tidak ingin kejadian ini terulang lagi.” Jelas Ronald dengan penuh penyesalan.
“Saya kira, pergaulan yang membuat dia menjadi seperti itu opa, karena pergaulanlah yang sangat berbahaya, meski di rumah kita mendidik anak kita dengan baik, satu menit saja anak keluar dari rumah dan mendapatkan pergaulan yang salah, dia bisa dengan mudah terpengaruh.” Kata Harvan.
“Iya opa, bukan salah opa dan oma yang tidak mampu mendidik Selvy, tapi karena pergaulanlah yang merusak dan membuat dia menjadi seperti sekarang ini.” Kata Jodi.
“Saya malu pada kalian, meski anak saya seperti itu, tetapi kalian masih tetap care pada kami terutama pada Revy. Padahal Revy bukan darah daging kamu Har.” Ucap Ronald sedih.
“Opa, Revy tidak tahu apa-apa, dia tidak bersalah. Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menyayanginya. Bukankah Reyhan ayah biologis Revy adalah sepupu saya? Itu berarti sama saja Revy juga anak saya opa. Dan opa orang tua saya.” Ujar Harvan.
“Terima kasih Har, hatimu begitu lapang, terima kasih atas semua kebaikanmu pada kami. Pantas saja Revy begitu menyayangi kalian, karena kasih sayang kalian begitu besar dirasakan oleh nya. Dia anak yang sangat baik, dia sangat lembut dan penyayang.” Kata Ronald.
__ADS_1
“Iya opa, saya bisa lihat bagaimana dia menyayangi Harin seperti menyayangi adiknya sendiri. Dia mengajarkan Harin hidup mandiri sehingga Harin sekarang tidak tergantung lagi pada orang lain, dalam urusan makan, mandi, dan mengenakan pakainnya, ia sudah bisa mandiri karena Revy mengajarkannya.” Kata Jodi.
“Iya memang karena dari kecil Revy saya ajarkan untuk mandiri Har, karena kami sadar, kami sudah tua, takutnya di tengah jalan kami meninggal pada saat usia Revy masih kecil, jadi pada saat kami tiada, ia tidak akan susah dan bisa melakukan segalanya sendiri.” Jelas Ronald.
Sementara itu disebuah kamar, nampak Revy dan Harin tengah sibuk dengan ponselnya masing-masing. Mereka berdua sama-sama membenamkan diri mereka diatas tempat tidur dengan menelungkupkan tubuhnya.
“Apa yang sedang kamu lihat Harin?.” Tanya Revy.
“Aku sedang melihat ibu kak.” Jawab Harin.
Lalu Revy melihat kearah ponsel Harin. Ia melihat ibunya Harin yang tengah mengajarkan membaca.
“Ibumu cantik ya?.”
“Iya ibuku wanita paling cantik di dunia ini.”
“Apa kau merindukannya?.”
“Iya kak aku selalu merindukannya, makanya kalau aku rindu aku selalu mengajaknya bertemu di ruangan atas.”
“Apa?! Kamu suka bertemu dengannya?!.” Revy sedikit tidak mengerti.
“Iya kak, di atas ada satu ruangan khusus untuk aku bertemu dengan ibu, tapi kalau aku ingin bertemu dengan ibu, harus memakai kaca mata VR dulu.” Jelas Harin. Revy sedikit terdiam dan berfikir, kemudian,
“Oya? Bolehkan aku juga bertemu dengan ibumu?.” Tanya Revy.
“Tentu saja boleh kak. Ayo sekarang kita temui om Ijong.” Ajak Harin menarik tangan Revy keluar dari kamar mereka.
Harin dan Revy berlalu dari kamarnya menuju ruang tengah yang mereka dapati Jodi tengah berbincang dengan sang opa dan sang ayah.
“Om Ijong, apakah aku dan kak Revy boleh bertemu ibu sekarang?.” Tanya Harin pada Jodi.
Jodi melirik ke arah Harvan dan Harvan menganggukan kepalanya tanda mereka diperbolehkan.
“Ayo!.” Jodi mengajak kedua anak itu ke ruang atas, dimana meraka akan di ajak Jodi ke ruangan green screen tempat berinteraksinya Harvan atau Harin dengan Intan melalui teknologi yang telah mereka program sedemikian rupa.
Setelah Harin dan Revy berada diruangan tersebut, Jodi memakaikan kaca mata VR pada mereka.
Dengan penuh kebahagiaan kedua anak itu merasakan sensasi yang berbeda. Dimana mereka dapat bertemu bahkan berbincang dengan orang yang telah lama tidak ada disisi mereka.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
__ADS_1