Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Siti Oh Siti


__ADS_3

Deburan ombak yang bersahutan tiada henti bagaikan irama alam yang melenakan telinga. Langit dan laut yang biru seolah bersatu menjadikan cakrawala mengiyakan ketidakterbatasannya.


Semilir angin menambah suasana lebih hidup disana. Dimana tempat seperti inilah yang selalu dijadikan kerinduan bagi manusia-manusia yang merindukan Maha Karya Sang Maha kreasi.


Harvan, Jodi dan Intan tengah asik bersenda gurau di depan pondok. Dari arah kejauhan terlihat seseorang mengendarai motor trail menuju kearah mereka yang tepat berada di depan pondok emak. Meraka bertiga memandangi kearah yang sama, semakin dekat dan semakin lebih dekat.


“Hah! Siti!.” Kata Harvan.


Dengan memakai celana blue jeans dipadukan kemeja kotak-kotak biru lengan pendek yang ngepas di badannya yang lasing, Serta sepatu boot selutut, topi koboy hitam dan tak lupa golok di pinggangnya, Siti terlihat bergaya.


“Iya itu Siti sayang, dia pinter bawa motor, dulu kalau aku mau kemana-mana dia yang antar.” Kata Intan pada Harvan.


“Gila ya aneh-aneh aja kelakuan anak satu ini. Cewek bukan nya bawa motor yang manis gitu. Ini trail hadeuh.. udah gitu buset itu dandanan dah kayak koboy Amerika aja halah.. koboy bergolok itu sih.” Jodi tepok jidat.


“Hai.. semua.” Sapa Siti.


“Hai Siti, mau kemana kamu?.” Tanya Intan.


“Mau ke kebun Bapakku suruh di suruh Ibu.” Kata Siti.


“Oh.. nanti bagi-bagi ya buah nya.” Kata Intan.


“Siap..” ujar Siti.


“Kak Jodi mau ikut ga?.” Ajak Siti.


“Apa?! Ikut!!?“ tanya Jodi.


“Iya mau ikut gak?. Ayo!” Ajak Siti lagi.


“Sanah buruan ikut Jod, dari pada elo bengong di sini juga ga berfaedah, ayo Sanah ikut itung-itung hiburan.” Kata Harvan.


“Gila kali hiburan ke Kebon, hiburan mah ketempat rame kali..” Kata Jodi.


“Mau gak kak?.” Ajak Siti sekali lagi.


“Oke deh.. sini gue yang bawa.” Kata Jodi.


“Udah kakak naik aja. Biar aku yang bawa.” Kata Siti.


“Serius!!.” Tanya Jodi.


“Iya… ayo.” Seru Siti.


Akhirnya Jodi naik motor yang Siti bawa.


“Pergi dulu ya kak!.” Kata Siti pada Intan dan Harvan.


Setelah Siti pamit motor pun melaju


BRUM.. BRUM.. BRUM


Dalam perjalanan menaiki motor,


“Siti.. ini gak apa-apa ya kita gak pake helem?” Tanya Jodi.


“Gak apa-apa kak, di hutan gak ada polisi.” Jawab Siti.


“Hah! Hutan?! Bukannya kita mau ke kebun Bapakmu?” Tanya Jodi.


“Iya kak, kita ke kebun.. kebunnya di dalam hutan.” Jawab Siti.


“Buset dah.. jauh gak Siti?.” Tanya Jodi.


“Gak kak deket sebelah situ.” Jawab Siti sambil nunjuk ke perbukitan,


Motor trail yang membawa Siti dan Jodi berjalan menyusuri pantai meninggalkan lautan indah menuju perkampungan, dalam perjalanan orang-orang kampung meneriaki Siti.


“Siti… eta saha ni kasep.” Anak kampung A


( Siti… itu siapa ganteng banget. )


“ Babaturan urang ti kota.” Jawab Siti.


(Teman saya dari kota. )


“ Siti… eta kabogoh maneh lain?.” Anak kampung B


( Siti… itu pacar kamu bukan? )


“Lain… ieu mah babaturan urang.” Jawab Siti.


( Bukan.. ini teman saya. )


“Siti, mereka nanya apaan.?” Tanya Jodi.

__ADS_1


“Mereka nanya aku bawa siapa katanya Kak.” Jawab Siti.


“Oh gtu… terus kamu jawab apa?.” Tanya Jodi lagi.


“Aku jawab kalau kakak teman aku dari kota.” Jawab Siti.


“Oh gitu.. oya ini kebunnya sebelah mana?.” Tanya Jodi kembali.


“Itu, dekat situ masuk jalan setapak.” Jawab Siti.


Dan motor pun memasuki jalan setapak meninggalkan perkampungan,


Pegangan Kak.. soalnya nanti di depan ada tanjakan.” Kata Siti.


“Apa?! Tanjakan?.” Tanya Jodi sedikit kaget.


“Iya di depan tanjakan agak curam.” Jawab Siti.


Kemudian Jodi memegang pinggang Siti yang langsing, BRUM.. BRUM… BRUM… motor yang di tumpangi mereka pun menaiki tanjakan, semakin ke atas dan semakin ke atas.


“Aduh Siti… ini kapan nyampenya sih? tanjakan mulu ah.. katanya dekat tapi gak sampai-sampai ah.” Kata Jodi sedikit ngeri lihat jalanan setapak.


“Sabar Kak.. sebentar lagi… pegangan yang kuat ya Kak?.. aku mau sedikit ngebut.” Kata Siti.


“Iya … iya .. ah .” Jawab Jodi.


Dan motor pun di bawa ngebut oleh Siti menyusuri jalan setapak yang semakin mengecil dan semakin berbelok-belok. Menyusuri turunan terjal, kemudian tanjakan lagi.


“Halah… tau gini, gue gak ikut dah.. kapan sampainya Siti?. Katanya udah dekat, tapi belum sampai juga.


“Sebentar lagi Kak.” Jawab Siti.


“Kamu sebentar-sebentar melulu.. sampai enggak.. salah jalan kali ini.” Kesal Jodi.


“Gak Kak benar kok, aku kan setiap hari jalan sini.” Kata Siti.


“Ah kamu ini ya.. ngerjain saya nih.” Gugup Jodi mulai seram dengan melihat kondisi jalan.


“Pegangan yang kuat ya Kak.” Ujar Siti.


Motor terus melaju dan melaju semakin cepat. Lalu kali ini melewati jalan setapak yang sisi kanannya jurang yang sangat curam, sementara sebelah kiri nya tebing tinggi. Jodi menangkup kan mukanya di belakang badan Siti. Siti membawa motornya dengan kecepatan tinggi menyusuri jalan setapak tersebut.


“Alamak… ini mah lebih dari roller coaster halah… Siti.. udah yuk balik lagi ah.. gue ngeri tahu! Itu jurang curam banget tahu! Haduh Tuhan tolong.. ini kapan sampainya sih ah.” Kata Jodi teriak-teriak kesal karena perjalanan yang menegangkan memicu andrenalinnya. Dan ini merupakan pengalaman Jodi yang pertama kalinya.


“Nah udah sampai nih Kak. Ayo turun.”” Ajak Siti.


Jodi pun turun dari motor mengikuti Siti, dengan wajah pucat pasi dan deru nafas yang tak beraturan Jodi merasakan perjalanan yang sangat ekstrim yang tidak pernah ia temui di jalanan kota besar.


“Gila, elo Siti ya.. sumpah jantung gue mau copot.. Siti kalau kamu mau ke kebun, kamu setiap hari lewatin jalan tadi.?” Tanya Jodi.


“Iya Kak.. Kakak takut ya.? Itu kan karena Kakak baru pertama kali… kalau aku sering, jadi udah terbiasa.” Kata Siti.


“Iya kali yaa.. terus, nanti pulang kita lewat situ lagi ya?.” Tanya Jodi.


“Iya Kak, soalnya itu jalur terdekat, kalau pakai jalan lain, lebih jauh bisa seharian sampainya.” Jelas Siti.


“Oh gitu ya?.. Yah sport jantung lagi dong entar pulangnya hadeuh.” Keluh Jodi.


“Tenang Kak.. aku kan pembalap profesional hehe.” Kata Siti.


“Tapi keren juga ya tempat ini, di atas bukit, jadi laut kelihatan jelas.” Kata Jodi.


“Iya Kak bagus banget pemandangannya di sini.” Jelas Siti.


Kebun Bapaknya Siti berada di atas bukit. Lautan biru membentang yang terhampar luas terlihat dari atas sana membuat setiap mata yang memandang merasa takjub di buatnya.


“Sekarang lagi musim panen buah ya Siti?.” Tanya Jodi.


“Iya Kak.. lagi musim durian, rambutan dan mangga.” Jelas Siti.


“Itu Bapak-bapak yang lagi ngambilin buahnya siapa?.” Tanya Jodi.


“Itu si amang-amang pegawainya Bapak, sekarang Bapak lagi keluar kota, jadi bapak menyuruh aku untuk mengontrol mereka.” Kata Siti.


“Oh gitu.” Jawab Jodi ngangguk-angguk.


“Durian di kebun Bapak di kirim keluar negeri loh Kak.” Kata Siti.


“Wah.. yang bener?.” Tanya Jodi.


“Eh Kakak mah gak percaya.. mau coba gak? Rasa durian di sini beda dengan yang lain.” Jelas Siti.


Kemudian Siti memanggil si amang-amang yang sedang ngepack buah durian dan menyuruh mengambilkannya beberapa buah.


Siti mengambil satu durian yang sangat harum baunya, kemudian dia membelah durian itu dengan goloknya.

__ADS_1


“Nih Kakak coba deh.” Kata Siti seraya mengambil satu butir durian yang sudah di belahnya, kemudian menyuapkan pada Jodi.


“Mmmh.. benar-benar ini enak ya… sumpah aku baru ngerasain durian se-enak ini loh Siti.” Kata Jodi yang menikmati buah durian tersebut.


Kemudian Siti memanggil si amang tadi.


“Mang engke sa peti anteurkeun ka bumi si Emak nya?.” Kata Siti kepada amang itu.


“Kamu ngomong apa Siti.?” Tanya Jodi.


“Ada deh, heheh.. pengen tau aja.” Ujar Siti.


“Yeh kamu gitu ya gak mau ngasih tahu.” Kata Jodi yang terus menikmati buah durian dari kebun Siti itu.


“Kak, sudah beres belum makan duriannya? Kita balik yuk ke bawah, udah mulai sore loh. Nanti kemalaman di jalan.


“Oke, Yuk kita balik.” Kata Jodi.


Dan akhirnya mereka pun meninggalkan puncak bukit kebun ayahnya Siti dengan menyusuri jalan yang sama pada saat mereka datang tadi.


Perjalanan yang seru dan menegangkan membuat Jodi merasa mendapatkan pengalaman baru. Pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perjalanan menyusuri pantai, melewati lembah dengan melalui jalan setapak tidak pernah ia rasakan di Ibu kota yang membesarkannya. berbanding terbaik dengan Siti yang terbiasa hidup di kampung.


Dan akhirnya mereka pun sampai di pondok Emak


“Siti makasih ya udah ngajak saya berpetualang, sumpah ini perjalanan yang mengasyikkan sekaligus horor hehe.” Kata Jodi.


“Iya sama-sama Kak.” Kata Siti.


“Eh mana buahnya Siti.. katanya mau ngasih.. kok cuman bawa bau nya doang.” Kata Intan.


“Nanti ada yang nganterin ke sini.. tunggu aja.” Jawab Siti.


“Oke, Siti makasih ya.” Kata Intan.


“Iya, oya aku pulang dulu ya Kak.” Kata Siti.


“Gak main dulu di sini Siti?.” Tanya Intan.


“Udah sore Kak. Nanti aja besok ke sini lagi.” Ujar Siti.


“Baiklah kalau begitu, hati-hati ya Siti pulangnya.”Kata Intan.


“Iya Kak, Makasih.” Jawab Siti, yang kemudian menyalakan motornya dan berlalu pergi meninggalkan pondok emak.


“Gimana perjalanan bersama koboy bergolok itu Jod? Seru gak.?” Tanya Harvan.


“Gila… bukan seru lagi Har.. sport jantung gue iyh.” Jodi bergidik.


“Emang kenapa.” Tanya Harvan.


“Gila aja tuh koboy bergolok, gue di bawa masuk hutan, udah gitu jalanannya setapak. Terus banyak tanjakan dan turunan curam.. gak sampai di situ, gue di bawa ngebut di jalan kecil yang sisi kanan dan kirinya jurang dan tebing, bagaimana gak sport jantung gue.. eh si Siti nya malah ngebut aja terus. Gila ya itu anak, gak tahu makannya apa berani bener.. sumpah gue aja ngeri.. horor banget.” Jelas Jodi.


“Dia kan udah biasa kali Jod lewatin jalanan situ jadi gak takut lagi.” Kata Jodi.


“Iya dia bilang, dia udah biasa lewatin jalan situ.” Jelas Jodi.


(Assalamu’alaikum) suara dari luar.


“Wa’alaikum salam”. Jawab Intan, Harvan dan Jodi.


“Punten, ini ada kiriman dari neng Siti. Suruh di antar ke rumah Emak katanya.” Kata orang tersebut.


“Oh iya Pak makasihnya.” Jawab Intan.


“Ini mau di simpan di mana ya neng? biar amang yang angkut.” Kata orang tersebut.


“Bawa aja ke belakan ya mang.. terima kasih ya.” Kata Intan. Kemudian si amang pun membawa peti ke belakang pondok emak dan menyimpannya di belakang.


“Wah bau-bau nya durian ini ya.” Kata Harvan.


“Iya sayang.. Bapaknya Siti kan punya kebun durian.” Kata Intan.


“Iya Kebon yang gue datengin tadi Har, gue kan makan tadi di sana.” Kata Jodi.


“Oh gitu, pantesan elo datang-datang bau kentut hahah..“Kata Harvan.


“Eh sialan lo.” Kata jodi.


“Hahaha.. ya udah Ayo kita belah duren yuk.” Kata Harvan.


“Elo mau belah duren yang mana Har? Yang ono apa yang ini?.” Kata Jodi nunjuk Intan dan peti buah.


“Sekarang yang ini, entar malam yang itu hehe.. iya kan sayang.” Kata Harvan.


Intan tersenyum manis tersipu malu mendengarkan apa yang di katakan Harvan.

__ADS_1


__ADS_2