Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Ketemu Ibu


__ADS_3

Waktu pun berlalu kian cepat. Tahun berganti hingga empat tahun telah berlalu, semenjak tertangkapnya Vivi dan orang suruhannya untuk membunuh Intan. Vivi dikenakan sanksi hukuman berencana, yang diatur dalam pasal 340 KUHP yang ancamannya adalah pidana mati. Sementara orang suruhannya dikenakan sanksi hukuman penjara dengan ancaman penjara seumur hidup.


Kehidupan Harvan dan Harin yang kini sudah berusia 4 tahun semakin harmonis. Kemanapun mereka selalu berdua, tak pernah lepas sedikit pun, dimana ada Harvan disitu pasti ada Harin, begitulah kata yang pantas disematkan untuk pasangan Ayah dan anak itu. Dan tentunya Jodi selalu berada ditengah-tengah mereka.


Sementara Jodi, setelah kejadian itu, ia telah menemukan semangat kembali, dengar tetap setia menjadi asisten Harvan dan Bodyguard nya Harin. Hanya saja kejadian yang membuatnya terpukul itu menjadikan Jodi dingin terhadap wanita, tidak seperti dulu yang hidupnnya tiada hari tanpa wanita sampai ia dijuluki penjahat kelamin kemudian berakhir dengan menikahi Vivi.


*


“Hallo anak ibu yang cantik? Apa kabarmu hari ini?”


“Aku baik-baik saja bu.” Jawab Harin.


“Ibu harap Harin selalu baik-baik saja. Jadilah anak yang patuh ya nak, patuhi selalu perintah ayah. Jangan pernah sekalipun kau membantahnya, karena ayah adalah orang yang paling berharga di hidupmu. Ia telah mencurahkan seluruh hidupnya untukmu. Maafkan ibu ya nak? Ibu tak bisa membersamai ditengah-tengah kalian. Tapi percayalah, ibu akan selalu hidup dihati kalian. Ibu sayang kalian.”


“Iya bu. Aku akan patuh pada Ayah. Aku juga sayang ibu.” Jawab Harin


“Harin anak kesayangan ibu, sekarang kau sudah semakin besar dan mengerti, ibu akan mengajari tentang hidup padamu. Tebarkanlah selalu kebaikan ya nak? Dimana pun kau berpijak, karena kebaikan yang kau tanam akan membawa keselamatan bagimu. Jangan kau pelihara amarah dan dendam dihatimu, karena rasa itu akan melukai dirimu sendiri. Jadikanlah selalu pigur ayahmu itu sebagai lambang cinta dihatimu, karena memilikinya adalah suatu anugerah besar dari Tuhan untukmu. Kalian harus saling menjaga satu sama lain, karena itulah kalian Tuhan dekatkan dalam ikatan darah.”


“Baiklah bu.” Jawab Harin kembali.


“Tumbuh dan berkembanglah menjadi gadis yang selalu ceria dan humble dimanapun, sehingga kau bisa menjadi teman yang nyaman untuk orang sekitar. Oya, sesekali berkunjunglah ke pondok emak. Disana kau akan mendapatkan banyak hal. Kau bisa belajar padanya tentang hidup dan kehidupan. Disanalah ibu pernah dibesarkan dan disanalah ibu pernah tumbuh.”


“Sedang apa kamu sayang?.” Tanya Harvan pada anaknya yang tengah asyik dengan laptop ayahnya. Sementara sang Ayah tengah memakai dasinya setelah berpakaian.


“Ketemu ibu Yah.” Jawabnya.


“Apa yang ibu katakan?.” Tanya. Harvan.


“Kata ibu, aku gak boleh nakal, harus sayang sama Ayah.” Jawab Harin.


“”Oya?. Terus Harin Jawab apa?.” Ujar Harvan.


“Iya, aku akan selalu sayang sama ayah.” Kata Harin.


“Ayah, ibu bilang kita punya emak, dimana rumah emak? Apa aku boleh kesana?.” Sambung Harin.


“Tentu saja boleh, nanti hari libur kita ke rumah emak ya.” Ujar Harvan.


“Oke.” Jawab Harin.


Kemudian Harvan dan Harin keluar dari kamarnya, dengan pelukan dalam pangkuan sang Ayah, mereka menuruni tangga. Dilihatnya Jodi tengah duduk di ruang makan.


“Hai om ijong.” Sapa Harin pada Jodi.


“Hai Harin, kesayangan om.” Ujar Jodi yang tengah menunggu di ruang makan, kemudian harin naik ke pangkuan Jodi setelah turun dari pangkuan ayahnya.


“Har, elo gak masukin Harin sekolah? Dia kan udah waktunya masuk playgroup.” Kata Jodi seraya mengambil nasi goreng pada piringnya.


“Gimana ya Jod, gue gak bisa jauh sama dia. Gue khawatir kalau dia lepas dari pengawasan gue, ada yang jahatin dia.” Jawab Harvan yang juga tengah mengambil nasi goreng dan telur pada piring Harin dan Piringnya.

__ADS_1


“Kan di sekolah juga aman Har, ada yang jagain, lagian anak playgroup mah sebentar, jam 10 juga udah pada balik. Elo bisa tungguin dia atau bisa gantian sama gue. Dia perlu bersosialisasi Har.” Jelas Jodi.


“Eh Harin sayang, Harin mau sekolah gak?.” Tanya Jodi pada Harin.


“Emang disekolah ada apa om?.” Tanya Harin imut.


“Ada banyak mainan sayang, terus banyak teman juga, nanti Harin di sekolah bisa main sama teman-teman.” Jelas Jodi.


“Wah benar kah? Aku mau om ijong, ayah aku mau sekolah ya? Tapi sekolahnya sama ayah.” Kata gadis imut itu.


“Boleh, nanti ayah antar Harin ke sekolah ya.” Kata Harvan.


“Jod, cari sekolah yang bagus buat Harin ya?.” Sambung Harvan.


“Siap Har, nanti gue carikan sekolah buat Dia.” Jawab Jodi.


“Oya, Harin juga minta ke Pondok emak Jod.” Kata Harvan.


“Ayo, kapan kita kesana?.” Ajak Jodi.


“Nanti hari Sabtu dan minggu kita kesana ya Jod, soalnya kalau belum dikabulkan pasti dia nanya terus.” Jelas Harvan.


“Oya, Harin pengen ke Pondok emak ya?.” Tanya Jodi pada Harin yang dipangkuannya tengah melahap makanannya.


“Iya om, Ibu bilang aku harus sering kerumah Emak, agar aku bisa belajar banyak hal disana.” Jelas Harin.


“Oke, nanti hari libur kita kesana ya sayang.” Ujar Jodi.


Setelah mereka selesai menghabiskan sarapannya, mereka bertiga berlalu meninggalkan ruang makan tersebut beranjak ke halaman rumah yang telah di nanti oleh kuda besi mereka yang siap mengantarkan mereka ke kantor untuk bekerja. Seperti biasa Harin masih selalu ikut dengan Ayahnya ke kantor.


*


Singkat cerita mereka pun telah sampai di halaman parkir gedung kantor dan memasuki gedung kantor itu.


“Hai putri Harin, cantik sekali hari ini.” Karyawati A.


“Makasih tante.” Jawab Harin.


“Hai cantik, sini saja di ruangan tante, main sama tante yuk?.” Karyawati B.


“Makasih tante, lain kali ya, aku mau belajar di ruangan ayah dulu.” Jawab Harin.


“Hallo cantik sini, om punya permen, mau gak?.” Karyawan C.


“Tidak om terima kasih, Harin Gak boleh makan permen sama ibu.” Jawab Harin.


Begitu setiap hari manakala Harin memasuki gedung kantor ayahnya setiap pagi. Kini ia tengah di gendong oleh Jodi. Karena selain di gendong Ayahnya, hanya Jodi yang bisa menggendongnya. Bukan berarti orang lain tidak boleh dekat dengannya, tetapi Harin sendiri yang tidak mau dengan orang lain.


Pada saat Harin memasuki ruangan Ayahnya ia langsung berlari ke arah playground yang berada diruangan tersebut. Ia langsung mengambil buku dan menulis apa yang ingin ia tulis.

__ADS_1


Sementara Jodi dan Harvan, duduk di sofa yang berada diruangan tersebut. Mereka tersenyum memperhatikan Harin yang tengah menulis.


“Jod, apa elo masih tetap ingin menikmati kesendirian elo?.” Tanya Harvan.


“Entahlah Har, kejadian dulu membuat gue takut kembali untuk berumah tangga.” Kata Jodi.


“Jod, kalau elo terus-terusan begini, kapan elo mau punya keturunan Jod? Elo harus punya Anak Jod, elo mau? nanti saat elo tua gak ada yang ngurus?.” Jelas Harvan.


“Ah jangankan yang gak punya Anak Har, yang punya banyak anak saja kebanyakan berakhir dengan kesendirian di masa tuanya, apa bedanya?.” Jelas Jodi.


“Ya minimal elo punya generasi penerus lah Jod.” Kata Harvan.


“Gak tahu lah Har, gue jadi takut untuk berumah tangga lagi.” Jelas Jodi.


“Elo harus move on Jod.” Kata Harvan.


“Ah elo bisa aja ngomong sama gue, elo sendiri kenapa gak mau nikah lagi?.” Tanya Jodi.


“Kalau gue beda Jod, Ibunya Harin adalah wanita yang paling Istimewa buat gue, dia tidak bisa digantikan oleh siapa pun, kalau gue nikah lagi, kebayang gak sama elo? tiap malam dalam mimpi gue babak belur diserang terus sama jurus-jurus nya haha.” Kelakar Harvan.


“Bisa jadi ya, hidup elo malah gak tenang kalau elo kawin lagi, setiap mau mantap-mantap, dia datang ke mimpi mukulin elo haha.” Tawa Jodi.


“Tapi yang jelas Jod, gue gak minat buat kawin lagi, bagi gue pernikahan sama Intan sudah cukup buat gue, sekarang tinggal gue ngurusin buah cinta gue Jod.” Terang Harvan.


“Iya beda sama gue Har, gue kira Vivi adalah cewek terakhir gue, elo juga gak bakalan nyangka kan? Kalau dia bisa sejahat itu. Menurut pengakuannya, dia sampai bunuh Intan karena terobsesi sama elo Har, sampe rela demi deketin elo, dia deketin gue dulu, kawin sama gue, terus deketin Intan. Ia berencana membunuh Intan pada saat Intan hamil tujuh bulan, waktu itu dia ngajak Intan belanja ke Mall, elo ingat kan Har? di situ dia awalnya berencana mau bunuh Intan dan bayinya di Mall, dengan cara akan mendorongnya dari eskalator, cuma pada saat itu gagal karena kita ikut kan?. Yang akhirnya pembunuhan itu berhasil pada saat di rumah sakit. Kita sama sekali gak curiga sama dia, padahal selama itu dia ada sama kita. Sepertinya, kalau pembunuhan Intan itu gak kebongkar, yang jadi sasaran selanjutnya gue dan Harin. Ngeri kan?.” Kata Jodi sembari menerawang jauh membayangkan apa yang terjadi dulu.


“Iya gue bener-bener gak nyangka Jod, bisa-bisanya dia senekad itu.” Kata Harvan.


“Ya itulah makanya gue gak berani deketin cewek karena masih trauma Har, gue belum siap sakit hati lagi, biarlah gue sendiri dulu, kalau pun memang nanti ada jodoh buat gue, semuanya akan mengalir sendiri.” Kata Jodi.


“Terus selama ini kalau elo pengen itu? Elo Solo karier dikamar mandi?.” Tanya Harvan.


“Ya iyalah, terus mau ngapain lagi gue?! Dari pada pusing!.” Jawab Jodi.


“Haha.. gila luh!.” Kelakar Harvan.


“Elo enak bisa mimpi sama bini elo, nah gue mimpi sama siapa?.” Ujar Jodi.


“Ya sama Cinta Vivi lah.” Timpal Harvan.


“Najis gue,jangankan mantap-mantap dalam mimpi sama dia, lihat mukanya di mimpi juga ogah gue. Mending gue mantap-mantap sama bondon dari pada mantap-mantap di mimpi sama dia, cuih.” Ujar


Jodi.


“Anjir! Haha, jadi penjahat kelamin lagi dong luh, haha.” Tawa Harvan.


“Haha iya mending sama bondon gue dari pada sama pembunuh seperti dia.” Kata Jodi.


Mereka tertawa bersama di ruangan itu. Melupakan masa lalu dan kembali menemukan bahagia meski dalam kesendiriannya masing-masing.

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2