
Siang itu di sebuah gedung kantor, nampak Harvan dan Jodi tengah berbincang serius. Sementara Harin selepas pulang sekolah yang dibawa Harvan ke kantornya, tengah tertidur diruangan pribadinya yang berada didalam ruangan tersebut.
Jodi tengah mengabarkan perihal kerjasamanya dengan pengusaha asal Korea Selatan. Ya, siapa lagi kalau bukan Tuan Chin Hwa, yang kornea mata istrinya di donorkan pada almarhumah Intan. Yang kebetulan memang kornea mata Istri Tuan Hwa itu cocok untuk Intan.
Jodi mengatakan bahwa Tuan Hwa mengeluarkan produk baru berupa teknologi Virtual Reality (VR). VR yang biasanya digunakan untuk kebutuhan bermain game, akhir-akhir ini mulai dikembangkan oleh perusahaan Tuan Hwa sebagai teknologi untuk teraphi kesehatan.
Bahkan Tuan Hwa menjelaskan VR tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan individu yang rindu ingin bertemu kembali dengan orang yang sudah meninggal. Dan tidak hanya itu saja, teknologi VR ini bahkan bisa menciptakan keadaan dimana kita dapat berbincang dan menyentuh orang yang sudah meninggal tersebut.
Harvan langsung mengingat Istrinya yang telah tiada. Ia langsung merespond apa yang Jodi sampaikan itu.
“Kapan barangnya siap Jod?.” Tanya Harvan dengan penuh semangat.
“Secepatnya setelah elo setuju dengan apa yang Tuan Hwa tawarkan ini, sample VR untuk uji coba itu akan langsung dikirim.” Jelas Jodi.
“Katakan pada Tuan Hwa gue setuju Jod, dan gua sendiri yang akan melakukan uji coba itu.” Ucap Harvan dengan serius.
Melihat reaksi Harvan begitu berapi-api, dan Jodi sangat mengerti sekali, bahwa Harvan akan memprogram mendiang istrinya itu untuk uji coba, akhirnya Jodi langsung menghubungi pihak perusahaan Tuan Hwa melalui email, dan mereka langsung menjawab bahwa mereka siap mengirimkan sample VR itu besok.
“Oke Har, kata pihak perusahaan mereka akan langsung mengirimkan samplenya besok, cuma mereka minta dikirim video Intan, untuk di pelajari, karena pusat desain mereka akan menciptakan suara dan gerak tubuh Intan kedalam program sistem komputernya.” Jelas Jodi.
“Sekarang tolong kirimkan Jod” Kata Harvan yang langsung merogoh ponsel dari kantong jas nya, kemudian meng-klik semua video Intan untuk dikirimkan oleh Jodi ke pihak perusahaan Tuan Hwa.
Setelah semua video terkirim ke ponsel Jodi, Jodi langsung mengirimkan video itu pada pihak perusahaan Tuan Hwa.
“Oya Har, kemudian satu lagi.” Kata Jodi.
“Apa Jod?.” Tanya Harvan.
“Elo harus menyediakan satu ruangan green screen sebagai tempat interaksi virtual tersebut.” Jelas Jodi.
“Oke Jod, sekarang juga elo hubungi desain interior yang bisa mengubah ruang pribadi gue sebelah ruang pribadi Harin itu menjadi ruangan green screen penuh.” Perintah Harvan.
“Apa mau di kantor saja membuat ruangan green screennya? atau sekalian di rumah Har?.” Tanya Jodi.
__ADS_1
“Dua-duanya Jod, kayaknya dirumah juga gue perlu.” Jelas Harvan.
Kemudian tanpa bertanya panjang lebar Jodi langsung menghubungi seseorang yang Ahli dalam desain interior yang dapat membuat green screen pada suatu ruangan.
Setelah selesai Jodi menelepon orang tersebut, dan orang itu menyanggupi, Kemudian,
“Elo yakin akan menguji coba VR itu sendiri Har?.” Tanya Jodi.
“Yakin Jod, gue ingin merasakan pertemuan dengan Intan walau cuman menggunakan teknologi. Dan bukan hanya gue saja Jod, gue juga ingin memenuhi keinginan Harin. Dia pernah bilang, dia sangat ingin sekali dipeluk Ibunya walau hanya sekali saja dalam hidup dia, siapa yang gak sedih Jod mendengar ucapan anak balita kayak gitu. luluh hati gue Jod mendengar dia ngomong gitu.” Jelas Harvan yang mulai berkaca-kaca.
“Gue suka sedih kalau Harin udah ngomong dia ingin dipeluk ibunya Jod, kata-kata Harin itu yang selalu terngiang di telinga gue, mungkin gue bisa mengabulkan segala keinginannya dengan uang yang gue punya, tapi keinginan yang satu itu yang tidak akan pernah bisa gue beli dengan uang, karena sampai kapanpun gue gak akan bisa mengabulkan keingin dia yang ingin dipeluk ibunya.” Harvan mulai terbawa emosi, pecah air matanya kala itu.
Melihat kondisi sahabatnya itu, Jodi pun ikut merasakan apa yang sahabatnya rasakan. Lalu dipeluknya sahabatnya itu untuk menenangkan hatinya. Kemudian,
“Oke Har, berarti Allah memang telah mengabulkan keingin Harin dengan memberikan Ilmu pada orang yang mampu membuat teknologi VR ini. Dan sebentar lagi, elo bisa mengabulkan keingin Harin yang ingin dipeluk ibunya itu. Sumpah gue terharu Har, seumur hidup gue, gue gak pernah menangis, gue bisa menangis kalau gue mikirin Harin dan Ibunya.” Jodi pun mulai terbawa perasaan, ia meneteskan air mata di pipinya.
“Benar Jod, Allah telah merencanakan segalanya untuk kita. Allah mendengar Doa putri gue yang belum mengenal dosa itu. Allah benar-benar dekat Jod, Allah benar-benar Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Gue sangat-sangat bersyukur atas apa yang Allah kasih buat gue Jod, termasuk Elo yang udah Allah kasih buat mendampingi gue dikala gue butuh orang yang bisa gue andalkan.” Jelas Harvan dengan air mata yang mengalir.
“Thanks Har, elo udah percaya sama gue, thanks elo gak benci gue sama sekali padahal jelas-jelas yang bunuh Intan adalah Istri gue sendiri Har, seandainya bukan elo, mungkin gue udah gak akan dipercaya lagi.” Ucap Jodi dengan pelukan yang hangat untuk sahabatnya itu.
Semua yang terjadi tak terlepas dari Hikmah pertemuan dengan Tuan Chin Hwa juga, yang telah banyak memberikan manfaat buat mereka.
Dengan tulus istri Tuan Chin Hwa mendonorkan matanya untuk Intan, kemudian kebaikan kerjasama perusahaannya dengan perusahaan Harvan yang membawa keuntungan yang sangat besar dari sisi finansial, juga produk baru perusahaannya yang akan mempertemukan kembali Harvan dan putrinya dengan Intan yang selalu mereka rindukan walau pertemuan itu melalui teknologi, itu sudah merupakan sebuah harapan yang sangat besar untuk mereka.
Sungguh kehidupan adalah sebuah misteri yang selalu memberi kejutan dengan beragam ceritanya.
Disaat mereka tengah merasakan perasaan harunya, tiba-tiba ponsel Harvan berdering tanda panggilan masuk.
Harvan mengambil ponselnya diatas meja yang ia letakan tadi setelah mengirim video Intan pada ponsel Jodi.
Ia lihat layar ponselnya, nomor tak dikenal yang menghubunginya. Lalu Harvan memperlihatkan layar ponselnya pada Jodi.
“Angkat Har, loadspeaker biar gue bisa dengar.” Kata Jodi sembari menghapus sisa air mata di pipinya. Kemudian Harvan menerima panggilan telepon tersebut, loadspeaker mode on,
__ADS_1
“Hallo.” Sapa Harvan.
“Hallo Har, apa kabar?.” Suara di balik ponsel.
“Kabar baik, maaf dengan siapa?.” Tanya Harvan.
“Gue Aldo temanya sepupu elo yang dulu pernah berkunjung ke kantor elo.” Jelas Aldo.
“Oh iya Aldo apa kabar?.” Sapa Harvan.
“Sama baiknya Har, oya gue mau kasih info ke elo, tapi gue cuma bisa lewat telepon, karena kalau gue ke kantor elo takut dicurigai sama si Reyhan.” Terang Aldo. Harvan dan Jodi saling berpandangan. Kemudian,
“Kemarin si Reyhan datang ketempat gue, seperti biasa dia ngumpat-ngumpat elo, katanya dia bilang kemarin itu, dia habis jemput si Selvy dan anaknya dari bandara terus abis itu dia menemui gue.”
DUG dada Harvan dan Jodi serentak berdegup, kemudian,
“Elo harus hati-hati Har, jaga anak elo baik-baik, sepertinya dia akan merencanakan sesuatu buat bikin kalian celaka, setelah dia gagal bunuh Istri elo sama bayinya dulu.”
Harvan dan Jodi kembali berpandangan dengan tatapan tajam.
“Dia bilang katanya dia sedang merencanakan sesuatu untuk menuntut hak dari elo, tapi gue gak ngerti apa maksudnya itu. Setelah gue desak juga dia gak bilang, gue gak bisa terus-terusan nanya dia khawatir dia curiga sama gue, gitu Har.” Jelas Aldo.
“Oke Do, gue sangat-sangat berterima kasih sama elo, elo baik banget sama gue, informasi ini sangat penting dan bermanfaat buat gue Do.” Kata Harvan.
“Iya makanya gue langsung hubungi elo, pokoknya nanti kalau gue dapat info terbaru, gue hubungi elo lagi, Cuman maaf gue belum bisa ketemu elo langsung, soalnya dari apa yang si Reyhan bilang, dia akan nyuruh orang buat memata-matai anak elo. Yang otomatis pastinya memata-matai kehidupan elo juga, makanya elo bener-bener kudu hati-hati mulai dari sekarang Har.” Sambung Aldo.
“Oke Do, thanks banget ya infonya, gue harap kapan-kapan kita bisa ketemu.” Kata Harvan.
“Iya mudah-Mudahan Har, ya sudah mungkin cuma itu yang bisa gue sampaikan, sudah dulu ya Har, nanti gue hubungi elo lagi kalau ada info terbaru.”
TUT suara sambungan telepon terputus.
Harvan dan Jodi terdiam, mereka saling pandang dalam diamnya, seakan tengah mencerna informasi dari Aldo yang baru saja mereka dapatkan.
__ADS_1
🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗
Jangan lupa Like & vote nya ya reader tersayang🤗