
Suasana begitu mencekam dalam benak Jodi. Pikirannya mengembara menarikan kesedihan yang kini tengah ia rasakan. Bayangan yang tak ia harapkan memanggil-manggil dalam pikirannya. Ketakutan nya bertambah kala ia menanti dokter dan petugas kesehatan yang belum juga memberikan kabar padanya.
Semakin erat tubuh kecil itu memeluknya dengan rintihan kesedihan yang tak dapat terlukiskan dengan sebuah bait kata. Entah apa yang kini tengah menggelayut dalam pikiran putri kecil itu.
Terlintas kembali dalam ingatan Jodi, saat lamunannya mengingat pagi, dimana putri kecil itu tak ingin lepas dari pangkuan sang ayah. Akan kah keadaan itu sebuah firasat yang baru terjawabkan? Atau memang hanya kebetulan belaka?. Ia mematuk diri berharap doa dan harapan yang terus tergumam dalam hatinya di jawab Tuhan.
Namun baru saja ia menyandarkan kepalanya pada dinding belakang kursi tunggu, terlihat beberapa dokter dan beberapa perawat mendorong dua blankar keluar dari ruang IGD. Bergegas Jodi menghampiri dokter tersebut.
“A-da apa dok?.” Dengan mulut yang bergetar Jodi bertanya pada salah satu dokter.
“Keduanya kritis tuan! Harus segera di operasi?!.”
DUAR….. kata-kata dokter seakan suara petir yang menyambar tepat di telinga Jodi.
“Lakukan yang terbaik dokter saya mohon.” Bagai melayang seakan tak menginjak bumi Jodi memahami apa yang dokter katakan. Berharap kejadian yang ia alami adalah mimpi terburuknya, namun berkali-kali ia menepisnya ternyata ini adalah sebuah kenyataan.
‘Har… tolong bertahan demi putri elo. Gue mohon Har.. gue sama dia butuh elo.. jangan tempatkan gue dalam posisi sulit seperti ini Har.. gue mohon..’ bathin Jodi lirih tak terperi.
Ia lihat dua blankar yang membawa tubuh Harvan dan Delima semakin jauh dari pandangannya menuju ruang operasi.
Bagai separuh diri nya hilang kini ia rasakan. Matanya yang meremang tak kuasa saat mengalihkan pandangannya pada sosok kecil dalam pangkuannya.
“Sayang… semua akan baik-baik saja. Apa pun yang terjadi om akan selalu ada di sisimu. Jangan takut, jangan sedih sayang…, om janji! Akan buatmu bahagia.” Ucap Jodi pelan dengan tatapan sendunya.
Waktu pun terasa lamban bergulir kala Jodi menunggu kepastian. Ia terus pandangi pintu ruang operasi yang sedikit pun tak menunjukan ada nya kehidupan, terasa dingin dan sepi.
Sampai akhirnya dari kejauhan terlihat pak Budi dan bu Irma menghampiri Jodi yang terlihat layu sembari memangku putri kecil yang erat memeluknya.
Dengan tergopoh pak Budi dan bu Irma juga dua ajudan semakin mendekat. Jodi menjuruskan pandangannya pada mereka yang datang dengan matanya yang meremang.
__ADS_1
Bergegas bu Irma memeluk Harin dan meraihnya dari pangkuan Jodi. Ia peluk dan ia ciumi putri kecil itu.
Sementara pak Budi mendekat ke arah Jodi, dengan cepat Jodi memeluk pak Budi.
“Pak maafkan saya, saya gagal menjaga putra bapak.” Ucap Jodi dalam pelukan pak Budi.
“Ini sudah takdir Jod, meskipun kita sudah melakukan penjagaan semaksimal mungkin tapi Tuhan memiliki rencana lain. Jangan menyalahkan dirimu Jod, ini memang sudah jalan dari Tuhan harus seperti ini.”
“Seharusnya saya lebih hati-hati lagi pak, saya ceroboh, mamafkan saya pak, saya yang salah.”
“Sudah Jod jangan seperti ini. Benar pelakunya Reyhan?.”
“Iya pak. Dia sudah diamankan di markas saya.”
“Kenapa tak kau bawa langsung ke kantor polisi? Jod, serahkan dia ke kantor polisi, saya tahu kamu akan melakukan sesuatu padanya untuk membalas dendam. Jangan lakukan itu Jod. Saya tidak setuju kamu melakukan itu, jangan gegabah, nanti keadaannya akan menyulitkan kita, biarlah pihak yang berwajib yang menanganinya. Percayalah pada saya, semua akan ditangani dengan baik, sesuai prosedur yang berlaku.”
Setelah lama berpikir akhirnya, “Baik pak, saya akan menghubungi team saya di markas.” Kata Jodi. Kemudian ia menghubungi team nya untuk menyerahkan Reyhan dan Arman ke pihak yang berwajib.
Sementara itu di sudut kursi tunggu, bu Irma terus menangis sembari memeluk Harin. Tubuh kecil itu masih terdiam membisu sejak kejadian penembakan terhadap orang tuanya di dalam mobil itu.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya terlihat dokter keluar dari ruang operasi. Semua mata tertuju pada dokter itu, seakan terkesima semuanya terdiam.
Pak Budi dan Jodi yang sekuat tenaga berusaha tegar menghampiri dokter itu.
Dengan penuh pengharapan pak Budi berkata pada dokter tersebut. “Bagaimana putra saya dan istrinya dok?.”
Dokter menghela nafas panjang. Kemudian, “Saya mohon maaf pak, anak bapak tidak bisa kami selamatkan karena beberapa peluru bersarang pada jantung dan paru-parunya sehingga membuat jaringan pada paru dan jantungnya rusak.”
DUAR!!!!!!
__ADS_1
Semua yang mendengar melemas pasrah, bagai raga tak bernyawa kini mereka seolah menelan pil pahit atas kenyataan yang terjadi.
Bu Irma dan cucu nya menjerit seakan tak percaya atas kabar yang ia dengar barusan saja dari dokter, pak Budi melemas membenamkan diri pada dinding ruang operasi, sementara Jodi ambruk terduduk dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding ruang operasi tertunduk kaku. Suasana menjadi mencekam hanya isak tangis yang terdengar.
Kabar kematian Harvan langsung menyebar di kalangan pengusaha yang berada di dalam dan luar negeri. Sungguh tragis akhir hidup seorang lelaki yang baik dimata keluarga dan para koleganya itu. Tak ada yang menyangka kematiannya terjadi di usianya yang terbilang masih muda dan saat kariernya berada di puncak kejayaan.
Ia pergi untuk selama-lamanya meninggalkan putri satu-satunya yang masih berusia 5 tahun. Tidak ada yang tidak terharu atas kepergiannya. Mereka yang mendengar kabar kepergian Harvan seakan tak percaya, terlebih yang menjadi malaikat maut atas kematiannya adalah sepupunya sendiri. Semua di buat tercengang dengan kenyataan ini.
Namun inilah takdir, untung tak dapat diraih, Malang tak dapat di tolak, jika kehendak Sang Maha Kuasa telah berbicara, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus siap menghadapinya.
Sementara mengenai keadaan Delima. Dokter mengatakan bahwa Delima dapat terselamatkan namun kini ia dalam keadaan koma. Akhirnya Delima mendapatkan perawatan intensif di ruang perawatan.
*
Di tempat lain, Reyhan dan Arman yang sudah babak belur di hakimi team Jodi tentu saja atas perintah Jodi, mereka di giring ke kantor polisi. Dengan semua data dan alat bukti Reyhan dan Arman tidak bisa berkutik, namun Reyhan terlihat merasa puas tak sedikit pun terlihat penyesalan dalam dirinya. Bahkan setelah ia mendengar bahwa Harvan meninggal, ia tertawa menggelegar puas.
“Haha.. gue sama sekali tidak menyesal, sekali pun hukuman mati ada di depan mata. Kalau gue tidak bisa menguasai harta itu, elo juga tidak pantas menikmatinya Harvan haha.. sekarang kita impas haha.. gue puas Harvan haha… karena kematian elo adalah tujuan gue! Sampai bertemu di neraka Harvan haha.” Kelakar Reyhan.
Kabar kematian Harvan pun sampai ke telinga Selvy, Ronald dan Revy. Sama halnya dengan kerabat lain, mereka pun merasa terpukul dengan kabar duka itu. Selvy memang sudah mengira Reyhan akan melakukan pembunuhan itu namun ia tak menyangka kalau Reyhan akan melakukannya secepat itu. Hingga akhirnya Selvy pun dengan kesadaran diri, ia bersedia bersaksi atas kejahatan Reyhan, meskipun awalnya pembunuhan itu memang rencana mereka berdua hingga Reyhan pun membuat pernyataan pada pihak berwajib bahwa pembunuhan itu ia lakukan atas rencana yang mereka sepakati berdua. Namun ternyata Tuhan masih menyayangi Selvy sehingga pada rencana pembunuhan yang baru ia lakukan ini adalah tidak ada campur tangan Selvy berdasarkan alat bukti serta olah TKP juga bukti lainnya.
Sementara Helmy dan Shinta orang tua dari Reyhan sangat terkejut atas tertangkapnya putra mereka. Apa lagi pada saat mereka mendengar bahwa hukuman yang akan di terima oleh putranya adalah hukuman mati, tentu saja membuat mereka syok hingga mereka memohon pada orang tua Harvan yang notabene adalah saudaranya untuk meringankan hukuman pada anaknya.
Tetapi hukum jika sudah di tetapkan tentunya tidak dapat di ganggu gugat dan memang hukuman yang Reyhan terima sesuai dengan kejahatan yang ia lakukan. Akhirnya mereka pun pasrah dengan menanggung malu dan hukuman sosial yang mereka terima dari orang sekitar mereka.
*
Waktu pun berlalu. Setelah beberapa waktu prosesi pemakaman Harvan dilakukan dengan khidmat yang di hadiri oleh saudara, teman serta kolega dari dalam dan luar negeri. Harvan di kebumikan di samping makam istri pertamanya Intan.
Suasana haru menyelimuti semua orang yang menghadiri pemakaman tersebut. Hingga acara selesai meraka pun satu persatu meninggalkan area pemakaman tersebut, hanya tinggal keluarga inti yang masih berdiri mematung di hadapan gundukan tanah makan Harvan.
__ADS_1
“Selamat jalan kawan… selamat jalan saudara… selamat tinggal Boss, gue yakin elo tenang sekarang bersama cinta sejati elo. Gue gak nyangka elo pergi secepat ini. Meski berat… gue akan coba mengemban amanah yang elo kasih ke gue. Gue janji akan jaga putri elo sampai ia tumbuh menjadi apa yang kalian harapkan. Terima kasih atas waktu yang singkat ini kawan… elo adalah orang yang sangat berarti di hidup gue. Banyak cerita yang udah kita toreh. Gue bangga menjadi saksi dari bagian sejarah hidup elo Har.. semua waktu yang sudah kita bunuh bersama, akan jadi cerita buat putri elo Har.” Bathin Jodi.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤