Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Petualangan Harin (2)


__ADS_3

Harin dan Revy begitu menikmati nasi uduk yang mereka beli di emperan pasar rakyat, mereka tidak mengenal tempat itu, yang penting mereka bahagia hidup bebas tanpa ada tekanan dari siapapun.


Setiap orang yang melihat mereka, merasa keheranan dengan anak bule yang hanya berdua saja tanpa ada orang tua yang mendampingi mereka.


“Enak sekali ya kak nasi kuningnya?.” Kata Harin yang dengan lahap memakannya.


“Iya Harin, ini enak sekali, aku pikir nasi itu warna nya hanya putih saja, ternyata ada juga nasi yang berwarna kuning hehe.” Revy pun makan dengan lahap.


Ibu penjual nasi uduk itu menguping pembicaraan Harin dan Revy.


“Sepertinya eneng-eneng ini baru pertama kali ya makan nasi kuning?.” Tanya ibu itu.


“Iya bu.” Jawab Revy.


“Oya orang tua kalian dimana? Kok kalian hanya berdua saja.”


DUG jantung Revy berdegup kala ibu penjual itu menanyakan perihal orang tua mereka. Lalu Revy melihat gedung diseberang jalan, gedung dengan nama salah satu bank.


“Orang tua kami lagi disana bu.” Kata Revy sembari menunjuk gedung bank diseberang jalan itu.


“Oh lagi di Bank, syukurlah.”


Revy lega setelah penjual nasi kuning itu berhenti bertanya. Kemudian setelah selesai makan nasi kuning tersebut, Revy membayar dengan uang pecahan seratus ribu rupiah.


“Aduh neng, ada uang kecil tidak? Ibu belum ada kembalian.” Kata ibu tersebut.


“Ya sudah, ibu ambil saja kembaliannya.” Kata Revy memberikan uang itu dan cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu.


“Eh, neng ini beneran gak usah di kembalian?.” Teriak ibu itu.


Tapi Revy tidak menjawab, malah melangkahkan kakinya dengan cepat bersama Harin, kemudian meminta pada tukang parkir untuk meminta tolong untuk mengantarkan ke seberang jalan.


Setelah sampai diseberang jalan, mereka melihat kearah si ibu penjual nasi uduk tadi, saat ibu itu tidak memperhatikan mereka lagi, dengan cepat Revy membawa Harin lari.


Mereka berjalan mengikuti kemana saja kaki nya ingin melangkah. Tanpa tahu arah tujuan, mereka berjalan menyusuri kota kecil yang mereka tidak tahu mereka sedang berada dimana.


“Kak, sekarang kita mau kemana lagi?.” Tanya Harin.


“Tidak tahu Harin, memangnya kamu mau jalan kemana?.” Tanya balik Revy.


Kemudian terlintas dalam pikiran Harin, tiba-tiba saja ia mengingat emak.


“Kak. Bagaimana kalau kita main ke pantai, kita ke rumah emak yuk kak! Mau tidak?.” Tanya Harin.


“Oke. Ayo kita main di pantai. Tapi apakah kamu tahu nama tempatnya?.” Tanya Revy. Harin terdiam, ia tidak tahu nama daerah tempat tinggal emak.


“Aku tidak tahu kak, pokoknya tempatnya jauh dari rumah.” Jawab Harin, Revy terdiam seperti berfikir.

__ADS_1


“Ya sudah. Biar kita tanya saja nanti pada orang.” Kata Revy sembari meraih tangan Harin, mereka berjalan berdampingan. Lalu pada jarak kira-kira 20 meter. Didepan mereka berhenti sebuah bus yang menurunkan penumpang.


“Harin, kita coba saja naik bus itu yuk? Siapa tahu bus itu akan mengantarkan kita ke rumah emak.” Kata Revy sembari menunjuk bus yang berhenti agak jauh didepan mereka.


“Ayo kak kita naik bus. Aku belum pernah naik bus. Sepertinya seru.” Kata Harin.


“Ya sudah. Ayo kita lari ke arah bus itu sebelum bus itu jalan.” Revy menarik tangan Harin. Berlari kearah bus yang berhenti di depan mereka. Pada saat bus itu akan jalan kembali setelah menurunkan penumpang.


“Bang tunggu.” Teriak Revy pada kondektur bus itu, dan kondektur pun melihat kearah mereka, kemudian kondektur itu memberi kode untuk menunggu penumpang. Setelah Revy dan Harin sampai di pintu masuk bus dengan nafas tersengal-sengal, mereka bicara pada kondektur tersebut,


“Bang, kita mau naik bus ini.” Kata Revy.


“Kalian cuma berdua? Dimana orang tua kalian?.” Tanya kondektur.


“Orang tua kami menunggu di tempat tujuan, kami disuruh naik bus ini.” Kata Revy ngasal.


“Ya sudah ayo naik.” Kata kondektur. Kemudian mereka berdua pun naik kedalam bus tersebut.


Dengan riang kedua nya tersenyum kemudian duduk di kursi paling belakang. Memang bus itu terlihat tidak penuh dengan penumpang, jadi mereka bisa bebas memilih tempat duduk dan mereka memilih tempat duduk paling belakang sebelah kanan. Harin duduk tepat disisi jendela sementara Revy duduk di sebelah Harin.


Beberapa orang yang berada di dalam bus merasa heran melihat dua anak bule tanpa di dampingi orang tua berada di dalam bus. Kemudian seseorang yang duduk di jok depan mereka, pindah duduk ke samping Revy.


Seorang pria muda kira-kira berusia 20 tahunan wajahnya lumayan tampan, memakai celana blue jeans di padu dengan sweater hoodie warna hitam, memakai topi hitam dan tas gendong yang ia simpan di pangkuannya. Lalu pria itu bertanya karena penasaran dengan dua anak ini.


“Permisi, Ade mau kemana?.” Tanya pria muda tersebut.


“Oh, kalian cuman berdua?.” Tanya nya kembali.


“Orang tua kami menunggu disana.” Jawab Revy.


“Emang rumah emaknya dimana?.” Tanya pria itu lagi.


“Di laut..” jawab Harin dengan senyum manisnya.


“Oh.” Pria itu menganggukan kepalanya tetapi tidak yakin, ia merasa ada yang aneh dengan kedua anak ini. Ia merasa tidak mungkin ada orang tua yang membiarkan dua anak perempuannya pergi berdua naik bus tanpa di dampingi oleh orang dewasa.


Revy merasa sepertinya pria di sampingnya tengah menyelidik, kemudian muncul dalam benak Revy kalau-kalau lelaki ini akan berniat jahat. ia memikirkan cara agar supaya pria di sampingnya itu tidak melakukan hal yang tidak di inginkan.


Saat Revy melirik kesebelah, ia melihat Harin tertidur, kemudian ia memeluk tubuh Harin, hingga ia pun tertidur pulas.


*


Sementara itu di villa puncak Cianjur tempat Selvy dan Reyhan tinggal.


Terlihat pagi-pagi sekali Selvy dan Reyhan memasuki villa tersebut. Mereka baru pulang dari pesta di villa Aldo karena memang pesta itu digelar sampai pagi. Selvy dan Reyhan terlihat mabuk, tetapi mereka masih sadar artinya mereka tidak mabuk berat.


Kemudian Selvy memanggil salah satu pelayan yang biasa mengantar makanan ke kamar Revy.

__ADS_1


“Heh! Sebentar lagi waktunya sarapan, seperti biasa kamu antarkan makanan ke ruangan Revy, dua porsi ya, ini kunci kamarnya.” Kata Selvy seraya merogoh kunci dari dalam tas nya.


“Baik nyonya.” Kemudian pelayan itu menerima kunci dari tangan Selvy, sementara Selvy naik kelantai dua masuk kedalam kamarnya, tak berapa lama Reyhan mengikutinya.


Karena kelelahan mereka berdua pun tertidur tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Sementara sang pelayan yang ditugaskan mengantar makanan ke kamar Revy mulai menaiki anak tangga. Perlahan ia memasukan kuncinya kemudian membuka pintu dan masuk kekamar Revy.


Betapa terkejutnya pelayan tersebut saat melihat keadaan kamar itu kosong, bergegas iya berteriak seraya mengetuk pintu kamar tuannya.


“Permisi tuan! Permisi.” Pelayan itu gugup terus mengetuk pintu kamar Selvy.


Selvy yang merasa baru memejamkan mata merasa terganggu begitu juga dengan Reyhan. Betapa emosinya kedua orang itu kala mereka merasa terganggu karena ketukan pintu dari pelayannya. Dengan kasar Reyhan membuka pintu.


“Heh! Pelayan sialan! Ganggu saja! Ada apa hah!.” Tanya Reyhan membulatkan mata merahnya.


“Maaf tuan, anu- mh, nona tidak ada didalam kamar nya!.” Kata pelayan itu ketakutan.


“Apa!!!.” Kata Reyhan terkejut begitu pun Selvy yang langsung terbangun saat mendengar Revy tidak ada didalam kamarnya.


Bergegas mereka masuk ke kamar Revy, dan benar saja mereka tidak menemukan Revy juga Harin dikamar itu. Dengan amarah mereka mencari kesetiap sudut kamar termasuk kedalam kamar mandi, tetap saja dia tidak menemukan Revy dan Harin.


“Kemana perginya mereka! Padahal semua pintu dikunci, bahkan semua kunci nya kita bawa!.” Reyhan merasakan keanehan atas kehilangan dua anak di dalam kamar tersebut. Begitu pun dengan Selvy dalam kebingungannya ia berfikir, tidak mungkin mereka bisa kabur.


Kemudian tanpa sengaja pandangan Selvy mengarah pada jendela balkon. Ia melihat jendela yang tak terkunci. Memang selama ini, ia tidak tahu kalau ada jendela di samping kamar Revy yang bisa dengan mudah dibuka.


“Coba lihat sini! Ternyata disini ada jendela yang bisa dibuka?! Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kamar ini memiliki jendela yang bisa dibuka, percuma aku mengunci pintu balkon kalau ada jendela yang dengan mudah bisa dibuka.” Kata Selvy pada Reyhan.


“Bisa jadi mereka kabur melalui jendela ini.” Sambung Selvy geram.


“Ah sial! Aku juga tidak tahu kalau disini ada jendela yang bisa dibuka.!” BUG Reyhan memukul dinding.


Dalam amarahnya Selvy dan Reyhan saling menyalahkan. Kemudian Selvy yang berada di balkon melihat ke bawah juga pada sekeliling area tersebut.


Ia berfikir bagaimana mungkin mereka bisa kabur melalui lantai balkon ini, sementara tidak ada sesuatu pun disana, dengan cara apa mereka bisa turun dari balkon setinggi ini?, itulah yang berada dalam pikiran Selvy.


“Rey, kalau memang benar mereka kabur melewati balkon ini dengan cara apa mereka bisa turun ke bawah sana? Sementara di sekitar sini kita tidak menemukan satu pun alat yang bisa membantu mereka keluar dari sini.” Kata Selvy.


Kemudian Reyhan mendekat ke arah balkon dan melihat-lihat sekitar, ia pun merasa bingun bagaimana caranya kedua anak kecil itu bisa keluar dari villa itu.


*


Sementara di tempat lain tanpa Reyhan dan Selvy sadari. Harvan dan Jodi tengah mendengar percakapan mereka melalui alat diruangan kerjanya. Sebuah alat canggih yang bisa menyadap percakapan mereka hanya dengan melalui ponsel mereka, dan ponsel Reyhan yang berada di saku celananya mampu memberikan informasi kepada monitor yang berada diruang kerja tersebut. Ternyata ponsel Reyhan mentransmisikan sinyal pada alat yang berada diruang kerja Itu sehingga mampu menginformasikan kejadian yang mereka alami.


Harvan dan Jodi pun terdiam saat mendengar bahwa Revy dan Harin sudah tidak ada di villa tersebut.


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2