
Harvan dan Jodi tengah berfikir keras sore itu. Mereka saling diam, bukan karena mereka sedang bertengkar, tetapi mereka tengah fokus pada pikirannya masing-masing. Mencoba menggali ide sebagai jalan untuk menanggapi informasi apa yang mereka berdua dengar dari Aldo. Dan mencoba mencari solusi terbaik jika memang apa yang mereka dengar itu adalah suatu kenyataan yang harus mereka hadapi.
“Har, karena ini sudah sore, kita pulang saja. Nanti kita rundingkan di rumah setelah Harin istirahat.” Kata Jodi.
“Iya Jod, sebentar gue bawa Harin dulu diruangannya.” Kata Harvan. Kemudian dia berlalu menuju ruangan Harin yang tadi ia tinggalkan karena putrinya itu tengah tidur dengan pulas.
Pada saat Harvan membuka pintu ruangan Harin yang serba pink itu, ia melihat putrinya sudah terjaga tengah melihat tayangan pada Tab nya.
“Eh anak ayah sudah bangun rupanya, apa yang sedang kamu lihat sayang?.” Tanya sang Ayah yang kemudian langsung mendekati putrinya seraya menciuminya.
“Aku sedang lihat ibu nyanyi ayah.” Jawab bibir mungil itu.
“Oya? Apa yang ibu nyanyikan sayang?.”
“Ibu bernyanyi twinkle little star Ayah.” Jawabnya.
“Wah bagus itu, apa kamu hafal lagu itu sayang?.”
“Tentu saja aku hafal Ayah, karena ibu mengajarkanku setiap hari.” Jawabnya yang kemudian bibir mungilnya ikut menyanyikan lagu itu mengikuti ibunya di video.
Melihat tingkah putri kecilnya itu, Harvan tersenyum gemes. Kemudian,
“Sayang, ayo kita pulang, sekarang sudah waktunya kita pulang kerumah.” Kata Harvan yang langsung memangku anaknya meninggalkan ruangan pink itu.
Jodi yang melihat Harvan keluar bersama putrinya itu tersenyum dan mengajak mereka meninggalkan ruangan kerja mereka tersebut.
*
*
Singkat cerita, mereka kini sudah sampai dirumah. Setelah Harvan dan putrinya membersihkan badan kemudian mereka turun kelantai bawah.
Tak lama dari itu, Jodi pun turun kelantai bawah setelah ia membersihkan diri dan memakai pakaian santainya.
Jodi memperhatikan Harvan dengan putrinya yang tengah main di taman, di taman samping rumah itu Harvan pun meletakan playground untuk putrinya bermain.
__ADS_1
Namun Jodi tidak mendekati mereka. Ia malah sedikit menjauh dan merogoh ponsel dari saku celana pendeknya, sepertinya ia akan menghubungi seseorang melalui ponselnya.
Iya sentuh layar ponselnya untuk menghubungi seseorang, tak menunggu waktu lama, sambungan teleponnya diterima oleh seseorang di sebrang sana.
“Hallo John!.” Sapa Jodi pada seseorang dibalik ponsel.
“Iya Boss, ada yang bisa dibantu?.” Suara dibalik ponsel.
“Tolong kerahkan anak buah elo buat melakukan pengawalan pada putri Boss Harvan, kostum preman culun ya? Jangan pake kostum kebangsaan karena Ini dalam rangka penyamaran. Sepupu Boss berencana memata-matai putrinya Boss Harvan, sepertinya mereka akan melakukan sesuatu.” Jelas Jodi.
“Siap laksanakan Boss, berapa personil yang dibutuhkan Boss?.” Tanya seseorang itu.
“Setiap penjuru delapan mata angin, dibutuhkan 5 orang personil ya!.” Perintah Jodi.
“Siap Boss laksanakan!.” TUT suara sambungan terputus.
Selama Jodi melakukan komunikasi pada ponselnya, sesekali Harvan memperhatikan Jodi. Ia tidak mau menanyakan langsung pada Jodi karena masih ada Harin bersamanya. Ia tidak ingin pikiran anaknya terkontaminasi dengan pembicaraan antara dirinya dan Jodi, apalagi yang akan mereka bicarakan adalah berhubungan dengan keselamatan jiwa putrinya itu. Ia tidak ingin pikiran putrinya diracuni oleh hal-hal yang menakutkan, menegangkan, darah, hal yang menyakitkan apalagi sesuatu yang mengerikan. Jadi biasanya apabila Harvan akan berbicara serius dengan Jodi, ia akan melakukannya pada saat Harin sudah tertidur pulas.
Sementara yang Jodi lakukan tadi adalah ia sedang memerintahkan anggota shadow man. Yaitu organisasi rahasia yang merupakan dirinyalah sebagai ketuanya. Ia mengerahkan anggotanya untuk melakukan pengawalan ketat pada putrinya Harvan. John yang ia hubungi tadi adalah anak buahnya yang ia percaya sebagai ketua intelijen pada organisasinya tersebut.
*
*
“Har, gue tunggu diruangan kerja ya?.” Kata Jodi.
“Oke, setelah Harin tidur, gue kesana.” Kata Harvan yang berlalu membawa putrinya masuk kedalam kamarnya.
Didalam kamar, Harvan menemani putrinya belajar membaca dan menulis, setelah belajar mereka menonton video Intan yang tengah pengajar Harin bernyanyi, setelah Harin terlihat mulai lelah, Harvan membawanya ketempat tidur untuk ngadongeng (bercerita). Biasanya kalau sang Ayah sudah membacakan buku cerita, baik buku konvensional atau pun virtual, akan membuat Harin tertidur.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, dan Harin sudah terlelap dalam alam mimpinya. Perlahan Harvan keluar dari dalam kamarnya menuju ruang kerja, dimana Jodi tengah menunggunya disana untuk membicarakan hal penting.
Harvan masuk keruang kerjanya yang berada dilantai tiga, kemudian ia menyalakan laptopnya untuk mengontrol CCTV yang berada di kamarnya, melihat Harin yang tengah tertidur lelap.
Lalu Jodi mendekat dan memulai membicarakan hal penting yang sudah mereka rencanakan.
__ADS_1
“Gue tadi sudah hubungi team gue, mereka gue suruh melakukan pengawalan terhadap Harin, dengan memakai pakaian preman, agar mereka tidak kentara oleh mata-mata yang si Reyhan kirim.” Jelas Jodi. Harvan mendengarkan dengan seksama.
“Gue yakin kali ini si Reyhan melakukan rencananya dengan sangat rapi Har, Jadi untuk menghadang mereka kita juga harus melakukan persiapan yang matang.” Sambung Jodi.
“Oya Jod, tadi kan si Aldo bilang kalau si Selvy membawa anaknya balik ke Indonesia lagi, dia akan menuntut hak dari gue, hak apa ya? Perasaan waktu gue cerai sama dia, urusan harta gono gini dan saham 5% yang dia minta sudah selesai, elo juga tahu sendiri kan? udah gue kasih ke dia, terus dia mau nuntut hak apa lagi ya sama gue?.” Penasaran Harvan sembari berfikir.
“Iya itu dia yang jadi pertanyaan kita Har, makanya untuk masalah itu biar si Aldo yang ngurusin, dia yang cari Informasi dari si Reyhan langsung. Yang terpenting buat kita sekarang adalah melakukan pengamanan untuk Harin, karena Harin adalah target utama mereka yang akan mereka lenyapkan.” Jelas Jodi.
Mereka berdua terdiam, sama-sama berfikir. Kemudian,
“Oya Har, elo ingat gak apa yang si emak bilang waktu kita terakhir kesana? Emak bilang, Harin harus di bekali ilmu bela diri karena kedepannya putri elo akan menghadapi banyak tantangan, dan yang paling gue inget apa kata si Emak adalah dia bilang ada saatnya kita lengah, dan disitulah Harin harus bisa menjaga dirinya sendiri.” Ujar Jodi, Harvan mengingat-ingat kata-kata Emak tadi, ia angguk-anggukan kepalanya seperti memang ia pun mengingatnya.
“Iya Jod, gue inget apa yang emak bilang waktu itu.” Kata Harvan.
“Nah, sementara ini Harin kan belum mulai belajar ilmu bela diri, kalau misalkan kejadian yang Harin alami terjadi sekarang-sekarang bagaimana Ia bisa menjaga dirinya dengan ilmu si emak, belajarnya aja belom, iya kan? Nah untuk itu gue mau minta ijin sama elo dari sekarang.” Kata Jodi.
“Ijin apa Jod?.” Tanya Harvan.
“Begini, gue pastikan ke elo kalau team gue itu tidak bisa diragukan lagi dan mereka sudah terlatih, sehingga kecil kemungkinan usaha mereka akan gagal. Tetapi untuk menjaga seandainya tanpa sepengetahuan kita Harin kenapa-napa atau misalkan Harin lepas dari pantauan kita, gue mau minta ijin ke elo buat pasang implan microchip pada tubuh Harin.” Jelas Jodi. Harvan mendengarkan dengan serius, kemudian,
“Microchip ini di produksi oleh Swedia Har, tujuan awal mereka menciptakan Microchip ini untuk menyimpan data pribadi dalam bentuk PDF kedalam tubuh seseorang, semakin hari teknologi ini semakin berkembang sehingga Microchip ini sekarang bisa digunakan untuk memantau keadaan seseorang atau sebagai alat pelacak, karena di program dapat mentransmisikan sinyal. Selain itu dapat digunakan sebagai diagnostik jarak jauh, sehingga kita bisa mengontrol kesehatan Harin meskipun dia jauh dari kita.” Sambung Jodi dengan gamblang.
Harvan terdiam cukup lama, ia memikirkan ide Jodi ini dengan matang. Kemudian,
“Jod apapun itu, jika memang untuk keselamatan Harin, gue ijinkkan, asal tidak membahayakan tumbuh kembangnya, baik fisik atau pun psikisnya.” Kata Harvan.
“Oke, gue yakinkan elo, kalau Microchip Ini aman 100% buat Harin karena teknologi ini sudah di uji coba sejak tahun 2019 Har. Baiklah kalau memang elo ijinkan, secepatnya gue akan menghubungi pihak Swedia. Kita hanya perlu payung sebelum hujan saja Har. Kematian Intan merupakan contoh nyata kalau hal yang tidak kita inginkan bisa saja terjadi kapan pun tanpa kita tahu.” Jelas Jodi.
“Apa yang elo rasain, gue juga ikut merasakan Har, kalau elo adalah ayah biologis Harin, gue adalah ayah yang akan menjamin keselamatannya, gue akan mati-matian melakukan yang terbaik buat Harin.” Sambung Jodi.
“Makasih Jod, gue gak tahu harus berterima kasih sama elo seperti bagaimana lagi, karena yang elo lakuin buat gue dan Harin sudah cukup banyak.” Kata Harvan.
“Har, gue adalah elo, dan elo adalah gue, gak ada balas jasa diantara kita Har, kita ditakdirkan masing-masing menjadi seorang ayah yang menjaga satu tubuh seorang putri kecil.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
__ADS_1