Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Diaryku


__ADS_3

“Sial! Siapa yang berani menghalangi rencana gue itu!.” Kata Reyhan murka.


“Gue juga tidak tahu Boss.” Kata Arman.


“Ini karena elo ngasih Informasi yang salah sama gue! Waktu elo telepon gue, elo bilang bini si Harvan bakal ngelahirin beberapa hari lagi, nyatanya hari itu dia lahiran!.” Bentak Reyhan.


“Maaf Boss, karena waktu itu gue lihat dia baik-baik saja, pada saat dia mengantarkan suaminya berangkat kerja di pintu depan rumahnya. Tidak terlihat tanda-tanda sedikitpun, dia akan melahirkan hari itu juga.” Jelas Arman.


“Ah, dasar bodoh! Elo gue bayar buat ngasih informasi yang akurat sama gue! Bukan hasil dari prediksi elo! Dasar gak becus luh.” Geram Reyhan.


“Sorry Boss, tapi bukannya bagus, dia mati ditangan orang tanpa Boss susah-susah buat bunuh dia?.” Kata Arman.


“Heh, tolol! Rencana gue gak begitu bodoh! Gue pengen mereka mati ditangan gue, tahu gak luh!, gue pengen istri si Harvan dan anaknya itu mati mengenaskan, bukan semudah itu mereka mati! Apalagi menyisakan anaknya masih hidup! Gue pengen nyiksa mereka dulu biar si Harvan nangis darah lihat istri dan anaknya mati!.” Geram Reyhan.


“Iya Boss Sorry.” Kata Arman sedikit takut.


“Siapa lagi ini yang berani mendahului gue bunuh istri si Harvan itu?! Tidak mungkin kalau yang melakukannya iblis betina gue, karena apapun yang akan dia lakukan terhadap mereka, selalu bilang dulu sama gue! Ini pasti orang lain!.” Geram Reyhan kembali.


“Apa gue harus cari tahu Boss?.” Tawar Arman.


“Ah gak usah! Gue gak percaya sama elo! Denger ya baik-baik. Elo tinggal tunggu perintah gue saja. Sekarang gue akan merencanakan bagaimana caranya agar bisa membunuh anaknya si Harvan itu. Karena anak itu yang menjadi penghalang besar dari rencana gue! Sekarang elo pergi, tunggu sampai gue kasih perintah!.” Usir Reyhan.


“Baik Boss! Gue permisi dulu.” Ujar Arman. Kemudian ia pergi meninggalkan Reyhan yang tengah membuncahkan amarahnya.


*


*

__ADS_1


Sementara itu Jodi sang asisten tengah penyelidik siapa sebenarnya dalang dibalik pembunuhan Intan. Dia tidak mau bertindak gegabah. Walaupun dia curiga pada Reyhan dan Silvy, tapi belum ada bukti yang menunjukkan kalau mereka adalah pembunuhnya. Yang ingin Jodi lakukan adalah sekarang, ia mencari bukti-bukti yang autentik agar ia mengetahui siapa pembunuh Intan yang sebenarnya.


Jodi tengah memperhatikan layar monitor, dimana ia tengah melihat rekaman CCTV yang ia dapat dari rumah sakit yang menjadi TKP pembunuhan Intan. Jodi pun telah koordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengungkap jati diri si pembunuh itu, dan membongkar motif pembunuhan pada Intan.


Jodi terus memperhatikan layar monitor yang memperlihatkan pergerakan si pembunuh pada saat mulai memasuki rumah sakit, sampai pembunuh itu lari bertabrakan dengan Harvan. Kemudian ia juga memperhatikan penampakan dimana pada saat pembunuh itu menaiki motor yang sudah membantunya menunggu di sebrang jalan Rumah sakit tersebut.


Jodi menekan tombol zoom untuk menyelidik nomor polisi pada motor tersebut. Setelah diperhatikan akhirnya ia mendapatkan nomor polisi itu. Dan sekarang yang menjadi fokus dari penyidikannya adalah siapa pemilik kendaraan itu.


*


*


Sementara itu, disebuah kamar dari kediaman mewah Harvan. Terlihat Harvan tengah memandikan putri kesayangannya itu.


“Anak ayah harus mandi yang bersih ya, biar wangi dan cantik seperti ibu.” Ucap Harvan pada putrinya sembari memandikannya.


“Apa Aden perlu bantuan saya?.” Tanya bu Nanah yang masuk ke kamar Harvan kemudian mendekat kearah Harvan yang tengah memandikan putrinya.


“Baiklah den, saya permisi dulu.” Kata bu Nanah seraya berlalu meninggalkan Harvan dan putrinya. Kemudian Harvan membungkus putrinya itu dengan handuk dan memakaikan pakaian yang cantik untuk putrinya itu. Dengan telaten Ia mendandani putrinya, lengkap dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Nah sekarang anak Ayah sudah pakai pakaian yang ayah pilih, bagus kan? Terus anak ayah harus pakai bando ini biar tambah cantik, tahu gak sayang? Bando Ini ibu pilihkan untukmu.” Ucap Harvan pada putri mungilnya itu.


“Nah sekarang, sayang tunggu dulu disini ya, ayah mau membuatkan kamu susu.” Ucap Harvan kembali, seraya menidurkan Harin di tempat tidur, kemudian ia membuat susu untuk Harin, dengan cekatan Ia membuat susu botol untuk putrinya itu.


Setelah selesai, lalu susu itu ia berikan pada putrinya sembari memangkunya. Selagi putrinya Itu menyusu dipangkuan Harvan, ia terus memandangi ayahnya itu. Begitupun dengan Harvan yang terus menatap putrinya itu dengan penuh kasih sayang seperti seorang ibu yang tengah menyusui anaknya.


Setelah Harin puas menyusu perlahan ia tertidur di pangkuan ayahnya. Setelah tidur pulas, Harvan meletakan tubuh mungil putrinya itu di atas tempat tidur.

__ADS_1


Dengan hati-hati Harvan beranjak dari tempat tidur itu. Tanpa sengaja matanya tertuju pada laptopnya yang berada di atas meja didepan sofa kamarnya itu.


Terlintas dalam ingatannya, ia mengingat istrinya yang meminta ijin meminjam laptopnya untuk membuat video. Bergegas Harvan membuka laptop itu. Ia penasaran ingin tahu, video apa yang dibuat Intan.


Harvan menyalakan video itu, kemudian ia membuka dokumen penyimpanan data. Tertegun matanya kala ia melihat salah satu folder yang diberi nama Diaryku. Perlahan ia klik folder itu. Terlihat olehnya beberapa file video yang salah satunya tertulis Teruntuk Suamiku tercinta.


Bergetar hati Harvan melihat tulisan itu, perlahan ia klik video 1, nampak wajah istri yang ia rindukan didalamnya. Dengan menghadap kamera istrinya berkata :


“Hai sayang, apa kabarmu hari ini? Kuharap kau baik-baik saja. Sayang maafkan aku yang telah tidak jujur padamu. Sebenarnya sedari malam aku merasakan perasaanku tak enak. Aku merasa akan terjadi sesuatu pada kita, terutama padaku. Tapi aku tidak tahu, apa itu?. Aku tidak berani mengatakan padamu karena takut kau cemas. Kuharap tidak akan terjadi apapun pada kita ya sayang.


Oya, aku meminjam laptopmu, ingin membuat video sebagai kenangan dariku. Sayang, mungkin saat kau melihat video ini, aku sudak tak ada lagi di sisimu, kuharap kau tak bersedih, karena jika kau bersedih, itu akan membuat aku tak tenang.”


Pilu hati yang kini Harvan rasakan, ia melihat wajah yang ia rindukan itu tengah berbicara padanya walau hanya lewat video, matanya mulai berkaca-kaca.


“Sayang, bagaimana putri kita? Apa ia rewel? Apa iya merepotkanmu? Apa kau mengurusinya dengan baik?. Aku percaya padamu sayang, kau pasti mengurusnya dengan baik. Sabar ya sayang, meski menjadi seorang ayah sekaligus menjadi ibu tidaklah mudah, tapi percayalah. Dengan kekuatan cinta kita, Allah akan memberikan kemudahan padamu. Maafkan aku yang tak bisa membersamaimu dalam mengurusi putri kita. Tapi percayalah aku selalu ada dihati kalian berdua.”


Meleleh hati Harvan. Pecah tangisannya kala mendengar apa yang istrinya katakan.


“Sayang, kau jangan tenggelam dalam kesedihanmu seperti dulu saat kau kehilangan aku ya? Kau harus semangat menjalani hari, karena putri kita sangat membutuhkanmu. Aku percaya kau mampu mendidiknya dengan baik. Aku percaya kau mampu menjaganya dengan baik karena ialah harapanmu dan masa depanmu. Meski aku tak bisa bersama kalian, percayalah cintaku ada menemani kalian. Syukurilah semua ini sayang, Banggalah dengan dirimu, karena Allah mempercayakan segalanya padamu. Jadikanlah Harin sebagai penyemangat hidupmu. Hanya Ia yang bisa aku berikan padamu, agar kau selalu mengingatku. Kau adalah cinta pertama dan terakhirku, juga cinta pertama bagi Harin. Maka, lanjutkanlah hidupmu dengan baik untuk menemani anak kita, masa depan Harin masih panjang sayang, Ia butuh bimbinganmu dan kasih sayangmu. Jika ia bertanya perihalku, katakan padanya bahwasanya aku berada di hati kalian. Jika ia ingin bertemu denganku, suruhlah ia pergi bercermin, lihatlah pada cermin bahwa aku seperti dirinya.”


Air mata yang keluar dari sudut matanya kian deras mengalir membasahi pipinya. Ia tak percaya wajah yang ia rindukan tengah berbicara dihadapannya.


“Oya sayang, aku juga membuat beberapa video untuk putri kita. Berikan padanya saat ia sudah mengerti. Aku juga membuat video untuk menemaninya belajar menulis, membaca dah berhitung juga bernyanyi. Ada satu file yang aku beri nama Lullaby, putarlah lagu yang aku nyanyikan itu setiap malam untuk menghantar tidurnya, agar ia merasa, selain dirimu yang menemaninya tidur, ia juga merasakan kehadiranku.”


Harvan tak kuasa untuk melanjutkan menyaksikan tayangan yang ia lihat. Sesak dadanya, hancur jiwanya, luruh hatinya. Mengingat kebersamaannya dengan istrinya yang tak akan pernah ia rasakan kembali. Ia pause tayangan istrinya itu. Kemudian ia beranjak pada tempat tidur dimana putrinya tengah terlelap.


__ADS_1


Ia angkat tubuh mungil itu, lalu ia letakan pada dada bidangnya. Kemudian ia pun terlelap bersama putri cantiknya itu.


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


__ADS_2