
Pagi itu seperti biasa Jodi sudah berada di kediaman Harvan hendak berangkat ke kantor. Harvan dan putri kecilnya Harin, sudah siap dimeja makan dengan sarapannya.
“Hai cantik, lagi mamam apa?.” Tanya Jodi pada Harin.
“Bubul bayi om.” Suara Harvan menirukan suara putrinya itu.
“Sini om yang suapin ya?.” Kata Jodi seraya mengambil makanan Harin.
“Coba saja kalau bisa.” Kata Harvan menyunggingkan senyumnya.
“Ayo a… sayang buka mulutnya.” Kata Jodi mendekatkan sendok pada mulut Harin. Tapi Harin tidak mau, dia malah menangkupkan bibirnya.
“Hehe, gue bilang juga apa, dia gak bakalan mau kalau bukan sama gue.” Jelas Harvan.
“Bener ya ini anak, segalanya harus sama ayahnya terus.” Kata Jodi.
“A.. Harin, abisin ya mamamnya.” Kata Harvan seraya menyodorkan makanan pada Putrinya itu, dan putrinya pun melahapnya.
“Oya, semalam elo mimpi sama Intan lagi?.” Tanya Jodi.
“Iya lah, gak ada malam yang terlewat, Intan selalu ada tiap malam buat gue.” Jawab Harvan.
“Terus, mantap-mantap?.” Tanya Jodi kembali penasaran.
“Iya dong, kalau gak gitu, gak seru mimpi gue hehe.” Jawab Harvan.
“Beneran deh Har, gue masih gak percaya kalau Intan datangin elo tiap malam di mimpi elo.” Penasaran Jodi.
“Oh jadi elo masih gak percaya?.” Tanya Harvan.
“Ya aneh aja gitu, masa sih mimpi ketemu Intan bisa tiap malam gitu, kan aneh Har, perasaan gue baru denger deh, malahan di film juga gue gak pernah lihat cerita kayak hidup yang elo alami ini.” Ujar Jodi.
“Istimewa kan hidup gue?!” Kata Harvan.
“Beneran aneh banget ini Har.” Heran Jodi.
“Mungkin Tuhan sayang banget sama gue dan anak gue Jod, coba kalau Intan gak pernah datang di mimpi gue, mungkin gue udah gila dan gue gak akan pernah bisa ngurusin Harin.” Jelas Harvan.
“Mungkin juga ya Har.” Kata Jodi manggut-manggut.
“Ya sudah yuk ah diberangkatkan! Sepertinya Harin sudah kesal ingin cepat ke kantor.” Kata Harvan.
“Oke.” Jawab Jodi.
Mereka bertiga menikmati sarapan paginya. Harin menghabiskan makanannya, begitu juga Ayahnya dan Jodi.
Kemudian mereka meninggalkan rumah mreka menuju kantor mereka.
Sesampainya dikantor, Harvan yang membawa Harin masuk keruangannya dan Jodi pun masuk keruangan kerjanya.
Harvan meletakan Harin di playground yang berada didalam ruangannya, sementara dirinya duduk di meja kerjanya.
“Anak ayah main disini ya? Temenin ayah kerja, nanti kita makan siang di Mall oke?.” Kata Harvan seraya mencium putri kesayangannya itu. Dan putrinya pun tertawa lepas saat Harvan menciumnya.
Sementara Jodi diruangannya, seperti biasa mematuk diri didepan laptopnya dengan melakukan pekerjaannya sebagai asisten Harvan sekaligus merangkap sebagai agen rahasia, yang menjadi tugas utamanya.
Tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Jodi pun mulai berbicara dengan seseorang pada ponselnya.
__ADS_1
“Hallo Boss, si pelaku sudah gue bekuk nih, sekarang sudah ada di markas sama si pemilik motor itu.” Kata suara di balik ponsel.
“Oke, gue ke situ sekarang!.” Ujar Jodi yang langsung meninggalkan ruangannya, setengah berlari ia berlalu menuju halaman parkiran.
Kemudian Ia pergi menggunakan mobil kantor untuk pergi ke markas.
Setelah menempuh perjalanan 45 menit dengan kecepatan diatas rata-rata. Akhirnya Jodi sampai di markasnya tersebut.
Ia bergegas pergi memasuki bangunan yang terlihat seperti gudang besar, namun terlihat beberapa ruangan yang seperti ruang kantor didalam bangunan tersebut.
Dengan muka bengis, ia mendekati orang yang diduga si pembunuh itu.
BUGG!!
Tanpa tendeng aling-aling ia memukul perut orang tersebut berkali-kali.
“Anjing luh!!! Bangsat!! Tatap muka gue setan!!.” Kata Jodi dengan amarah membuncah ia berteriak pada orang tersebut.
Dengan wajah menengadah pada Jodi seolah menantang ia menatap. Walau mimiknya terlihat menahan rasa sakit akibat pukulan Jodi.
“Berani ya elo lihat gue kayak gitu!!.” Kata Jodi yang melayangkan kembali pukulannya, dan kini mengarah pada muka orang itu.
“Sekarang elo ngomong ke gue!! Jelasin semuanya sebelum gue bawa elo ke polisi!!.” Teriak Jodi.
Dengan santai orang itu menatap Jodi dengan wajah babak belur dan sedikit sobekan di bibirnya akibat pukulan Jodi.
“Elo yakin! Bisa kuat dengar apa yang akan gue omongin?!.” Kata orang itu seolah menantang.
“Bangsat!! Cepat elo ngomong setan!! Apa motif elo bunuh bini sahabat gue!!.” Teriak Jodi semakin mengaung.
“Heh! Gue cuma disuruh! Dan yang nyuruh gue itu, elo tahu siapa?! Tentunya orang yang elo kenal. Dia bayar gue buat bunuh wanita hamil itu.” Jelas orang tersebut.
DUG jantungnya berdegup kencang.
“Anjing!! Cepet elo bilang!! Siapa orang yang menyuruh elo buat bunuh Intan!.” Teriak Jodi yang sudah tak terkendali.
“Oke, gue akan telepon dia, biar dia datang kesini, karena dia juga belum bayar separuh lagi uangnya sama gue.” Terang orang tersebut.
“Heh! Kenapa elo yang jadi ngatur gue!! Masalah dia bayar baru separuh sama elo, itu urusan elo sama dia, bukan urusan gue!! Sekarang elo cepat bilang!! Siapa yang nyuruh elo anjing!!” Bentak Jodi.
“Oke, kalu begitu gue kasih no telepon dia sama elo.” kemudian orang itu merogoh saku celananya mengambil ponsel dan menunjukkan salah satu nomor ponsel pada Jodi, dengan cepat Jodi mengambil ponsel itu.
Dilihatnya nomor itu adalah nomor yang Ia tidak kenal. Kemudian Jodi mengambil ponsel lain milik teamnya untuk menghubungi nomor tersebut. Dengan tangan bergetar Jodi mencoba menghubungi nomor tersebut. Telepon tersambung, lama tak mendapatkan jawaban, hingga sambungan mati. Kemudian Jodi mencoba menghubunginya kembali, kali ini sambungan telepon diangkat,
“Hallo.” Suara di balik telepon. DUG!! Jodi terkejut mendengar suara dibalik telepon. Bagai petir menyambar disiang bolong Ia terhenyak. Suara dibalik telepon itu adalah suara yang tak asing lagi ia dengar. Cepat-cepat Jodi menutup sambungan telepon itu.
“Hahaha, bagaimana?! Bukankah suara itu elo kenal jelas!.” Gelakgak si pembunuh itu.
Dengan nafsu yang sudah tak terkendali, dan muka yang merah padam serta air mata amarah, Jodi membabi buta memukuli dan menendang si pembunuh itu.
“Bedebah kau setan!! Anjing kau!! Kebohongan apa yang elo buat sama gue!! Bilang kalau apa yang gue dengar itu gak benar!!.” Teriak Jodi.
Si pembunuh yang tak berdaya dengan tubuh babak belur karena pukulan Jodi, masih bisa tertawa melihat reaksi Jodi.
“Haha.. bagaimana perasaan elo setelah tahu siapa dalang dibalik pembunuhan ini hah! Haha.” Ledek si pembunuh.
“Anjing luh!! Hati-hati dengan fitnah elo!! Mana buktinya kalau dia dalang dibalik semua ini brengsek!!.” Teriak Jodi.
__ADS_1
“Elo lihat sendiri saja percakapan di ponsel itu saat dia minta gue buat bunuh wanita hamil itu haha.” Tawa lemah si pembunuh itu.
Perlahan, dengan tangan bergetar dan air muka yang tak tertahankan, Jodi membuka chat dari seseorang pada pembunuh itu.
Betapa hancur hatinya, betapa sakit bathinnya kala ia membaca percakapan chat itu. Dan ia masih tak percaya dengan apa yang telah ia lihat. Akhirnya ia menyuruh team cyber nya yang kebetulan ada di gedung itu.
Jodi meminta pada team cybernya untuk membuka percakapan telepon antara nomor orang yang ia kenal itu dan nomor si pembunuh.
Tak menunggu waktu lama percakapan telepon itu bisa ia retas dan langsung saat itu juga bisa ia dengar. Seketika ambruk tubuh Jodi kala mendengar percakapan itu. Dengan air muka kecewa, amarah dan benci ia berteriak sekeras-kerasnya membuat semua teamnya merasa iba melihat ia. Kemudian dengan tubuh yang luluh ia memanggil salah satu teamnya.
“Sekarang juga bawa mereka ke kantor polisi. Biar mereka menjelaskan semuanya disana.” Kata Jodi dengan suara bergetar.
“Siap Boss! Anda tidak apa-apa kan Boss?.” Tanya salah satu team itu.
“Tenang saja, gue kuat kok!.” Jawab Jodi.
Kemudian lima orang team Jodi membawa si pembunuh dan pemilik motor itu menuju van yang mereka sediakan untuk membawa keduanya ke kantor polisi.
Sementara Jodi berlalu dengan langkah gontai menuju mobilnya. Dengan kecepatan diatas rata-rata Jodi mengendalikan kendaraannya meninggalkan markasnya menuju kantor Harvan.
*
Setelah ia sampai dihalaman parkir kantor, ia melangkah menuju ruangan Harvan. Semua orang yang melihat penampilan Jodi yang hancur dengan air muka yang membasahi wajahnya, terheran-heran. Tetapi tak satupun yang berani bertanya padanya. Mereka membiarkan Jodi melangkah ke ruangan Harvan.
Sampai didepan pintu ruangan Harvan, ia berhenti sejenak, kemudian ia pegang gagang pintu dan pelan-pelan membukanya. Saat ia membuka pintu itu, ia melihat pemandangan didepannya, Harvan tengah bersama putri kecilnya bermain dan tertawa.
Melihat siapa yang masuk Harvan tersentak, ia melihat penampilan Jodi yang berantakan dengan air muka yang membasahi wajahnya terbujur kaku memandang kearahnya.
“Hey Jod, elo kenapa?.” Tanya Harvan heran.
Dengan cepat Jodi memeluk sahabatnya itu, dengan sekuat tenaga ia meraung memecah keheningan ruangan Harvan, sampai Harin pun menangis karena terkejut mendengar tangisan keras Jodi.
“Eh udah deh, kenapa sih luh?! Sini duduk dulu, tuh anak gue nangis jadinya denger elo kayak gini.” Kata Harvan seraya membawa Jodi duduk di sofa, kemudian ia meraih anaknya, lalu memangkunya.
“Nih minum dulu, abis itu elo cerita sama gue, kenapa elo kayak gini?.” Tanya Harvan sembari memperhatikan mimik Jodi.
Setelah Jodi meminum air yang Harvan berikan, ia menarik nafas panjang, lalu ia terdiam, sesekali memandangi wajah Harin dengan mata yang berkaca-kaca, lalu menelungkupkan kedua telapak tangan pada wajahnya.
“Ya udah kalau elo belum siap ngomong sekarang, elo tenangin dulu aja diri elo Jod.” Ujar Harvan.
Jodi mengangguk kemudian menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
“Gue mau ke mall makan siang sama Harin, elo gak usah ikut, gue tahu elo lagi kacau, elo tenangin diri elo dulu ya, oke gue tinggal dulu.” Kata Harvan.
Jodi mengangguk, kemudian Harvan yang memangku Harin meninggalkan Jodi diruangannya.
Jodi memandangi punggung Harvan yang berlalu meninggalkannya sampai tak terlihat lagi. Lalu kembali ia menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Tak lama kemudian ia berlari menuju rooftop gedung itu.
Iya meraung sekeras-kerasnya. Tumpah ruah menjadi satu segala amarah, benci dan dendam dihatinya.
“Kamu sudah tak waras lagi!! Kamu tak ubahnya seperti iblis betina itu!! Aku membencimu!” Teriak Jodi mengepalkan kedua tangannya, yang menjadi topangan kepalanya, saat ia menjatuhkan tubuhnya bersujud si rooftop gedung tinggi itu.
Lama ia tersungkur menumpahkan seluruh amarahnya. Setelah tenang, ia duduk di ujung rooftop itu.
__ADS_1
Merenung, terdiam membeku! Sembari memandangi hamparan gedung-gedung tinggi dihadapannya.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤