
Pagi menjelang, saatnya Harin kembali bersekolah. Kali ini Ayah yang mengantarkan dan menunggui Harin di sekolah. Karena kegiatan Ayahnya di kantor di handle oleh Sang asisten Jodi.
Harvan yang memangku putri kesayangannya itu telah sampai di sekolah dan tengah memasuki gerbang sekolah.
Harin meminta ayahnya untuk di bawa ke area playground sebelum waktu jam masuk keruangan kelas.
Harvan pun mengikuti keinginan putrinya dan langsung membawa putrinya ke area playground tersebut. Harin langsung turun dari pangkuan sang ayah dan berlari menuju perosotan.
Dengan senyum tampannya sang ayah memperhatikan putri kesayangannya itu.
Bunda Lolita and the gank yang awalnya duduk di depan gedung kelas playgroup mengajak ganknya mendekat ke tempat dimana Harvan berada bersama putrinya.
“Hai ayah Harin, selamat pagi.” Sapa bunda Lolita genit.
“Eh bunda, selamat pagi.” Jawab Harvan membalikan badannya, ia sedikit terkejut karena melihat Gank Kejo Empire itu sudah berada dibelakangnya.
“Kemarin kata Harin sibuk ya? Gak bisa antar ke sekolah?.” Tanya bunda Valent mendekati Harvan dengan menunjukkan bahasa tubuh yang menggoda.
“Hehe, iya bunda, kebetulan kemarin saya ada rapat penting yang tidak bisa diwakilkan jadi yang mengantar Harin ke sekolah om nya.” Jelas Harvan yang mulai tidak nyaman dengan tingkah personil Kejo Empire itu.
Di tengah perbincangan mereka terdengar miss Ayunda memanggil semua anak didiknya, menandakan bahwa anak-anak harus masuk ke gedung kelasnya.
Lalu mereka pun membawa anak-anak mereka memasuki gedung kelasnya, tidak terkecuali Harvan. Selesai mereka mengantarkan anak-anaknya masuk gedung kelas, Harvan yang kala itu hendak melangkah ke area playground, tiba-tiba dipanggil oleh salah satu personil gank bunda-bunda itu. Dengan terpaksa Harvan menghampiri mereka.
“Maaf ada apa ya bunda?.” Tanya Harvan sopan.
“Hehe, begini ayah Harin, ada sesuatu yang ingin kami sampaikan pada ayah Harin, bisa minta waktunya sebentar?.” Tanya bunda Claire dengan tatapan genitnya.
“Oh baiklah.” Harvan mulai merasakan risih.
“Disini duduknya ayah Harin hehe.” Tawar bunda Valent yang menunjukkan tempat duduk kosong disampingnya.
“Iya baik bunda.” Jawab Harvan yang kemudian duduk ditempat yang bunda Valent tunjukan.
“Begini ayah Harin, langsung saja ya, wali murid di kelas kita kan mengadakan arisan, jadi kami mau mengajak ayah Harin untuk mengikuti arisan ini, wajib loh ayah Harin hehe.” Jelas bunda Lolita dengan mimik wajah yang menggoda.
“Baiklah bunda, saya ikut saja bagaimana baiknya.” Ujar Harvan tidak mau berpanjang lebar dengan mereka.
“Oke, kalau begitu, perlu saya informasikan arisannya di kocok setiap sebulan sekali, Perbulannya hanya 100 juta saja hehe, dan yang ikut arisan jumlah keseluruhannya 20 orang, nah kalau uangnya sudah terkumpul secepatnya kita melakukan kocok arisan untuk yang pertama, dan kami sudah merencanakan tempat dimana kita akan melakukan pertemuannya, yaitu di salah satu hotel bintang lima, bagaimana ayah Harin setuju?.” Jelas bunda Lolita.
“Baik bunda terserah bunda saja.” Jawab pendek Harvan.
“Baiklah ayah Harin, uangnya saya yang pegang jadi ayah Harin kalau mau bayar ke nomor rekening saya saja.” Kata bunda Cira.
“Baiklah bunda, sekarang juga akan saya bayar, maaf, tolong minta nomor rekeningnya bunda.”
Setelah Harvan menerima nomor rekening bunda Cira, tak menunggu lama Harvan langsung mentransfer uang 100 juta tersebut melalui Ponselnya.
__ADS_1
“Sudah masuk ya bunda uang 100 jutanya ke nomor rekening atas nama Fransiska Adelia.” Jelas Harvan, dan Fransiska Adelia itu memang nama lengkap ibunya Cira.
“Oh iya terima kasih ayah Harin, nanti setelah uangnya terkumpul akan saya informasikan waktu dan tempat untuk pengocokan arisan yang pertama, maaf bisa minta nomor ponselnya ayah Harin?.” Pinta bunda Cira.
“Baik bunda.” Jawab Harvan, seraya memberikan nomor ponsel pada Bunda Cira. Kemudian,
“Maaf bunda saya tinggal dulu mau menerima panggilan telepon sebentar.” Kemudian Harvan menjauh dari gank bunda-bunda itu. Lalu menerima panggilan telepon dari Jodi.
Pada saat Harvan selesai melakukan transaksi melalui ponselnya, tanpa sepengetahuan bunda-bunda tadi, sebenarnya Harvan langsung memgirim pesan pada Jodi untuk cepat meneleponnya demi menghindari bunda-bunda itu.
“Hallo Har, ada apa?.” Tanya Jodi dibalik telepon.
“Jod, tadi gank emak-emak itu minta nomor ponsel gue, gue udah kasih ke mereka nomor ponsel elo.” Kata Harvan.
“Apa! Kenapa elo kasih nomor gue Har?.” Jodi sedikit kesal.
“Pastinya kalau nomor gue yang dikasihin ke mereka, gue bakal kerepotan menghadapi telepon dari mereka.”
“Ya sama aja Har, gue juga nanti yang di repotin sama telepon gank Kejo Empire itu ah.” Kesal Jodi dalam sambungan ponsel.
“Tenang aja Jod, gue kasih ke mereka nomor elo yang satu lagi, jadi gue minta tolong Profilnya ganti pake foto Harin, dan ubah namanya Jadi Ayah Harin ya?.” Pinta Harvan.
“Ah rese bener itu emak-emak ganjen huh! Kalau gue kenal mereka, waktu jaman gue masih gila! Udah abis tuh mereka gue kerjain semua!.” Gerutu Jodi.
“Haha, resiko elo Jod, Sorry ya.” Kelakar Harvan.
Sepanjang mereka berbicara melalui sambungan telepon, Harvan menangkap pandangannya pada bunda-bunda yang mereka bicarakan, mereka terlihat seperti tengah mengerumuni bunda Cira.
“Siap-siap saja Jod, mereka akan menghubungi elo haha, gue lihat mereka tengah sibuk dengan ponselnya masing-masing tuh, haha.” Kelakar Harvan kembali.
“Ah elo tuh kebiasaan ya, giliran riweuhnya aja, gue yang kebagian huh! Lihat aja ya, gue kerjain tuh emak-emak rese itu!.” Kesal Jodi.
“Haha, ya sudah gue tutup dulu ya, elo otw aja langsung kesini, jemput gue sama Harin.” Kata Harvan.
“Emang gue tadi mau otw cuma keburu elo telepon gue! Ya sudah, gue otw nih.” Kata Jodi.
“Oke.” TUT nada sambungan di terputus.
*
Sementara itu Bunda-bunda gank Kejo Empire tengah berkerumun.
“Ayo dong bunda Cira kirimin ke aku nomor ponselnya ayah Harin.” Pinta bunda Lolita tidak sabar.
“Sama ke aku juga kirimin ya?.” Kata bunda Valent.
“Aku juga minta dong hehe.” Kata bunda Ajriel.
__ADS_1
“Mana-mana, kirimin ke aku dulu ya!.” Kata bunda Claire.
“Iya, iya sebentar dong ah, gak pada sabaran amat sih.” Gerutu bunda Cira. Kemudian,
“Tuh udah ya aku kirimin nomor ponselnya sama kalian! Selamat menikmati deh buat kalian semua! Gak bisa lihat cogan langsung aja pada gatel.” Sambung bunda Cira.
Lalu mereka berlima sibuk dengan ponselnya masing-masing, mereka semua menyimpan nomor ponsel yang dianggap milik nomor Harvan itu. Mereka save nomor itu pada ponsel mereka masing-masing. Kemudian mereka melihat foto profil dari Nomor Harvan tersebut.
Dilihatnya foto Harin yang imut tengah berada di pantai. Sepertinya Jodi memang sudah mengganti nama dan foto profilnya pada nomor ponselnya itu. Nomor ponsel cadangan Jodi yang jarang Jodi gunakan kecuali untuk urusan lain diluar urusan pekerjaan dan urusan pribadinya.
“Yah yang dia pasang malah foto anaknya ya? Coba foto dia, mau aku cetak deh ukuran besar dan akan aku pasang di dalam kamar hehe.” Kata bunda Valent.
“Eh sebelum bunda Valent yang cetak, aku duluan yang mau cetak tahu!.” Kata bunda Ajriel.
“Haha, kalau aku sih tanpa sepengetahuan kalian mau ajak ayah Harin janjian di hotel.” Kelakar bunda Lolita.
“Eh awas ya bunda Loli! Lihat saja kalau berani dibelakang kita.” Ancam bunda Cira.
“Haha, kalian itu lucu ya, eh denger ya, belum tentu juga ayahnya Harin mau sama kalian! Bisa jadi dia malah lebih suka sama aku haha.” Kelakar bunda Claire.
Sepanjang mereka tengah membicarakan Harvan, mereka melihat anak-anak mereka keluar dari dalam kelasnya. Tandanya kelas telah berakhir. Bergegas mereka menghampiri anaknya masing-masing dan membawa ke mobil mewah mereka.
Begitu pun dengan Harvan, ia menghampiri putrinya yang terlihat keluar dari dalam kelasnya. Kemudian membawa putrinya meninggalkan area gedung kelas menuju area parkir.
Di halaman parkir terlihat kuda besi miliknya telah menunggu, kemudian Harvan yang memangku Harin masuk kedalamnya duduk disamping kemudi.
Jodi yang telah siap duduk dibelakang kemudi membawa kuda besi itu meninggalkan halaman parkir sekolah. Pada saat Jodi akan mengatakan sesuatu, Harvan menahannya dengan meletakan telunjuk pada mulutnya.
“Ssstt, jangan berisik dulu, sepertinya Harin ngantuk, biarkan dia tidur dulu, soalnya gue tahu apa yang bakal elo omongin hehe.” Kata Harvan.
“Emang luh ya, paling bisa bikin riweuh gue aja.” Suara Jodi setengah berbisik.
“Harusnya itu emak-emak kasih nomor elo yang lain aja, jangan nomor gue Har.” Sambung Jodi masih dengan suara kecilnya.
“Gue males menghadapi mereka Jod.”
“Ya sama Har, gue juga males ngadepin emak-emak model gitu, gak ada paedah nya tau!” Kesal Jodi.
“Ya udah elo terima aja Jod, kali aja salah satu dari mereka ada jodoh elo haha.”
“Ish, amit-amit gue punya bini model begitu, bisa runyam urusannya tiap hari.” Bergidik Jodi.
“Eh, eh Har, tuh lihat.” Jodi menunjukan jari nya pada seorang wanita di pinggir jalan yang tengah berjalan dengan anak laki-laki seusia Harin.
“Itu yang gue bilang Natasya Willona, bener kan mirip? Nah mending gue sama dia dari pada sama emak-emak gabrut itu. Elo bisa lihat itu cewek penampilannya sederhana, gak macem-macem, terus tutur katanya lembut lagi, kan enak kalau yang begitu di jadiin bini.” Ujar Jodi.
“Iya, tapi dia udah punya laki, inget itu!.” Kata Harvan.
__ADS_1
“Nah itu dia yang bikin gue lemah Har, jadinya gue cuma bisa mengaguminya doang hehe.”
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️