
WARNING!!!
Terdapat konten 21+
Harap bijak menyikapinya!.
Malam pengantin yang seharusnya adalah malam yang indah. Malam penyatuan dua insan yang dilanda gairah, kini berubah menjadi malam pertarungan berdarah.
Intan terus saja melayangkan serangan bertubi-tubi. Harvan tak balas menyerang, ia hanya bisa menangkis serangan dari Intan karena ia sadar ini adalah kesalahannya.
Kini giliran Harvan yang telah mengunci tubuh Intan. Ia seret tubuh Intan keatas ranjang dengan posisi kedua tangan Intan terkunci diatas dada Intan. Ia tindih tubuh penuh gairah itu dengan tubuh bidangnya. Seketika itu pun Intan tersadar. Dengan mata terbelalak ia dikejutkan dengan beberapa bagian di wajah dan tubuh suaminya lebam membiru, ada sobekan kecil dibibir suaminya serta darah yang mengalir dari pelipisnya.
“Sayang kenapa wajah dan tubuhmu?.” Tanya Intan dengan polosnya
“Tidak apa-apa ini hanya luka kecil.” Jawab Harvan sambil melakukan serangan bertubi-tubi dari bibirnya ke bibir merah delima milik istrinya,
“Ta-tapi tunggu dulu! Sepertinya itu luka akibat seseorang yang menganiayamu?.” Seru Intan, yang posisi tubuhnya masih dalam keadaan ditindih.
Tapi ocehan Intan tak didengar oleh Harvan, ia terus saja melumati bibir merah delima Intan dengan penuh gairah. Semakin dalam semakin menyusur ke daerah sensitif lainnya. Ada sensasi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Harvan menikmati pergulatan ranjang meski ada kekerasan didalamnya.
Sementara Intan tidak sadar akan serangan yang ia lakukan tadi pada suaminya. Harvan semakin buas dalam perlakuannya. Digigitnya dada Intan yang menggoda sampai memar, dirobeknya pakaian tipis Intan terus dan terus menyusuri setiap lekuk tubuhnya sampai ke area sensitif yang paling menggoda.
Intan pasrah, ia pun seakan menikmati perlakuan kasar suaminya yang penuh dengan gairah. Ia menggeliat dengan desahannya merasakan sensasi nikmat saat area sensitifnya dibuai oleh lidah sang cinta. Hisapan bertubi-tubi bergerilya didalamnya sampai membuat ia merasakan berada diujung kenikmatan.
Dibuka lebar kedua kakinya oleh sang cinta. Intan pun pasrah saat tongkat komando yang Semakin terasa keras menghunus daerah itu.
“Aaargggh…. Sakit!!“ Pekik jerit Intan karena merasakan sakit yang luar biasa.
Sementara sang cinta dengan deru nafas birahinya melakukan serangan tarik ulur yang semakin cepat dan semakin dalam, terus dan terus tak peduli dengan aliran darah perawan yang memuai, Intan merasakan kewalahan dibuatnya. Sampai pada saat sensasi yang sangat sangat luar biasa mereka rasakan bersama, suatu buncahan yang melepas melesat terasa hangat dan membuat mereka berdua melemas.
Dua tubuh insan yang dilanda gairah melepas pasrah diranjang pengantin yang terukir indah, kedua tubuh bersimbah peluh serta darah. Seakan tak peduli sekitar yang telah menjadi saksi bisu pertarungan sengit antara pendekar wanita dengan pangeran berkuda putih nya.
Sementara disisi lain, para pengawal dan asisten tak lagi mendengar suara gaduh yang mengganggu telinga dan pikirannya.
“Sekarang sepi, tak terdengar lagi suara-suara aneh ya?.” Pangawal B.
“Mungkin mereka lelah.. haha.” Kata Jodi ngakak.
“Saya pikir Tuan adalah pria lembut yang memperlakukan pasangannya di atas ranjang, ternyata Tuan sangat kasar hihi.” Pengawal A.
“Wajarlah karena Tuan sudah menahannya terlalu lama.” Pengawal C.
“Sepertinya mereka sangat menikmatinya ya, sampai mereka tak sadar suara mereka terdengar sampai keluar hehe.” Pengawal B.
__ADS_1
“Saking nikmat dalam gairah, mereka lupa kalau ada kita disini haha.” Kata Jodi sang asisten.
“Wah boss, jam sudah menunjukkan pukul 3, apa kita sebaiknya tidur saja?.” Pengawal D berkata pada Jodi.
“Silahkan saja kalian yang sudah mengantuk segera tidur, saya akan keruang kerja istirahat disana.” Ujar Jodi yang berlalu menuju ruang kerja dilantai tiga.
Sementara didalam kamar pengantin, kedua insan terkulai lemah. Sesaat sang pengantin pria membuka matanya. Ditatapnya sang tubuh indah disampingnya tengah terlelap meski peluh masih menghiasi tubuhnya. Tubuh polos yang meninggalkan banyak tanda sisa pertempuran terkulai diatas sprei putih dengan bercak darah.
Disentuh dan dipeluknya tubuh itu. Kali ini tak ada perlawanan dan serangan darinya, mungkin karena terlalu lelah. dibasuhnya peluh dari kening istrinya, dengan tangan kekarnya. Ia rasakan tongkat komandonya mengeras kembali. Ah, tubuh itu terlalu menggoda sehingga membangkitkan gairah kembali.
Perlahan dikecupnya bibir ranum itu, semakin lama semakin bernafsu memicu andrenalin kembali. Ia tak Bisa menunggu lagi. Ditindihnya kembali tubuh yang menggoda itu. Sedikit pergerakan mengeluh.
“Ah sayang aku lelah.” Rintih Intan.
“Kali ini tak akan membuatmu susah.” Bisik Harvan ditelinga Intan.
“Tidak bisakah menunggu hari esok lagi.”lirih Intan kembali.
“Tidak bisa.. aku sudah sangat bergairah.” Bisiknya dengan nafas menderu.
Kembali ia ******* si merah delima. Lama dan semakin dalam, membuat lawan yang lemas tak berdaya dibuatnya. Dan pergulatan pun terjadi lagi hingga fajar menyingsing.
Diruangan lain orang-orang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Jodi sudah keluar dari ruang kerja dengan pakaian yang rapi. Berlalu ke ruang makan tak didapatinya siapapun.
“Belum Pak.” Jawab Bu Nanah.
“Oh, ya sudah.” Jawabnya pendek, kemudian menyantap sarapannya. Tak lama ponsel berbunyi.
“Jod tolong panggilkan dokter buat gue.” Suara Harvan dibalik telepon.
“Kenapa luh.” Tanya Jodi heran.
“Ah, gak usah banyak nanya, cepet panggil dokter.” Suara Harvan kembali dengan nada meninggi.
“Oke, tunggu, gue telepon sekarang.” Jawab Jodi.
Sementara didalam kamar pengantin. Harvan beranjak dari ranjang pengantinnya ke kamar mandi. Memar dan membiru masih menghiasi wajah dan tubuhnya.
Dengan langkah lemas dan sedikit terpapah ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Berendam diri di Bathtub mungkin dapat mengurangi pegal-pegal di tubuhnya. Selang 20 menit ia keluar dari dalam kamar mandi, masih didapatinya istri yang masih terlelap.
Hari ini ia tak masuk kerja alasan cuti sampai beberapa hari kedepan. Dia hanya memakai stelan santai saja. Didekatinya Intan yang tubuhnya polos dibawah selimut yang menutupinya. belum sempat ia duduk disisinya Intan perlahan membuka Mata.
__ADS_1
“Hey.. sayang sudah bangun?.” Ujar Harvan, lantas duduk disamping pembaringan Intan.
Perlahan Intan menyentuh wajah suaminya itu, dielus dan dielusnya wajah tampan itu.
“Kamu terluka sayang, ada memar di wajahmu, pasti itu perlakuanku.. maafkan aku ya sayang.” Desis Intan lirih.
“Gak apa-apa kok, cuma luka ringan, tadi aku sudah suruh Jodi panggil dokter.” Jawab Harvan seraya menatap wajah Intan kemudian mengelusnya.
“Oh syukur lah.. aku mau membersihkan tubuhku dulu.” Ujar Intan, kemudian ia bergerak hendak turun dari ranjang.
“Ah uh.. sakit.. uh.” Desis Intan yang merasakan sakit di area sensitifnya, lalu ia dengan perlahan menggerakkan tubuhnya.
“Masih sakit ya sayang.? Ya sudah aku bantu ke kamar mandi ya?.” Ucap Harvan yang langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
Diturunkannya perlahan tubuh Intan. Selagi ia mengisi air di bathtab, ia pandang wajah dan tubuh istrinya yang polos tanpa sehelai benang pun.
“Lihat dikaca, badan kamu juga banyak lebam nya.” Kata Harvan seraya mengarahkan tubuh Intan kedepan cermin.
Intan memandangi tubuhnya didalam cermin itu. Terlihat tubuhnya pun banyak meninggalkan bekas sisa aksi semalam. Sebentar ia tertegun kemudian tertawa disusul dengan tawa Harvan mengakak.
Setelah selesai membersihkan diri, Intan pun berpakaian.
“Sayang…” Ucap mesra Intan pada Harvan.
“Mmh ada apa?.” Jawab Harvan seraya memeluk istrinya dari belakang.
“Apa yang akan kita katakan pada pekerja yang akan membereskan kamar ini? Lihat kamar pengantin kita seperti kapal pecah.” Seru Intan.
“Kita katakan saja semalam ada angin ribut dikamar kita, yang membuat semua furniture hancur hehe.” Kata Harvan.
“Aku malu sama mereka, ditambah wajah kamu penuh luka, pasti mereka mengira kita bertengkar. Dan mengira aku telah melakukan KDRT pada Suamiku.” Lirih Intan sedih.
“Hahah sayang.. gak akanlah mereka berpikir demikian.” Kelakar Harvan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
TOK TOK TOK
Harvan membuka pintu, terlihat bu nanah membawa nampan untuk sarapan tuan dan nyonya nya. Tiba-tiba BRAK nampan itu terjatuh dari tangan Bu Nanah, saat waktu bersamaan Bu Nanah melihat pemandangan kamar yang berantakan seperti habis terkena badai.
“Hah! Ada apa.” Kata Jodi seraya cepat menghampiri Bu Nanah yang terperanjat didepan kamar pengantin Tuannya. Ternyata Jodi pun bereaksi sama.
“WHAT!!!…
__ADS_1
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝