Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Ciuman pertama


__ADS_3

Harvan yang sikapnya tidak seperti biasanya membuat Jodi sedikit kena semprotan beberapa kali. Tetapi Jodi menanggapinya itu adalah hal yang tidak terlalu serius.


Jadwal mereka yang padat hari ini membuat kedua nya merasa lelah. Tepat jam 10 malam mereka tiba di kediamannya. Jodi langsung masuk ke dalam kamarnya karena merasakan penat di kepalanya serta kantuk yang sudah tak tertahankan.


Sementara Harvan, sebelum masuk ke dalam kamarnya ia hendak melihat putrinya dulu karena seharian ini dia terlalu sibuk dan merasakan rindu terhadap putrinya itu.


Perlahan Harvan membuka pintu kamar putrinya itu. Pada saat ia melihat ke atas tempat tidur, lagi-lagi ia melihat penampakan yang membuat jiwa kelakiannya meronta. Bagaimana tidak? Di sebelah putrinya yang tertidur pulas, Harvan melihat tubuh Delima yang terbaring dengan gaun malam yang tersingkap sehingga memperlihatkan paha mulus wanita itu.


Kembali Harvan menelan salivanya sekuat tenaga menahan hasrat dalam dirinya. Ia berdiri dan terdiam di depan pintu kamar, hasrat hati ini mencium putrinya sebelum ia masuk kedalam kamarnya tetapi langkahnya terhenti karena lagi-lagi melihat penampakan yang menggoda jiwa nya.


Akhirnya ia memberanikan diri melangkahkan kaki mendekati putrinya itu. Sembari melangkah pelan ia membuka jas nya dan melonggarkan pangkal dasinya yang terasa semakin mencekiknya kala menyaksikan pemandangan yang menggoda itu.


Setelah memandangi paha mulus Delima ia bungkukan tubuhnya untuk mencium kening putrinya yang tertidur pulas. Pada saat ia tengah mencium putrinya terlihat pergerakan dari tubuh Delima, lalu perlahan ia menolehnya dan semakin terpampang nyata ************ mulus beserta segi tiga bermuda warna merah jambu milik Delima.


(Shittt… apalagi ini! Ah sial! Kenapa harus seperti ini sih! Kenapa dia selalu menggodaku!.) Bathin Harvan dengan dada yang bergemuruh.


Harvan mengatur nafasnya pelan-pelan masih dalam posisi membungkuk di atas kepala putrinya namun sepertinya nafas Harvan membuat Delima tergugah karena merasakan ada kehadiran seseorang. Pada saat Delima membuka matanya ia terkejut melihat tuannya sudah berada dekat dengan putrinya, bergegas ia bangkit,


“Eh tuan sudah pulang?.” Suara seraknya setengah berbisik. Sadar akan pakaiannya yang terbuka, dengan cepat ia meraih lapisan luar gaun tidurnya yang ia letakan di sebelah tempat tidurnya.


Sedikit gugup Delima berdiri, Harvan pun mengangkat tubuhnya, kemudian,


“Saya tunggu diruang kerja, ada yang ingin saya bicarakan.” Kata Harvan pelan yang kemudian berlalu


“Baik tuan, saya akan mengganti pakaian dulu.” Kata Delima karena takut di anggap ia menggoda tuannya kala ia berpakaian gaun malam seperti pada waktu itu.


“Tidak perlu.” Harvan melengos pergi beranjak ke lantai tiga memasuki ruang kerjanya.


Ia menjatuhkan tubuhnya pada kursi kerja dengan pikiran yang berkecamuk di dalam dirinya. Tak lama Delima masuk.


Lagi dan lagi ia menyaksikan tubuh delima yang dibalut gaun malam dengan sorotan lampu membuat pakaian dalam yang dikenakannya menerawang.


Dengan susah payah Harvan menguasai dirinya, sekuat tenaga ia menahan hasratnya. Hingga kata-kata Delima membuyarkan pikirannya.


“Ada apa tuan memanggil saya kemari.” Delima yang telah duduk di hadapannya.


Harvan merogoh sesuatu dari dalam laci meja kerjanya, kemudian ia menyodorkan 2 black card di atas meja ke arah Delima “Hm.. oya Delima, ini peganglah. Satu milikmu dan satu lagi untuk keperluan Harin.”


“Kenapa harus saya yang pegang tuan?.” Delima tidak mengerti.


“Akhir-akhir ini urusan kantor saya sibuk Delima, saya takut tidak ada waktu untuk membawa Harin membeli kebutuhannya. Kau lah yang menggantikannya.” Kata Harvan, sementara Delima terdiam.


“Ambilah.”


“Baik tuan.”


Hening sejenak, dan Harvan nampak gelisah.


“Mh… ada lagi yang akan tuan sampaikan? Kalau tidak, saya akan kembali ke kamar.” Delima menundukkan pandangannya.


Lama Harvan menjawabnya karena pandangannya terfokus pada benda kenyal milik Delima di hadapannya yang terlihat menyembul.


Harvan berdiri dan mendekat ke arah Delima, ia duduk di atas meja sehingga semakin dekat berhadapan dengan Delima. Ia memperhatikan Delima lebih dekat. Kemudian,


“Sudah cukup, kembalilah ke kamar.” Perintah Harvan.


Perlahan Delima mengangkat tubuhnya hendak melangkah meninggalkan tempat itu. Tapi baru saja ia beberapa langkah Harvan yang sudah bergejolak menangkap tangan Delima.


“Apa yang akan tuan lakukan!.” Dengan sigap Delima menarik tangannya namun cengkraman tangan Harvan begitu kuat sehingga tangan Delima tak bisa lepas.


Harvan menarik Delima hingga tubuh mereka rapat, Harvan yang masih duduk diatas meja membalikan tubuh Delima hingga mereka berhadapan dan sangat dekat.

__ADS_1


“Tuan tolong jangan seperti ini.” Delima berusaha melepaskan tangan Harvan yang sudah melingkar pada pinggangnya.


“Delima kenapa kamu selalu menggodaku hah!.” Bisik Harvan dengan sorot mata sayu penuh nafsu yang kala itu mendekatkan wajahnya pada wajah Delima hingga kening mereka beradu.


“Maaf tuan aku tidak akan berani seperti itu.” Dengan bibir bergetar ia menundukkan pandangannya.


“Delima tolong bantu aku… jangan seperti itu….” Harvan semakin merekatkan lingkaran tangannya pada pinggang Delima.


“Tuan tolong lepaskan aku! Maaf kan aku jika aku salah.” Delima mulai merasakan takut melihat Harvan bersikap seperti itu.


“Tolong lihat mataku Delima.” Dengan nafas terengah-engah menahan nafsu Harvan seperti singa yang lapar.


Perlahan Delima mengangkat wajahnya memandangi sorot mata tuannya yang penuh nafsu. Berdegup jantungnya kala tuannya terus memandanginya dengan tatapan laparnya.


“Tuan biarkan aku pergi.. tuan….” Tanpa aba-aba Harvan langsung melahap bibir yang menggoda itu dengan buas membuat Delima kewalahan. Ia berusaha melepaskan cengkeraman tuannya namun tenaga tuannya terlalu kuat.


“Hemh.. tuan… hemp.” Delima terus berusaha melepaskan gigitan kecil dari bibir kokoh tuannya itu, namun tuannya terlalu beringas menangkup bibir tipisnya.


Dengan nafas yang menderu bibir Harvan bergerilya, entah setan apa yang merasukinya hingga ia melakukan Hal itu. ******* demi ******* ia lontarkan, tangan kirinya yang mulai memegang tengkuk Delima semakin membuat ia tak terkendali. Sementara tangan kanannya yang sudah meremas bokong Delima semakin buas menambah panas suasana di ruang kerja itu.


Hingga akhirnya perlahan ia lepaskan bibirnya setelah tongkat komandonya mengeras dan semakin keras. Ia beranjak dari meja kerja itu menjauhi tubuh Delima,


“Maaf….” Hanya Itu yang Harvan ucapkan dari bibirnya, lalu ia bergegas pergi meninggalkan Delima yang terpaku di tempat itu.


Harvan yang merasa sudah tidak kuat menahan gejolak nafsu birahinya, bergegas masuk ke kamarnya lalu melucuti semua pakaiannya dan masuk ke kamar mandi menyelesaikan urusannya.


Sementara Delima yang kala itu masih terkejut dengan apa yang telah di lakukan oleh tuannya terus meraba bibirnya. Karena apa yang telah di lakukan tuannya adalah hal yang baru ia rasakan.


Perlahan ia melangkahkan kaki meninggalkan ruang kerja tuan nya menuju kamar Harin. Sampai ia membaringkan tubuhnya pun ia masih membayangkan ciuman pertamanya itu.


Sementara itu, di kamar sebelah nampak Harvan yang telah menyelesaikan urusannya di kamar mandi terlihat lebih segar karena merasa lega telah mengeluarkan sesuatu dari tongkat komandonya.


Kemudian setelah berpakaian ia rebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mencoba memaksa memejamkan mata karena apa yang telah terjadi di ruangan kerjanya sangat mengganggu pikirannya.


*


Dan hari pun telah pagi.


Pada meja makan Jodi melihat Harvan tidak seperti kemarin, ia terlihat segar dan ceria kali ini. Namun melihat Delima sedikit berbeda, delima terlihat murung, Jodi mengisyaratkan matanya pada Harvan menanyakan perubahan sikap Delima.


Harvan menggelengkan kepalanya seolah menjawab dia tidak tahu penyebabnya, yang membuat Delima bersikap lebih murung dari biasanya. Sampai akhirnya selesai sarapan dan mereka berpamitan berangkat ke kantor, tidak terjadi percakapan yang berarti di antara mereka.


Di dalam perjalanan ke kantor.


“Gimana malam tadi? Dia datang ke dalam mimpi elo?.” Tanya Jodi.


Harvan menggelengkan kepalanya dengan pandangan yang menerawang. Sementara apa yang terjadi malam tadi antara Harvan dan Delima, Jodi benar-benar tidak tahu dan tidak menaruh curiga karena ia tidur pulas.


“Kenapa ya Har? Biasanya kan tiap malam, gue pikir malam tadi dia datang soalnya gue lihat elo udah gak bete lagi.”


“Gak bete karena gue ngikutin gaya elo Solo karier!.” Harvan dengan tampang pasrah yang sebentar lagi Jodi siap dengan bully nya.


“WHAT!! Akhirnya hahah.” Kelakar Jodi senang.


“Diem gak luh!.” Harvan yang merasa terintimidasi.


“Hahaha… makanya jangan alergi sama sesuatu yang akhirnya elo kena batunya Har, haha.”


“Diem luh ah!.” Kesal Harvan


Setelah mereka sampai di gedung kantor mereka, mereka pun memasuki ruangan kerjanya masing-masing.

__ADS_1


Harvan menyalakan laptopnya seperti biasa ia menyalakan layar monitor rekaman CCTV rumahnya.


Nampak pada layar laptopnya Harin yang tengah belajar menyanyi bersama Delima. Namun Harvan melihat keanehan saat menjuruskan pandangannya pada Delima. Terlihat olehnya Delima sesekali menangkupkan telapak tangan pada bibirnya dan terlihat meringis.


(Kenapa dia ya? Seperti merasakan kesakitan pada mulutnya.) Bathin Harvan yang terus memperhatikan ke layar laptopnya. Kemudian ia mengingat-ingat aksi brutalnya semalam, tersungging senyum tipis disudut bibirnya, lalu Ia membayangkan kembali kejadian itu.


Kemudian ia merogoh ponselnya dan menghubungi putrinya dengan ber-video call.


“Hallo sayang.” Sapanya.


“Ada apa ayah? Baru saja pergi sudah memanggil aku.”


“Memang tidak boleh?.”


“Ayah menggaguku sama ibu.”


“Ayah ada perlu sebentar sama ibu boleh?.”


“Iya boleh.”


“Mana ibu? Berikan tab nya pada ibu.” Pinta Harvan. Lalu Harin menyerahkan Tab nya pada Delima.


“Hai… Hm bagaimana Harin belajarnya?.” Tanya Harvan pada delima sedikit kikuk.


“Bagus ada peningkatan… uh…” Delima memegang bibirnya dan meringis.


“Kenapa?.” Tanya Harvan dengan memandangi bibir Delima.


“Hm… gak apa-apa, ini bibirku sariawan.”


“Oh… maaf ya Delima, mungkin karena malam aku tidak sadar menggigit kamu.”


“Mh.. iya gak apa-apa.” Ujarnya sedikit malu karena tuannya terus memandangi bibirnya.


“Nanti pulang aku bawakan obat untukmu.”


“Iya tuan, terima kasih.”


“Ya sudah.. jaga Harin ya, aku mau meeting dulu, bye.”


Setelah selesai menghubungi Delima, Harvan senyum-senyum sendiri, entah apa yang sedang ia pikirkan hingga membuatnya seperti itu sampai Jodi yang datang dan memperhatikannya pun ia tidak menyadarinya.


“Har!!.” Suara Jodi membuyarkan pikirannya.


“Apa sih luh! Ngagetin gue aja!.”


“Gue lihat elo aneh akhir-akhir ini Har, Kemaren elo kelihatan bete, sekarang gue lihat elo senyum-senyum sendiri, ai sia cageur? ( elo waras kan?)”


“Eh anjir luh!.” Harvan melempar ballpoint tepat mengenai pucuk kepala Jodi. Dengan cepat Jodi menangkap balpoint yang mengarah padanya itu.


“Abisnya elo mencurigakan, senyum-senyum sendiri, sampe gak sadar gue datang. Gimana itu.”


“Gimana apanya?.” Tanya Harvan tidak mengerti maksud Jodi.


“Yaelah, itu ponsel di tangan tapi gak denger notifikasi apa? Gue kirim info itu ke ponsel elo!.”


“Iya ah bawel. sekarang gue buka nih.” Kemudian Harvan melihat informasi yang Jodi kirim.


“Oke, gue bersedia, jangankan minggu depan, besok juga gue siap.” Kata Harvan setelah membaca info yang dikirimkan Jodi.


“Ya sudah berarti elo siap ya buat menghadapi sidang minggu depan?!.” Jodi meyakinkan.

__ADS_1


“Iya siap.” Jawab mantap Harvan.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


__ADS_2