
Delima yang kala itu panik mendengar Almira kecelakaan, ia langsung bergegas pergi dengan taxi online yang sudah ia pesan menuju rumah Almira.
Sepanjang perjalanan ia terlihat cemas memikirkan temannya itu. Tak memakan waktu lama akhirnya ia sampai di halaman rumah itu.
Setelah ia membayar ongkosnya bergegas ia masuk kedalam rumah itu. Nampak keadaan di dalam rumah itu gelap, kemudian Delima menyalakan listrik yang berada pada ruang tamu, perlahan ia berjalan menuju ke ruang tengah namun ia tak menemukan adanya kehidupan di sana.
Lalu pada saat ia akan beranjak menaiki anak tangga, terdengar olehnya suara rintihan kecil dari arah dapur. Dengan tubuh yang mulai bergetar Delima berjalan mendekat kearah dapur, pada saat ia melihat ceceran bercak darah terlihat wajahnya memucat, ia terus berusaha mendekat dan mendekat.
Dan pada saat ia sampai di tengah dapur, betapa terkejutnya ia melihat Jaya Sukmana yang tengah merintih dengan pisau yang masih menancap pada perutnya sembari melambaikan tangan kepadanya.
“Ya Tuhan!! Apa yang terjadi mas Jaya!!.” Kata Delima dengan perasaan terkejutnya langsung mendekat ke arah tubuh Jaya Sukmana.
“To-tolong hubungi polisi da-dan lepaskan pisau ini dari perutku Delima, a-aku mohon!!.” Rintih Jaya Sukmana dengan suara paraunya.
Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, perlahan ia mencoba meraih pisau yang masih menancap pada perut Jaya Sukmana. Namun baru saja ia memegang gagang pisau itu, tanpa ia duga Almira datang dan menyaksikan pemandangan suaminya yang berlumuran darah serta Delima yang tengah memegang gagang pisau itu di perut suaminya.
“Delima!!!!! Apa yang kau lakukan pada suamiku!!!!.” Dengan suara lantang Almira berteriak dan menangis histeris.
Mendengar teriakan Almira, Delima terkejut lantas berdiri melepaskan tangannya dari gagang pisau yang menancap pada perut Jaya Sukmana itu.
“A-al… i-ini tidak seperti yang kau kira… a-aku…” Delima berusaha menjelaskan namun Almira yang histeris menyela ucapan Delima.
“Kau membunuh suamiku Delima? Apa kau sudah gila! Kalau kau tidak suka karena dia mengganggumu, kau bisa katakan baik-baik padaku.” Teriak Almira.
“A-aku….” Belum lagi Delima menjelaskan dari arah belakangnya Yuda datang mendekat dan berkata,
“Kau ini wanita macam apa Delima? Sudah bagus kamu di tolong oleh Almira untuk tinggal disini, kau malah melakukan pembunuhan pada suaminya.” Kata Yuda. Sementara Jaya Sukmana yang melihat Delima terpojok hendak membantu menjelaskan namun ia sudah banyak kehilangan darah dan mulai tidak sadarkan diri.
“Sayang bangun sayang… kau tega Delima! Pergi kau dari sini…. Pergiiii….” Pekik Almira yang kala itu tengah memeluk tubuh suaminya yang sudah tidak sadarkan diri.
“Heh! Kau tidak dengar Delima! Pergilah sebelum polisi menangkapmu!.” Kata Yuda pada Delima dengan muka bengis nya.
“Aku bisa jelaskan… aku tidak….”
“Pergi kau! Apa kau mau aku panggil polisi sekarang! Dan menangkapmu disini!!.” Teriak Yuda sembari mendorong tubuh Delima.
Melihat kemarahan Yuda dan Almira, akhirnya Delima meninggalkan rumah itu, sebelum ia meninggalkan rumah itu ia masih sempat membawa tasnya yang berisi surat-surat penting miliknya dan beberapa helai pakaiannya.
Dengan mengambil langkah seribu sembari menangis Delima meninggalkan rumah itu. Ia berlari menyusuri jalan yang ia sendiri tidak tahu kemana tujuannya pergi. Semakin jauh ia berjalan cepat, akhirnya ia melambatkan langkahnya karena merasa lelah.
Dengan langkah gontai dan deraian air mata di jalanan sepi Delima terus melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan ia kini sedang berada di mana, dan tiba-tiba dari arah belakang seseorang menepuk pundaknya. Sedikit terkejut Delima menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang wanita tengah tersenyum padanya.
“Kau kenapa malam-malam berjalan sendiri di tempat ini dan menangis?.” Tanya seseorang itu. Tapi Delima tidak menjawabnya. Ia membalikan tubuhnya kembali dan melanjutkan langkah kakinya.
“Hei… tunggulah dulu, kau kenapa? Pasti kau sedang sedih. Apa kau butuh teman? Aku bisa menjadi temanmu hehe… perkenalkan namaku Intan.” Seru wanita itu yang menyusul langkah kaki Delima kemudian menyodorkan tangannya.
Karena merasa di ikuti terus akhirnya Delima menyambut tangan itu dan, “Aku Delima.” Jawabnya pendek.
“Nama yang bagus hehe… kau pasti lelah, ayo kita duduk di kursi sana.” Ajak Intan sembari menunjuk sebuah kursi kayu panjang di bawah pohon besar.
Karena pikiran Delima tengah kalut, ia tak banyak berpikir langsung saja mengikuti ajakan teman barunya itu melangkah menuju kursi kayu itu. Yang ada di dalam pikirannya mungkin dengan berbincang dengan seseorang ia dapat sedikit melupakan masalahnya.
Setelah mereka sama-sama duduk di atas kursi kayu itu. Teman barunya yang bernama Intan memberikan satu botol air mineral padanya.
“Minumlah, kamu pasti haus.” Kemudian Delima menerimanya lantas membuka tutupnya dan meminumnya.
“Terima kasih Intan.” Kata Delima seraya menghela nafas panjang setelah menenggak minuman itu.
“Ya sama-sama. Kau boleh ceritakan apa yang terjadi padamu, aku siap mendengarkan, minimal setelah kau cerita, kau akan merasa lega.”
Delima melihat kearah Intan, lama sekali ia memandangi wanita yang berada d sampingnya itu. Kemudian ia merasa apa yang di katakan temannya itu benar, lalu Delima mulai menceritakan kejadian yang telah ia alami tadi.
__ADS_1
“Malang sekali nasibmu Delima. Oya? Seandainya aku membantumu apa kau mau menerima?.”
“Maksudnya?.” Tanya Delima tidak mengerti maksud dari ucapan teman barunya itu.
“Begini Delima, kejadian yang kamu alami akan menyulitkan hidupmu. Aku menduga pasti kau akan disalahkan oleh mereka, jadi lebih baik kau tinggalkan tempat ini.”
“Tapi aku harus pergi kemana Intan? Aku tidak punya tempat tinggal.”
“Itu gampang, sekarang coba mana ponselmu?.”
“Mau apa?.”
“Ayo keluarkan ponselmu dan coba kau buka sebuah aplikasi.”
Karena Delima tidak mau berdebat akhirnya ia merogoh ponselnya dari dalam tasnya dan mencoba membuka aplikasi yang di ceritakan temannya itu.
“Apaan ini?.”
“Mereka tengah mencari pembimbing untuk anak balitanya, kau cobalah melamar kesana.”
“Tapi aku tidak berminat menjadi guru pembimbing.”
“Hei Delima, kalau kau bekerja di tempat lain, mereka akan dengan mudah menemukanmu, tapi jika kau menjadi guru pembimbing anak ini, aku kira disanalah tempat yang aman buatmu dan aku pastikan tempat itu akan merubah kehidupanmu, percayalah padaku.” Jelas Intan. Sementara Delima memikirkan apa yang di katakan Intan.
“Ya sudah aku iseng aja deh memasukan lamaran ke tempat itu.”
“Iya coba saja! Ayo di isi sekarang formulirnya.”
“Kenapa kamu seperti memaksaku Intan? Besok juga kan masih bisa.” Delima merasa heran.
“Kalau besok takutnya kamu lupa. Isi saja sekarang apa susahnya.”
“Baiklah.” Delima patuh pada teman barunya itu. Setelah ia mengisi formulir dan mengirimkan berkas persyaratan digitalnya, ia mematikan ponselnya.
“Hehe…. Bagus!. Oya sekarang rencanamu mau kemana?.”
“Entahlah. Aku tidak tahu, yang jelas aku tidak akan kembali kerumah Almira dan pastinya berhenti kerja di lembaga pendidikan itu.” Jawab Delima pelan.
“Ya sudah kalau begitu kau ikut aku saja.”
“Kemana?.”
“Ke suatu tempat Delima, kau butuh istirahat..” kemudian Intan seperti memanggil sesuatu dari balik pohon yang rindang. Betapa terkejutnya Delima saat ia melihat se ekor macan putih keluar dari balik semak-semak dan mendekat ke arah mereka. Hampir saja Delima akan berteriak namun dengan cepat ia menangkup mulutnya dengan telapak tangannya dan membulatkan matanya.
Delima berdiri dan menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Intan.
“Ya Tuhan…. Intan kenapa ada macan di sekitar kita, ayo kita lari sebelum dia menelan kita hidup-hidup.” Kata Delima dengan mulutnya yang bergetar karena ketakutan.
“Haha… dia macanku Delima, dia tidak akan menelan kita hidup-hidup karena dia sudah jinak..”
“Apa!! Kau serius!!.”
“Hehe… ayo kita naik ke punggungnya!.”
“Apa??! Gak… gak… enggak Intan, aku gak mau!.”
“Ayo lah… ayo naik! Kita akan ke suatu tempat.”
“Tapi tidak dengan menunggangi macan itu juga kali Intan. Gak mau! Aku takut.”
“Ayo lah, aku kan sudah bilang, dia sudah jinak. Ayo naik di belakangku.” Ajak Intan yang menarik tangan Delima.
__ADS_1
Dengan rasa takut yang hampir saja membuat copot jantungnya, akhirnya Delima mau mengikuti ajakan Intan. Dengan memejamkan mata ia menaiki punggung macan itu di belakang tubuh Intan.
Tanpa aba-aba langsung saja macan itu melesat berlari ke angkasa secepat kilat sontak membuat Delima berteriak hebat. Sementara Intan tertawa melihat tingkah Delima.
Tidak menunggu waktu lama, sampailah ia di sebuah tempat yang tidak jauh dari pusat ibu kota.
“Kita dimana ini Intan?.” Tanya Delima dengan wajah yang masih pucat pasi.
“Itu adalah kontrakan tempatmu untuk tinggal, ayo masuklah.”
“Tapi Intan… .”
“Ayo masuklah. Sekarang itu tempat tinggalmu. Kau tidak akan lama kok tinggal disitu, nanti juga kau akan tinggal di rumah mewah tempat anak itu, hehe.”
“Ah kamu ini, baru saja kenal sudah pintar mengaturku.”
“Hei… kita ini saudara Delima, sesama saudara kita harus saling menolong!.”
“Saudara???!.” Delima Heran.
“Iya, saudara, meskipun kita bukan saudara sedarah tapi kita saudara bathin Delima. Jadi disaat kau sulit seperti ini kau harus mau mendengarkan saudaramu ini.”
“Iya ya baiklah… ayo kita masuk.” Ajak Delima.
“Kau masuklah dulu, nanti aku akan menemuimu. Aku ada urusan dulu sekarang.”
“Urusan apa malam-malam begini?.”
“Ada deh hehe… udah sana masuk. Aku pergi dulu ya, dah.” Lalu Intan pergi meninggalkan Delima dan Delima pun masuk kedalam rumah sederhana itu yang Intan katakan bahwa rumah itu adalah kontrakan untuk tempat tinggal Delima.
FLASHBACK OFF
Harvan mendengarkan cerita Delima dengan seksama. Dari pertama Delima mengenal pengusaha itu sampai terakhir kalinya Delima melihat pengusaha itu dengan tubuh bersimbah darah. Juga pertemuan Delima dengan sosok yang bernama Intan yang telah menolongnya dan memberi jalan untuk sampai ke rumah Harvan pun Delima menceritakan semuanya.
Harvan memandang lekat wajah Delima yang terlihat berkaca-kaca. Kemudian ia mendekat dan memeluknya.
“Jangan bersedih, aku ada disini. Aku semakin percaya kau bukan pembunuhnya. Maafkan aku atas kelakuanku yang membuat dirimu semakin tersiksa.” Harvan memeluk Delima dengan pelukan eratnya.
“Aku janji akan membantumu sampai tuntas keluar dari masalah ini. Kau sekarang adalah istriku jadi sepenuhnya kau adalah tanggung jawabku. Terima kasih kau sudah menceritakan segalanya padaku. Dan aku tidak ragu atas pernyataanmu itu Delima.” Kata Harvan seraya mengecup kening wanita yang tengah menjadikan dirinya sandaran kesedihan yang dirasakan wanita itu.
“Setelah masalahku selesai, kita akan datang kesana untuk menyelesaikan segalanya. Dan kau harus menceritakan semuanya pada polisi agar pembunuh yang sebenarnya dapat segera tertangkap. Aku akan menemanimu, jadi kau jangan takut.” Sambung Harvan.
“Terima kasih.” Lirih Delima yang masih dalam pelukan Harvan.
“Apa? Hanya terima kasih saja.” Goda Harvan untuk mencairkan suasana, perlahan Delima bangkit dari pelukan Harvan.
“Lalu apa?.” Tanya Delima menundukkan pandangannya. Perlahan Harvan mengangkat dagu wanita itu. Dan berkata,
“Mulai sekarang, kau harus terbiasa Memanggilku sayang… seperti aku dan kamu memanggil putri kita.”
Perlahan Delima menganggung dan memandang lekat wajah tampan itu.
“Terima kasih sudah menjadikan aku istrimu. Aku berjanji akan berusaha menjadi lebih baik seperti istrimu.”
“Kau tidak perlu menjadi sepertinya Delima… kau dan dia berbeda tidak akan pernah sama, tapi percayalah aku akan mencintaimu seperti aku mencintai dirinya.” Kata Harvan seraya mendekatkan wajahnya pada wajah wanita itu dan mengecupnya.
Menerima kecupan itu tanpa sadar Delima menyambutnya dengan membalas kecupan dari suaminya hingga membuat mereka terhanyut dalam ciuman kemesraan saling membalas ******* dari bibir mereka. Hingga membawa suasana di dalam ruangan itu menjadi begitu berwarna.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Jangan lupa tinggalkan jejak readers tersayang🤗
__ADS_1
Terima kasih🥰