
Hari pun berganti. Seperti biasa Jodi yang selalu membawa Harin dalam aktivitas kantornya tengah sibuk di depan laptopnya. Sementara Harin tengah sibuk dengan Crayon dan buku mewarnainya duduk di atas meja kerja Jodi.
Karena sudah beberapa hari tidak ada kabar mengenai perkembangan kasus Delima, akhirnya hari itu Jodi menghubungi teamnya yang mendampingi Harvan.
“Hallo.”
“Hallo Boss.” Suara di balik ponsel.
“Bagaimana perkembangan kasusnya John?.”
“Tugas kita sudah selesai dari beberapa hari yang lalu Boss!.”
“Apa?? Sudah selesai?? Kok elo gak laporan sama gue?.” Tanya Jodi sedikit terhenyak.
“Sorry Boss tuan Harvan melarang kami untuk menghubungi Boss hehe.”
“Apa??! Dia larang elo!! Heh Boss elo itu siapa?! Gue apa dia, hah?!.” Jodi sedikit kesal.
“Maaf Boss, kata Tuan Harvan urusan laporan sama Boss biar dia aja yang menyampaikannya jadi kami tidak berani laporan ke Boss.”
“Ah udah, udah… kalian tinggalkan Surabaya balik ke markas!.” Sentak Jodi.
“Boss Sorry lagi nih, kita udah dari beberapa hari yang lalu meninggalkan Surabaya, sekarang gue sama team lagi di Bali ngawal tuan dan nyonya hehe.”
“Apa?? Di Bali!! Oke, ya udah kalau gitu, elo gak usah bilang sama tuan kalau gue telepon elo ya?.”
“Siap Boss!.”
Kemudian Jodi menutup sambungan ponselnya setelah menanyakan alamat lokasi dimana mereka berada.
‘Sialan luh Harvan! Udah coba-coba bohongin gue ya! Awas luh, gue kerjain nih.’ Gumam Jodi.
Kemudian ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Harvan.
“Hallo Jod.”
“Iya Hallo Har, gimana urusannya udah selesai belum?.”
“Belum Jod, kayaknya minggu depan baru selesai kasusnya.” Jawab Harvan.
(Elo pikir gue gak tahu akal bulus elo ya? Enak-enakan luh di Bali berduaan pake alasan masalahnya belum beres segala huh! Bilang aja luh mau honeymoon biar gak ada yang ganggu, nyari kesempatan luh ya ceritanya?.) bathin Jodi.
“Oh begitu. Ya udah kalau gitu gue tunggu perkembangannya ya Har?.” Jodi berpura-pura seakan-akan ia tidak tahu apa-apa.
“Oke, oya? Gimana Harin?.”
“Baik, nih dia lagi bikin gambar di depan gue.”
“Syukur deh kalau dia baik-baik aja. Nanti gue v-call dia.”
“Ya.” Dan sambungan ponsel pun terputus.
Kemudian Jodi memandangi Harin yang tengah asyik mewarnai di depannya.
“Sayang… kita kencan lagi yuk?.” Kata Jodi pada putri kecil itu.
“Oya om, kita mau kemana?.” Tanya riang Harin.
“Om akan ajak kamu ke Bali, mau gak?.”
__ADS_1
“Apa? Kita ke Bali om!! Horay… kita main di pantai ya om?. Aku mau om, mau banget.” Putri kecil itu kegirangan hingga tak sadar loncat dari atas meja ke atas pangkuan Jodi seraya memeluk dan mencium wajah om nya itu.
“Aw…” Jodi yang sedikit kesakitan karena mendapatkan hentakan keras pada tongkat komandonya sedikit nyengir.
“Okay, kita berangkat ke Bali sekarang juga sayang.”
“Beneran om??.” Betapa cerianya Harin kala Jodi katakan itu.
“Beneran lah sayang… kapan om pernah bohong sama kesayangan om ini Hm? Muach.” Jodi mencium gemas pipi Harin.
“Yeah… Bali… im Coming… yuhuuu.” Harin mengangkat kedua tangannya di atas pangkuan Jodi. Betapa senangnya Jodi kala melihat keceriaan terpancar dari wajah imut itu.
‘Seandainya elo lihat wajah putri elo sekarang ini Har, elo pasti gak akan tega ninggalin dia di sini. Tapi gue tahu, elo juga butuh bahagia sama Delima. Gue tahu elo butuh waktu berdua bersama Delima. Oke kalau gitu, gue yang akan bikin bahagia putri elo. Tunggu gue Har! Gue akan kasih kejutan buat elo.) bathin Jodi dengan seringai di ujung bibirnya.
“Oke sayang, tunggu sebentar ya? Om mau suruh tante Diana kesini.” Kata Jodi seraya menelepon sekretaris tuannya.
Tak lama Diana masuk, “Ada apa Boss?.”
“Saya mau berangkat ke Bali siang ini sampai beberapa hari ke depan, jika ada yang penting langsung hubungi saya ya? Selama saya di sana kalu handle semua kerjaan saya!.” Perintah Jodi.
“Saya Boss?.” Diana sedikit terkejut.
“Iya, kenapa?.”
“Mh.. gak kenapa-napa Boss cuma merasa terhormat aja saya menghendle kerjaan Boss hehe.”
“Kamu harus belajar dari sekarang, siapa tahu suatu hari nanti kamu dapat kesempatan jadi salah satu manager di kantor ini.”
“Amiin Ya Allah.” Diana sujud syukur.
“Udah jangan lebay Diana.”
“Ya sudah kembali ke ruanganmu, saya pergi sekarang ya?.”
“Iya Boss hati-hati di jalan ya Boss.”
“Ya, makasih Diana.” Kemudian Jodi meraih tubuh Harin dari atas meja ke dalam pangkuannya seraya pergi meninggalkan ruangannya.
*
Sementara itu tepatnya di tempat lain, nampak Reyhan memacu kendaraannya memasuki villa tempatnya tinggal bersama Selvy. Ia masuk ke dalam villa dengan penampilan ancurnya dan berjalan sempoyongan. Sepertinya selama ia pergi setelah pertengkaran dengan Selvy kemarin ia baru pulang kembali setelah menghabiskan waktu dengan wanita malam di sebuah hotel.
Pengaruh minuman keras masih mengukung badannya, ia berjalan menaiki anak tangga. Dan ia tidak tahu kalau sebenarnya Selvy sudah meninggalkan villa itu.
“Selvy…. Selvy…..” teriaknya.
Namun nama yang ia panggil tak kunjung menyahut. Setelah sampai ke dalam kamarnya ia pun tidak menemukan sosok yang di carinya.
“Kemana dia?.” Bathinnya. Kemudian ia mencari ke ruangan lain pun tidak ia temukan. Kemudian ia kembali ke dalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya dia atas ranjang.
“Dasar iblis betina!! Cuma begitu saja sudah marah.” Gumamnya. Lalu tanpa sengaja pada saat netranya menangkap ke tempat tumpukan koper, ia melihat ada yang berbeda. Ada satu koper paling besar tidak ia lihat dalam pandangan nya, sejenak ia terdiam, kemudian dengan cepat ia mengangkat tubuhnya.
Ia langkahkan kakinya menuju lemari tempat pakaian Selvy. Pada saat ia buka lemari tersebut, ia tak menemukan pakaian Selvy satu helai pun. Pada saat itu lah ia tersadar kalau Selvy sudah pergi meninggalkan tempat itu.
“Sialan!! Berani-beraninya kau pergi dariku! Jangan bilang kalau kamu akan merebut segala nya sendiri ******!.” Geram Reyhan, kemudian ia merogoh ponselnya pada kantong celananya dan berusaha menghubungi Selvy, namun beberapa kali ia menghubungi panggilannya di alihkan. Dengan amarah yang membuncah ia lemparkan ponselnya hingga hancur.
“Sialan!! Pergi kemana kau ******!!! Awas luh ya! Gue gak akan lepasin elo seperti gue gak akan pernah lepasin si Harvan dan keluarganya.” Ujar Reyhan dengan setumpuk kekecewaannya.
Kemudian ia melangkah menuju lukisan di dinding kamarnya, ia tarik lukisan itu seperti ia membuka jendela. Nampak sebuah brankas menempel pada dinding yang terletak di belakang lukisan tersebut. Lalu ia buka brankas tersebut yang password nya hanya dia yang tahu.
__ADS_1
Perlahan ia merogoh kan tangannya ke dalam brankas tersebut, dalam sepersekian detik tangannya keluar dari dalam brankas itu dengan memegang senjata.
“Oke, sepertinya kalian memaksa gue buat melakukan hal ini secepatnya hahah.” Kelakar Reyhan.
Kemudian Reyhan pergi membawa senjata itu. Ia meninggalkan kediamannya menuju suatu tempat. Dimana tempat yang akan ia tuju itu adalah tempat untuk berlatih menembak. Ia ingin memantapkan cara menggunakan senjata itu sebelum ia melakukan penembakan yang sedang ia rencanakan.
*
Sementara itu di tempat lain, terlihat Jodi yang menggendong Harin dengan di dampingi seorang lelaki berpakaian serba hitam, melangkahkan kakinya dengan gagah menuju salah satu pintu terminal pada bandara Internasional.
“Selama gue di Bali, awasin perusahaan dan rumah ya Tom?.”
“Siap Boss.”
Kemudian Jodi masuk kedalam pesawat. Ia sengaja tidak memakai jet pribadi karena Harin meminta naik pesawat yang banyak orangnya.
‘Om, aku ingin naik pesawatnya yang banyak orangnya ya? Biar seru.” Pinta Harin.
‘Siap kesayangan.’ Jawab Jodi.
“Nah sayang kita sudah ada di dalam pesawat yang kau mau.” Kata Jodi.
“Wow… ini seru sekali om.” Ucap riang putri kecil itu.
“Tentunya sayang.” Kata Jodi dengan meletakan tubuh Harin di sebelah sisi jendela pesawat.
“Kau suka sayang?.” Sambung Jodi.
“Suka sekali om. Muach makasih om.” Ciuman dari bibir mungil meluncur tepat di pipi kiri Jodi.
“Sama-sama sayang.” Jodi balas mencium pipi putri kecil itu.
“Kencan kita kali ini yang paling seru om.”
“Benar kah?.”
“Iya, karena om membawaku terbang ke angkasa dan akan membawaku bermain di pantai.”
“Hehe.. om akan sering membawamu terbang dan pergi ke Bali sesukamu kalau kau mau sayang.”
“Tentu saja aku mau om, asal bersama om.”
“Iya om akan selalu menemani mu kemana pun kau pergi sayang.”
“Betulkah? Om janji?.”
“Iya om berjanji padamu akan selalu menemanimu sayang. Sekarang Istirahatlah, nanti pada saat kau terbangun, kau sudah ada di Bali.”
“Baiklah.” Kemudian putri kecil itu memakai headset nya dan mulai memejamkan matanya.
Jodi memandangi putri kecil itu dengan tatapan kasih sayangnya. Sedikit terenyuh hatinya kala mengingat ibunya yang telah meninggal dan ayahnya yang telah menikah lagi.
“Kau tidak akan kekurangan kasih sayang, kesayanganku… segalanya akan aku curahkan padamu meski aku harus mengorbankan masa depanku. Selama aku di sampingmu, kau tidak boleh menjatuhkan air matamu walau setetes. Aku pastikan itu.” Bathin Jodi yang kemudian membelai pucuk kepala putri kecil itu.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Terimakasih kasih untuk readers yang telah setia sampai episode ini🤗🥰
__ADS_1