
Proses pencarian Harin kini semakin membuat Harvan dan Jodi bingung. Bagaimana tidak? Karena jejak yang ditinggalkan Harin belum mereka dapatkan mengingat menghilangnya Harin dari villa itu begitu misterius. Sementara informasi yang mereka dapatkan sebelumnya bahwa Harin berada di villa puncak Cianjur, memberikan harapan pada mereka untuk segera menemukannya.
Tapi sayang seribu sayang, harapan mereka pupus setelah mendapatkan informasi terbaru, bahwa Harin menghilang bahkan bersamaan dengan menghilangnya Revy putrinya Selvy.
Hari itu Jodi dan Harvan telah bersiap meninggalkan kediaman mereka ke arah Cianjur kota, karena Jodi berpendapat, jika Harin menghilang di villa puncak Cianjur itu, artinya yang akan menjadi lokus pencarian mereka adalah disekitaran kota Cianjur jadi mereka menuju ke kota itu untuk memulai penyisiran mencari jejak Harin.
Sementara apa yang dipikirkan Selvy dan Reyhan berbeda dengan apa yang dipikirkan Jodi dan Harvan. Selvy dan Reyhan berpendapat, kaburnya Harin dari tempat mereka, hal yang akan Harin cari adalah tempat pulang yang artinya bahwa Harin mencari jalan pulang ketempat tinggalnya yang berada di Jakarta, jadi Selvy dan Reyhan berlalu menuju Jakarta dan lokus pencarian Harin menurut Selvy dan Reyhan yaitu di Jakarta.
Jodi yang telah melaporkan ke pihak kepolisian pun, telah mendapatkan kabar bahwa polisi telah menyebar informasi mengenai anak hilang pada media sosial juga selebaran dengan keterangan yang sangat jelas. Begitu pun team yang Jodi perintahkan mereka kini tengah sibuk mencari Harin di dua lokasi, yaitu antara Cianjur dan Jakarta.
Kembali kepada Jodi dan Harvan yang tengah menunggangi kuda besinya menuju kota Cianjur. Setelah beberapa waktu dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Kendaraan yang mereka tumpangi berhenti di suatu tempat yaitu pusat pertokoan terbesar di kota tersebut. Harvan dan Jodi berkeliling sembari menanyai pada setiap toko dan orang-orang yang mereka jumpai dengan memperlihatkan foto Harin.
Seorang pun tidak ada yang mengenali, mereka semua menjawab bahwa mereka tidak pernah bertemu dengan anak yang berada di dalam foto tersebut.
Harvan dan Jodi tidak patah semangat, kini mereka mengarah pada sebuah pasar tradisional. Perasaan Harvan sedikit berbeda, ditempat itu ia merasakan aura lain dari tempat sebelumnya, terlintas dalam pikirannya bahwa anaknya pernah menginjakkan kaki di tempat yang sekarang tengah mereka lalui.
“Jod, ditempat ini gue ngerasain atmosfier yang berbeda, gue ngerasa Harin pernah menginjakkan kaki disini Jod.” Kata Harvan.
“Elo yakin?.” Tanya Jodi.
“Gue yakin Jod, ayo kita tanya pada mereka yang berada di sekita sini.” Ajak Harvan.
Lalu Jodi dan Harvan pun bertanya pada setiap pemilik toko dan pada mereka yang berjualan disekitar tempat itu. Tapi tetap mereka mengatakan bahwa mereka tidak pernah melihat anak yang berada di dalam foto yang Harvan tunjukan itu.
Hingga sampailah pada saat Harvan bertanya pada seorang tukang parkir yang berada di seberang sebuah bank swasta.
“Maaf mas, apa mas pernah melihat anak yang berada di dalam foto ini.” Tanya Harvan pada tukang parkir itu. Kemudian tukang parkir itu melihat dan mengamati foto yang Harvan perlihatkan padanya. Tiba-tiba tukang parkir itu mengingat bahwa pagi tadi ia pernah membantu dua anak kecil menyebranginya jalan itu.
“Sepertinya saya kenal anak yang tuan tunjukan ini tapi saya tidak yakin itu anak yang berada di dalam foto ini.” Jawab tukang parkir itu.
__ADS_1
Mendengar penuturan yang disampaikan tukang parkir tersebut, sontak Harvan dan Jodi terkejut.
“Tolong mas bantu saya, ini anak saya korban penculikan, dia kabur dari tempat penyekapan dan saya kehilangan jejaknya.” Mohon Harvan pada tukang parkir itu.
“Oh jadi anak itu putri tuan?, sebenarnya pagi tadi saya membantu dua anak kecil menyeberangi jalan ini tuan, yang satu kira-kira berusia delapan atau sembilan tahunan dan yang kecil kira-kira berusia empat tahunan.” Jelasnya.
DUG dada Harvan dan Jodi berdebar bersamaan. Karena ciri-ciri anak yang dijelaskan tukang parkir itu sama persis dengan ciri putrinya yang ia cari, dan mereka menduga bahwa ciri anak yang satu lagi adalah Revy.
“Tolong anda lihat kembali dengan jelas, apa anak yang anda tolong tadi mirip dengan putri saya ini?.” Desak Harvan.
Lalu si tukang parkir itu mengamati kembali foto Harin yang Harvan berikan padanya. Kemudian ia mengamati dengan teliti, sesekali melihat pada wajah Harvan kemudian kembali lagi mengamati foto bergambar Harin itu. Dan tukang parkir itu memiliki keyakinan bahwa anak itu mirip dengan yang berada di dalam foto tersebut.
“Saya yakin tuan, anak yang kecilnya memang putri tuan. Terlihat dari model rambut dan matanya memang kalau dilihat langsung, mirip dengan tuan.”
Betapa tersentak Harvan dan Jodi kala itu, ia semakin merasakan getaran dalam dadanya berdegup dan tak terasa matanya mulai berkaca-kaca.
Lalu tiba-tiba pada jalan raya yang tidak jauh dari tempat mereka, melintas sebuah bus. Entah mengapa Jodi tertegun sejenak melihat bus yang melintasi mereka, lalu pada saat melihat pada tulisan di atas bus tersebut yang menunjukan nama Kota, terlintas dalam benak Jodi bayangannya pada sosok Emak.
“Baik mas, terima kasih atas bantuannya.” Kata Jodi menyalami tukang parkir tersebut dan memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.
“Ada apa Jod?.” Tanya Harvan heran pada Jodi yang memaksa masuk kedalam mobil mereka.
Setelah di dalam mobil mereka berbincang.
“Har. feeling gue Harin dan Revy pergi ke tempat emak!.” Jelas Jodi.
“Apa? Ke tempat emak?.” Tanya Harvan heran pada Jodi karena bisa sampai berfikir sejauh itu.
“Bisa saja kan mereka pergi ke tempat emak?! Alasannya adalah, yang pertama, Harin masih kecil, dia belum tahu dimana ia tinggal, satu-satunya tempat yang dia ingat adalah pantai atau laut, karena tempat itu adalah salah satu tepat yang sangat bersejarah dalam hidup ibunya, dan tempat itulah yang membekas di dalam ingatannya. Alasan yang ke-dua, menghilangnya Harin dari villa si Reyhan itu merupakan kejadian misterius. Rasanya tidak mungkin bagi anak kecil bisa keluar dari kamar yang semua pintunya terkunci, kemudian berada di lantai dua. Gue yakin dia bisa keluar dibantu oleh kekuatan yang sangat besar. Dan feeling gue, Harin dan Revy keluar dari tempat itu atas bantuan Emak.” Jelas Jodi.
Harvan terdiam kala Jodi menyatakan dugaannya, dan Harvan percaya pada dugaan Jodi tersebut, karena berdasarkan pengalaman sejak ia kenal dengan Jodi dan Jodi banyak membantu masalahnya, prediksi Jodi selalu tepat. Akhirnya Harvan setuju untuk mencari Harin ke tempat emak.
__ADS_1
Dan mereka berdua pun memacu kuda besinya menuju tempat dimana emak berada.
*
Sementara itu di sebuah terminal, nampak Harin dan Revy keluar dari salah satu bus antar kota. Kedua gadis kecil itu berjalan mengikuti keinginannya keluar meninggalkan terminal. Pada saat mereka berjalan, mereka berpapasan dengan seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 8 tahunan.
Anak laki-laki itu seperti membawa sebuah gerobak yang ukurannya dua kali dari ukuran meja nakas. ia dorong gerobak yang bentuknya seperti mobil-mobilan dengan roda kecil sebagai penopangnya. Dan di dalam gerobak itu berisi snack, minuman dan beberapa rokok juga lainnya. Sepertinya anak laki-laki itu adalah pedagang asongan.
Kemudian Harin dan Revy mengikuti anak laki-laki tersebut dan memberanikan diri bertanya padanya.
“Hei….” Sapa Harin pada anak laki-laki tersebut, lalu anak laki-laki itu menoleh karena merasa ada yang memanggil dirinya. Kemudian menghentikan langkahnya.
“Maaf dek mau tanya, apa lautnya masih jauh?.” Tanya Revy.
“Oh kalian mau ke laut ya?.” Tanya anak laki-laki itu.
“Iya kami mau bermain-main di pantai.” Jelas Harin.
“Ayo ikut saya, kebetulan saya juga mau jualan di sekitar pantai.” Jelas anak laki-laki tersebut.
Betapa senangnya Harin dan Revy kala mendengar anak laki-laki itu juga mengatakan tujuan yang sama, akhirnya mereka bertiga pun meninggalkan tempat itu dan melangkahkan kaki mereka ke tempat yang dituju.
Tak lama mereka berjalan, mereka pun akhirnya sampai di sebuah pantai dengan pemandangan yang indah. Di pinggiran pantai itu terdapat beberapa perahu nelayan yang tengah berlabuh.
“Haha Harin, akhirnya kita sampai ditempat impian kita, yuhuuu.” Teriak Revy berlari kearah pantai di ikuti oleh Harin dan anak laki-laki itu.
“Iya kak, akhirnya kita bisa bermain-main disini haha.” Teriak Harin berlarian di pantai itu.
Sementara anak laki-laki itu tersenyum melihat kebahagiaan mereka berdua.
Harin dan Revy menikmati ombak laut yang menyentuh kaki mungil mereka. Seperti burung yang terbang bebas lepas, mereka berlarian kesana kemari melampiaskan kebahagiaan mereka diatas pasir dan buih lautan yang melambai-lambai membelai kaki mungil mereka.
__ADS_1
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹