
Perjalanan yang cukup terkesan memberikan pengalaman indah bagi ketiganya. sungguh akan menjadi kenangan yang manis, yang akan diceritakan di masa datang. Perjalanan yang penuh canda tawa menambah kehangatan bagi mereka.
Mereka kini sudah berada di Palabuhanratu. Kota kecil yang indah sarat dengan Destinasi Wisata yang menggoda mata. Hamparan Samudera dengan pasirnya yang bersih, perbukitan dan perkebunan yang indah di pandang mata, serta ramah tamah dari penduduknya, yang menambah ketenangan di dalamnya.
Siang yang terik, tidak mengganggu perjalanan mereka menuju rumah nenek (emak). Karena kerinduan padanya menghapus segalanya.
Dari jauh sudah terlihat bayangan rumah emak. Rumah tradisional yang sederhana namun Asri. Rumah itu tak jauh dari pantai hanya beberapa puluh meter saja. Rumah itulah yang menjadi saksi perjuangan Intan pada masa kelam.
Mobil pun berhenti di halaman samping rumah Emak. Lali mereka bertiga berjalan menuju rumah Emak.
TOK TOK TOK
“Assalamu’alaikum… Mak!.. Mak!.” Intan mengetuk pintu rumah Emak.
“Wa’alaikum salam.. engke sakedap.” Jawab Emak.
(Wa’alaikum salam.. tunggu sebentar. )
Kemudian pintu pun di buka CEKLEK.
“Saha ieu?., meuni geulis.” Kata Emak.
(Siapa ini? .. cantik sekali.)
Intan tersenyum bahagia seraya memeluk tubuh renta itu.
“Emak ini aku Intan Mak.” Kata Intan seraya memeluk tubuh Emak dan menciuminya, ada rasa haru yang menyeruak di antara mereka berdua sehingga menggulirkan air mata.
“Ah yang benar? Ini Neng Intan?.” Tanya Emak tidak percaya.
“Iya Mak, ini Intan” jelas Intan.
“Ya Allah Neng… di kira Emak, Eneng sudah lupa sama Emak.” Kata si Emak.
“Aku gak akan lupa sama Emak sampai kapan pun Mak.. Oya, Emak kenalkan ini Jodi temannya si Aa ( Harvan ).” Kata Intan.
Kemudian Emak membawa mereka bertiga masuk keruang tamunya yang sederhana. Mereka melepas rindu karena sudah setahun tidak bertemu, kecuali Jodi yang baru pertama kali bertemu dengan Emak.
“Oya Mak, sepeninggalanku siapa yang menemani Emak?.” Tanya Intan.
“Ada banyak Meng.. anak-anak Padepokan selalu menjaga Emak.” Kata Emak.
“Wah Emak banyak pengawalnya ya? Pendekar semua hehe.” Ujar Jodi.
“Mak saya mau dong belajar silat sama Emak.”sambung Jodi.
“Boleh nanti Emak ajarkan ya?.” Jawab Emak.
“Jangan Ma, dia mah jangan di ajarin gak bakalan benar.” Timpal Harvan.
__ADS_1
“Yah elo sirik aja Har, gue juga pengen bisa terbang dan bisa menghilang kayak bini elo.” Ungkap Jodi.
“Tapi kan butuh waktu yang lama Jod, gak bakalan sampai ilmu elo mah.”ujar Harvan.
“Ya pasti bisa lah kalau Emak yang ngajarin, iya kan Mak.?” Kata Jodi.
“Iya mudah-Mudahan. Oya, kalian pasti capek.. Istirahatlah dulu. Nanti ngobrol-ngobrolnya di lanjutkan lagi.. Emak mau ke Padepokan dulu sebentar. Lihat anak-anak yang latihan dulu.” Kata Emak.
“Kak Jodi.. mau ketemu Siti gak? Sanah ikut sama Emak, pasti Siti ada di Padepokan.” Kata Intan.
“Gak, ogah gue, takut di bacok.” Jodi bergidik.
“Hahah.. lihat aja sono Jod, katanya mau cewek.” Ledek Harvan.
“Ogah gue sama cewe psikopat.. pulang-pulang tinggal nama doang gue.” Bergidik Jodi.
“Hahah.. atau sama janda yang anak sulungnya Pensiunan ABRI? Hahah.” Ledek Harvan lagi.
“Ah gak mau gue sama semuanya, mau nunggu cinta Vivi aja gue mah.. rese emang bini elo ah.” Kesal Jodi.
“Sayang.. ayo kita ke tempat yang waktu kita ketemu dulu.” Ajak Harva pada Intan.
“Ayo… eh Kak Jodi mau ikut gak?!” Tanya Intan.
“Gak! Gue cape, mau tiduran di dipan ini aja.” Tolak Jodi dan langsung bergegas menuju dipan yang ada di depan Pondok Emak.
“Rasa nya baru kemarin kita disini. Ternyata pemandangannya lebih indah dari yang aku bayangkan dulu. Dulu aku hanya bisa mendengar deburan ombaknya saja. Kini aku dapat melihat buih nya.” Kata Intan dengan decak kagumnya akan apa yang di lihatnya.
“Kau bahagia sayang?” Tanya Harvan.
“Tentu saja aku bahagia.. karena kau yang membawaku ke kesini, setelah mengambilku dari sini. Kau tahu? Dulu kalau aku sedang ingin sendiri, aku duduk di sini, saat aku merindukanmu pun, aku duduk di sini.. dan sekarang aku bersamamu di sini.” Ujar Intan, kemudian ia melanjutkan:
“Aku sangat bahagia Har, sangat bahagia.. Aku pikir, aku tidak akan bertemu denganmu lagi, apalagi pada saat aku dengar kau sudah menikah.. itu sangat menyakitkan bagiku.. namun aku berfikir kembali.. kenapa aku harus rapuh? Kenapa aku harus terus mengutuk diriku..Bukankah hidup ini hanya sebentar… Aku hanya perlu untuk bersabar. Tidak bertemu denganmu di sini pun, mungkin akan di pertemukan lagi di sana.” Ungkap Intan.
“Tapi kan akhirnya kita di pertemukan kembali. Tuhan sayang sama kita, sayang… Tuhan tidak ingin membiarkan kita lama dalam kesedihan.. kenapa aku dulu terus saja mencarimu? Mungkin karena Tuhan memili rencana, mempertemukan kita di tempat terindahNYA..” kata Harvan.
“Iya.. Tuhan memang indah.. Ia tidak ingin aku berlama-lama terluka.. Ia tidak ingin membuat kita lama-lama terpisah..” Ujar Intan? tiba-tiba dari kejauhan Intan seperti melihat gapaian tangan seseorang di tengah laut.
Bergegas Intan bangun dari duduknya, melangkah pergi hendak berlari.
“Sayang… mau kemana kamu?” Tanya Harvan terkejut melihat Intan yang tiba-tiba akan berlari ketengan laut, lalu di tariknya tangan Intan.
“Ada yang tenggelam sayang. Aku harus membantunya.” Kata Intan melepaskan tarikan tangan Harvan. Harvan panik melihat istri nya hendak pergi ke tengah laut, dan memanggil-manggil Jodi, Jodi pun bergegas lari tergopoh mendekati Harvan.
“Ada apa Har?.” Tanya Jodi.
“Intan mau ke tengah laut Jod, dia mau menyelamatkan orang yang tenggelam.” Panik Harvan.
“Ah bini elo emang gila ah.” Teriak Jodi.
__ADS_1
Sementara itu, Intan terus lari dan lari secepat kilat, laksana menggunakan ilmu saifi anginnya, berharap cepat sampai ke bibir pantai. Setelah ia berada di bibir pantai, ia seperti keluarkan Ilmu Napak Sancangnya.
Ya ilmu Napak Sancang adalah ilmu Kanuragan yang bisa membuat seseorang berjalan di atas air.
Dengan ilmu Napak Sancangnya, Intan gesit berlari di atas laut mengejar tangan yang melambai-lambai. Meliuk berputar dan berjungkir. Setelah beberapa waktu, tangan itu akhirnya dapat di raihnya. Secepat itu pula dia menggunakan ilmu Saifi Angin kembali, berlari seperti terbang di angkasa membawa korban tenggelam ke pinggir pantai.
“Tuh kan.. bener kan kata gue.. emang bini elo tuh, Emaknya si NARUTO kan?!.” Ujar Jodi pada Harvan yang awalnya panik melihat gelagat Intan, tetapi pada saat mereka melihat gerak cepat Intan, akhirnya meraka terkesima dan tidak tahu harus bicara apa lagi.
“Makanya elo jangan takut Har, dia pasti bisa mengatasi situasi kok.” Kata Jodi.
“Elo bisa ngomong gitu, tapi gue laki nya, gak bisa, koplak elo ah.” Jawab Harvan kesal.
Setelah Intan membawa korban ke bibir pantai, orang berdatangan memberikan bantuan kepada si korban itu. Sementara Intan di bawa Harvan ke pondok Emak.
Setelah Harvan membawa Intan ke pondok Emak, Intan pun kemudian bergegas mengganti pakaiannya yang basah. Tak lama Emak datang,
“Nak Harvan jangan khawatir. Intan bisa menjaga dirinya sendiri.” Kata Emak.
“Iya Mak, ini laki nya panik tadi.. jadi saya ikut-ikutan panik. Oya Mak, tadi yang Intan gunakan, jurus apa itu ya?.” Tanya Jodi.
“Hihihi… itu jurus Emak yang ciptakan hihi.” Pekik Emak.
(Aish.. serem banget ketawa si Emak kaya Nini Pelet ih) Bathin Jodi.
“Wah keren bener nih Emak.. nama nya ilmu apa itu Mak.?” Tanya Jodi penasaran,
“Hihihi… nama ilmu itu adalah.. jurus ANGIN SAMUDERA TANPA BATAS hihihi.” Jawab Emak.
(Set.. dah… ih.. si Emak ketawa lagi, bikin gue takut ih kaya kunti.) Bathin Jodi kembali.
“Wah CAKEP. Tuh Mak kaya Judul Novel 🤪” Ujar Jodi.
“Oya Mak, punya ilmu pelet gak Mak? mau dong.” Pinta Jodi.
“Yaelah.. ngapain elo minta ilmu pelet ke Emak? Ada-ada aja elo.” Ujar Harvan.
“Buat melet dokter Vivi Har, hihihi” kata Jodi, setengah berbisik pada Harvan.
(Lah kok gue jadi ikut-ikutan si Emak sih nge hihihi.. sih ah!) Bathin Jodi.
“Iya nanti. Emak kasih ilmu pelet. Sekarang kalian makan dulu.. kalian pasti lapar. Ayo emak sudah siapkan Ikan bakar Sambel cobek, Cumi bakar, dan Neyawak bakar!.” Kata Emak.
“Anjiiir, Beyawak bakar!! Emak bikin buat makan siapa Har?.” Tanya Jodi pada Harvan berbisik,
“Buat elo!! Elo kan Bapak nya Beyawak!. Hahaha.” Sindir Harvan.
“Sialan lo!!”
😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
__ADS_1