Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Intan temanmu adalah istriku


__ADS_3

Kedua bibir pasangan yang saling bertaut membawa suasana semakin romantis. Kali ini pasangan suami istri ini sangat menikmati kemesraannya. Sepertinya hubungan mereka mulai membaik.


Perlahan Harvan melepaskan tautan bibirnya. Dan wajah mereka saling berdekatan.


“Sayang.. aku akan suruh Jodi untuk segera mengurus surat nikah kita, agar pernikahan kita sah menurut negara. Sementara untuk resepsi, nanti kita urus setelah semua masalah kita selesai, bagaimana?.” Bisik Harvan.


“Ya. Kita selesaikan saja dulu masalah kita, untuk urusan pernikahan gampang.”


“Maaf ya sayang… kamu mengalami hal yang rumit denganku. Mungkin setiap keinginan wanita mengharapkan pernikahannya normal seperti wanita kebanyakan juga kehidupan setelah pasca pernikahannya, tapi apa yang kita hadapi begitu banyak persoalan yang menguras pikiran dan tenaga, membunuh waktu percuma dan harapan yang tidak jelas. Namun walau demikian aku akan terus berjuang mewujudkan cita-cita kita.” Jelas Harvan sembari membawa Delima dalam pangkuannya.


“Jangan katakan itu, justru seharusnya aku yang minta maaf padamu. Kehadiranku di hidupmu telah menambah masalah baru yang tentunya lebih rumit. Seharusnya lelaki sepertimu yang memiliki segalanya tidak harus alami ini. Di luar sana pasti banyak wanita yang mengharapkanmu dan dapat melengkapi kebahagiaanmu. Namun aku bukannya membuatmu bahagia tapi malah menambah bebanmu.”


“Siapa bilang kau beban untukku? Justru kehadiranmu sangat membantuku, menambah semangatku dan mampu membuatku jatuh cinta lagi. Bukan karena kau mirip dengan istriku tapi karena kau mampu menyayangi putriku seperti putrimu sendiri.”


“Kau tahu? Awalnya aku sama sekali tidak berminat menjadi pengasuh putrimu namun temanku Intan memaksaku.”


Mendengar kata Intan Harvan langsung teringat akan istrinya dan mendapatkan kesempatan menanyakan pada Delima Intan temannya itu apakah orang yang sama dengam istrinya atau bukan.


“Oya, kau bercerita mengenai temanmu yang bernama Intan. Apakah kau sangat mengenalnya?.”


“Aku hanya bertemu beberapa kali saja dengannya, ia yang selalu ada di saatku merasa tersakiti. Ia selalu memberikan tempat untukku. Bahkan untuk menjadi pengasuh putri kita juga dia yang mengarahkan ku.”


“Betul begitu?.” Harvan menjadi teringat akan mimpinya yang terakhir kali bersama istrinya, bahwa Intan pun mengatakan hal bahwa ia yang berusaha mendekatkan Delima dengan putrinya. Dari situ Harvan semakin yakin bahwa Intan yang Delima maksud adalah Istrinya.


“Iya, dia mengatakan kalau aku dengan nya adalah saudara bathin, aku sedikit tidak mengerti akan hal itu namun aku selalu percaya akan kata-katanya karena dia selalu datang disaat-saat aku tengah bersedih. Ia datang selalu menghiburku dan membuat aku lupa akan masalahku.”


“Sayang… aku ingin berterima kasih padanya, apa kita bisa menemuinya bersama-sama?.” Harvan mencoba mengatakan itu untuk memastikan siapa tahu dia bisa bertemu dengan Intan melalui perantara Delima.


“Sayang sekali, terakhir aku bertemu dengannya di pondok emak dan ia pamit padaku untuk pergi ke suatu tempat.”


“Apa? Di pondok emak?! Berarti pada saat kita menikah disana itu?.” Tanya Harvan terhenyak.


“Iya. Tengah malam ia menemuiku disana dan saat itulah aku terakhir bertemu dengannya.”


Harvan terdiam… suasana hening sejenak… kemudian ia bertanya kembali.


“Apa dia mengatakan padamu dia kenal denganku?.” Harvan penasaran.


“Hm… sepertinya dia tidak pernah mengatakan padaku bahwa ia mengenalmu. Memangnya kenapa sayang?.” Delima balik bertanya.


“Delima.. apa kau tahu istriku yang dulu itu siapa?.” Tanya Harvan.

__ADS_1


Delima menggelengkan kepalanya.


“Kau benar-benar tidak tahu ibunya Harin? Apa kau tidak pernah melihatnya melalui tab nya?? Atau kamu tidak pernah mengamati isi rumah ini? Dan memandangi foto-foto yang berada di rumah ini?.” Tanya Harvan dengan penuh keheranan.


“Sayang… aku kan di rumah ini bekerja untuk menjadi guru pembimbing putri kita waktu itu. Dan memperhatikan seisi rumah ini dan melihat segala sesuatu yang menyangkut kalian tidak termasuk dalam tugasku. Jadi aku sungguh-sungguh tidak tahu istrimu yang dulu dan tidak mengenalnya.” Jelas Delima.


Harvan terdiam dengan lekat ia pandangi Delima. Kemudian,


“Delima… sekarang kau sudah menjadi istriku dan menjadi ibu bagi putriku maka kau perlu tahu ibu dari putriku itu. Kau ingat? Aku pernah mengatakan bahwa dia mirip denganmu?.”


“Iya aku ingat kau pernah mengatakannya.”


“Kau mau lihat dia?.”


“Tentu saja.”


“Tapi maaf sebelumnya Delima, kau jangan marah ya?.”


“Kenapa memangnya?.”


“Aku masih menyimpan semua foto dan videonya di ponselku. Kau jangan salah faham akan hal itu.”


“Hehe kenapa kau harus minta maaf padaku, tentu saja aku tidak akan marah padamu, dia adalah istrimu dan ibu dari anakmu, kenapa aku harus marah?.”


“Aku bukan tife wanita pencemburu perlu kau tahu itu.”


“Syukurlah kalau begitu, makasih sayang.” Kata Harvan seraya mencium kening Delima.


“Lalu mana gambar istrimu? Katanya kau ingin mengenalkan dia padaku.”


“Baiklah.” Lalu Harvan mengambil ponselnya dari atas meja kemudian ia membuka galery pada ponselnya tersebut dan menyerahkan ponsel itu pada Delima.


Delima mengambil ponsel itu dan mulai melihat satu persatu foto istri pertama suaminya itu. Dengan teliti dan senyuman yang menghiasi dari sudut bibirnya ia mengamati setiap foto.


“Cantik.” Kata Delima sembari terus melihat.


“Ya dia cantik seperti kamu.” Sambung Harvan sembari menyentuh ujung hidung Delima.


Harvan terus memandangi wajah Delima sembari menyelidik reaksi dari wanita itu.


“Apa kau tidak merasa kau melihat dirimu pada wajah dia?.” Tanya Harvan

__ADS_1


“Mh… tidak. Aku rasa dia lebih cantik dari pada aku.”


“Coba kau lihat-lihat lagi.” Delima semakin intens melihat foto-foto Intan pada galery ponsel Harvan. Harvan melihat pada mata Delima, sepertinya Delima tengah mengamati wajah Intan. Terlihat Intan mengernyitkan dahinya dan terus mengamati.


“Lama-lama wajah ini seperti tidak asing bagiku, tapi siapa ya?.” Bathin Delima.


“Coba kau buka videonya sayang.” Kata Harvan semakin menyelidik. Lalu Delima membuka file yang berisi video. Dan klik, ia melihat penampakan Intan tengah ditaman menyirami bunga dalam keadaan hamil, semakin jelas gestur tubuhnya Intan, dan ia terhenyak pada saat mendengar suara Intan, yang memang sedikit mirip dengannya. Namun ia lebih memikirkan suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.


“Sayang. Istrimu begitu familiar bagiku.. tapi..” Delima terdiam seperti tengah mengingat sesuatu.


“Kau tahu nama istriku siapa?.” Tanya Harvan dengan tatapan seriusnya, terlihat Delima menggelengkan kepalanya, kemudian


“Nama Istriku INTAN!!!.” Jelas Harvan. Delima memandangi wajah Harvan kemudian memandangi video pada ponsel yang tengah ia pegang.. lama ia terdiam…. Kemudian ia mengingat temannya yang ia ceritakan pada suaminya yang bernama Intan itu, tiba-tiba terlihat ia sedikit terhenyak dan tangannya bergetar… kemudian.


“I-ini tidak mungkin!.” Delima langsung berdiri dari atas pangkuan Harvan dan menyerahkan ponsel Harvan dari tangannya. Terlihat degupan jantung pada dadanya bergetar hebat dan keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya.


Dengan cepat Harvan berdiri seraya memeluknya dan menenangkannya. Ia usap punggung dan rambut Delima.


“Kau mengerti sekarang sayang? Bahwa Intan temanmu itu adalah istriku, dialah ibu putri kita.” Bisik Harvan lembut. Mendengar apa yang Harvan katakan langsung Delima Terisak dalam pelukan suaminya itu.


“Ia sangat ingin kita bersama dan kau orang yang ia percaya untuk mendidik dan menjaga Harin. Dia tahu kau adalah wanita yang baik. Ia tahu kau adalah wanita yang tulus makanya ia berusaha mendekatkan kita. Kau tahu? Sebelum aku mengenalmu hampir setiap hari ia datang kedalam mimpiku, tapi setelah aku bertemu denganmu ia tidak pernah datang lagi, kau tahu kenapa? Karena ia telah berhasil menemukan seseorang yang bisa menggantikannya di hatiku, dan itu adalah kamu.”


Mendengar semua itu Delima semakin mengeratkan pelukannya dan semakin terisak lalu tiba-tiba tubuh Delima terkulai lemas.


“Sayang… sayang… kamu kenapa?.” Harvan panik kala ia melihat Delima tak sadarkan diri.


Bergegas ia membawa tubuh Delima menggendongnya ala bridal stile. Harvan membawa tubuh Delima menuruni anak tangga menuju kamar putrinya dan membaringkannya di samping putrinya yang tengah terlelap.


Harvan terus mengusap wajah istrinya berusaha membangunkannya. Nampak keringat dingin semakin membasahi wajah dan tubuh istrinya itu. Harvan berusaha mengatasinya sendiri, setengah panik ia mencari sesuatu di kamar itu untuk membuat Delima sadar.


Pada kotak yang berada di atas lemari Harin ia menemukan minyak kayu putih. Lalu ia raih minyak kayu putih itu dan membalut seluruh tubuh Delima dengan minyak kayu putih tersebut. Setelah selesai ia selimuti tubuh Delima lalu mendekatkan mulut botolnya pada hidung Delima agar ia dapat menghirupnya.


Perlahan ia dapat melihat sedikit ada pergerakan pada tubuh Delima dan pelan-pelan Delima membuka matanya.


Setelah Harvan yakin bahwa Delima telah siuman lalu ia memgambil gelas berisi air mineral di atas meja nakas dan meminumkan air itu pada Delima.


Delima memandangi wajah suaminya, dan kembali ia terisak, lalu Harvan kembali memeluknya untuk menenangkannya,


Delima belum bisa bicara. Ia masih syok. Bagaimana tidak? Bahwa temannya yang bernama Intan itu adalah orang yang sama dengan istri pertama suaminya. Sementara yang ia tahu bahwa istri pertama suaminya itu telah lama meninggal. Berarti selama ini ia bertemu dengan arwah Intan. Begitu menurut hematnya.


Namun berbeda dengan Harvan yang telah mengenal istrinya. Ia menganggap istrinya adalah wanita yang istimewa, wanita yang memiliki ilmu tinggi yang telah mendapatkan tetesan ilmu para wali, jadi ia berpendapat dalam ketiadaannya pun istrinya masih dapat ia rasakan kehadirannya. Dan bukan kehadiran jasad atau ruh nya melainkan ilmunya. Jadi menurutnya yang bertemu dengan Delima itu adalah ilmu yang Intan miliki.

__ADS_1


“Tenang sayang… jika kau ingin menangis, tumpahkan lah saat ini juga. Aku disini bersamamu.” Bisik Harvan di telinga Delima.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


__ADS_2