
Hari pun berganti.
Seperti biasa, saat fajar mulai menampakan cahayanya, seluruh makhluk bumi mulai di sibukkan dengan berbagai macam aktivitas sesuai dengan kepentingannya sendiri-sendiri.
Begitu pun suasana di rumah mewah Harvan. Seluruh penghuni mulai di sibukan dengan tugasnya masing-masing. Setelah selesai membersihkan diri, sang Tuan tanpan, turun ke lantai bawah untuk sarapan. Di ruang makan, Intan sedang sibuk dengan para pelayanan mempersiapkan hidangan untuk sarapan pagi.
Harvan pun duduk dan Intan mulai membuatkan sarapan untuk Harvan. Belum sempat suap pertama, sudah di jeda oleh seseorang yang datang.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.” Jawab orang-orang yang ada di sekitar.
“Ada angin apa elo pagi-pagi buta datang ke rumah gue.” Tanya Harvan.
“Yaela Har, gue kan asisten elo sekarang, jadi gue harus ada di mana pun Tuannya ada.” Jawab Jodi.
“Baguslah kalau elo ngerti sendiri, jadi gak usah di kasih tahu. Udah sarapan belum? Sini bareng gue.” Ujar Harvan.
Kemudian Harvan menyuruh Jodi duduk di depannya dan Harvan menyuruh Intan untuk meninggalkan mereka berdua.
“Loh kok elo suruh dia Pergi sih?.” Tanya Jodi heran.
“Kan elo pernah bilang, kalau elo takut lihat mukanya Intan, ya suruh gue pergi lah.” Jawab Harvan cuek.
“Eh gila luh ya, kasihan dia nanti tersinggung, sumpah gue cuma bercanda kok, kalau bilang takut lihat mukanya dia.” Ujar Jodi serius.
“Dikira gue beneran, padahal udah gue bilangin ke Intan kalau elo takut sama muka dia.” Kata Harvan.
“Parah luh ah, bikin malu gue aja, bagaimana kalau dia tersinggung.” Ujar Jodi merasa tidak enak.
“Tenang, dia mah orang baik, gak bakalan kasinggung kalau elo cuma ngomong gitu doang mah.” Jawab Harvan santai.
“Lah, elo mah bikin gue malu aja, pakai bilang-bilang dia segala, udah nanti gue minta maaf sama dia.”ungkap Jodi.
“Udah ah gak usah di bahas, sekarang ayo di makan sarapannya, kita harus cepat-cepat ke kantor.” Ujar Harvan.
Dan mereka berdua pun menyantap sarapan yang telah tersedia di meja.
Selesai sarapan mereka hendak bergegas ke parkiran depan karena mobil mereka sudah menunggu.
__ADS_1
“Intan aku berangkat dulu ya?.” Seru Harvan nyaring, karena Intan berada di halaman samping rumah. Kemudian Intan menghampiri mereka.
“Ya, hati-hati ya kalian.” Sahut Intan seraya menyalami mereka, kemudian,
“Eh Intan maaf ya kalau Harvan bilang sama kamu masalah itu..” ujar Jodi malu-malu.
“Oh itu… tenang aja Kak Jodi, aku gak apa-apa kok, lagian bentar lagi juga kan aku syantik hehe.” Jawab Intan seraya tersenyum.
“He.. bisa juga kamu bercanda” Ujar Harvan.
“Aku gak mungkin kan terus-terusan mengutuk diriku hanya karena aku seperti ini? Aku harus punya semangat baru. Aku harus menikmati hidup, aku harus bangkit. Karena hidup ini hanya sekali. Aku tidak ingin hancur oleh diriku sendiri, pun oleh orang lain. Karena semua ini rencana Yang Maha Kuasa. Jadi, aku harus mensyukurinya. Coba bayangkan jika aku mati masih dalam keadaan terpuruk meratapi diri.. bayangkan jika aku mati dalam keadaan tak menerima suratan Illahi.. aku yakin saat itu tidak ada tempat yang indah bagiku saat aku kembali padaNYA. Karenanya aku harus mulai memperbaiki mindsetku, agar dapat merubah pola tindakku. Aku gak muluk-muluk minta pada Tuhan agar hidupku indah seperti orang-orang di luar sana, aku hanya ingin selama aku hidup, aku bisa bermanfaat bagi orang lain. Bahkan aku pun tak minta pada Tuhan untuk memberikan SurgaNya padaku, asal Tuhan memberikan RidoNYA, kemanapun aku akan di pulangkan aku akan menerimanya. Karena hidup sudah cukup bagi hidup.”
JLEB
Kata-kata yang Intan ucapkan membuat mereka berdua terdiam. Sampai pada saat meraka pamit pergi pun, kata-kata Intan masih menghipnosis mereka, membuat mereka diam, berpikir, merenungi apa yang telah mereka perbuat untuk hidup mereka di masa lalu. Membuat mereka berpikir arti hidup yang sebenarnya dan kemana mereka akan berakhir.
Dalam perjalanan menuju kantor,
“Kenapa luh diam?.” Tanya Harvan.
“Kata-kata yang Intan ucapkan serasa nampar bathin gue Har.” Jawab Jodi lemah.
“Sekarang elo ngerti kan? Kenapa gue gak bisa berhenti cintain dia?” Ujar Harvan.
“Itu baru saja pertama kalinya ya, elo mendengar omongan dia.. udah bikin elo lemah. Coba elo sering dengar omongan dia, akan banyak jurus-jurus sakti yang bakalan bikin elo mati kutu.” Unggah Harvan.
“Iya benar Har. Gue jadi mikir betapa jahanamnya gue. Gimana gak? Gue banyak bikin cewek hancur. Gue banyak bermain-main dalam hidup gue. Gue banyak kecewain orang tua gue.” Ujar Jodi penuh sesal.
“Gak ada kata terlambat buat ngerubah diri elo Jod, mulai dari diri sendiri, mulailah dari sekarang, mulailah dari detik ini juga, rubahlah budaya hidup elo Jod, apalagi sih yang elo cari di hidup elo! Gue kan udah berkali-kali bilang sama elo, udah tinggalin kebiasaan elo, memang sih sulit meninggalkan zona nyaman, tapi asal kita mau berusaha, pasti akan ada jalan Jod. Gue yakin hidup elo akan berubah. Seandainya elo mau bertransformasi, gue yakin elo akan mendapatkan kepercayaan orang tua elo kembali, gue yakin elo bakal di kelilingi orang-orang baik. Dan gue rasa memang sudah saatnya elo berubah. Kita sudah gak muda lagi Jod, sudah waktunya kita siapin diri, ngumpulin bekal buat di bawa pulang.” Ungkap Harvan serius.
Sejenak hening menyelimuti mereka, dan tak terasa mereka berdua sudah sampai di tempat mereka untuk mengais rezeki.
Mereka berdua pun memasuki gedung tinggi itu dan sampai di lantai tertinggi. Jodi di bawa ke satu ruangan yang bersebelahan dengan ruangan Harvan.
“Jod, di sini ya ruang kerja elo, bagaimana suka gak?.” Tanya Harvan.
“Beneran ini ruangan gue Har?.” Ujar Jodi seakan tak percaya.
“Iya ini ruangan elo, gue kasih ruangan yang gak jauh beda desain interiornya dengan ruangan gue, biar elo semangat! Biar elo nyaman dan betah kerja sama gue.” Kata Harvan.
__ADS_1
“Terima kasih banyak Har.” Ujar Jodi senang seraya memeluk sahabatnya itu.
“Gue janji sama elo, bakal bertanggung jawab sama kerjaan gue, gue janji gue gak bakalan kecewain elo.” Ujar Jodi kembali.
“Oke. Gue juga terima kasih sama elo, udah mau bantuin gue, Kerja bareng sama gue. Jujur saja, gue orangnya gak mudah percaya sama orang, makanya dari dulu gue gak pernah pakai asisten. Tapi sama elo, gue usahain belajar percaya.” Kata Harvan.
“Siap Boss. Elo Boss gue sekarang, jadi gue akan patuh.” Ujar Jodi serius.
Di saat mereka sedang berdua, tiba-tiba Diana datang
“Boss, waktunya meeting 2 menit lagi, semua sudah siap menunggu Boss di ruang rapat.” Kata Diana tegas.
“Oke, saya sekarang ke sana, ayo Jod!, Oya Diana segala urusan yang menyangkut kewenangan saya, nanti sampaikan dulu pada Jodi, karena mulai hari ini dia asisten saya.” Ujar Harvan seraya berlalu di ikuti oleh Jodi.
“Siap Boss! .” Jawab Diana.
Di ruang meeting,
Semua stakeholder sudah berkumpul menunggu Boss Harvan. Kemudian Boss Harvan masuk keruangan tersebut bersama Jodi.
“Selamat siang untuk semua yang telah hadir! Sebelum kita memulai rapat bulanan evaluasi capaian target. Terlebih dahulu saya akan menyampaikan hal yang harus di ketahui bersama, bahwasanya mulai hari ini saya akan di dampingi oleh asisten saya, yang akan membantu segala urusan saya. Jadi segala bentuk konsep, laporan dan lain-lain, mohon di sampaikan kepada Pak Jodi, termasuk mengenai informasi yang akan anda koordinasikan dengan saya, harus melalui Pak Jodi terlebih dahulu. Kemudian saya informasikan bahwa minggu depan saya akan melaksanakan perjalanan ke Luar negeri, karena ada urusan penting, jadi yang akan menghandle semua urusan di kantor adalah Pak Jodi.” Jelas Harvan kepada semua peserta meeting.
Tak lupa Harvan pun mempersilahkan kepada Jodi untuk memperkenalkan diri. Dan semua paparan yang Jodi sampaikan berjalan dengan lancar, padat dan jelas. Setelah Jodi memperkenalkan diri, rapat pun dimulai sampai siang hari.
Jodi tak merasa kesulitan dengan tugas dan tanggung jawab yang diberikan Harvan, karena Jodi pun berasal dari keluarga pebisnis. Jadi semuanya dapat ia laksanakan dengan aman dan terkendali.
Dan rapat pun berakhir kurang lebih di jam 12 siang.
“Jod, ayo kita pulang dulu ke rumah, karena siang ini dokter Anton mau observasi Intan.” Seru Harvan.
“Siap Boss laksanakan!.” Jawab Jodi sigap.
“Gak usah gitu juga kali Jod, memangnya gue pejabat pemerintahan apa!?.” Ujar Harvan.
“Ya kan elo Boss gue Har, jadi gue harus siap siaga buat elo.” Sahut Jodi.
“Ya kalau kita lagi berdua gak usah formil deh, kecuali kalau kita lagi sama relasi dan staff.” Jelas Harvan.
“Iya gue ngerti. Eh sekarang elo gak usah bawa sopir deh, biar gue aja yang bawa.” Kata Jodi.
__ADS_1
“ It’s ok, kalau elo siap!.” Tegas Harvan.
Dan mereka pun berlalu menuju kediaman Harvan menggunakan mobil mewah yang biasa Harvan gunakan bersama supir. Tapi mulai hari ini Jodi yang membawa mobil tersebut.