Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Pelajaran Pertama


__ADS_3

Sore itu cuaca sedikit mendung. Harvan dan Jodi tengah bersiap untuk kembali ke rumah mereka karena aktivitas kantornya telah selesai.


Mereka berdua menaiki kuda besi mereka dan seperti biasa Jodi yang duduk di belakan kemudi memacu kuda besinya dengan santai. Mereka menikmati perjalanan pulangnya meski jalanan sedikit macet.


Sampailah mereka di halaman rumah mereka. Lalu Jodi memarkirkan mobilnya di garasi rumah itu. Belum sampai mereka masuk ke dalam rumah, satpam penjaga rumah mereka menghampiri mereka, menyerahkan satu buah amplop, kemudian Jodi mengambilnya.


“Apaan tuh Jod?.” Tanya Harvan.


“Kalau di lihat dari kop suratnya sih dari pengadilan Har.” Jawab Jodi.


“Hm, gak salah lagi pasti ulahnya Selvy dan Reyhan.” Kata Harvan.


“Ya dari siapa lagi kalau bukan dari mereka.” Sambung Jodi seraya berjalan menuju ruang tengah dan mulai membuka amplop tersebut dan membacanya.


“Apa isinya Jod?.” Tanya Harvan penasaran.


“Surat panggilan buat mediasi.”


“Mediasi apaan?.”


“Si Selvy mengajukan ke pengadilan menuntut elo, bahwa elo udah nyulik si Revy. Dia menuntut hak asuh atas Revy.” Jelas Jodi.


“Oh begitu. Kapan waktunya?.”


“Minggu depan, hari Senin.”


“Ya udah kita kooperatif, datang aja kesana gak perlu ribet.”


“Iya, kita datangin aja. Toh ujung-ujungnya ketahuan pastinya masalah harta.” Ujar Jodi.


“Elo kumpulin aja bukti-buktinya dari sekarang Jod.”


“Oke, entar malam gue siapin, pokoknya elo tenang aja.”


“Ya udah gue mau lihat anak-anak dulu.” Kata Harvan seraya berlalu menuju kamar anaknya.


Nampak di dalam kamar itu Harin dan Revy tengah bermain di playground.


“Ayaaah….” Teriak Harin mendekati sang ayah, Harvan mencium putrinya itu dan memangkunya, kemudian berjalan menghampiri Revy lalu mencium keningnya.


“Anak-anak ayah lagi ngapain?.” Tanya Harvan pada mereka berdua.


“Kita lagi main-main saja ayah.” Jawab Harin.


“Kalian tidak bosan dirumah?.”


“Tidak ayah, iya kan kak Revy?.”


“Iya ayah, kami tidak bosan kok.” Sahut Revy.


“Kalian yang sabar ya? Nanti kalau keadaan sudah membaik, kita akan wisata.” Hibur Harvan.


“Apa kalian sudah mandi?.” Sambung Harvan.


“Belum ayah.” Jawab Revy.


“Ya sudah kalian mandi dulu sana, ayah juga mau mandi dulu, nanti kita bertemu di ruang makan ya?.”


Lalu Harvan keluar dari kamar anaknya itu menuju ruang kamarnya.


Setelah mereka selesai mandi, dan jam malam pun tiba, akhirnya mereka berkumpul di ruang makan tak terkecuali Opa. Mereka menikmati makan malamnya sembari berbincang.


Setelah makan malam selesai mereka masuk ke kamarnya masing-masing. Sementara Harvan dan Jodi masuk ke ruang kerjanya di lantai tiga.

__ADS_1


Setelah Harvan dan Jodi sampai di ruang kerjanya, mereka duduk di atas sofa dan membicarakan hal serius.


“Oya Jod, tadi kan wanita itu mengisi kelengkapan datanya, elo udah lihat dari mana dia berasal?.” Tanya Harvan penasaran.


“Tadi sempet gue lihat cuma gue gak fokus karena kerjaan kantor numpuk. Ya udah sekarang kita lihat sama-sama aja Har.” Kata Jodi seraya mengambil laptopnya kemudian diletakan di meja sofa tepat di hadapan Harvan.


Jodi duduk di sebelah Harvan dan mulai membuka aplikasi lamaran yang mereka buat.


Dengan teliti mereka melihat data-data calon guru pembimbing Harin yang tadi datang ke kantor mereka.


Pada saat mereka melihat kolom alamat disana tertulis bahwa alamat itu tertuju pada sebuah panti asuhan di salah satu kota kecil.


“Oh jadi dia tinggal di sebuah panti ya Jod?.”


“Iya Har, ada dua kemungkinan, bisa jadi dia anak pemilik panti itu atau dia dibesarkan di panti tersebut. Jelas dsini tertulis nama orang tua dia sama dengan nama pemilik panti itu.” Jelas Jodi.


“Iya benar, mungkin besok gue mau iseng nanya sama dia buat menjelaskan ini semua. Karena asal usul dia penting buat kita Jod.” Kata Harvan.


“Syukur-syukur kalau dia benar-benar anak pemilik panti itu, kalau bukan? Berarti orang tua nya belum jelas siapa. Iya kan?.” Ujar Jodi.


“Iya, coba elo selidiki panti itu Jod. Siapa tahu dari situ kita dapat mengetahui asal usul wanita itu.” Kata Harvan.


“Iya nanti gue mau cek, sekarang kita cek dulu data cewek itu. Mungkin dia punya akun media sosial, dari situ awal kita menyelidiki dia, kalau pun dia tidak punya akun media sosial, kita cari tahu dari emailnya.


“Oke. Coba Jod cari media sosialnya.” Perintah Harvan.


Kemudian Jodi mengetik nama lengkap wanita itu pada halaman mesin pencarian, namun ia tak menemukan media sosial miliknya. Sampai pada akhirnya dia meretas email milik wanita itu.


Perlahan ia buka email milik wanita itu. Dari sana Jodi sedikit mendapatkan Informasi mengenai wanita itu.


“Disini bisa kita lihat Har, kalau itu cewek memang bukan anak dari pemilik panti itu, tetapi dia memang di besarkan di panti tersebut.”


“Iya betul Jod. Eh coba elo lihat apa yang udah dia kirim selama beberapa hari ke belakang Jod?.”


Ada satu informasi yang menarik perhatian mereka, dimana disana mereka menemukan bahwa selama satu tahun terakhir wanita itu tinggal di rumah seorang pengusaha asal Surabaya.


“Har, apa mungkin dia di adopsi oleh pengusaha itu ya?.” Tanya Jodi.


“Bisa jadi begitu. Elo selidiki aja Jod, sebagai apa dia disana.” Ujar Harvan.


“Ada keterangan disini kalau dia selama sekolah mengandalkan jalur beasiswa Har, sampai kuliah S2 nya. Menurut gue jika dia sekolah mengandalkan jalur beasiswa tandanya dia memang berusaha sendiri, kalau di adopsi pengusaha kaya ngapain dia susah-susah, secara pengusaha kaya dapat membiayai kuliah dia dimana pun, itu menandakan dia tidak di adopsi oleh pengusaha itu, melainkan ada hal lain yang membuat dia tinggal bersama pengusaha kaya itu. Nanti kita sekalian cek profil pengusaha itu ya?. Sekarang kita fokus sama cewek ini dulu.” Jelas Jodi kemudian Jodi mencari informasi lain mengenai perempuan itu.


“Eh Jod, coba elo bandingkan ijazah-ijazah yang dia kirim ke kita, bisa saja palsu kan?.”


“Ini lagi gue cek, kalau masalah sekolah dia sih bener Har, memang data diri yang dia kirim ke kita benar adanya, cuma yang masih menjadi misteri kehidupan pribadinya aja sih. Pada emailnya tidak banyak yang bisa kita gali tapi minimal kita tahu dari mana asal dia. Ya sudah besok-besok kita cari tahu lagi. Sekarang gue ngantuk Har.”


“Ya udah, malam ini cukup sampai disini dulu aja, nanti di lanjut lagi.”


*


Pagi pun tiba. Harvan dan Jodi siap berangkat kembali ke kantornya setelah berpamitan kepada Orang yang tinggal di rumah.


Sesampainya tiba di kantor mereka masuk keruangannya masing-masing. Belum sampai Harvan menjatuhkan dirinya pada kursi kebangsaannnya. Diana sang sekretaris mengetuk pintunya.


“Pagi Boss. tamu yang kemarin menemui Boss sudah kembali, dia sedang menunggu Boss di ruangan saya.” Kata Diana.


“Suruh dia ke ruangan saya Diana.”


“Siap Boss.” Kemudian Diana berlalu meninggalkan ruangan Boss nya. Tak lama pintu di ketuk kembali dan masuklah wanita itu ke dalam ruangan Harvan.


“Selamat pagi tuan.” Sapa wanita itu.


“Pagi, silahkan duduk.” Kata Harvan. Kemudian mereka berdua duduk pada sofa di ruangan tersebut.

__ADS_1


Seperti kemarin Harvan terlihat sedikit gugup dekat dengan wanita itu, karena melihat wanita itu mengingatkan ia pada istrinya. Hari ini tubuh wanita itu dibalut dengan dress terusan warna hitam setinggi lutut di padukan dengan blazer dengan warna senada sehingga membuat penampilannya begitu terlihat anggun.


Dan penampilan seperti itu menambah pesona Intan lebih nampak lagi pada wanita itu.


“Maaf seperti apa saya memanggil anda nona?.” Tanya Harvan.


“Panggil saja saya Delima tuan.”


“Oh, baiklah Delima. Begini, jujur saja pada saat saya melihat foto ada pada lamaran anda. Wajah anda mengingatkan saya pada istri saya yang telah meninggal. Makanya saya memanggil anda kesini.”


“Betul begitu tuan? Saya rasa istri anda lebih cantik dari saya.”


“Kalian sangat mirip sekali bahkan suara kalian pun sama.”


“Benar kah tuan?.”


“Iya, dan itu tidak hanya dirasakan oleh saya, asisten saya pun melihat hal yang sama. Karena itu saya meminta pada anda untuk bekerja sama.”


“Maksud Tuan?.”


“Begini Delima, sejak lahir putri kami telah di tinggalkan oleh ibunya. Dia sangat ingin sekali bertemu ibunya. Untuk itu saya ingin bekerja sama dengan anda, bisa kah anda selain menjadi guru pembimbing bagi putri saya, anda juga berpura-pura sebagai ibu nya?.”


“Apa tuan? Saya harus berpura-pura jadi ibu untuk putri anda? Bagaimana bisa? Apakah menurut tuan membohongi seorang anak itu adalah hal yang baik?.”


“Saya tahu itu bukan hal yang baik Delima. Tapi saya menduga pada saat putri saya melihat anda, dia akan menduga bahwa anda adalah ibunya yang telah lama pergi. Setiap hari dia selalu melihat video ibu nya, sementara wajah anda sangat mirip sekali. Saya lebih khawatir jika nanti saya mengenalkan anda sebagai orang lain pada putri saya, dia akan merasa kecewa dan saya khawatir akan merusak psikologinya. Saya tidak ingin dia bersedih. Tolong bantu saya Delima, pikirkanlah dahulu, mungkin saya sedikit memaksa tapi saya tidak punya cara lain lagi.” Jelas Harvan.


Delima diam dan terlihat berfikir, lama sekali ia terdian, kemudian,


“Baiklah tuan, akan saya coba mudah-mudahan saya bisa. Hanya saja saya harus mempelajari dulu gestur tubuh istri anda dan bagaimana cara beliau berkomunikasi juga apa pun yang berhubungan dengan istri anda, agar penampilan saya begitu meyakinkan putri anda.”


“Baiklah.” Kata Harvan, kemudian ia memperlihatkan segala sesuatu tentang istrinya dari data-data sampai video-video istrinya.


“Semua ini, silahkan anda pelajari dulu. Setelah anda selesai mempelajarinya baru saya akan pertemukan ada dengan putri saya dan memulai pekerjaan anda sebagai pembimbing putri saya.”


“Baiklah tuan, tuan kirimkan saja semua data tentang Istri anda pada email saya, dan saya akan mempelajarinya.”


“Terima kasih Delima, saya akan membayarmu dengan bayaran yang pantas, apa pun yang kamu butuhkan segera akan saya berikan.”


“Tenang saja tuan, jangan pikirkan itu, yang terpenting saya dapat membantu anda beserta putri anda dan saya dapat pekerjaan. Saya akan menjaga profesionalisme saya. Saya harap tuan bisa percaya pada saya.”


Ditengah perbincangan mereka, tiba-tiba Jodi masuk.


“Eh anda sudah datang rupanya nona….” Sapa Jodi.


“Panggil saya Delima Tuan.” Sambung Delima.


“Oh iya….Delima hehe.. bagaimana? Anda siap bekerja sama dengan kami?.” Tanya Jodi.


“Saya akan berusaha tuan, langkah pertama mungkin saya akan mempelajari dulu semua tentang Istri tuan anda.” Jelas Delima.


“Ya itu memang penting. Jangankan anda yang hanya mirip dengan istri tuan saya. Mereka yang kembar pun belum tentu punya perilaku yang sama, iya kan?.” Kata Jodi.


“Betul tuan. Jadi saya harus benar-benar mempelajari semua ini.” Kata Delima.


“Saya percaya kamu pasti bisa Delima, karena istri saya orangnya tidak neko-neko. Dia wanita yang sangat sederhana dan patuh.” Jelas Harvan.


“Oh begitu ya tuan? Pantas tuan sangat mencintainya, sangat jauh berbeda sekali dengan saya, saya orang yang keras kepala dan tidak mau di atur hehe. Tapi karena ini sekarang jadi pekerjaan saya, sepertinya saya harus menunjukan profesionalisme saya.” Kata Delima.


“Baiklah delima, selamat mempelajari ilmu baru ini hehe.” Ujar Jodi.


Kemudian mereka bersalaman tanda mereka sepakat dalam perjanjian kerja sama mereka itu.


❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️

__ADS_1


__ADS_2