
Malam itu udara begitu dingin menusuk tulang. Angin dari laut masuk melalui celah kayu pondok emak. Terasa dingin kala tubuh anak manusia merasakan hembusannya. Penghuni pondok emak tengah tertidur pulas dalam buaian mimpinya.
“Sayang, anak kita terlihat bahagia sekali berada disini.” Ucapan mesra sang Suami yang sesekali mengecup kepala sang Istri yang tengah merasakan kehangatan tubuh suaminya itu.
“Iya, dia terlihat menyukai tempat ini sayang.”
“Aku merasakan dia sangat Merindukanmu.”
“Ya aku pun begitu. Dia semakin tumbuh besar dan semakin cantik.”
“Tentu saja karena ia mewarisi kecantikan darimu sayang.”
“Sayang, terima kasih kau telah menjaganya dengan baik. Aku bahagia melihatnya. Aku tahu kau dan putri kita sangat ingin sekali ada hadirku ditengah-tengah kalian, untuk menghidupkan sang waktu bersama-sama. Aku tahu perasaanmu sedih kala kalian merasakan kepincangan dalam keutuhan keluarga. Namun kita tak bisa berbuat banyak sayang.. aku rasa kehadiranku di setiap malammu bisa mengobati kesepianmu. Biarkanlah setiap malam, aku memenuhi hasratmu dan memuaskanmu. Aku hanya ingin kau tidak berlarut-larut dalam kesedihanmu. Peluklah aku sayang, raup dan curahkanlah segala keinginanmu malam ini.”
Sang suami tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ia rasakan kini. Didekapnya tubuh indah itu dengan erat. Disingkapkannya segala penghalang yang menutupi tubuh indah itu hingga polos menggoda mata. Kecupan mesra di area-area sensitif ia lampiaskan dengan penuh gairah. Tak ingin berhenti dan tak ingin menjadi momen yang sia-sia. Ia tenggelamkan penyatuan itu dengan iringan nafas dan suara-suara yang menggoda. Hingga lepas buliran hangat menjadi titik puncak menyudahi gairah.
Ia buka matanya dengan tatapan yang masih sayu, setengah sadar masih merasakan kenikmatan itu. Terperanjat ketika merasakan sesuatu yang basah pada celananya. Lalu ia beranjak membersihkan diri. Waktu masih tengah malam kala ia terjaga, kembali ke kamar untuk melihat sang buah hati, namun ia terkejut karena sang buah hati tidak ada ditempat. Lalu ia bergegas panik mengetuk pintu kamar sebelah.
Tok tok tok
“Jod, Jod, buka pintunya! Jodi cepat bangun!.” Ujarnya panik.
Namun orang yang di panggil tak juga menyahut, dari kamar sebelah terlihat Emak menghampiri Harvan yang tengah panik mengetuk pintu asistennya.
“Ada apa Nak Harvan?.” Tanya Emak mendekat.
“Harin hilang Nek!.” Serunya panik.
Lalu Jodi membuka pintu kamarnya sembari menggaruk kepalanya.
“Ada apa Har?” Tanya Jodi setengah sadar.
“Harin hilang Jod, dia gak ada di kamarnya.” Paniknya kembali.
“Apa! Hilang gimana.” Jodi yang mulai tersadar lalu ia mencari sekeliling.
“Hihihi… putrimu tidak kemana-mana, dia tidak hilang!.” Pekik Emak.
(Yaelah, malah ketawa kunti sih Emak, orang lagi panik juga ah.) Bathin Jodi.
“Tidak hilang gimana Mak? Jelas-jelas tidak ada dikamarnya!.” Ujar Jodi.
“Maksud Emak Harin tidak kemana-mana gimana? Lalu ia sekarang dimana mak?!.” Panik Harvan.
“Ssssstt.. coba dengar baik-baik.” Emak meletakan telunjuk pada mulutnya. Sejurus Jodi dan Harvan terdiam, samar-samar mereka mendengar gelak tawa Harin seperti dari kejauhan.
__ADS_1
“Oh itu suara putriku Mak.” Air muka Harvan berubah bahagia.
“Dimana dia Mak?.” Tanya Jodi.
“Dia sedang bermain sama Ihot!.” Kata Emak pelan, dengan santai Emak mendudukkan badannya di ruang tengah.
“Apa!!.” Teriak Jodi dan Harvan terhenyak, karena teringat bahwa Ihot adalah siluman macan putih yang Emak anggap anaknya.
“Duduklah disini, tunggu mereka kembali. Jangan ganggu mereka, putrimu akan baik-baik saja, ia sedang bermain-main diluar sana.” Jelas Emak santai.
“Tapi kan ini tengah malam Mak, udara diluar cukup dingin.” Harvan gusar.
“Iya Mak, nanti Harin masuk angin, ia tak terbiasa diluar pada malam hari.” Jodi mendekat pada Emak lalu duduk dengan sila di sisi Emak.
Harvan terlihat sedikit gugup, ia berjalan kedepan pintu kemudian berbalik lagi mendekati Emak.
“Tenang saja, Harin tidak akan apa-apa, sebentar juga ia kembali.” Jawab santai Emak.
“Duduklah disini Nak Harvan.” Ajak Emak, kemudian Harvan duduk bersama Emak, sesekali ia melihat kearah pintu depan mengkhawatirkan sang anak yang suaranya sayup-sayup terdengar seperti sedang berbicara dengan seseorang.
“Ajaklah putrimu ke sini setiap hari libur nak Harvan, Emak akan menurunkan Ilmu yang pernah di ajarkan pada mendiang ibunya. Ia harus memiliki ilmu bela diri karena di masa depan ia akan mengalami banyak tantangan.”
Berdebar hati sang Ayah kala Emak berkata demikian. Lalu,
“Emak memiliki satu senjata lagi yang belum emak turunkan pada siapun, Emak rasa senjata itu berjodoh dengan putrimu.”
“Senjata apa itu mak?.” Jodi penasaran.
“PANAH ANGIN SAMUDERA”
“Baik Mak, setiap hari Sabtu dan minggu, akan saya bawa dia kesini untuk belajar ilmu bela diri.” Kata Harvan.
“Memang banyak yang bisa mengajarkan ilmu bela diri, dimanapun bisa kalian dapatkan termasuk di Ibukota, tapi ada satu hal agar ilmu bela diri itu terasa manfaatnya, mana kala kita mampu menyatukan ilmu bela diri itu dengan jiwa kita. Jadi bukan hanya sekedar alat untuk bertarung saja, tetapi sebagai pengendali diri.”
Harvan dan Jodi dengan khidmat mendengarkan apa yang emak sampaikan. Lalu tiba-tiba, terdengar pintu dibuka dari luar. Masuklah putri kecil Harin. Bergegas Harvan meraihnya dan memeluknya.
“Sayang, kau dari mana? Ayah khawatir.”
“Aku tadi bermain dengan kucing putih yang sangat besar ayah.”
Mendengar anaknya mengatakan itu, ia sedikit merinding, terutama Jodi.
“Hihi.. kau senang bermain sama kucing besar itu sayang?.” Tanya Emak pada Harin.
__ADS_1
“Tentu saja Mak, dia sangat Menyayangiku, dia menyuruh aku untuk menungganginya dan aku naik di tubuhnya, ia membawaku jalan-jalan dipinggir pantai.”
Semakin merinding Jodi dan Harvan mendengar penuturan anaknya.
“Emak apakah kucing itu boleh aku bawa pulang?.” Pinta Harin pada emak.
“WHAT!!” Mata Jodi terbelalak. “Oh tidak.. tidak.. Harin sayang, tempat dia bukan dirumah kita.” Bergidik Jodi.
“Tapi aku ingin membawanya pulang om, aku sayang padanya.” Rengek Harin.
“Sayang, kalau kamu mau kucing, nanti ayah belikan kucing kecil ya sayang?.” Usaha Harvan untuk menghentikan rengek sang anak.
“Jangan khawatir sayang, kau tidak perlu membawanya ke rumahmu, karena sesekali dia akan menjumpaimu disana.” Jelas emak.
“Benar kah? Dia akan datang menemuiku?.” Riang gadis kecil itu.
“Tentu saja, karena dia sayang padamu nak.” Jelas Emak.
Harvan dan Jodi saling pandang.
“Sayang, tadi apa saja yang kau bicarakan dengan nya? Ayah dengar kalian tertawa-tawa saat bersama.” Harvan penasaran menunggu jawaban sang anak.
“Dia lucu loh ayah, dia bilang kapan-kapan akan mengantarkan aku ke sekolah.” Riang Harin.
“Apa?!.”Jodi tersentak, matanya terbelalak. “Masa ke sekolah naik macan! Emangnya kita hidup di jaman primitif. Bisa ditilang nanti sama polisi nak, kecuali kalau kau pakai helem.” Sambung Jodi.
“Oya?! Eh kamu tidak takut sayang sama kucing besar itu?.” Tanya sang ayah.
“Kenapa harus takut ayah, dia kucing yang gemes.” Dengan mimik lucu putri itu berceloteh.
“Gila! Macan dibilang gemes, hadeuh Harin kamu ada-ada saja.” Jodi tak habis pikir menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah. Sekarang kita kembali tidur yuk nak, malam sudah sangat larut, besok kita kembali pulang, dan nanti setiap hari Sabtu dan minggu kita kesini lagi dan kamu bisa bermain dengan kucing besar lagi.” Bujuk sang ayah.
“Iya sayang, sekarang kembalilah tidur.” Kata Emak.
“Baiklah, ayo ayah.” Kata sang anak melingkarkan kedua tangannya pada leher sang ayah. Lalu beranjak pergi ke kamarnya.
Kemudian Jodi pun kembali kedalam kamarnya. Sementara Emak perlahan beranjak pergi ke pintu luar dan berkata:
“Sudah Ihot! Pulang sana!” Lalu kembali kedalam dan masuk ke kamarnya.
Melihat tingkah Emak Jodi bergidik lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia membayangkan seandainya seekor macan berada dihadapannya dan siap menerkam.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
__ADS_1