
SATU TAHUN KEMUDIAN
Siang itu cuaca begitu cerah. Suasana di bandara ramai dengan hiruk pikuk orang-orang yang akan melakukan penerbangan. Pun yang akan melanjutkan perjalanan pulangnya.
Terlihat Jodi tengah berdiri di pintu keluar seperti sedang menunggu kepulangan seseorang.
Sebentar ia menoleh ke pintu terminal, sebentar ia mengalihkan pandangan ke arah lain.
Sejurus mata memandang dari kejauhan sepertinya ia sudah menemukan orang yang ia cari. Wajahnya tersenyum sesekali dan melanbaikan tangan diatas kepalanya.
Dari kejauhan ia melihat sosok Harvan tengah berjalan kearahnya dengan menggandeng pundak wanita cantik. Wanita itu mengalengkan tangan kanannya pada pinggang Harvan. Sumringah senyum bahagia terlihat dari keduanya. Semakin mendekat jarak antara Jodi dan Harvan yang tak lepas menggandeng wanita itu.
“Akhirnya elo sampai juga Har.” Kata Jodi seraya menyalami Harvan dan menyalami wanita itu.
“Beneran ini Intan?” Tanya Jodi saat menyalami wanita itu. Seolah tak percaya,
“Ya terus siapa lagi kalau bukan aku! Sekarang gak takut lagi kan lihat aku?.” Tanya wanita itu, seraya senyum di ikuti oleh Jodi dan Harvan.
Ya saat ini Intan telah bertransformasi. Setelah melakukan bedah plastik pada wajah dan lehernya. Penampilannya sekarang jauh berbeda dari satu tahun sebelumnya.
Wajah yang putih bersih mulus glowing di tambah badannya yang lansing seperti artis Korea. Menjadi nilai plus akan penampilannya yang sekarang. Matanya pun berbinar ria dengan bola mata warna coklat, yang membuat wajahnya seperti boneka.
Sekarang Intan terlihat begitu ceria, energik dan penuh semangat berapi-api. Kepulangannya dari Korea bersama Harvan disambut oleh Jodi di bandara.
“Bikin elo nunggu lama ya Jod?.” Tanya Harvan.
“Yah lumayanlah.” Jawab Jodi.
“Sorry tadi delay.” Jelas Harvan.
“Heh Intan! Gimana perasaan kamu sekarang?.” Tanya Jodi.
“Alhamdulillah semangat.” Jawab Intan berbinar. Lalu berjalan bersama-sama Kearah parkiran mobil.
Dari kejauhan terlihat seorang ibu yang berjalan bersama anak perempuannya, anak itu kira-kira berusia 5 tahun. Ibu itu terlalu sibuk dengan ponselnya, sehingga tidak memperhatikan anaknya. Anak itu berlari menjauh dari ibunya hendak mengejar sesuatu. Didepan anak itu nampak sebuah Bis Pariwisata melaju. Kira-kira jarak anak dan bis itu 20 meter.
Dari sisi lain seorang lelaki berteriak “ Awas! itu anak ketabrak!!” Teriak lelaki itu memekik.
Dengan gerakan refleksnya Intan menoleh kearah bis dan anak perempuan itu. Lalu dengan cepat langsung berlari secepat kilat.
WUUSS
Intan berlari secepat kilat bak hembusan angin, ia melayang dengan jarak 2 meter diatas permukaan tanah dan semakin tinggi bagai berlari diudara menuju anak perempuan itu yang semakin mendekat dengan bis yang melaju kearahnya.
Dengan sigap tubuh Intan mendarat ditanah tepat didepan anak itu. Secepat tangan pesulap meraih anak itu dan lagi-lagi bergerak bak hembusan angin menjauh dari bis tadi ketempat aman.
Sontak mata Harvan, Jodi dan orang-orang sekitar yang menyaksikan dibuat tidak percaya dengan kejadian yang baru dilihatnya. Mereka terkesima dan terpaku, terdiam dengan mulut menganga seolah tak percaya bagai menyaksikan adegan di film laga.
Semua orang yang berada disana seperti terhipnotis dan terkagum dengan gerakan Intan yang seperti menggunakan ilmu Saifi anginnya.
Bergegas Intan memangku anak itu kearah seorang ibu yang menangis kejer.
“Ini Bu anaknya, Alhamdulilah selamat. lain kali Ibu jangan lengah ya!.” Ujar Intan seraya melepaskan anak itu dari gendongannya dan menyerahkan pada Ibu tersebut.
“Oh, Ya Allah terima kasih, huhu..sudah menyelamatkan anakku huhu..Terimakasih ya Nona.” Kata Ibu itu seraya memeluk anaknya dan menciuminya.
Intan pun berlalu menjauh dari Ibu itu yang kemudian dihampiri oleh Harvan dan Jodi yang berlari kearahnya, setengah tergopoh lelah berlari.
Jodi dan Harvan mendekati Intan, mereka berdua memandangi Intan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
“Kamu ngapain tadi? Bikin aku panik saja.” Ujar Harvan dengan deru nafas memacu.
__ADS_1
“Cewek elo gila! Bener-bener bikin sport jantung.. uuh.” Sambung Jodi dengan tubuh membungkuk yang kedua tangannya memegang lutut dengan nafas tersengal-sengal.
Intan cuek berlalu dari mereka berdua, berjalan ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat itu. Disusul oleh Harvan dan Jodi.
Didalam mobil hening, ketiganya terdiam. Jodi duduk di jok belakang kemudi, sementara Intan dan Harvan di jok belakang.
“Tan, beneran gue masih syok, elo dapat ilmu kaya tadi dari mana?.” Tanya Jodi.
“Belajar dari si Emak?.” Jawab Intan singkat.
“Siapa si Emak.?” Tanya Harvan.
“Ya itu.. nenek yang di Palabuanratu itu.. sayang.” Jelas Intan pada Harvan.
“Oh si nenek. Yang aku mintain ijin buat bawa kamu itu?.” Tanya Harvan lagi.
“Iya Nenek.. selama aku disana, Nenek kan yang merawatku sampai sembuh, setelah sembuh Nenek mengajariku banyak hal. Dari ilmu-ilmu bela diri sampe ilmu-ilmu kebathinan.” Jelas Intan.
“Kalau elo aja bisa terbang secepat angin, apalagi Nenek elo itu kali ya?.” Tanya Jodi kagum.
“Iya dong pastinya.. si Emak kan dulu pendekar wanita.” Ujar Intan bangga.
“Anjir pendekar wanita ha.. kebayang Nenek elo dulu,, gayanya kaya pendekar wanita di film-film silat haha.” Kata Jodi tertawa.
“Emang begitu persis.” Kata Intan meyakinkan.
“Tapi jujur Tan, bener gue kagum, di jaman seperti ini ternyata masih ada ya ilmu begitu. Gue nih sama laki elo belajar Kung-fu waktu di Amerika belum bisa kayak elo tadi.” Kata Jodi.
“Itu karena kita gak selesai aja sampai akhir belajarnya Jod.” Jelas Harvan.
“Iya.” Sambung Intan. “Semua ilmu bela diri pada akhirnya akan mengarah pada ilmu kebathinan a Jodi.” Jelas Intan kembali.
“Oh gitu ya.. yaelah.. tahu gitu ngapain gue ngamanin kalian berdua jauh-jauh keluar Negeri! Kalau cewek elo bisa terbang, mending dulu suruh duel aja sama si bondon.. judulnya pertarungan pendekar wanita dengan bondon sang mantan haha.” Kelakar Jodi.
“Salahnya kalian nutupin semua itu dari aku, coba kalau dulu kalian jujur sama aku, bahwa aku lagi di incar sama orang, pasti kita bareng-bareng nyusun strategi.” Kata Intan.
“Ya kan kita gak tahu kalau elo sebenarnya pendekar wanita titisan Nyi Roro Kidul haha.” Kelakar Jodi kembali.
“Sialan luh!.” Umpat Harvan pada Jodi.
“Bukan begitu sayang.. kejadian tahun lalu itu kan begitu mendadak, jadi kita harus gercep, makanya gak bilang sama kamu. Takutnya kamu syok dan itu bisa mempengaruhi proses operasi kamu.” Jelas Harvan pada Intan dengan tangan yang memegang jemari gadis itu.
“Pantesan saja aku lihat kamu seperti gugup gitu.”
Ujar Intan pada Harvan.
Mobil mereka yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang melewati tengah kota yang ramai.
“Jod gue sama Intan beum makan siang, tadi gak sempet, nanti kita berhentu dulu ya direstoran.” Kata Harvan.
“Oke boss! Kebetulan gue juga belum makan.” Jawab jodi.
Akhirnya mereka bertiga berenti di salah satu mall yang terdapat restoran didalam nya. Mereka pun makan siang direstoran itu. Dalam menikmati makan siangnya mereka berbincang.
“Oya Har, rencana elo sama Intan gimana?.” Tanya Jodi.
“Rencana apa?.” Tanya Harvan, dengan menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Yaelah.. pakai nanya rencana apaan? Rencana nyimpen tongkat komando elo tuh pada tempatnya! Kapan?.” Tegas Jodi. Intan bingung mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan obrolan mereka.
“Tongkat komando apaan sih sayang?.” Tanya Intan pada Harvan penuh tanya.
__ADS_1
“Ah jangan dengerin orang gila dia.” Jawab Harvan.
“Itu loh Tan, kapan kalian mau nikahnya? Udah nentuin waktunya belum?.” Jelas Jodi pada Intan.
“Oh itu, bilang dong yang jelas, a jodi ngomongnya bawa-bawa tongkat komando segala kan aku gak ngerti.” Kata Intan.
“Hehe.. itu bahasa kita Tan, orang lain gak akan ngerti haha.” Kata jodi terbahak.
“Dian Luh!.” Ujar Harvan dengan penuh penekanan.
“Kita udah ngobrol berdua a jodi, pengennya sih lebih cepat lebih baik, a Jodi bantu atur semua ya?, tapi aku gak mau ada pesta rame-rame gitu.” Kata Intan.
“Siap! Pasti dibantu. Loh knapa gak mau rame-rame? Bukan kah ini momen sakral yang hanya satu kali dalam hidup?.” Tanya Jodi heran.
“Intan maunya yang penting kita halal dulu Jod, masalah nanti resepsi belakangan.. elo sendiri kan tau, musuh kita masih mengintai, mereka kabur yang dihawatirkan akan bikin rusuh dan muncul tiba-tiba mengacaukan acara pesta kita bagaimana?.” Jelas Harvan.
“Iya a Jodi, kita akad dulu aja yang penting selamat, masalah resepsi nanti kita atur lagi kalau keadaannya sudah aman.” Ujar Intan.
“Ya udah, kalau maunya gitu. Aku siapin nanti acara Akadnya.” Kata Jodi.
Selagi mereka berbincang, tiba-tiba saja Intan dikejutkan dengan pandangannya yang mengarak ke eskalator, terlihat seorang copet tengah merogoh dompet ibu tua yang hendak naik kelantai atas.
Saat Intan hendak berlari mendekat kearah yang dituju, Harvan menarik tangannya.
“Sayang mau kemana?.” Tanya Harvan.
“Sebentar sayang, aku mau kesana, kasihan Ibu itu dicopet.” Kata Intan seraya menunjuk ke arah eskalator.
“Udah lah itu bukan urusan kita sayang, bahaya loh copet suka menganiaya yang ngegertakin mereka, mereka berkomplot.” Seru Harvan. Tapi Intan tetep kekeuh pergi, lari melesat bak hembusan angin.
“Udah biarin aja, begitu resiko punya cewek pendekar mah.” Kata Jodi.
“Gila kali luh ya! Bagaimana bisa gue biarkan cewek gue menghadapi copet-copet itu!.” Sentak Harvan.
“Gue yakin, pendekar wanita elo itu bisa ngelumpuhin para copet itu.” Jawab Jodi.
Sementara itu Intan berlari sigap dengan lincahnya kearah copet yang berada di eskalator dengan teriakan,
“Awas Bu! Copet!.” Pekik Intan.
Copet itu menyadari ada yang menghalangi aksinya. Dengan Cepat memberi isyarat kepada temannya yang berada dibawah. Temannya yang dibawah lantas cepat-cepat menghadang Intan dengan menarik tangan Intan. Dengan gerakan reflek Intan menangkis, memutar 180 derajat tubuhnya sedikit membungkuk dengan sigap melemparkan jurus tendangan Sabit nya. Seketika lawannya ambruk. Kembali Intan mengejar copet yang membawa dompet Ibu tadi. Ditengah-tengah, ia dihadang oleh teman copet yang lain, copet itu menendang kaki Intan, dengan sigap Intan mengangkat kedua kakinya. Tubuhnya mengangkat setinggi satu meter. Saat melambung dengar cepat memutar tubuhnya dan memberikan serangan tepat di wajah orang itu dengan jurus pukulan Tebah. Dan lawan pun meraung. Kembali Intan mengejar copet yang membawa dompet, dengan jurus Saifi Anginnya Intan mengejar dengan cepat dan menendang punggung lawan dengan jurus tendangan Jejag. Dan si copet pun tersungkur terpental jauh. Intan mengambil dompet itu dan berjalan kearah si Ibu, kemudian menyerahkan dompet itu.
“ Ini Bu dompetnya, lain kali Ibu hati-hati ya.” Kata Intan seraya memberikan dompet itu.
“Iya Nona terima kasih.” Jawab Ibu itu dengan mulu menganga memandang takjub Intan. Lalu Intan pun berlalu menuju kearah Harvan dan Jodi yang berjalan mendekatinya.
Dengan sigap Harvan meraih tangan Intan, ditariknya lalu bergegas menyeret Intan keluar mall tersebut.
“Ayo pulang!” Seru Harvan, dengan membawa Intan memasuki mobilnya. Disusul Jodi dari belakang.
Didalam mobil,
“Bener kan kata gue? Pendekar wanita elo mampu mematahkan lawan?.” Kata Jodi meyakinkan Harvan.
“Iya tapi kan gue khawatir Jod, bagaimana coba kalau mereka membawa senjata tajam? Terus Intan lagi apes?.” Seru Harvan kesal.
“Maaf sayang, aku refleks lihat kejadian tadi, makanya nanti kalau kita udah halal, kita udah tidur sekamar, terus kalau kamu mau bangunin aku, jangan tangan kosong ya? Harus pake media, nanti deh aku siapin dikamar kita, sapu lidi hehe...” Jelas Intan.
“Hahah repot juga ternyata ya punya istri macam pendekar haha..” kelakar Jodi.
“Sialan luh.” Jawab Harvan kesal.
__ADS_1
Dam mobil pun melaju memecah keramaian kota menuju kediaman mereka.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝