Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Dijemput paksa


__ADS_3

Harvan dan Jodi telah sampai di rumah. Mereka tengah mempersiapkan diri untuk menyambut Selvy dan Reyhan yang kemungkinan besar akan datang ke rumah mereka.


Jodi dan Harvan tidak memberitahu Revy dan Ronald karena khawatir mereka akan syok dan tegang. Jadi mereka merahasiakan kedatangan Selvy dan Reyhan, toh diberi tahu atau tidak, nanti juga mereka akan tahu sendiri.


Jodi sudah mempersiapkan segalanya. Ia telah memberi tahu semua team yang berjaga-jaga agar selalu siaga untuk menghadapi kemungkinan yang tidak di harapkan.


Saat itu Harvan, Jodi dan Ronald tengah berbincang di ruang tengah. Sementara anak-anak berada di dalam kamar mereka.


Jodi dan Harvan berlaku seperti biasa saja, tak sedikitpun memperlihatkan ketegangan yang sedang mereka rasakan.


Ditengah-tengah perbincangan mereka, tiba-tiba seorang pelayan datang memberi tahu kalau di luar ada tamu yang hendak bertemu dengan mereka.


Sudah dapat di pastikan pasti itu adalah Selvy dan Reyhan.


Harvan memberitahu pada pelayan itu agar satpam yang berjaga di gerbang rumahnya mempersilahkan tamunya masuk. Lalu pelayan itu pergi menuju satpam penjaga gerbang.


“Siapa yang datang Har?.” Tanya Ronald.


“Saya tidak punya janji dengan siapa pun opa, tapi kita lihat saja siapa tamu kita itu.” Jelas Harvan. Sementara Jodi matanya fokus pada pintu masuk, dimana dari kejauhan ia sudah melihat dua orang mendatangi mereka.


Ronald sedikit terkejut saat melihat siapa yang datang.


“Kau!…. Mau apa kau kemari?.” Tanya Ronald pada Selvy dan Reyhan.


“Tentu saja aku akan memaksa kalian pulang ke rumahku.” Jawab Selvy sembari tangannya berkacak pinggang.


“Ya kami akan menjemput mu dan Revy. Dimana Revy?.” Tanya Reyhan seraya melipatkan kedua tangan di dadanya.


“Kenapa kalian terburu-buru, duduklah dahulu.” Kata Harvan santai dengan duduk bertumpang kaki.


“Gak perlu basa basi! Cepat panggil Revy..!.” Kata Selvy dengan nada mulai meninggi.

__ADS_1


“Kalian benar-benar tidak sopan! Datang ke rumah orang tanpa permisi dan menyombongkan diri. Apakah kalian tidak malu?!.” Geram Ronald.


“Papa tak perlu banyak bicara, ayo pulang ke tempatku, tempat papa bukan disini.” Kata Selvy.


“Aku tidak mau ikut denganmu Selvy, apalagi bersama dengan dia. Biarkan kami tinggal disini, disini adalah tempat yang aman bagi kami.” Kata Ronald.


“Dengan baik-baik papa. Anakmu itu aku, bukan dia! Jadi papa harus ikut denganku!.” Paksa Selvy.


“Kamu tidak bisa memaksa kami Selvy, papa ini sudah tua jadi papa berhak menentukan pilihan papa sendiri. Dan pilihan papa adalah tinggal disini bersama orang-orang yang mengerti papa.”


“Alah… omong kosong dengan semua itu! Ingat papa, jangan sampai aku melakukan sesuatu…..”


“Sesuatu apa hah! Sesuatu yang akan kamu lakukan padaku, seperti apa yang kamu lakukan pada mamamu, hah?!, kamu betul-betul telah berubah Selvy, kami mendidikmu dari kecil dengan baik agar kamu menjadi orang yang baik, bukan menjadi manusia yang tidak ku kenal seperti sekarang ini. Teganya kamu telah membuat mamamu terkena serangan jantung. Teganya kamu menghianati kami yang nyata-nyata telah membesarkan kamu, tapi apa yang kami dapat?, dengan mudahnya kamu melakukan kejahatan, terlebih ingin menjadikan putrimu sendiri sebagai alat untuk kejahatanmu. Dimana hati nuranimu Selvy?! Dimana?!… kembali lah ke jalan yang benar Selvy…” jelas sang ayah.


“Papa!! Aku datang kesini bukan untuk mendengarkan ceramahmu. Persetan dengan apa yang kau ucapkan. Aku datang kesini untuk membawa pulang Revy. Oke, kalau papa tetap ingin disini silahkan saja, aku tidak butuh papa, tapi Revy harus pulang bersamaku.”


“Dia tidak mau ikut denganmu Selvy, makanya dia kabur dari tempatmu. Dia tidak ingin tinggal bersama dengan orang-orang seperti kalian!.” Kata sang ayah.


Sementara Harvan dan Jodi hanya terdiam menyaksikan perdebatan antara ayah dan anak durhaka itu.


Mendengar kegaduhan yang terjadi, Revy keluar dari kamarnya tanpa Harin. Karena Revy sudah curiga bahwa yang ia dengan adalah suara ibunya. Jadi ia menyuruh Harin untuk diam saja di dalam kamar. Benar saja, saat ia keluar kamar ia melihat penampakan sang ibu dan lelaki yang ia benci itu. bergegas Revy berlari ke arah kakeknya.


“Aku tidak mau ikut denganmu, kau bukan ibuku, kau jahat! Kau telah membunuh oma! Aku tidak mau tinggal denganmu apa lagi ada lelaki tu. Aku menci kalian.” Teriak Revy seraya memeluk sang kakek.


“Heh! Anak durhaka! Tahu apa kamu tentang aku! Jangan macam-macam kamu! Aku yang telah melahirkanmu dengan mengorbankan nyawaku, jadi kau harus patuh padaku! Dan kau harus membalas jasa padaku. Seandainya tidak ada aku! Kau tidak akan pernah terlahir ke dunia ini.!” Teriak Selvy.


“Aku tidak minta kau lahirkan! Dan aku pun tidak sudi mempunyai ibu yang jahat sepertimu! Sekarang pergilah. Biarkan aku tinggal bersama opa di rumah ayahku.” Tangis Revy pecah.


“Heh! Bodoh! Dia bukan ayahmu!.” Teriak Selvy.


“Selvy! Kau dengar sendiri kan? Revy pun tak sudi tinggal denganmu, apalagi aku. Kecuali kau berubah kembali ke jalan yang benar.” Kata Ronald.

__ADS_1


Mendengar ucapan ayahnya dan putrinya, Selvy semakin geram. Kemudian,


“Heh Harvan! Apa yang telah kau lakukan sehingga mereka tidak mau ikut denganku hah!! Rupanya selama mereka tinggal disini kau telah meracuni pikiran mereka!.” Geram Selvy.


“Kenapa kau jadi menyalahkan tuan kami?.” Ujar Jodi.


“Heh! Siapa luh?!… elo gak usah ikut campur, elo cuma asisten bodoh disini tahu!.” Kata Reyhan.


“Elo sendiri siapa?! Berani ikut campur urusan orang!.” Jodi menimpali.


Pada saat Selvy hendak menghampiri sang ayah dan akan merebut paksa Revy, tiba-tiba dari pintu masuk, datang sepuluh orang penjaga menghadang mereka.


Lima orang memegangi Selvy yang terus meronta, sementara lima orang lagi memegangi Reyhan yang terus mengamuk hendak mengobrak abrik rumah Harvan.


Keduanya di seret keluar oleh para penjaga.


“Dengan kau baik-baik Harvan! Aku akan melaporkan pada polisi apa yang telah kau lakukan ini…. Lepaskan aku sialan!.” Teriak Selvy sembari berusaha melepaskan pegangan para penjaga.


“Anjing luh Harvan!! Sampai mati gue akan kejar elo! Gue bunuh luh setan!.” Teriak Reyhan yang terus di seret oleh para penjaga yang berbadan kekar itu.


Sementara Harvan hanya memperhatikan mereka dengan berongkang kaki saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Para penjaga terus menyeret tubuh Selvy dan Reyhan hingga mereka memasuki mobil mereka.


Dengan amarah yang membuncah, Reyhan memacu kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata.


“Brengsek kau Harvan! Tunggu saja pembalasan ku!.” Umpat Reyhan.


Sementara Selvy terlihat berteriak histeris dengan penuh amarah karena rencananya menarik paksa Revy gagal total.


“Aaah… siaaal…. Akan ku bunuh kalian semuaaaa.. jangan merasa menang dulu Harvan… aku akan menuntut balas! Tunggu dan lihatlah nanti… kau akan hancur berkeping-keping!.” Umpat Selvy.

__ADS_1


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


__ADS_2