Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Duplikat Intan


__ADS_3

“Ayah… ada apa ribut-ribut?.” Harin memghampiri sang ayah.


“Tidak ada apa-apa sayang.” Jawab sang ayah meraih putri kecilnya dan membawa ke dalam pangkuannya.


“Lalu kenapa kak Revy menangis?.” Tanya Harin kembali.


“Kak Revy terlalu sayang pada kita sehingga ia tidak mau jauh dari kita sayang.”


“Siapa tadi yang berteriak? Suaranya keras sekali.” Tanya putri kecil itu lagi.


“Tadi ada singa betina kabur dari tempat sirkus dan masuk ke rumah kita.” Jodi menimpali.


“Benar kah? Kemana singa itu sekarang?.” Tanya polosnya.


“Sudah di bawa sama pengawal kembali ke kebun binatang.” Kata Jodi.


“Kenapa dibawa ke kebun binatang om Ijong?.”


“Karena tempat dia ya di sana sayang.”


“Oya? kak Revy dan opa kemana ya?.” Mata Harin melihat sekitar mencari dua sosok yang ia cari itu.


“Mereka ada di taman sayang, kau mau kesana?.” Tanya sang ayah.


“Iya ayah, aku mau menemui kak Revy sama opa.”


“Pergi lah.” Sang ayah melepaskan pelukan sang anak dan membiarkannya lari ke area taman.


Sementara Harvan dan Jodi masih berada di ruang tengah.


“Kasihan Opa dan Revy ya Har? Pasti mereka sedih melihat Selvy seperti itu.” Kata Jodi.


“Iya Jod, pasti Opa sakit sekali melihat putri satu-satunya seperti itu. Padahal seharusnya ia menjadi harapan bagi keluarganya.” Ujar Harvan.


“Itu karena pergaulannya dengan Reyhan, mungkin jika dia tak kenal si Reyhan tidak akan seperti itu.” Timpal Jodi.


“Oya Jod, kira-kira rencana apa yang akan mereka lakukan selanjutnya ya?.”


“Entah lah, kita tunggu saja aksi mereka selanjutnya. Mereka jual, kita beli!.” Ujar Jodi.


“Feeling gue mereka akan membawa masalah ini ke meja hijau.” Selidik Harvan.


“Ya bagus! Itu kesempatan kita buat melawan mereka melalui jalur hukum.” Kata Jodi.


“Cuma gue gak tega sama Opa dan Revy seandainya kita memperkarakan Selvy ke meja hijau Jod.”


“Lah itu kan seandainya mereka duluan melakukan perang dengan kita melalui jalur hukum. Kita kan cuma menjawab rasa penasaran mereka. Orang mereka yang memulai kok.” Jelas Jodi.


“Iya sih. Tapi gue berharap mereka sadar dan bertaubat.” Kata Harvan.


“Oya Jod, gimana urusan guru pembimbing untuk Harin? Sekalian juga buat Revy. Katanya elo mau mengadakan audisi.” Tanya Harvan.


“Oh iya gue sampai lupa. Coba kita lihat apa sudah ada yang daftar. Tempo hari gue sudah sebar sih lewat internet.” Kata Jodi. Kemudian ia mengambil laptopnya, tak lama ia kembali dengan membawa laptop tersebut. Dan mulai menyalakannya.


Setelah ia membuka emailnya. Betapa terkejutnya kala melihat jumlah orang yang mendaftarkan diri untuk menjadi guru pembimbing hingga mencapai ribuan orang.


“Hahaha gila! Har, coba lihat sini.” Jodi memanggil Harvan untuk melihat layar monitor laptopnya.


“Apa-apaan ini?! Masa guru pembimbing kaya gini? Gila!!.” Ujar Harvan kala melihat beberapa pelamar dengan penampilan yang aneh.


“Coba elo lihat yang ini. Namanya dewinta usia 23 tahun janda anak satu. Pengalaman pernah menjadi guru TK. Selain mengajar ngaku pintar memijat juga, hahaha.. ini sih promo buat elo.” Kelakar Jodi.


“Gila!.” Kata Harvan seraya melengos pergi.


“Widih… lihat yang ini, haha… masa mau jadi guru pembimbing penampilan nya seksoy begini, udah gitu rambutnya buceri lagi, alias bule nge-cet sendiri haha. Ini sih niat ngelamar buat jadi pengasuh bapaknya haha.” Kelakar Jodi kembali.


“Gak bener luh! Emang gimana sih luh nyarinya? Kok yang ngelamar pada gini semua ah.”

__ADS_1


“Ya gue kan bilang disitu, di cari guru pembimbing untuk putri kecil Harvan Hartawan, seorang duda tampan, pengusaha muda, sukses dan bijaksana, haha.” Kelakar Jodi.


“Pantas saja yang ngelamar kayak begitu semua, kalau bahasanya kayak begitu, sama saja elo promosiin gue tahu! Gila memang luh!.” Harvan sedikit kesal dengan ulah konyol Jodi.


“Hahaha… maksud gue kan biar mereka pada semangat gitu Har, gue gak tahu bakalan kayak gini antusias mereka.”


“Ah gila emang luh.”


“Eh.. tapi tunggu Har, ini ada yang menarik nih. Coba elo lihat sini.” Jodi memanggil Harvan untuk kembali melihat pada layar monitor laptopnya.


“Ogah gue ah.. elo gak bener kasih info nya.”


“Eh gue serius! Sini elo lihat coba. Ini kayaknya cocok nih Har, gadis manis berjilbab putih, namanya Sawitri Utami. Usia 25 tahun. Pendidikan terakhir Sarjana Pendidikan. Masih lajang. Pengalaman kerja pernah menjadi honorer di SD negeri, daerah Asal Sukabumi. Wah kayaknya ini tetangganya Desi Ratnasari nih Har. Haha.” Jelas Jodi. Kemudian,


“Mana coba gue lihat?.” Harvan penasaran, lalu ia duduk di samping Jodi, kemudian ia mengamati foto gadis yang bernama Sawitri Utami itu.


“Coba elo lihat matanya. Seperti menyimpan misteri Jod.” Sambung Harvan.


“Ah elo aneh-aneh aja, misteri apaan sih!.” Kata Jodi yang kemudian mengamati foto gadis tersebut.


Dan benar saja Jodi pun merasakan hal yang sama.


“Bener juga Har, gue jadi penasaran nih sama ini orang. Gue coba pilih beberapa dulu ya Har? Entar kan kita pilih lagi mencari yang terbaik dari mereka.”


“Ya udah, dia lolos ke tahap berikutnya Jod.”


“Oke. Sawitri lolos.” Kata Jodi menandai, kemudian ia mencari kembali pendaftar yang lain. Kemudian matanya tertuju pada satu sosok lainnya.


“Yaelah ini emak-emak ngapain ikutan audisi haha.. nama ibu Juju usia 57 tahun pensiunan guru. Asal kota Bogor. Mau gak yang ini Har?.” Tanya Jodi seraya memperlihatkan profil orang tersebut.


“Kalau dilihat-lihat, basic nya guru dan sudah berpengalaman, boleh juga Jod, coba aja ambil dia.” Kata Harvan.


“Oke, kita ambil, selanjutnya….” Jodi memilah kembali pelamar lain, dan tiba-tiba!!!


“WHAT!!.” Jodi terhenyak saat melihat satu profil pelamar lain.


Dan Harvan pun mendapatkan reaksi yang sama. Sejenak mereka terdiam lalu saling pandang. Keduanya sama-sama terkejut melihat foto salah satu pelamar berikutnya.


Apa yang mereka lihat? Yang membuat mereka terkejut adalah mereka melihat foto seorang pelamar yang wajahnya mirip sekali dengan Intan.


Berkali-kali Harvan mengamati foto itu. Seakan tak percaya apa yang ia lihat pada layar monitor, dimana ia melihat sosok yang sangat mirip sekali dengan istrinya tengah berada dalam pandangannya. Dari sorot mata, hidung, bibir dan rambutnya sangat sangat identik dengan Intan.


Jodi terdiam merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat, begitu pun dengan Harvan.


Perlahan mereka mengarahkan pandangan mereka pada profil duplikat Intan tersebut. Dan sama-sama mereka mulai membaca profil wanita itu.


Nama : Mustika Mirah Delima


Usia : 24 Tahun


Pendidikan terakhir : S2 (Magister Sains Matemmatika)


Status : Lajang


Asal Kota/Daerah : -


Pengalaman Kerja : -


dst.


Hening… dan sunyi diantara mereka kala mereka terus membaca biodata seseorang yang terlihat mirip Intan itu.


“Har, gue kira yang ini lebih misterius dari yang sebelumnya.” Kata Jodi yang terus memperhatikan sosok yang ia lihat.


Harvan diam tak bergeming, ia terus saja memperhatikan profil seseorang yang mirip Ibu dari putrinya itu.


“Har, bagaimana menurut elo cewek ini? Kita loloskan?.” Tanya Jodi.

__ADS_1


Harvan terdiam… ia seperti memikirkan sesuatu. Kemudian,


“Jod, lupakan yang lain. Gue mau langsung ambil cewek ini. Sekarang juga elo hubungi dia, suruh besok datang ke kantor gue!.” Ujar Harvan yang terus memandangi sosok mirip istrinya itu.


“Oke, sekarang juga gue hubungi dia.” Kata Jodi yang langsung merogoh ponsel dari saku celananya. Namun panggilan teleponnya tak di angkat oleh seseorang itu,


“Gak diangkat Har, tapi nada nya tersambung.” Ujar Jodi.


“Terus elo hubungi dia sampai dia angkat teleponnya!.” Harvan serius dengan ucapannya. Kemudian Jodi pun mencoba menghubunginya kembali, namun tetap tidak ada jawaban.


“Belum juga ada jawaban Har, kita tunggu beberapa saat lagi deh mungkin dia lagi sibuk. Oya Har, ada yang aneh kalau kita lihat disini.” Jodi memperlihatkan profil seseorang itu.


“Pertama, dari namanya saja kita bisa lihat, sudah mengandung misteri. Kedua, ia tidak membubuhkan alamat dimana ia tinggal, kemudian dia gak mencantumkan pengalaman kerjanya. Dan banyak lagi keanehan-keanehan lainnya.” Sambung Jodi.


“Iya sih, tapi kalau masalah pengalaman kerja, mungkin saja dia tidak mencantumkan karena memang dia baru lulus S2 nya, bisa kita lihat dari usianya yang masih 24 tahun dan dia sudah lulus S2 berarti memang dia belum ada pengalaman kerja.” Jelas Harvan.


“Iya ya bisa juga begitu. Har, apa mungkin Intan punya saudara kembar?.” Selidik Jodi.


“Gue rasa sih enggak Jod, kita kenal dekat sama keluarga Intan dari dulu. Dan Intan terlahir tidak memiliki saudara kembar.” Terang Harvan.


“Tapi anehnya ini cewek sangat identik sekali sama bini elo Har, bener-bener udah seperti kembarannya.” Jodi yang tiada henti memperhatikan foto wanita itu.


“Kalau dilihat dari umur jauh lah Jod, cewek ini masih muda.”


“Ya bisa aja di manipulasi Har, mana kita tahu, ya kan?.”


“Tapi kita belum lihat secara langsung Jod, makanya gue pengen secepatnya kita lihat dia. Kalau bisa besok elo suruh dia menghadap gue. Terus saja elo hubungi dia.” Perintah Harvan.


“Siap Har.” Kemudian Jodi kembali menghubungi wanita itu. Dan akhirnya kali ini ia menerima panggilan Jodi.


Jodi dan Harvan terdiam saling pandang. Mereka tengah menanti suara di balik sambungan ponsel. Load speaker mode on,


“Halllo.” Suara dibalik ponsel.


DEG… Jodi dan Harvan terhenyak saat mendengar suara wanita itu. Dan anehnya suara perempuan itu pun mirip dengan suara Intan.


“Maaf, betul dengan saudari Mustika Mirah Delima?.” Sapa Jodi.


“Oh iya betul Tuan, maaf dengan siapa ya?.”


“Kami dari keluarga Harvan Hartawan yang tempo hari menyebar lowongan untuk pembimbing putri tuan kami. Kami melihat anda adalah salah satu orang yang mengirimkan lamaran pada kami. Karena itu kami menghubungi anda.”


“Oh iya betul sekali tuan, saya salah satu yang mengirim lamaran untuk menjadi guru pembimbing putri tuan Harvan.”


“Baiklah nona, bisa kah anda besok datang ke kantor kami?.”


“Oh baik tuan, saya akan memenuhi panggilan anda.”


“Kami tunggu jam 9 pagi di kantor kami ya nona?.”


“Baik tuan.”


“Baiklah sampai bertemu besok.” Jodi menutup panggilan selulernya.


Harvan dan Jodi terdiam membeku, terngiang dalam telinganya yang baru saja mereka dengar adalah benar-benar suara Intan.


Apakah itu memang benar-benar Intan?, apakah Intan masih hidup? Atau orang lain yang identik dengan Intan??


Itulah yang menjadi pertanyaan pada benak Harvan dan Jodi.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Siapakah wanita itu??


Jawabannya ada di episode-episode selanjutnya😉


Kawal terus ceritanya ya readers tersayang🤗

__ADS_1


__ADS_2