Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Implementasi


__ADS_3

Harvan menggandeng Intan memasuki pondok Emak, meninggalkan Jodi yang tertidur pulas di dipan pondok Emak.


Ia membawa istrinya ke kamar mereka di pondok tersebut. Lalu membawanya duduk di ranjang kamar itu. Dan ia duduk di sebelah istrinya.


“Kau pasti lelah setelah kegiatan semalam di puncak karang itu, sekarang istirahatlah.” Kata Harvan pada Intan.


“Iya.. tapi aku ingin tidur bersamamu, temani aku istirahat ya sayang.?” Ujar Intan.


“Iya baiklah.. aku akan menemanimu.” Kata Harvan.


Kemudian mereka berdua merebahkan diri mereka di ranjang kamar itu. Hening.. keduanya memandang langi-langit kamar mereka. Kemudian Harvan mengalihkan pandangannya pada Sang istri.


Harvan mendekat, mulai membelai rambut dan wajah Intan. Di kecupnya kening Sang istri, kemudian beredar pelan pada bibir merah delimanya dan Sang istri pun membalasnya. Seakan membangkitkan keinginan mereka berdua yang sudah lama terpendam sejak malam pertama itu.


Deru nafas kedua nya memacu hingga mereka lupa diri, melayang ke cakrawala menuju Nirwana. Pagutan bibir mereka mengiringi gerakan tarik ulur itu hingga detik-derik hentakan memuaikan buliran tetesan hangat, seketika membuncah pada keduanya membuat mereka terkulai lemas.


Tertinggal senyum menawan di bibir kokoh Sang suami saat memandang Sang istri terkulai lemas. Di kecup keningnya dengan rasa syukur dan terima kasih, kemudian tubuh yang menyatu itu beranjak dari satu sisinya ke sisi lain, sejenak merasakan kepuasannya dari terpenuhinya dahaga yang sempurna.


“Kau lelah sayang?.” Tanya Sang suami.


“Mmmh..” jawab Sang istri mengangguk pelan.


Kemudian di peluknya tubuh indah itu oleh tubuh kekar yang nyaman. Erat dan semakin erat. Tercipta kehangatan dari keduanya, Hingga mereka terlelap dalam buaian mimpi.


*


*


Sementara itu di sisi lain, seorang pria yang tertidur membukakan matanya. Terganggu dengan suara pekikan kuda di samping telinganya.


“Ais.. ganggu aja kamu Siti.” Kata Jodi.


“Hahah.. lagian kakak tidur seperti tak sadarkan diri.” Kata Siti.


“Aku lelah Siti.. semalam kami habis dari bukit karang itu, Tafakur bersama.” Jelas Jodi.


“Benarkah? Kenapa aku tak di ajak?.” Ujar Siti.


“Aku juga di ajak Emak, asalnya Emak cuman mau berdua saja sama Intan.” Jelas Jodi.


“Oh gitu ya.” Kata Siti.


“Iya.. nanti deh kalau kita ke sana lagi kamu di ajak.” Kata Jodi.


“Oke deh.” Jawab Siti mantap.


“Kak Intan sama kak Harvan di mana kak?.” Tanya Siti.


“Di dalam barang kali, mereka juga sama-sama lelah, sepertinya sedang istirahat.” Jelas Jodi.

__ADS_1


“Oh gitu.” Jawab Siti.


“Sinilah turun dari kudamu, ngobrolnya di sini duduk.” Kata Jodi.


“Baiklah.” Kata Siti seraya turun dari kudanya dan duduk di dipan.


“Oya kalau Emak ke mana kak?.” Tanya Siti.


“Katanya sih tadi mau ke Padepokan.” Jelas Jodi.


“Oh iya sekarang kan jadwalnya latihan untuk anak-anak sekolah.” Jelas Siti.


“Oya Siti.. Padepokannya jauh gak ya?.” Tanya Jodi.


“Deket kak.. di belakang situ.” Jelas Siti menunjuk daerah perkampungan.


“Ah kalau yang bilang deket itu kamu, aslinya pasti jauh.” Kata Jodi.


“Eh ini beneran deket kak, bisa jalan kaki kok, kakak mau ke sana? Yuk aku antar.” Tawar Siti.


“Oke deh, yuk kita lihat-lihat.” Kata Jodi.


“Yuk mari.” Ajak Siti, dan mereka pun pergi meninggalkan pondok Emak ke arah Padepokan yang di tunjukkan Siti.


*


Lalu Sang suami mengangkat tubuh istrinya keatas tubuhnya. Memeluknya dengan penuh kasih yang kembali menyapa di antara mereka, bak irama alam mengiringi sang cinta yang semakin terbawa suasana romantis nan lembut, seolah mengingatkan mereka untuk menyeruakan bulir-bulir tetes yang hempasannya membuat keduanya lemas kembali bersimbah peluh pada sekujur tubuh.


Kemudian sang cinta berbisik dengan syahdu:


“Terima kasih untuk hari ini sayang.. sangat indah sehingga keindahannya tak bisa diukir dengan silatan lisan.” Bisik Harvan.


“Seperti ini ternyata jauh lebih sempurna.” Balas Intan.


*


*


Di Padepokan, Emak sedang bergerak lincah memperlihatkan gerakan-gerakan serangan dan pertahanan. Para pendekar berjajar duduk bersila memperhatikan gerakan tersebut. Dengan focus dan serius.


Siti dan Jodi pun yang mulai datang ke Padepokan menyaksikan gerakan-gerakan Emak, membuat mereka takjub di buatnya.


“Hebat ya Emak.” Ujar Jodi.


“Siapa dulu dong… Emakku pahlawanku.” Kata Siti.


“Iya dia memang pahlawan bagi para pendekar-pendekarnya. Keren.” Kagum Jodi.


“Oya Siti, kenapa Intan tidak di beri senjata oleh Emak seperti kamu?.” Tanya Jodi.

__ADS_1


“Menurut Emak, mata bathin kak Intan sangat peka dan kuat, sehingga tidak membutuhkan senjata. Jurus-jurus yang Emak berikan itu merupakan senjatanya. Beda dengan aku kak, kata Emak aku kurang peka terhadap jurus-jurusku sehingga Harus menggunakan media.” Jelas Siti.


“Oh begitu ya?.” Kata jodi.


“Iya kak setiap dari kami memiliki kelebihan masing-masing dan memiliki pegangan yang menjadi andalan kami. Aku dengan jurus golok saktinya, sementara kak Intan dengan jurus andalannya, ANGIN SAMUDERA TANPA BATAS.” Jelas Siti.


“Mantap.” Kagum jodi.


Sementara itu tanpa mereka sadari Harvan dan Intan mendekati mereka dari arah belakang mereka.


“Asik bener kalian berdua merhatiin Emak.” Kata Harvan mengagetkan mereka.


“Eh kak Harvan dan kak Intan, sejak kapan di sini?.” Tanya Siti.


“Sejak 10 menit yang lalu.” Jelas Intan.


“Kok tahu kita ada di sini Har?.” Tanya Jodi.


“Tahu lah.. Aji rasa kita kan peka.” Kata Harvan.


“Gaya luh, baru beberapa hari di sini bahasanya udah kaya pendekar aja.” Ujar Jodi.


“ Siapa dulu dong istrinya hehe.” Kata Intan.


“Ah sombong.. mentang-mentang udah mengimplementasikan strategi tempur jurus tongkat komando.” Kata Jodi.


“Sssstt… jangan di teruskan, di sini ada anak perawan, ayo Siti, kita ikutan latihan yuk bareng Emak.” Kata Intan seraya menarik tangan Siti meninggalkan Harvan dan Jodi ke area tempat latihan.


Tinggalah Jodi dan Harvan di halaman area latihan yang memperhatikan guru dan pendekar-pendekarnya tengah berlatih silat.


“Keren ya mereka Har?.” Kata Jodi kepada Harvan yang matanya fokus memperhatikan mereka.


“Iya Jod, mereka kelihatan enjoy ya.” Jawab Harvan.


“Iya mereka melakukannya dengan hati” Kata Jodi.


“Iya.” Jawab Harvan.


“Eh Har, seandainya dulu kita waktu di Amerika serius belajar Kung-Fu nya sampe selesai, kayaknya sekarang kita juga bisa sehebat mereka ya.” Kata Jodi.


“Pastinya Jod, bisa jadi elo dapat julukan kaya si Siti, dia kan julukannya pendekar wanita golok sakti, nah elo pendekar buaya sakti haha.” Ledek Harvan.


“Anjir haha… beda lagi sama elo Har, kalau bini elo julukannya pendekar wanita yang memiliki jurus Angin Samudera Tanpa Batas, elo julukannya pendekar korban angin ribut haha.” Kelakar Jodi.


“Anjir gila lo ah… hahah.”


Mereka berdua berkelakar tertawa lepas atas kekonyolan yang mereka lepaskan sama-sama.


😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2