
Harvan dan Jodi yang telah selesai melakukan aktivitas kantornya, akhirnya mereka bersiap untuk pulang ke kediamannya.
Pada wajah tampan yang di hiasi senyum kebahagiaan karena proses pengadilan menunjukan keberpihakan pada mereka, mereka melangkah pasti menuju ke kuda besi yang siap mengantar mereka pulang.
Sesampainya di rumah mereka langsung di sambut oleh orang-orang tercinta. Seperti biasa sang putri selalu naik pada pelukan sang ayah kala melihat sang ayah pulang dari aktivitas kantornya.
“Oya sayang bagaimana tadi belajarnya?.” Tanya sang ayah seraya mencium putrinya.
“Sekarang aku sudah bisa berhitung ayah.”
“Wow! Benar kah?! Anak ayah memang pintar, terus kamu belajar apa lagi?.” Tanya kembali sang ayah.
“Terus aku belajar membaca dan mengenal huruf.”
“Bagus!, oya? Ibu kemana sayang?.” Tanya sang ayah.
“Ibu lagi di taman.”
“Oh.” Kata Harvan yang kemudian ia membawa putrinya ke dalam pangkuan menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, di susul oleh Jodi yang masuk menuju kamarnya sendiri.
Sementara Delima yang baru kembali dari taman ia terkejut karena Harin tidak ada di tempat pada saat ia tinggalkan tadi. Bergegas ia mencari ke segala ruangan namun tak ia temukan, akhirnya ia menaiki anak tangga menuju kamarnya namun tak juga ia temukan putri kecil itu.
Sampai akhirnya ia memutuskan masuk kedalam kamar suaminya, pada saat ia masuk benar saja ia melihat penampakan putri kecil itu tengah duduk di atas tempat tidur ayahnya dengan tab di tangannya.
Kemudian ia mendekat kearah putri kecil itu,
“Sayang ternyata kamu ada disini?.”
“Iya, ayah yang membawaku ke kamar nya.”
“Oh, ya sudah.” Pada saat Delima berbalik hendak keluar dari kamar itu, pada saat itu juga Harvan keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada yang masih basah sementara handuk melingkar pada pinggangnya.
Melihat penampakan itu Delima sedikit gugup, ini adalah kali pertama ia melihat dada bidang milik suaminya yang nampak di depan mata.
“Ma-maaf.. kalau saya sudah lancang masuk kamar.” Delima menundukkan pandangannya.
Perlahan sang suami mendekat ke arahnya masih dalam keadaan tak berbusana membuat Delima semakin gugup.
“Jangan bicara begitu, nanti juga ini menjadi kamarmu.” Bisik Harvan pada telinga Delima, membuat ia merinding kala bibir kokoh sang suami menempel pada telinganya.
Bergegas Delima melangkahkan kaki keluar kamar itu dengan degupan jantung yang tak menentu, Harvan yang melihat tingkah istrinya itu tersenyum kecil.
Sementara itu di sisi kamar lain nampak Jodi tengah memakai pakaiannya setelah membersihkan tubuhnya. Pada saat ia tengah menyisir rambutnya tiba-tiba ponsel yang ia simpan di atas meja dekat sofa berdering tanda panggilan masuk.
__ADS_1
Kemudian ia meraihnya dan menerima panggilan seluler itu,
“Hallo John ada info apa?.” Tanya Jodi.
“Begini Boss info yang kami dapat dari pihak kepolisian, bahwa yang melaporkan Delima ke polisi itu Almira sendiri. Menurut pengakuannya, pada hari Senin jam 21.14 WIB. ia baru pulang dari kuliahnya, dan ia menemukan suaminya di dapur sudah berlumuran darah. Di dapur itu juga ia temukan Delima yang pakaiannya juga berlumuran darah, sehingga ia memastikan bahwa Delima lah yang membunuhnya karena di rumah itu tidak ada siapa-siapa lagi, kebetulan ART di rumah itu tidak menginap..” Suara dibalik ponsel.
“Terus! Informasi lainnya?.” Tanya Jodi
“Info lainnya adalah mereka juga menemukan barang bukti di kamar Delima berupa sarung tangan karet dengan bercak darah dan bercak darah itu adalah bercak darah korban.”
Mendengar informasi yang baru ia dapatkan, bergegas Jodi masuk ke dalam ruang kerja Harvan dan memanggil Harvan melalui ponselnya.
“Har, gue di ruang kerja, cepat elo kesini ada info penting mengenai kasus Delima.”
“Oke, gue naik sekarang.” Harvan yang pada saat itu keluar kamar dengan memangku putrinya bergegas menyerahkan putrinya pada Delima yang tengah masak di dapur kemudian ia bergegas naik ke ruang kerjanya yang berada di lantai tiga.
Setelah sampai di lantai tiga ia langsung masuk ke dalam ruang kerjanya dan sudah nampak Jodi tengah duduk menantinya. Harvan duduk di samping Jodi dan mulai menanyakan informasi tersebut.
“Ada info apa Jod?.” Tanya Harvan penasaran. Lalu Jodi menceritakan semua informasi yang baru saja ia dapat.
Harvan fokus mendengarkan informasi yang Jodi sampaikan itu, kemudian ia terdiam dan suasana menjadi hening. Lalu Harvan mencoba menyampaikan pendapatnya pada Jodi.
“Jod, sepertinya gue punya pendapat lain tentang masalah ini. Kenapa ya? Gue merasa kalau bukan Delima lah pembunuhnya, tapi orang lain yang sengaja memfitnah Delima.”
“Oke, nanti gue mau bicara empat mata sama dia tentang semua ini. Dan gue minta sama elo tolong selidiki si Almira itu Jod, kalau bisa ikuti dia kemanapun juga dan selidiki juga keluarga pengusaha itu.”
“Oke, gue telepon team gue sekarang biar mereka selidiki sekarang juga.”
Tanpa menunggu waktu Jodi langsung menghubungi beberapa teamnya untuk menyelidiki pengusaha itu dan Almira yang menjadi istri ke tiga dari pengusaha tersebut.
Setelah mereka selesai membicarakan hal penting mengenai masalah Delima, akhirnya mereka turun ke lantai bawah menuju ruang makan.
Di ruang makan telah nampak Delima yang tengah menghidangkan makan malam, sementara Putrinya tengah duduk pada kursi makan. Harvan memghampiri putrinya dan duduk di sebelahnya, di ikuti Jodi duduk tepat di depan Harvan.
Mereka pun menikmati makan malamnya, selesai makan malam mereka berbincang sebentar, kemudian Jodi pamit pada mereka untuk terlebih dahulu beristirahat. Tinggalah Harvan, Delima dan putrinya di meja makan itu.
“Delima, setelah kau menidurkan Harin, aku tunggu kamu di ruang kerja, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu.” Kata Harvan pada Delima.
“Baiklah.” Jawab Delima seraya membawa putrinya itu masuk kedalam kamarnya, sementara Harvan melangkah menuju ruang kerjanya.
Setelah Delima menyelesaikan tugasnya menemani putrinya tidur dan kini putrinya tengah terlelap baru lah ia melangkahkan kakinya menuju ruang kerja suaminya.
Setelah sampai di ruang kerja, Harvan mempersilahkan Delima duduk di sofa, kemudian ia duduk disebelahnya dan mulai membuka pembicaraan diantara mereka.
__ADS_1
“Delima, maaf saya memanggil kamu ke sini karena ada hal penting yang ingin saya bicarakan denganmu.”
“Iya aku mengerti.. apa yang hendak kita bicarakan?.”
“Begini Delima. Aku harap kamu bisa bekerja sama dan katakan dengan sejujurnya karena kamu adalah sekarang istriku jadi apa pun masalah yang kamu hadapi adalah masalahku juga. Aku minta kamu ceritakan segalanya, baik atau buruk aku siap mendengarnya. Dan kamu tidak perlu khawatir, jika memang bukan kamu pelakunya aku akan membantumu mencari pelakunya sampai dapat.” Jelas Harvan.
Delima menundukkan pandangannya dengan memainkan kuku-kuku jarinya.
“Katakanlah semuanya Delima, aku perlu tahu apa yang selama ini kamu alami, dan aku memiliki keyakinan bahwa kamu bukan seorang pembunuh, aku curiga seseorang tengah memfitnamu, bukankah waktu pada malam aku mengusirmu, kau ingin menjelaskan padaku? Seharusnya saat itu aku mendengarkan dulu penjelasanmu. Aku minta maaf akan hal itu dan sekarang aku ingin mendengarkan penjelasanmu.” Sambung Harvan, kemudian
“Delima, apa benar pengusaha itu hendak menjadikan kamu istri ke empatnya?.” Tanya Harvan, mendengar pertanyaan itu Delima sedikit terhenyak karena ia tidak menyangka suaminya tahu itu. Perlahan Delima menganggukan kepalanya.
“Benar, dia ingin menjadikan aku istri ke empatnya tapi aku langsung menolaknya.”
“Lalu?.” Tanya Harvan penasaran.
“Setelah aku menolaknya, beliau menerimanya dengan lapang dada dan mengerti akan keputusanku. Dia tidak memaksaku untuk menerimanya. Malah dia berbaik hati akan menjadikan aku karyawatinya pada perusahaan beliau dan ia tidak bertingkah macam-macam. Namun beberapa hari kemudian kejadian Nahas itu mengejutkanku.” Kata Delima.
Lalu Delima menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.
FLASHBACK ON
Setahun terakhir Delima di minta temannya tinggal di rumah mewahnya, temannya itu bernama Almira. Almira adalah teman satu kampusnya namun berbeda jurusan. Hubungan Delima dan Almira sangat baik, bahkan Almira selalu menjadikan Delima adalah teman curhatnya, agar setiap hari Almira bisa mencurahkan keluh kesahnya maka Almira mengajak Delima untuk tinggal di rumah mewahnya.
Rumah mewah Almira itu adalah pemberian sang pengusaha bernama Jaya Sukmana yang berusia 55 tahun. Almira adalah istri ke tiga dari pengusaha tersebut. Karena Almira merasa bosan tinggal sendiri di rumah mewah itu akhirnya Almira meminta ijin pada suaminya itu agar temannya Delima tinggal bersamanya karena suaminya itu hanya sesekali saja datang menemuinya, kadang satu bulan sekali bahkan tiga bulan mereka baru dapat bertemu. Suami Almira memperbolehkan Delima tinggal di rumah itu. Selama setahun Delima tinggal di rumah itu, ia baru tiga kali bertemu dengan suami Almira sang pengusaha itu.
Namun tak di sangka pada pertemuan pertamanya Jaya Sukmana menaruh hati pada Delima.
“Sayang kenalkan, ini Delima yang pernah aku ceritakan itu.” Kata Almira pada suaminya yang kala itu ia baru pulang kuliah bersama Delima.
“Oh iya.” Jaya Sukmana menyalami Delima, dengan tatapan nakalnya.
(Cantik… malah lebih cantik dari Almira.) bathin Jaya Sukmana.
Melihat tatapan Jaya Sukmana yang aneh Delima merasa risih dan langsung menarik tangannya.
“Dia tinggal di kamar sebelah kamar kita sayang.” Kata Almira seraya melingkarkan tangannya pada pinggang lelaki itu.
Melihat penampakan itu Delima meminta ijin kepada mereka untuk masuk ke dalam kamarnya. Sementara Almira dan Jaya Sukmana duduk pada sofa ruang tengah rumah mewah itu.
Almira menangkap pandangan nakal suaminya itu pada Delima. Jaya Sukmana terus memandangi Delima yang beranjak masuk ke kamar sampai pintu kamar itu ditutup.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤