Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Dialah alasan kamu ada


__ADS_3

Sementara itu, di dalam pesawat yang tengah berada di angkasa. Nampak. Selvy tengah menikmati penerbangannya. Sedikit semangat kini ia dapatkan dari sosok yang berada di sampingnya.


“Lihatlah, sebentar lagi kita akan sampai ketempat tujuan.” Kata lelaki di sampingnya. (Dalam bahasa Inggris).


“Ya.”


“Oya, namaku Baldomero.”


“Aku Selvy.”


“Senang berkenalan denganmu. Apa kau tidak merasakan sedih lagi?.”


“Lumayan, sekarang sudah membaik hehe.”


“Jangan terlalu memikirkan masalah, karena tanpa kau mencari solusinya itu sama saja kita memelihara masalah itu sendiri.”


“Ya, itu benar. Mungkin aku harus memulai hidup baru dan itu adalah solusinya.”


“Kau tahu? Dulu aku pun pernah alami depresi saat menemukan istriku menjalin hubungan rahasia dengan saudaraku sendiri. Semakin lama aku pikirkan semakin aku gila, tetapi saat aku berusaha mencari cara untuk melupakannya, semuanya dapat aku atasi.”


“Benarkah kau pernah depresi?.”


“Kau tidak percaya?.”


“Sama sekali tidak hehe.”


“Ya aku pernah alami itu dan sangat menyakitkan, namun seiring waktu berlalu semuanya dapat terlupakan. Harus ada usaha memang, walau sulit tetap harus kita jalani. Dan aku yakin masalahmu juga akan kamu lupakan. Lihatlah kedepan jangan lihat lagi kebelakang, di depan lebih indah meskipun masih sebuah misteri.”


“Yang kita alami berbeda, kau adalah orang yang tersakiti dan aku adalah si penyebab rasa sakit bagi orang lain. Aku kira penyesalanku lebih sakit ketimbang rasa di sakiti seperti apa yang kau alami. Tujuanku adalah kembali ke rumah, memohon ampun pada papaku dan meminta maaf pada putriku. Mereka mungkin sudah sangat lelah dengan segala kejahatanku. Meski aku ragu mereka akan memaafkanku, tapi aku harus berusaha bagaimana pun caranya, aku harus mendapatkan ampunan dan maaf itu, bukan begitu?.”


“Ya, itu sangat baik dan itu menunjukan bahwa kamu bukan seorang pengecut. Terkadang hal tersulit adalah meminta maaf meski kita merasa salah, sama halnya sulitnya memaafkan orang yang telah melakukan kesalahan pada kita. Tapi keduanya mampu kita lakukan hanya pada saat kesadaran pada diri menyentuh hati kita, dan aku kira kau telah memiliki kesadaran itu Selvy. Berbahagialah, aku yakin Tuhan menyayangimu hingga meletakkan kesadaran itu di hatimu. Dan satu hal, yakinlah papa dan putrimu akan memaafkanmu.”


“Semoga. Memang itu harapanku.”


“Lalu apa rencana hidupmu kedepannya?.”


“Tentunya menata hidupku dari awal lagi, bersama papa dan putriku. Oya bagaimana denganmu? Apa kau memiliki buah hati?.”


“Aku memiliki satu putra, usianya 12 tahun namanya Baren. Setelah aku mendapatkan hak asuh atas dirinya, dia tinggal bersama orang tuaku di Munich karena aku sibuk jadi aku menitipkan pada mereka. Dan hari ini aku akan menemui putraku. Sementara dia (mantan istri) telah menikah dengan saudaraku yang menjadi selingkuhannya waktu itu..”


“Dan kau? Apa kau sudah menikah kembali?.”


“Tidak! Aku masih trauma dengan kejadian itu. Biarlah seperti ini dulu, sepertinya aku lebih nyaman begini.”


“Ya, aku turut prihatin atas masalahmu Baldomero.”


“Tak masalah, semuanya sudah berlalu. Aku menikmati prosesnya Selvy dan itulah yang seharusnya terjadi.”

__ADS_1


Dan tak terasa pesawat yang meraka tumpangi pun landing di salah satu bandara internasional di kota Munich.


Seluruh penumpang kini tengah meninggalkan pesawat yang mereka tumpangi, terlihat Baldomero menghubungi seseorang melalui ponselnya. Setelah ia selesai menghubungi seseorang, “Selvy tunggu!.” Serunya, yang kala itu Selvy berjalan di depannya.


“Iya… ada apa?.”


“Apa kamu berkenan jika aku mengantar kamu pulang?.”


“Jika menolak kebaikan orang itu sangatlah buruk, aku menerima tawaranmu hehe.”


“Baiklah… ayo ikut aku, mobilku sudah menanti disana.”


“Terima kasih Baldomero.” Kemudian mereka berdua berjalan menuju mobil sedan hitam yang terparkir tidak jauh dari mereka.


Setelah supir mempersilahkan masuk, akhirnya kendaraan yang mereka tumpangi meninggalkan halaman parkir bandara.


Di dalam perjalanan mereka berbincang.


“Papa dan putrimu sudah tahu kau akan pulang?.” Tanya Baldomero.


“Tidak! Sama sekali mereka tidak tahu, aku mendadak pulang dan sengaja tidak memberi tahu mereka karena aku khawatir….” Selvy tidak melanjutkan kata-katanya, karena tersirat dalam pikirannya kalau ayah dan putrinya mungkin saja tidak mau menerimanya kembali.


“Ya.. aku mengerti. Percayalah, papa dan putrimu akan menerimamu kembali.”


“Semoga…” Kata Selvy dengan wajah yang sedikit meremang.


Selvy membaca kartu nama itu nampak disana bahwa lelaki itu adalah seorang konsultan pajak.


“Oh… jadi kamu seorang konsultan pajak?.”


“Ya, itulah pekerjaanku, aku memang bukan orang kaya tapi gajiku cukup untuk menghidupi aku dan keluargaku. Mungkin karena itulah mengapa istriku lebih memilih hidup bersama saudaraku.” Baldomero menghela nafas panjang.


“Jangan berkata begitu. Kekayaan bukan segalanya. Apalagi aku… aku tak memiliki apa pun hehe… tapi aku merasa bahagia seperti sekarang ini dari pada dulu.”


“Yang mana rumah ayahmu?.” Tanya Baldomero saat memasuki pemukiman rumah mewah yang sebelumnya telah di arahkan Selvy.


“Sebentar lagi, di ujung sana.” Tunjuk Selvy pada salah satu blok.


“Terima kasih Baldomero, kamu telah mengantarkan aku, senang mendapatkan teman seperti mu.” Kata Selvy setelah ia sampai di depan halaman rumahnya.


“Ya sama-sama. Jika keadaan sudah membaik aku akan menghubungimu, aku pergi dulu.”


Kemudian mobil yang membawa Baldomero meninggalkan halaman parkir rumah Selvy.


Perlahan Selvy masuk ke pelataran rumahnya menuju pintu utama, lama ia terdiam lalu mengetuk pintunya.


Tak lama pintu di buka dari dalam. Nampak Revy sang putri membuka pintu utama rumah itu. Melihat ibu nya yang datang Revy sedikit terkejut dan mereka saling memandang.

__ADS_1


“Apa aku boleh masuk?.” Tanya Selvy pada putrinya. Revy diam melihat perubahan pada ibu nya yang kini berpenampilan sederhana.


“Jangan takut Revy… aku datang untuk meminta maaf padamu dan kakekmu.” Sambung Selvy dengan mata yang berkaca-kaca. Mendengar apa yang dikatakan ibunya tiba-tiba Revy langsung memeluknya.


“Apa benar kau mamaku?.” Ucap Revy dalam pelukan sang ibu.


“Tentu saja aku mamamu sayang, maafkan atas semua kejahatanku, aku sangat menyesal dan aku kembali untuk menebus segalanya.”


Pecah air mata keduanya. Ibu dan anak itu saling berpeluk dan menangis. Revy tak menyangka kalau ibunya akan berubah secepat itu. Kemudian mereka berdua masuk kedalam rumah itu.


“Revy, dimana opamu?.”


“Opa di rumah sakit ma.”


“Kenapa? Opa mu sakit?.”


“Bukan ma, opa menjaga opa Smith. Opa Smith di rawat, penyakitnya sudah parah makanya kita pulang kesini. Tapi sebenar lagi juga biasanya opa pulang karena kalau malam opa smith di jaga uncle Joel.”


“Oh begitu.”


“Iya, mama istirahat saja dulu. Pasti mama capek setelah menempuh penerbangan. Nanti aku panggil mama kalau opa sudah pulang.”


“Iya. Revy maafkan mama ya? Mama sudah jahat pada kalian, mama menyesal telah membuat kalian susah.”


“Iya ma, maafkan aku juga selama ini bersikap tidak baik karena Aku tidak suka lihat mama dekat dengan lelaki itu meskipun aku tahu dia adalah ayah biologis ku.”


“Iya sayang, mama menyesal kenal dengan dia, tapi jika mama tidak kenal dia, tentu kamu tak akan pernah ada. Walau pun dia bukan orang yang baik, tapi dialah alasan kamu ada sayang. Jadi kamu tidak patut menghakiminya, namun kamu pun patut tidak suka padanya. Biarlah ini menjadi pelajaran untuk kita. Yang jelas mama ingin kedepannya kamu bisa menerima mama, mama sudah bertekad untuk meninggalkan dia. Mama ingin memperbaiki diri mama. Mama sudah capek hidup dengan dia tanpa tujuan yang jelas. Mungkin kesalahan mama tak pantas di maafkan, itu tidak masalah. Yang penting mama sudah minta maaf padamu, dan terima kasih kamu mau memaafkan mama. Kamu memang anak yang baik nak. Mama bangga padamu. Sekarang mama tinggal minta maaf pada opa mu. Mama harap opa juga mau memaafkan mama. Mungkin hanya dengan meminta maaf saja tidak cukup, karena mama sudah banyak melukai hati opa tapi mama janji, mama akan berubah menjadi orang baik.”


Tanpa mereka sadari Ronald yang masuk diam-diam mendengarkan percakapan mereka. Mendengar apa yang Selvy katakan, betapa tersentuhnya Ronald. Ia tidak menyangka kalau anaknya menyadari segala kesalahannya. Perlahan Ronald keluar dari balik dinding dan Selvy menangkap sosok ayahnya itu. Bergegas ia menghampiri ayahnya dan bersimpuh.


“Papa… maafkan atas semua kesalahanku… aku menyesal pa, mohon ampunilah aku yang berlumur dosa ini. Aku tidak memiliki tempat yang baik selain bersama kalian. Aku tidak bisa tenang hidup tanpa maaf dari kalian. Aku tahu Tuhan pun murka dengan apa yang telah aku lakukan. Aku takut papa.. aku takut jika aku mati membawa dosa yang begitu banyak. Aku takut Tuhan menyiksamu karena dosa-dosaku pa. Aku takut jika papa harus masuk neraka karena kesalahanku. Aku mohon terimalah kembali anakmu yang kotor ini. Aku janji akan merubah hidupku pa. Aku sudah meninggalkan dia dan ingin memulai hidup baru bersama kalian.” Dengan deraian air mata Selvy bersimpuh di kaki sang ayah yang membuat Ronald pun merasa terharu akan perubahan yang di alami putrinya itu.


Perlahan Ronald meraih pundak putrinya itu mengajaknya berdiri, ia belai wajah putrinya yang lusuh karena air mata memenuhi di setiap sisinya. Kemudian ia cium kening putrinya itu dan memeluknya erat.


“Putriku… sebesar apa pun dosa yang telah engkau lakukan, senista apa pun dirimu karena dosa yang telah engkau lakukan. Aku adalah ayahmu yang akan selalu ada di sampingmu untuk mengangkat kamu dari jurang nista itu. Aku ayahmu yang siap menanggung sebesar apa pun siksa yang akan aku terima. Aku ayahmu yang akan selalu ada dan membelamu untuk keselamatanmu. Di setiap nafasku saat aku tahu kau pergi dengan membawa amarah dan dendam. Aku ayahmu sejak saat itu tak habisnya memohon kepada Tuhan untuk meminta padaNya agar mengembalikanmu padaku. Aku ayahmu sampai detik ini masih memohon agar Tuhan mengampunimu. Lalu apakah saat kau kembali aku harus mengusirmu? Tidak nak. Kembalinya kau pada kami adalah merupakan permintaan kami pada Tuhan. Jika ada yang bertanya padaku, apa kebahagiaan terbesar dalam hidupku? Maka akan aku jawab, kembalinya kau pada sisi kami lah kebahagia terbesar itu. Jika aku menolakmu, jika aku mengusirmu yang sedang dalam perjalanan taubatmu, tentulah aku yang paling berdosa. Berterima kasih lah pada Tuhan yang telah memberikan setitik cahayanya padamu, hingga menerangi jalan pulangmu. Aku ayahmu, membuka tanganku lebar-lebar untuk menerimamu kembali.”


Suasana haru menyelimuti seisi ruangan rumah mereka, Selvy dan sang ayah saling berpeluk menumpahkan air mata haru dan bahagianya.


Sungguh Tuhan Maha Pemberi taubat. Sebesar apa pun dosa yang kita perbuat. Allah masih memberikan setitik cahayanya sebagai hidayahNya agar kita kembali ke jalanNya.


Sungguh Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, sehina apa pun kita, saat IA menginginkan kita kembali, maka IA akan membawanya kembali.


CintaNya begitu luas….


KasihNya sungguh tak terbatas…..


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2