Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Jangan sia-siakan hari ini.


__ADS_3

Hati-hati mengandung konten 21+


Harap bijak menanggapi isi konten di dalamnya!.


Di dalam kamar mereka saling beradu pandang. Perlahan Harvan mendekati ke arah Delima yang berdiri di sisi jendela yang mengarah ke balkon.


Di peluknya tubuh indah itu dari arah belakang. Kemudian,


“Aku bahagia hari ini, satu per satu urusan kita selesai. Setelah ini kita selesaikan masalahmu.” Bisik sang suami pada telinga sang istri.


“Aku takut! Bagaimana jika seandainya mereka menggiring aku ke dalam penjara!.” Ucap pelan sang istri sembari membalikan tubuhnya dan membenamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.


“Itu tidak akan terjadi sayang, aku akan melakukan apa pun untuk membebaskanmu.” Balas sang suami memeluk erat sang istri kemudian mencium pucuk kepalanya.


Perlahan sang istri menatap wajah sang suami.


“Apa kau benar-benar mencintaiku?.” Tanya sang istri.


“Tentu saja! Kenapa kau bertanya begitu? Apa kau masih ragu?.” Sang istri hanya menggelengkan kepalanya. Lalu, “Aku ingin bertanya padamu, seandainya hari esok tak ada lagi tempat untuk kita, apa yang akan kau lakukan?.” Sang suami mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka saling beradu.


“Jika memang besok tak ada lagi waktu untuk kita, aku tak ingin menyia-nyiakan hari ini.” Jawab sang istri seraya melingkarkan kedua tangannya pada leher sang suami lalu menautkan bibir merahnya pada bibir kokoh sang suami.


Sang suami membalas tautan itu hingga mereka saling melepaskan ciuman yang selama ini mereka tahan. Saling menyesap dan saling melampiaskan getaran cinta diantara keduanya, semakin dalam dan semakin dalam hingga keduanya bersama-sama saling melangkah mendekat ke arah tempat tidur tanpa melepaskan tautan bibir mereka yang saling berpagut.


Di gendongnya tubuh indah itu ala bridal style dengan bibir yang masih terpaut mesra. Perlahan di baringkannya tubuh itu dan mulai di tindihnya. Hisapan-hisapan yang menggairahkan semakin menjadi kala tangan sang suami mulai menjalar ke area buah dada kenyal sang perawan hingga menimbulkan suara lembut seakan melambai-lambai untuk terus saling melepaskan gairah, hingga satu persatu sang istri melepas kancing kemeja sang suami, begitu pun sang suami yang tengah melancarkan serangan bibirnya yang mulai menjalar ke leher putih sang istri.


Tanpa terasa mereka saling menelanjangi hingga tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun. Terus dan terus kecupan itu menuruni tubuh indah sang istri hingga menepi pada area paling sensitif. Dengan deru nafas yang memacu seakan membangkitkan suara-suara mesra sang istri hingga membuatnya tak mampu menahan gejolak yang semakin membuncah.


Kemudian sang suami kembali mendekatkan wajahnya pada sang istri yang tengah merasakan panas di tubuhnya semakin menjadi, “Kau siap sayang?.” Bisik sang suami dengan mata sayunya, tanpa berkata-kata sang istri langsung menyerang bibir kokoh dengan penuh gairan.


“Sekarang ya sayang?.” Ucap suami dengan mesra.


Begitu sulit menerobos benteng pertahanan sang perawan hingga keluhan mesra mengiringi gelora mereka, dengan usaha yang gigih akhirnya perlahan-lahan tongkat komando pun dapat menerobosnya di iringi suara lirih sang istri, “sakiiiiiiiit…. Mh…. Ah.”


“Tahan sebentar sayang…Mh…sakitnya tak ‘kan lama….” Bisik sang suami yang sudah mulai melakukan gerakan tarik ulur pelan tapi pasti. Namun semakin lama semakin cepat dan semakin dalam hentakan-hentakannya hingga nafas mereka saling bersahutan menjadi irama yang mengiringi penyatuan mereka.


Seiring kedua tubuh itu semakin saling merekatkan pelukannya dalam tubuh yang semakin panas hingga mereka mengerang bersama dalam buaian kenikmatan sorga dunia.


Kedua tubuh yang bersimbah peluh kini melemas pasrah. Dipeluknya tubuh indah itu kemudian di kecupnya kening yang basah dan mereka saling terlelap dalam kehangatan.



Sementara itu di salah satu mall terbesar di Ibukota. Nampak Harin dan Jodi tengah mengitari toko-toko sambil berpegangan tangan.


“Oya sayang? Apa yang pertama kali akan kamu lakukan?.” Tanya Jodi pada putri kecil itu.


“Aku mau ke salon dulu om.”

__ADS_1


“Oke, lets go darling kita ke salon.” Kemudian Jodi membawa putri kecil itu ke sebuah salon yang tidak jauh dari tempat mereka.


Setelah masuk ke dalam salon tersebut kemudian Jodi mendudukkan Harin pada salah satu kursi di sana. Pelayan yang melihat penampakan mereka langsung memberikan senyuman karena Harin sudah tidak asing lagi bagi mereka, dan langsung melayani putri kecil itu.


Sementara Jodi duduk di kursi tunggu dengan setia sembari memainkan ponselnya. Selang beberapa lama akhirnya mereka pun selesai,


“Om bagaimana? Apa aku cantik?.” Tanya Putri kecil itu memperlihatkan penampilannya.


“Wow… kekasihku semakin cantik saja.” Kata Jodi seraya mendekatinya dan mencium pipinya.


“Om suka?.”


“Banget sayang… ayo kita melanjutkan kencan kita ke tempat lain.” Jodi membawa tubuh putri itu dalam pangkuannya, setelah membayarnya lalu meninggalkan salon tersebut.


“Sekarang kau mau kemana lagi?.” Tanya Jodi.


“Aku mau beli sesuatu. Ayo om.” Harin menarik tangan om nya ke counter pakaian pria.


“Loh kok kesini? Mau beli apa sayang?.” Tanya Jodi heran.


“Aku mau belikan om dasi untuk kerja.” Kemudian ia turun dari pangkuan Jodi dan mendekat ke tempat dasi-dasi yang berjejer rapi.


“Hehe… kamu tahu saja sayang kalau om udah lama gak beli dasi.” Jodi memperhatikan putri kecil itu yang anteng memilah milih dasi. Terlihat ia mengambil beberapa dasi corak yang berbeda.


“Om suka gak yang ini?.” Jodi mengganguk dengan senyuman.


“Tidak om biar ibu saja nanti yang beli.”


Setelah mereka keluar dari toko pakaian pria kemudian mereka masuk ke toko pakaian anak-anak. Dan putri kecil itu memilih beberapa baju untuk dirinya sendiri.


Setelah mereka lelah berkeliling akhirnya mereka memasuki food court untuk mengisi perut mereka.


“Kamu mau makan apa sayang?.” Tanya Jodi.


“Aku mau ayam om.”


“Ok.” Kemudian Jodi memesan makanan untuk mereka berdua. Tak menunggu waktu lama mereka pun menikmati makanannya berdua.


“Kau mau om suapi?.”


“Tidak om aku bisa sendiri.”


“Pinter.”


“Om makasih ya udah ajak aku kencan.”


“Hehe sama-sama sayang. Setelah ini kau mau kemana lagi? om akan mengantarkanmu kemana pun kau mau.”

__ADS_1


“Hm.. kemana lagi ya?.” Harin seperti berfikir.


“Oya bagaimana kalau kita ke taman bermain! Kau mau sayang?.”


“Mau mau om… yeah hari ini kita akan menghabiskan waktu bersenang-senang.”


Melihat kebahagiaan putri kecil itu, Jodi tersenyum lebar.


Singkat waktu sampailah mereka di taman bermain. Dengan setia dan sabar Jodi menemani Harin. Melihat senyum lebar pada Harin membuat Jodi merasa puas karena telah membuat putri kecil itu merasa bahagia.


Sampai malam mereka menikmati semua permainan di taman bermain tersebut. Setelah lelah, akhirnya mereka pun kembali ke rumah mereka.


“Om… terima kasih udah ajak aku bersenang-senang.”


“Iya sayang.. nanti om ajak kamu ke sini lagi ya?.”


“Beneran om??.” Dengan wajah penuh keceriaan putri kecil itu menanggapi perkataan Jodi.


“Bener lah… bila perlu setiap akhir pekan kita habiskan waktu berdua untuk bersenang-senang.”


“Yeah… aku bahagia sekali om.”


“Om akan selalu membuat kamu bahagia sayang….”


“Makasih ya om.”


“Kok cuma makasih doang… cup nya mana?.” Jodi mendekatkan pipi kirinya pada putri kecil itu.


“Muach…om kesayangan aku! Aku sayang om selama-lamanya.”


“Haha… bener mau sayangin om selama-lamanya??.” Goda Jodi.


“Iya… selamanya aku akan sayang om.”


“Baiklah terima kasih sayang.”


Lalu mereka berdua pun sampai di rumah mereka. Saat masuk kedalam rumah, terlihat di setiap sisi rumah begitu sepi.


“Ayah sama ibu kemana ya om?.”


“Udah jangan ganggu ayah sama ibu, mungkin mereka sedang istirahat sayang. Ayo kita ke kamarmu, badanmu pada lengket, sebelum Bobo kamu mandi dulu ya sayang.” Kemudian Jodi memangku Harin seraya masuk ke kamar putri kecil itu.


Setelah berada di dalam kamar, Jodi langsung membuka pakaian Harin dan membawanya ke kamar mandi.


Setelah memandikan Harin barulah gilirannya membersihkan diri. Lalu setelah sama-sama rapi mereka pun bersiap untuk tidur.


Jodi sudah terbiasa menina bobokan Harin sejak masih bayi, jadi baginya tidak sulit menemani Putri kecil itu tidur. Harin ia anggap sudah seperti putrinya sendiri, begitupun dengan putri kecil itu, baginya Jodi adalah ayah ke dua dalam kehidupannya.

__ADS_1


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


__ADS_2