Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Harap harap Cemas


__ADS_3

Haripun berlalu begitu cepat, bulan berganti kian bertepi. Sampailah pada hari dimana usia kandungan Intan menginjak sembilan bulan. Dimana bulan ini adalah bulan yang dinanti akan kelahiran buah hari yang didamba oleh pasangan Harvan dan Intan.


“Sayang, apa mules nya semakin sering?.” Tanya Harvan pada Istri.


“Belum sayang masih sesekali saja.” Jawab Intan nyengir karena rasa begah dari perutnya yang sudah mengeras.


“Oya sayang, hari ini aku gak berangkat kerja, mau nungguin kamu. Siapa tahu putri kita lahir hari ini.” Kata Harvan.


“Sayang, menurut prediksi dokter kan seminggu lagi.” Jelas Intan.


“Tapi menurut info kadang kelahiran suka lebih cepat dari prediksi dokter sayang.” Ujar Harvan.


“Iya, tetapi kamu sudah ganteng, pakaianmu sudah rapi dengan stelan jasmu, pergilah kerja, kalau ada apa-apa kan aku bisa langsung telepon kamu sayang.” Jelas Intan.


Sebentar Harvan berfikir, kemudian


“Baiklah, hari ini memang aku ada meeting penting yang tidak bisa diwakilkan, tapi benar ya kalau ada apa-apa cepat hubungi aku?.” Ujar Harvan.


“Ia sayang, aku pasti langsung menghubungimu. Oya, aku pinjam laptopmu yang diruang kerja ya sayang?.” Kata Intan.


“Buat apa?.” Tanya Harvan heran.


“Aku mau bikin video, hehe.” Kata Intan tersenyum manja.


“Video buat apa sih?.” Tanya Harvan.


“Ya, iseng aja mau ngevlog hehe, sebelum aku lahiran, buat kenang-kenangan.” Jelas Intan.


“Iya boleh, tapi ada syaratnya.” Kata Harvan dengan sorot mata menerkam.


“Apa syaratnya?.” Tanya Intan.


“Sebelum aku berangkat kerja, ijinkan aku nengok putriku dulu.” Kata nakal Harvan, yang mulai mencumbui Istrinya itu.


“Sayang, tadi malam kan sudah, sebelum subuh tadi juga sudah, masa sekarang mau nengokin lagi, kamu kan sudah rapi.” Kata Istrinya.


“Ayo lah sayang, kata dokter kalau sudah dekat waktunya lahiran harus sering-sering ditengokin biar jalan buat dia keluar mudah. Ya sayang?, kamu gak kasihan pada suamimu ini yang sebentar lagi akan puasa. Mana puasanya lama lagi.” Rengek Harvan yang tidak seperti biasanya.


“Baiklah, tapi pelan-pelan ya sayang, nanti putri kita nangis kalau kamu gerasa-gerusu.” Kata Intan.


“Iya, aku akan pelan.” Ujar Harvan yang mulai mencumbui Istrinya dengan penuh kelembutan. Dan seperti biasa jika sudah seperti itu, suasana romantis akan tercipta dikamar mereka.


*


Sementara itu, Jodi yang baru datang untuk menjemput Harvan, memasuki rumah mereka namun di ruang makan sepi, Ia tak melihat sosok Harvan dan Intan yang biasanya pada saat Ia datang mereka sudah menunggu diruang makan.


Kemudian Jodi duduk diruang makan itu, Ia hanya melihat beberapa pelayan dan Bu Nanah saja yang sedang menyiapkan menu sarapan.


“Bu Nanah, Tuan dan Nyonya belum turun ya?.” Tanya Jodi pada Bu Nanah.


“Belum, mungkin sebentar lagi Den Jodi, apa Den Jodi mau makan duluan?.” Tanya Bu Nanah.


“Gak Bu, saya menunggu mereka saja.” Jawab Jodi.


(Gak salah lagi ini mah pastinya lagi mantap-mantap dulu, hadeh.) Guman Jodi.


Jodi menunggu lama sekali diruang makan, sudah lima potong goreng tempe yang Ia suapkan pada mulutnya, tapi orang yang ditunggu belum juga keluar dari kamarnya. Sampai pada akhirnya Jodi mendengar derap langkah dari lantai atas.


“Akhirnya datang juga, hadeh sampe mau berakar gue nunggu disini.” Sindir Jodi. Tapi orang yang dimaksud tidak menanggapi, mereka malah menunjukkan kemesraannya.


Harvan duduk dikursi depan Jodi, kemudian Ia menarik tubuh Istrinya kedalam pangkuannya.

__ADS_1


“Yaelah, gak lihat ada gue disini kali ya.” Celoteh Jodi.


Lagi-lagi Harvan tidak menanggapi, Ia terus saja menciumi Istrinya dan membelai rambutnya di depan Jodi.


“Ampun dah! Ini pasangan bucin. Kaya gak bakalan nemu lagi hari esok ya?! Mesra-mesraan depan gue, udah dianggap gak ada aja gue mah.” Kata Jodi seraya memperhatikan mereka.


Masih dalam pangkuan Harvan, Intan meraih piring dan menumpahkan nasi di atasnya serta membubuhkan beberapa lauk dan sayur. Kemudian Ia menyuapi suaminya sarapan. Setelah menyuapi Suaminya kemudian Ia menyuapkan makanan pada mulutnya.


“Ini kalau drama judulnya apa ya? Sepiring berdua kali ya? Apa sesendok semati?! Hadeh, pusing gue ah.” Ujar Jodi yang terus memperhatikan mereka. Kemudian,


“Oya Bu Nanah, nanti laptop yang di ruangan kerja bawa ke kamar ya? Intan mau pakai.” Kata Harvan.


“Baik Den, sekarang saya ambilkan.” Jawab Bu Nanah.


“Iya Bu, terima kasih ya.” Kata Harvan, seraya mengunyah makanan dalam mulutnya.


“Eh cepat makannya, meeting penting nih pagi ini.” Kata Jodi.


“Iya sebentar, tinggal satu suapan lagi nih kak Jodi, a.. sayang, suapan terakhir nih.” Kata Intan seraya menyuapi suapan terakhir suaminya.


“Elo tuh cerewet banget ya Jod, gak lihat nih gue masih ngunyah.” Ujar Harvan.


“Iya, iya ah lelet banget sih.” Kata Jodi kesal.


Setelah sarapannya habis, kemudian Intan memberikan minum pada mulut suaminya dengan tangannya, setelah itu dilap mulut suaminya itu dengan tisue. Dan selesailah aktivitas di ruang makan itu.


Akhirnya mereka bertiga berlalu meninggalkan ruang makan menuju pintu depan.


“Sayang, Harin anak ayah, ayah pergi kerja dulu ya? Kalau mau keluar cepat-cepat telepon Ayah ya nak, biar ayah bisa jagain ibu, bantu kamu keluar dari perut ibu.” Bisik Harvan pada perut Istrinya. Kemudian,


“Sayang, aku pergi dulu ya? Jangan lupa kalau mulesnya sudah sering, cepat hubungi aku.” Sambung Harvan lembut pada istrinya seraya mencium kening nya, lama Ia mengecup kening Istrinya membuat Jodi kesal.


(Ampun dah gua! Kalau bukan Boss gue, udah gue tinggalin luh ah.) Bathin Jodi.


Intan kembali masuk menuju lantai atas untuk membuat video yang Ia rencanakan.


*


Sementara itu dalam perjalanan menuju kantor, Jodi yang berada dibelakang kemudi memacu kuda besi itu dengan kecepatan rata-rata.


“Eh gue denger tadi elo panggil nama Harin?.” Tanya Jodi.


“Iya gue udah kasih nama buat anak gue, namanya Berlian Putri Harin. Panggilan sayangnya Harin, keren kan nama anak gue Jod?.” Jelas Harvan.


“Weis, keren banget tuh.. tapi Harin diambil dari bahasa apaan tuh?.” Tanya Jodi kembali.


“Harin itu singkatan nama gue sama bini gue, Harvan Intan jadi Harin, keren kan?.” Jelas Harvan.


“Oh gabungan nama elo sama bini ya?, lah elo ngekor si Selvy tuh haha, anak dia kan namanya Revy, gabungan nama Reyhan sama Selvy haha.” Kelakar Jodi.


“Eh Sorry ya kalau gue ngekor mereka, lebih keren nama putri gue lah dibanding anak mereka itu.” Kata Harvan.


“Iya, iya lebih keren Harin lah dari pada Revy si anak bondon itu haha.” Kelakar Jodi.


Mereka berdua terus berbincang sepanjang perjalanan menuju kantor mereka.


*


Sementara itu, seseorang yang tengah fokus memperhatikan Rumah Harvan terlihat tengah menghubungi seseorang melalui Ponselnya.


“Hallo Boss.” Sapa si penelepon.

__ADS_1


“Iya Hallo, ada info apa?.” Jawab seseorang dibalik telepon.


“Sepertinya waktu kelahiran anak mereka sebentar lagi deh Boss, mending buru-buru aja Boss datang ke Ibukota. Gue sekarang lagi didepan rumah si Harvan, tadi gue lihat si Harvan sama asistennya sudah pergi ke kantor, sementara Istrinya sudah terlihat waktunya melahirkan.” Jelas si penelepon.


“Oke, gue meluncur sekarang juga ke Ibukota. Gue langsung ke rumah elo ya?.” Jawab seseorang itu.


“Siap Boss!!.” Jawab si penelepon.


TUT suara sambungan telepon ditutup.


*


*


Tak terasa waktu bergulir kian cepat. Kini sudah menjelang senja, di rumah mewah Harvan, nampak Intan tengah meringis kesakitan. Setelah Ia menutup layar laptop suaminya, perlahan Ia menuruni tangga.


“Bu Nanah, Bu.. aduh sakit.” Keluh Intan.


Tak lama Bu Nanah menghampiri.


“Ya ampun Neng! Sepertinya sudah mulai terasa lagi ya mulesnya?.” Tanya Bu Nanah sedikit panik. Kemudian memapah Intan untuk duduk di kursi.


“Iya Bu, mulesnya sudah sering ini aduh.” Jawab Intan, meringis menahan sakit diperutnya.


“Bu tolong bawakan ke bawah tas-tas yang sudah aku siapkan ya? Aku mau menelepon suamiku dulu.” Sambung Intan, yang kemudian menekan layar ponselnya untuk menghubungi suaminya.


“Baik Neng.” Jawab Bu nanah yang langsung bergegas naik kelantai dua mengambil tas yang sudah Intan siapkan di kamarnya.


“Hallo sayang, perutku sudah mulai terasa sakit ini.” Kata Intan.


“Apa! Tunggu sebentar ya sayang, mh.. suruh pelayan panggilkan supir! Biar supir yang mengantarmu duluan ke Rumah sakit ya? Aku sama Jodi dari kantor langsung ke Rumah sakit!.” Tegas Harvan dalam sambutan telepon.


“Iya sayang.” Jawab Intan lemah yang menahan sakit di perutnya.


Kemudian salah seorang pelayan memanggil supir pribadinya, tak lama dari itu supir pribadi pun datang lalu membawa beberapa tas pakaian Intan dan perlengkapan bayi untuk dimasukkan kedalam bagasi, sementara Intan di papah oleh Bu Nanah memasuki kendaraan yang sudah disiapkan, dan mobil pun melaju menuju Rumah sakit.


Sementara Harvan dikantor tengah gelisah ditengah-tengah rapatnya.


“Ya sudah Har, elo duluan sana ke Rumah sakit biar rapat ini gue yang handle. Nanti gue sama Vivi nyusul ke Rumah sakit kalau semua disini udah kelar.” Ujar Jodi yang ikut-ikutan panik.


“Oke, kalau begitu gue pergi ya sekarang!.” Kata Harvan yang langsung meninggalkan meja rapatnya dengan tergesa. Ia berlari ke parkiran dan JIUS.. mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi.


Sementara itu mobil yang tengah dinaiki Intan berjalan lamban karena macet, Intan sudah merasa tidak kuat dengan rasa nyeri diperutnya.


“Aduh Bu Nanah sakit sekali ini.” Ringis Intan mengelus-elus perutnya.


“Sabar ya Neng, sebentar lagi juga sakitnya hilang.” Hibur Bu Nanah yang membelai-belai rambut Intan.


“Pak, cepat jalannya pak, aku sudah tidak kuat.” Kata Intan pada pak supir.


“Iya Neng, ini jalanan sedikit macet, tunggu sebentar ya neng.” Jawab Pak Supir.


Ditengah-tengah kemacetan Intan terus saja meringis menahan sakit diperutnya, dan sepertinya air ketuban pun mulai merembes di sela-sela kakinya.


Sementara itu mobil yang ditumpangi Harvan pun berjalan lamban alami kemacetan.


“Ah sial! Kenapa lama sekali ini macet nya!.” Ujar Harvan seraya memukul stir mobilnya.


Suasana padat merayap di jalanan ibu kota sore itu terasa membuat waktu lebih lama untuk sampai ke tempat tujuan. Harvan sudah tidak sabar ingin cepat sampai untuk bertemu dengan Istrinya. Ingin cepat berada di sampingnya dan bersama Istrinnya menjemput kelahiran anaknya ke dunia.


*

__ADS_1


Walaupun perjalanan Intan untuk menuju Rumah sakit begitu lamban karena kemacetan, akhirnya Ia sampai di sebuah Rumah sakit yang selalu menjadi andalan keluarganya.


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


__ADS_2