
Senja tenggelam, sang Dewi malam pun menampakan wajah bersinarnya. Tersenyum pada setiap insan yang memandanginya dimalam Purnama itu.
Waktu menunjukan pukul delapan malam. Kala itu Harvan yang masih berada di markas Jodi sedikit pun tak lepas memikirkan putri kesayangannya itu, Ia sangat mengkhawatirkan putrinya. Biasanya malam-malam seperti sekarang ini, ia tengah mengeloni putrinya dengan memutar video ibunya atau membacakan cerita sebagai penghantar tidur.
Timbul rasa kehilangan malam itu. Ia tak bisa berfikir lainnya selain memikirkan anak kesayangannya itu.
“Har, ayo kita pulang. Kita tunggu informasinya di rumah saja.” Ajak Jodi.
“Jod, gue khawatir anak gue malam ini belum makan, gue khawatir anak gue gak bisa tidur, dia baru mau tidur kalau gue bacakan cerita atau lihat video ibunya nyanyi. Gue takut dia sakit Jod.” Lirih Harvan.
“Iya Har. Gue juga mikirin hal yang sama, tapi kita harus pulang Har, mari kita pikirkan segalanya dirumah. Biar team gue yang bekerja, toh kita juga bisa terus memantau di rumah kan?.” Jelas Jodi.
Akhirnya dengan bujukan Jodi, Harvan mau ia bawa pulang. Kemudian Jodi pun memacu kuda besi yang ia dan Harvan tumpangi.
*
Sementara itu di dalam villa, nampak Selvy tengah memerintahkan pelayan untuk membawa makanan dan minuman serta camilan yang lumayan banyak ke kamar Revy. Karena ia berniat mengunci kamar Revy dari luar pada aaat ia akan pergi beberapa jam lagi.
“Tolong bawa semua makanan dan minuman ini keatas ya!.” Kata Selvy pada salah satu pelayan.
Kemudian pelayan itu pun membawanya ke lantai atas tepatnya ke kamar Revy.
Pada saat pelayan itu membawa makanan ke dalam kamar, Revy sedikit terkejut.
“Untuk apa semua makanan ini?.” Tanya Revy pada pelayan itu.
“Saya tidak tahu nona, nyonya hanya menyuruhku membawa semua ini kekamar nona.” Ujar pelayan tersebut.
“Oh ya sudah.” Kata Revy, kemudian pelayan itu kembali meninggalkan kamar Revy.
Lalu Revy mendekati makanan yang pelayan simpan pada sebuah meja dikamar itu. Revy melihat ada dua forsi makan malam dengan forsi yang lebih banyak dari biasanya, kemudian beberapa botol minuman air mineral dan minuman rasa buah, juga di dalam paper bag yang berlogo salah satu swalayan ternama, terdapat beberapa coklat dan snack serta susu kotak.
Revy sedikit bingung dengan apa yang ibunya lakukan itu. Ia sedikit curiga pada ibunya bahwa sesuatu akan di lakukan olehnya. Tapi entah apa? Dia sungguh tidak mengerti.
__ADS_1
Kemudian Harin mendekat. Ia pun sama merasakan aneh melihat makanan sebanyak itu.
“Ini semua untuk apa kak? Apa setiap malam kakak memakan makanan sebanyak ini?.” Tanya Harin.
“Aku juga tidak mengerti Harin, kenapa mereka memberikan makanan sebanyak ini pada kita, biasanya tidak seperti ini, apa karena sekarang ada kamu sehingga mereka memberikan makanan sebanyak ini.” Heran Revy.
“Mungkin juga kak, tapi aku tidak pernah makan snack seperti ini, ayah melarangku, tapi kalau coklat aku boleh memakannya.” Ucap polos Harin.
“Sama Harin, oma sama opa aku juga tak pernah memberikan makanan seperti ini padaku. Mereka benar-benar tidak tahu bagaimana kita ya Harin? Mereka fikir kita sama seperti anak-anak diluar sana.” Kata Revy dengan senyuman sinis.
“Lalu akan kita apakan makanan-makanan ini kak?.” Tanya Harin.
“Biarkan saja Harin, kita makan saja makan malamnya dan mengambil beberapa coklat itu.” Kata Revy.
“Ayo kak kita makan.” Ajak Harin.
“Ayo, aku suapin kamu dulu ya, baru nanti gilliranku setelah makananmu habis.”
“Tidak kak, aku tidak mau merepotkan kakak, mulai sekarang aku harus belajar mandiri.” Tolak Harin.
Kemudian mereka pun makan bersama di sofa itu. Revy melihat bagaimana cara Harin makan. Ia tersenyum melihat dari cara Harin memegang sendok yang salah serta makanan yang berceceran kemana-mana.
“Kamu harus sabar ya Harin, suatu saat kamu akan bisa mandiri. Aku juga waktu sebesar kamu makannya berantakan Hehe.” Revy menguatkan Harin.
“Iya Kak.” Jawab Harin melahap makanannya.
Pada saat mereka tengah menikmati makanannya, tiba-tiba Selvy masuk, ia menghampiri Revy dan Harin yang tengah menikmati makanannya.
“Kalian tahu tidak! Kenapa aku menyuruh pelayan membawakan banyak makanan untuk kalian?.” Tanya Selvy dengan melipat kedua tangan di dadanya. Revy memandangi wajah ibunya itu untuk beberapa saat, kemudian ia kembali menyuapkan makanan pada mulutnya.
“Karena malam ini aku akan pergi ke pesta.” Kata Selvy.
(Kalau memang benar mereka akan pergi ke pesta malam ini, mungkin ini saatnya aku dan Harin kabur dari rumah ini.) bathin Revy.
__ADS_1
“Selama aku pergi! Kalian tidak boleh kemana-mana, bahkan ke lantai bawah sekalipun! Jadi aku akan mengurung kalian dikamar ini.” Jelas Selvy. Kembali Revy memandangi wajah ibunya itu.
(Oh tidak! Kalau mereka mengurungku dan Harin, bagaimana kita bisa kabur dari rumah ini.) Bathin Revy kembali.
“Aku harap, kalian tidak bikin gaduh untuk menarik perhatian orang!, tapi tidak mungkin juga ada orang yang akan berani masuk kesini, karena aku sudah Menyuruh beberapa penjaga untuk tidak membiarkan orang masuk ke villa ini haha.” Kelakar Selvy. Lalu Selvy meninggalkan mereka berdua. Yang sebelumnya ia mengunci pintu balkon dan mengambil kuncinya. Kemudian mengunci pintu kamar dan mengambil kunci kamar tersebut.
Pada saat Selvy telah meninggalkan kamar mereka. Revy menghela nafas panjang. Lalu berdiri menggerak-gerakan pintu balkon, kemudian menghampiri pintu kamar dan berusaha membuka pintu kamar itu, dan benar saja pintu itu telah dikunci dari luar.
“Dasar nenek sihir!.” Gumam Revy, ia kembali duduk di sebelah Harin.
“Jadi kita tidak bisa kabur ya kak?.” Tanya Harin ketakutan setelah mendengar kata-kata Selvy tadi.
“Tenang saja Harin, kamu jangan takut, pasti ada cara lain untuk kabur dari tempat ini. Dan sekaranglah waktunya, mereka akan pergi ke pesta dan saat inilah yang kita tunggu-tunggu, tapi bagaimana kita kabur dari sini kalau mereka mengurung kita disini ya.”
“Iya kak, sepertinya tidak ada jalan keluar.” Kata Harin.
“Aku akan memikirkannya Harin, jadi kamu tenang saja.” Kata Revy seraya berfikir. Kemudian,
“Apakah kamu sudah ngantuk Harin?.” Tanya Revy.
“Belum kak, aku selalu tidur bersama ayah, sebelum aku tidur, ayah akan membacakan buku cerita dulu untukku, atau aku mendengarkan ibu bernyanyi di tab.” Jelas Harin sedih.
“Jangan bersedih ya Harin?, setelah kita kabur dari rumah ini, kamu akan segera bertemu dengan ayahmu. Aku juga rindu pada oma dan opa ku, mereka selalu bergantian menemaniku tidur.” Kata Revy sembari pikirannya berkelana membayangkan pada saat ia berada di Jerman.
“Ayo sini Harin, ikut aku.” Sambung Revy seraya memegang tangan Harin dan membawa kedepan lemari.
“Dari sekarang kita harus bersiap-siap membereskan apa yang akan kita bawa. Mana tas sekolahmu?.” Tanya Revy pada Harin. Kemudian Harin mengambil tas hello kitty nya dari meja belajar Revy.
“Ini Kak.” Harin menyerahkan tas hello kitty itu pada Revy.
Kemudian Revy memasukan satu stel pakaian dan jaket Harin yang di simpan didalam lemari oleh pelayan, lalu memasukan coklat dan susu kotak. Setelah selesai Revy menyimpan tas hello kitty itu diatas tempat tidur. Kemudian ia mengambil tas gendong miliknya, lalu memasukan beberapa stel pakaian dan jaket serta dompet miliknya yang berisi beberapa lembar uang Euro pecahan 100 Euro pemberian oma nya, juga satu unit ponsel miliknya yang ia sembunyikan di dalam lemarinya.
Setelah selesai, ia menyimpan tas gendongnya diatas tempat tidur bersamaan dengan tas Harin. Kemudian ia membawa Harin duduk di sisi tempat tidur.
__ADS_1
“Sekarang saatnya kita kabur dari rumah ini Harin. Setelah mereka berdua berangkat pergi ke pesta.” Kata Revy.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝