
“Ibuuuuu.”
Betapa terkejutnya Harvan saat ia mendengar teriakan sang putri. Dengan cepat ia bangkit dan menghampiri sang putri.
Begitu pun apa yang di rasakan Delima, bergegas ia keluar dari kungkungan tubuh kekar tuannya, dengan penampilan yang sudah tidak karuan ia bergegas menghampiri Harin sembari membenahi pakaiannya.
“Kenapa sayang.” Delima segera meraih tubuh kecil itu. Tak perduli dengan peluh yang bercucuran pada lehernya akibat serangan sang tuan tadi.
“Ibu sama ayah kemana? Aku takut, aku mimpi buruk.” Rengek putri kecil itu.
“Ayah dan ibu ada di sini sayang, ayo kembali tidur.” Delima mengajak Harin kembali tidur, ia peluk dan ia cium dengan penuh kasih sayang. Sepertinya Delima merasa terselamatkan oleh teriakan Harin dari perlakuan tuannya yang merupakan ancaman baginya.
Sementara Harvan yang tengah berdiri di samping tempat tidur, merasa sedikit gugup karena ia tidak menyangka kalau putrinya akan membuatnya terkejut. Dengan menaruh tangan kirinya pada pinggang dan tangan kanannya mengusap kasar rambut yang sudah acak-acakan ia menggerakkan badannya kekiri dan ke kanan merasakan gelisah.
Entah apa yang berkecamuk di dalam pikirannya. Gelora birahinya langsung hilang karena rasa terkejutnya. Perlahan ia baringkan tubuh nya di samping putri kesayangannya itu.
Sementara Delima masih merasakan getaran yang hebat di dadanya. Setelah ia lihat Harin kembali terlelap, ia rapikan selimbut yang menutupi tubuh kecil itu. Namun, tanpa sengaja pada saat ia merapikan selimut, tangannya menyentuk tangan Harvan.
DUG kedua nya merasakan degupan jantung bersamaan.
Dengan cepat Harvan meraih tangan itu dan meletakan di atas dadanya. Delima menarik kuat tangannya namun cengkraman tangan sang tuan terlalu kuat hingga ia membiarkan telapak tangannya bersatu dengan telapak tangan tuannya.
Sesekali Harvan mencium punggung tangan Delima dalam cengkramannya kemudian meletakan kembali di atas dadanya. Dalam diam ia pandangi langit-langit kamar dengan pikiran yang menerawang entah kemana.
Sementara Delima yang kala itu ia merasakan punggung tangannya hangat, membiarkannya seolah ia pun menikmatinya. Sesekali ia curi pandang pada wajah tanpan yang tengah menatap langit-langit itu. Terbersit dalam ingatannya akan apa yang telah mereka lakukan. Sepertinya Delima merasakan gairah yang sama.
Mereka saling menatap dalam diam. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga tak terasa membawa mereka terlelap dalam buaian mimpi.
*
Pagi menjelang, kala Harvan membuka mata dan menoleh ke samping, ia tak menemukan putrinya juga Delima, namun ia mendengar sayup-sayup tawa putri kecilnya di dalam kamar mandi.
Harvan bangkit dari atas tempat tidur, perlahan ia melangkah menuju kamar mandi. Pada saat ia membuka pintu kamar mandi, nampak sang putri dan Delima tengah mandi bersama di atas bathtub.
Melihat penampakan tersebut, mengalir darah Harvan membangkitkan gairah semalam yang tertunda.
Delima terkejut kala melihat Harvan masuk ke kamar mandi dan dengan cepat menutup tubuhnya dengan busa sabun hingga ke lehernya. Ia gugup sedikit salah tingkah.
“Ayah.. ayo sini, apakah ayah mau mandi bareng kita?.” Tanya polos Harin.
“Oh jangan sayang, biar ayah mandi sendiri saja nanti.” Sela Delima gugup.
Perlahan Harvan mendekat ke arah mereka dengan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Dan berjongkok di depan bathtub tersebut.
“Ibu mu melarang ayah mandi bersama kalian sayang.” Kata Harvan pada putrinya.
“Kenapa ibu? Kan seru kalau kita mandi bertiga, iya kan ayah?.” Tanya sang anak kepada ayahnya dan ayahnya menganngguk dengan melirikan matanya kearah Delima.
Semakin bergetar tubuh Delima kala melihat tatapan Harvan yang mulai nakal padanya.
“Hm.. Ka-kalau ayahmu mandi bersama kita.. ti-tidak akan cukup sayang, bathtub nya kecil, tubuh ayahmu kan besar.” Delima mencoba meyakinkan Harin agar tak memaksa ayahnya untuk mandi bersama mereka.
“Ya sudah kalau begitu, ayah mandi sendiri saja ya nanti.” Kata sang anak.
“Oya ayah, leher dan dadanya ibu pada merah, di gigit nyamuk. iya kan bu?.” Sambung polos sang anak.
DUG dada Delima berdegup kencang.”
“Oya? Benarkah? Coba ayah lihat.” Kata nakal Harvan dengan senyuman binal pada Delima.
Delima semakin gugup dan sedikit pucat, karena takut kalau sang tuan benar-benar ingin melihatnya.
(Ya Tuhan, jangan biarkan dia melihatnya, kenapa tuan jadi seperti itu. Sekarang tuan sangan berbeda dengan apa yang aku lihat waktu pertama kali.) Bhatin Delima.
“Sepertinya ibu ketakutan sayang… ya sudah nanti saja ayah melihat bekas gigitan nyamuknya.” Ujar sang ayah meninggalkan mereka dengan senyum menyeringai kala tatapannya tertuju pada Delima.
(Piuh… terima kasih Tuhan.) Bathin Delima, ia buang nafasnya dan merasa lega karena tuannya tidak jadi melakukan hal yang ia takutkan.
Saatnya sarapan pagi.
Harvan, Jodi dan Harin sudah duduk rapi di ruang makan. Sementara Delima sibuk menghidangkan sarapan untuk mereka. Tak biasanya Delima memakai syal dan baju hangat.
“Kamu sakit?.” Tanya Harvan berpura-pura bertanya pada Delima di depan Jodi. Padahal ia tahu kalau Delima memakai syal itu untuk menutupi tanda akibat apa yang telah ia lakukan padanya semalam.
“Apa gue perlu panggilkan dokter buat dia Har?.” Celetuk Jodi.
__ADS_1
“Ah tidak usah.. aku hanya sedikit meriang, nanti juga membaik.” Tolak Delima.
“Ya sudah gak usah Jod, mungkin karena kelelahan kali.” Kata Harvan.
“Makanya Delima, aku bilang juga apa, jangan ngurusin yang lain, tugas kamu kan menemani Harin.” Sambung Harvan.
(Pandai sekali Tuan bersandiwara. Apa kau tidak tahu? Kalau aku memakai ini semua untuk menutupi tanda yang kau tinggalkan semalam!.) Bathin Delima.
Harvan memandangi wajah Delima lalu menyunggingkan senyuman pada sudut bibirnya. Delima hanya melihat tatapan dari tuannya itu kemudian mengerlingkan matanya.
Setelah sarapan mereka selesai, akhirnya Jodi dan Harvan meninggalkan kediamannya tersebut menuju kantor mereka.
*
Di kantor, seperti biasa Harvan melihat kegiatan putrinya melalui layar laptopnya.
Ia melihat Harin tengah belajar di samping Delima. Delima terlihat menyuruh Harin belajar menulis. Kemudian ia beranjak menuju cermin. Perlahan ia membuka syalnya di depan cermin. Terlihat Ia menghitung jejak yang ditinggalkan oleh tuannya itu.
Ia terlihat sedikit kesal, lalu terlihat menggosok-gosokan sesuatu pada tanda itu.
Melihat tingkah Delima Harvan tersenyum-senyum sendiri.
Sepertinya ia mulai merasakan getaran asmara terhadap Delima namun ia tak menyadarinya. Akhir-akhir ini pikirannya selalu di penuhi dengan wajah wanita itu. Meski awalnya Delima ia jadikan sebagai alat untuk menyenangkan putrinya tetapi lama-lama pesona Delima meluluhkan hatinya.
Perlahan nama Intan berubah menjadi Delima dalam hatinya. Dan jika di ingat-ingat kembali, Intan tidak pernah muncul di dalam mimpinya semenjak kehadiran Delima dalam hidupnya.
Baru saja ia sampai ke kantor sudah merasa rindu pada wanita itu, lalu ia merogoh ponselnya dan menghubunginya. Ia melihat pada layar monitor Delima mengambil ponselnya dari meja nakas.
“Hallo.” Sapa Delima, sementara Harvan melihat pada layar monitor wanita itu tengah menyapanya.
“Hai.” Jawabnya singkat.
“Ada apa tuan?.”
“Jangan panggil aku tuan, tidak enak terdengar oleh Harin.”
“Lalu aku harus memanggil apa?.”
“Panggil aku seperti Harin Memanggilku.”
“Tapi aku tidak enak dengan orang-orang di sekitar kita.”
Delima terlihat diam sejenak. Ia lihat pada layar monitor wanita itu nampak terlihat bingung. Ia tersenyum melihat tingkah wanita itu.
“Bagaimana?.” Tanya Harvan.
“Baiklah akan aku coba.” Jawabnya ragu.
“Bagus! Oya? Bagaimana bekas gigitan nyamuknya?.” Goda Harvan. Nampak Delima terlihat bingung, kembali Harvan tersenyum.
“Kok diam?.” Tanya Harvan sembari senyum-senyum sendiri.
“Nyamuknya. Jahat sekali ya? Gigit kamu sampai banyak meninggalkan bekas. Awas loh nanti malam dia gigit lagi.” Goda Harvan. Terlihat pada layar monitor Delima seperti ketakutan. Harvan kembali tersenyum.
“Ja-jangan, aku mohon.” Kata Delima gugup.
“Kenapa? Gak suka?.” Harvan terus saja meggoda.
“Aku ini di anggap apa?.” Delima mulai terlihat berkaca-kaca, ia duduk tidak jauh dari Harin tepat dibekangnya.
Melihat semua itu Harvan merasa bersalah dan tidak menduga kalau candaannya itu membuat Delima tersinggung.
Bergegas ia meninggalkan ruangannya menuju ruangan Jodi untuk mengambil kunci mobil.
“Jod mana kunci mobil?.” Tanya Harvan tergesa-gesa.
“Mau kemana? Bentar lagi meeting.”
“Gue ada perlu bentar. Meeting elo yang handle. Mana kunci nya? Cepat!.” Paksa Harvan.
“Itu diatas meja.” Jodi melongo merasa heran melihat tingkah Boss nya seperti itu.
Dengan cepat Harvan mengambil kunci itu dan berlari menuju parkiran.
Dalam waktu yang singkat Harvan sampai di kediamannya. Ia berlari menuju kamar putrinya namun tak ada siapa pun disana. Dia mencari ke setiap ruangan namun tak dapat menemukan orang yang ia cari. Pada saat ia menuruni anak tangga ia melihat Harin tengah berada di taman belakang, bergegas ia menghampiri putrinya.
__ADS_1
“Sayang dimana ibu?.” Tanya Harvan pada putrinya dengan nafas yang terengah-engah.
“Ayah sudah kembali? Tuh ibu disana!.” Sang anak menunjukan pada sosok yang ayahnya cari.
Nampak Delima tengah memotong daun kering pada beberapa tanaman. Terlihat matanya sedikit sembab.
Perlahan Harvan mendekat dari arah belakang Delima.
“Maafkan aku…” ucapnya, Delima menoleh ke arah asal suara. Terlihat olehnya sosok lelaki yang telah membuatnya merasa terancam.
“Maaf untuk apa.” Kata Delima datar.
“Maaf untuk segalanya. Aku sudah keterlaluan padamu. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Percayalah.” Harvan memohon namun Delima diam saja, malah ia meninggalkan Harvan menuju ke tempat dimana Harin berada.
“Ayo sayang cuci tanganmu. Kita belajar berhitung.” Ajak Delima pada Harin lantas menggendongnya dan membawanya masuk, meninggalkan Harvan yang menyesali perbuatannya.
Harvan mengikuti Delima sampai di kamar putrinya itu. Ia duduk di sofa memperhatikan pergerakan Delima.
“Karena habis pegang tanaman, kamu ganti baju dulu ya sayang, setelah itu baru kita belajar berhitung.” Kata Delima pada Harin, kemudian ia beranjak menuju walk-in closet untuk mengambil pakaian Harin.
Melihat Delima masuk ke dalam walk-in closet dengan cepat Harvan mengikutinya. Ia peluk tubuh delima dari belakang.
“Lepas!.” Kata Delima sedikit berbisik karena takut terdengar Harin.
“Aku gak akan melepaskan kamu sampai kamu mau bicara.” Bisik Harvan yang menempelkan bibirnya pada telinga Delima, membuat delima merinding.
“Lepaskan! Kalau tidak aku akan teriak!.”
“Coba saja kau teriak! Memangnya siapa yang akan mendengar.” Harvan semakin mengeratkan pelukannya.
“Tolong jangan seperti ini, lepaskan, nanti Harin dengar.” Delima berusaha melepaskan tangan Harvan yang semakin erat memeluknya.
“Justru Harin akan merasa senang melihat ayah dan ibunya seperti ini. Aku akan melepaskanmu asal kau memaafkanmu.”
“Iya… iya aku memaafkanmu, sudah sekarang lepaskan.” Pinta Delima tapi Harvan tak juga melepaskan pelukannya.
“Aku ingin selalu bersamamu. Aku rasa aku mencintaimu. Tolong jangan marah padamu.” Bisik Harvan.
Delima terdiam dan membalikan tubuhnya, kini mereka berhadapan.
“Benarkah seperti itu? Bukan kah kau melihatku hanya mirip istrimu saja? Kau hanya terobsesi oleh istrimu saja. dan aku bukan istrimu. Tolong ingat itu.”
“Delima, aku sangat mencintai istriku dan kini aku pun mencintaimu, tolong mengerti aku. Bukan karena kau mirip istriku, tapi aku memang benar-benar mencintaimu. Kau harus tahu, aku tak mudah mencintai wanita Delima, dan kau telah membuat aku jatuh cinta padamu.” Kata Harvan serius.
“Ibuuuuu.” Teriak Harin.
“Iya sayang sebentar ibu sedang mengambil bajumu.” Jawab Delima.
“Nanti kita bicara lagi, lepaskan, kasihan Harin menungguku.” Kata Delima berusaha melepaskan peluka Harvan.
“Aku tidak ingin menunggu nanti, kau harus menjawabnya sekarang.” Paksa Harvan.
“Menjawab apa?.”
“Katakan kalau kau juga menginginkan aku.” Kata Harvan.
“Tapi jangan seperti ini.”
“Aku tidak bisa kalau tidak seperti ini, katakan cepat!.”
“Ibuuuuu dimana? kok lama sekali.” Teriak Harin kembali.
“Iya sayang sebentar.” Delima panik.
“Jawab sekarang! Baru akan aku lepaskan!.” Paksa Harvan kembali.
“Iya.. iya aku juga merasakan hal yang sama sepertimu! Puas! Sudah sekarang lepaskan! Kau tidak dengar anakmu sudah berteriak.” Delima sedikit kesal.
Mendengar apa yang dikatak Delima, Harvan tersenyum lebar seraya meletakan kedua tangannya pada wajah Delima lalu mencium bibirnya dan terus mengecupnya.
Delima mendorong tubuh Harvan dan bergegas setengah berlari menuju Harin.
“Ibu lama sekali.” Rengek Harin.
“Maaf sayang ibu mencari-cari baju yang cocok buatmu.” Kata Delima dengan nafas yang terengah-engah.
__ADS_1
Harvan keluar dari walk-in closet lalu ia sandarkan tubuhnya pada pintu dengan melipat kedua tangan di dadanya seraya tersenyum penuh kemenangan.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝