
Pukul sepuluh malam, Harvan dan Jodi sampai di kediaman mereka. Harvan melangkahkan kaki nya menuju kamarnya. Dimana kamar itu adalah kamar dirinya dan Harin untuk beristirahat, selain itu kamar yang telah ia rubah menjadi warna pink dengan pernak pernik hello kitty dan hiasan seperti anak perempuan pada umumnya, banyak menyimpan cerita untuk kehidupannya.
Kini kamar itu sepi. Harvan melihat sekeliling, tak ada lagi canda tawa putri kecilnya.
Lalu ia buka lemari milik putrinya, ia sentuh satu-satu pakaian milik putrinya itu, ia cium cukup lama, perlahan ia tutup kembali lemari itu. Kemudian meraih tab di atas meja nakas yang biasa ia gunakan untuk melihat ibu putrinya bernyanyi.
Harvan sentuh layar tab tersebut, ia lihat tayangan istrinya yang biasa ia putar bersama putrinya.
“Maafkan aku Intan, aku tidak bisa jaga dia dengan baik. Aku kehilangan dia sekarang, dan aku tidak tahu dimana dia kini. Kau pasti marah padaku karena tidak bisa menjaganya, kau pasti kecewa karena aku lalai.” Gumamnya dalam deraian air mata. Hingga tak terasa membuat ia terlelap masih dengan pakaian kantornya.
*
*
Sementara itu di villa puncak milik Aldo yang akan mengadakan pesta bebera saat lagi sudah siap dengan berbagai minuman dalam dan luar negeri. Sengaja Aldo mengadakan pesta itu untuk membantu Harvan, yaitu menelisik apa yang telah dan akan Reyhan lakukan.
Kemudian Aldo merogoh ponselnya untuk melihat siapa yang telah menghubunginya.
“Hallo.”
“Hallo Do, gue Jodi asistennya Harvan.”
“Oh iya Jodi bagaimana?.”
“Dimana elo mau buat pestanya? Apa teman gue boleh datang kesana buat nyelidikin si Reyhan sama si Selvy?.”
“Di villa daerah puncak Jod. Tentu saja boleh Jod, justru itu lebih baik.”
“Oke kalau begitu, gue kirim kesana lima orang ya?.”
“Siap!”
“Makasih ya Do atas bantuannya. Gue pantau dari sini.”
“Oke sama-sama Jod.”
TUT suara sambungan ponsel terputus.
*
Sementara itu Selvy dan Reyhan tengah bersiap-siap untuk berangkat ke acara yang Aldo adakan itu. Mereka sudah siap dengan pakaiannya masing-masing. Selvy dan Reyhan keluar dari kamarnya kemudian melewati kamar Revy sebelum menuruni anak tangga.
“Bagaiman mereka?.” Tanya Reyhan pada Selvy menunjuk pintu kamar Revy dengan wajahnya.
“Sudah aman, tenang saja, tadi aku sudah memberikan banyak makanan untuk mereka agar mereka tidak kelaparan haha.” Kelakar Selvy.
“Lalu, sudah dikunci semuanya?.” Tanya Reyhan kembali.
“Sudahlah, ini kuncinya ada bersamaku.” Jawab Selvy sembari mengeluarkan kunci dalam tas kecilnya.
“Bagus!.” Kata Reyhan dengan menggandeng Selvy menuruni anak tangga dan berlalu menuju mobil mereka.
Mereka berdua pun meninggalkan villa tersebut.
__ADS_1
Sementara itu disebuah kamar, nampak Revy tengah mondar-mandir di depan Harin yang duduk diatas tempat tidur. Nampaknya Revy tengah mencari cara agar mereka bisa keluar dari kamar itu.
Sementara Harin dengan kantuk yang terlihat dari wajahnya terus memperhatikan Revy yang mondar mandir di depannya.
“Kakak kenapa?.” Tanya Harin.
“Aku sedang mencari cara untuk dapat bisa keluar dari kamar ini Harin.” Jawab Revy.
“Sepertinya kita tidak bisa kabur ya kak? Kita dikurung dikamar ini, kita tidak akan pernah bisa lari kemana-mana.” Harin menunduk.
“Ayah.. aku rindu ayah.. pasti aya lagi cemas menungguku.. ibu seharian ini aku belum melihat ibu. Aku rindu kalian.” Sambung Harin lirih.
Lalu Revy menghampiri Harin, memeluknya untuk menenangkan gadis kecil itu. Pada saat mereka tengah merasakan kesedihannya, tiba-tiba mereka mendengar suara dari kaca depan jendela balkon.
Sesaat Harin dan Revy berpandangan, kemudian perlahan Revy mendekat ke arah asal suara tadi, perlahan ia singkapkan gorden yang menutupi jendela tersebut. Betapa kaget Revy kala melihat sesuatu yang berada dibalik jendela tersebut.
Ia bergegas menjauh dari jendela itu dengan mulut menganga dan mata yang melebar. Lalu mendekat kearah Harin dan memeluknya.
“Kenapa kak?.” Tanya Harin. Revy diam saja enggan bersuara, ia ketakutan melihat sosok yang berada dibalik jendela depan. Harin penasaran dengan apa yang telah dilihat Revy sehingga membuat Revy ketakutan.
Perlahan Harin beranjak mendekati jendela hendak membuka gorden penutupnya.
“Harin! Jangan mendekat, itu bahaya.” Jelas Revy.
Tetap Harin merasa sangat ingin tahu apa yang berada dibalik jendela itu. Perlahan ia membuka gorden. Tiba-tiba
“Hah!!!! Tante!.” Harin membuka lebar gorden itu, ia terduduk dilantai dengan kedua telapak tangan menyentuh kaca memandangi penampakan di depan matanya.
Ia melihat macan putih yang emak beri nama Ihot itu berada di balik jendela balas memandanginya.
“Kakak jangan takut, dia tante aku.” Jelas Harin.
“Apa? Kau bilang macan yang buas itu tantemu?.” Revy terheran-heran.
“Dia baik kakak, dia sering menemaniku kalau aku terjaga malam hari, nama macan putih itu tante Ihot, ia macan milik nenekku.” Jelas Harin.
“Apa? Kau serius Harin?.” Tanya Revy tidak percaya.
“Kalau kakak tidak percaya, aku akan menemuinya ya, aku akan keluar lewat jendela ini.” Kata Harin yang kemudian membuka jendela disamping pintu yang terletak dibalkon kamar itu.
Kemudian setelah membuka jendela itu Harin keluar menghampiri macan putih itu dan memeluknya.
Menyaksikan apa yang ia lihat didepan matanya, Revy merasa tidak percaya. Bagaimana tidak? Revy melihat Harin, sedikit pun tidak merasa takut terhadap hewan buas itu. Iya menggisikan kedua matanya dengan jari-jarinya.
“Ayo kakak sini, ia tidak jahat kak, tanteku bukan macan seperti macan yang berada di kebun binatang.” Jelas Harin.
Revy terdiam sejenak, perlahan ia beranikan diri untuk keluar jendela dan mendekat ke arah macan putih itu.
“Tante Ihot, kenalkan ini kak Revy yang membantuku ditempat ini.” Kata Harin berbicara pada macan putih itu. Kemudian terlihat macan putih itu mengangguk seperti mengerti apa yang Harin katakan lalu macan itu melihat ke arah Revy.
Revy merasa takut kala macan itu menjuruskan pandangan ke arahnya, tetapi ketakutannya tidak sebesar pada saat pertama kali ia melihatnya dibalik jendela.
“Ayo kak sini, pegang tante aku, dia tidak jahat kok.” Kata Harin menarik tangan Revy.
__ADS_1
Perlahan Revy pengarahkan tangannya dan menyentuh wajah macan itu dengan debaran hebat di dadanya. Lama Revy menyentuh wajah macan putih itu hingga perlahan rasa takutnya hilang. Lalu ia tersenyum,
“Kamu benar Harin, dia macan yang baik.” Kata Revy yang terus mengelus kepala macan itu.
Tiba-tiba macan itu merebahkan tubuhnya, kemudian Harin memeluk macan itu melingkarkan kedua tangannya pada leher macan itu.
“Sini kak, duduk bersama kami.” Ajak Harin.
Perlahan Revy mendekat kearah macan tersebut lalu menyandarkan tubuhnya pada tubuh macan itu.
“Harin, bagaimana tantemu ini bisa naik ke lantai dua balkon ini ya?.” Tanya Revy.
“Tanteku hebat kak, ia bisa berlari kencang dan bisa terbang.” Jelas Harin.
“Benar kah? Wah hebat sekali dia, benar katamu, tantemu bukan macan sembarangan ya.” Kata Revy kagum sembari mengelus tubuh macan itu.
Terlintas dalam benak Revy mengenai rencana dirinya ingin kabur dari tempat itu.
“Oya Harin, apa tantemu ini bisa membantu kita untuk keluar dari rumah ini?.” Tanya Revy.
“Sebentar kak, aku tanya dulu tanteku ya?.” Kemudian Harin seperti berbicara pada macan itu, dan macan itu pun seolah mengerti apa yang Harin katakan.
“Iya kak, tanteku bisa menolong kita keluar dari tempat ini.”
“Benarkah?.” Kata Revy merasa senang.
“Ayo kak kita pergi sekarang saja, sebelum mereka pulang dari pestanya.” Ajak Harin.
“Ayo, tapi tunggu sebentar Harin, aku akan mengambil tas kita dulu didalam kamar.” Kemudian Revy bergegas masuk kembali kekamarnya melewati jendela itu. Lalu mengambil tas miliknya dan tas Harin yang telah ia siapkan tadi, tak lupa juga Revy mengambil sepatu boot Harin dan sepatu miliknya.
Setelah ia kembali berada di balkon, kemudian ia memakaikan jaket dan leging kepada Harin karena saat itu Harin kecil hanya memakai rok pendek, setelah itu ia pakaikan juga boot itu pada Harin.
“Karena cuaca diluar sana sangat dingin, kamu harus memakai pakaian tebal Harin, jaket dan leging ini akan menghangatkanmu.” Kata Revy, kemudian ia pun memakai jaketnya dan sepatunya.
“Terima kasih kak, ayo kita naik ke punggung tanteku.” Ajak Harin.
“Apa? Naik ke punggungnya? Apa tidak bahaya Harin? Nanti kita bisa jatuh.” Revy sedikit ketakutan.
“Tidak kak, aku pernah melakukan itu dan tidak terjadi apa-apa.” Jelas Harin.
“Ya sudah ayo!.” Kata Revy.
Kemudian Harin menaiki punggung macan itu lalu disusul Revy di belakangnya.
“Kita siap tante.” Kata Harin pada macan putih itu.
Secepat kilat macan itu melesat keluar dari balkon itu, membuat Revy ketakutan, ia peluk erat tubuh kecil Harin dengan memejamkan matanya sekuat tenaga.
Lalu perlahan ia buka mata, dengan senang hati Revy rentangkan tangannya seraya berkata,
“Horay… kita bebas.”
Terdengar gelak tawa bahagia dari keduanya.
__ADS_1
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️