Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
WHAT!! Tante Ihot?!


__ADS_3


“Eh Jod, suruh crew dari Korea itu pada keluar dong.”


“Har, elo jangan aneh-aneh deh, ini tuh lagi uji coba produk, ya mereka harus tahu sejauh mana produk mereka ini dapat diterima dan menarik pasar di negara kita ini.” Jelas Jodi.


“Ya gue gak enak aja kali Jod, elo kan tahu kalau gue deket istri gue maunya kayak gimana?!.”


“Makanya untuk saat ini elo tahan dulu deh hasrat terdalam elo itu. Elo mau Ketawa jungkir balik disini gak masalah, elo mau nangis sampai guling-guling di ruang green screen ini juga masa bodoh, asal inget satu, urusan mantap-mantap elo delete dulu dari otak elo saat ini.” Ujar Jodi.


“Iya, iya deh ah bawel luh.” Kesal Harvan.


Kemudian Harvan mulai melangkahkan kakinya ketengah-tengah area ruangan green screen itu. Sementara Jodi dan beberapa crew dari negara Korea menyaksikan di depan layar monitor.



Harvan mulai merasakan bahwa ia kini tengah berada di suatu tepi pantai. Tiba-tiba dari seberang lautan ia melihat sosok perempuan semakin mendekat berjalan kearahnya. Semakin dekat dan semakin jelas bahwa yang mendekat kearahnya adalah sang Istri yang selama ini ia rindukan.


Harvan mulai berdebar, ia merasakan getaran dalam hatinya semakin berdegup kala melihat wajah cantik yang ia rindukan itu semakin mendekat, dan kini sang cinta tengah berada di hadapannya. Memandangi wajahnya dengan tatapan yang mesra.


“Intan, istriku.” Bibir Harvan bergetar seakan tak percaya bahwa ini adalah nyata. Perlahan ia sentuh wajah sang cinta itu.


Kemudian sang istri menyentuh jemari suaminya yang berada pada pipi lembutnya.


“Sayang, katakanlah sesuatu bahwa ini nyata. Katakan bahwa kau kini ada di hadapanku.” Ucap lembut Harvan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Ya, aku kini bersamamu suamiku. Apa kabarmu? Aku sangat merindukanmu. Aku menunggu saat-saat seperti ini datang, dan kini, waktu itu menyambut kita. Apa kau bahagia seperti apa yang kurasakan? Dipantai ini kita pernah bersama dan tempat ini akan selalu menjadi kenangan untuk kita. Disini kau pernah mengatakan, bahwa kau akan selalu bersamaku selamanya. Aku sangat bahagia kala kau nyatakan itu, aku merasa bahwa akulah wanita terbahagia di bumi ini karena merasakan cinta yang begitu dalam darimu. Terima kasih sayang, cintamu begitu sejati untukku, terima kasih kau menjadikan aku satu-satunya bidadari di hidupmu. Karena itu aku merasa kepergianku tenang dan bisa meninggalkanmu dengan senyuman.”


Harvan membeku dihadapan sang istri yang seolah menghipnotis dirinya. Tak lepas sedikitpun tatapannya memandangi wajah istrinya yang bersinar kala itu, memancarkan kilauan cahaya yang semakin memberikan pesona pada mata indah dan bibir merah delimanya.


Sementara diruang monitor, Jodi dan beberapa crew yang tengah menyaksikan perbincangan antara Harvan dan Istrinya, merasa tersentuh dengan penampakan itu. Bagaimana tidak? Apa yang mereka lihat seakan nyata. Mereka melihat Harvan mulai meneteskan buliran bening pada sudut matanya.


Jodi pun mulai merasakan matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya bertemu kembali dengan istri tercintanya. Ia merasakan sesak di dadanya kala mengingat kematian Intan adalah karena ulah istrinya sendiri. Ia merasakan sesal dihatinya, mengapa harus istrinya yang menjadi malaikat maut bagi istri sahabatnya itu.


“Sayang, aku bahagia bisa melihat dan menyentuhmu kembali, aku bahagia dapat melihat senyumanmu lagi. Aku ingin selamanya seperti ini, aku tidak bisa jauh darimu. Ku mohon kembalilah dalam kehidupanku, aku terlalu mencintaimu sehingga aku selalu memikirkanmu. Hal yang paling menyesakkan hatiku adalah mana kala putri kita menginginkan kehadiranmu bersama kami. Aku bisa membahagiakannya memberikan apa yang ia mau, tapi hanya satu yang tidak bisa aku kabulkan dari permintaannya, adalah kembali membawamu kedalam sisiku.” Getaran Harvan tercurah kala ia ucapkan itu dengan linangan air mata yang tak ia sadari mengalir deras dari sudut matanya.


“Sayang, sadari lah bahwa ini adalah takdir dari yang yang Maha Kuasa. Ingatlah bahwa Tuhan mempertemukan kita tidak hanya di bumi ini, tetapi di kehidupan yang akan datang. Yakinlah jika Tuhan akan mempertemukan kita lagi di kehidupan nanti. Percayalah bahwa semua yang terjadi adalah atas ridhoNya, maka kau pun harus ridho akan ketetapannya. Sedih dah bahagia adalah bagian dari takdir setiap umat manusia. Kehidupan dan kematian pun adalah bagian dari takdir itu. Maka bersabarlah, suatu saat nanti di tempat terindahNYA, kita akan bersama kembali. Kau hanya perlu menunggu waktu itu sebentar saja.”

__ADS_1


Harvan mendekap erat tubuh istrinya itu seakan tak ingin lepas. Pecah kesedihannya kala itu. Luluh jiwanya kala sang istri mengatakan semua itu. Terlalu berat beban hatinya ditinggalkan wanita yang paling ia kasihi, yang telah dengan susah payah ia temukan kembali. Waktu, air mata dan darah ia korbankan untuk sampai dapat meraih kehidupan yang singkat bersamanya, namun kini telah direnggut kembali.


Sepertinya Jodi dan para crew tidak kuat melihat drama yang ia saksikan dalam layar monitor itu, kemudian,


“Har, sudah cukup ya untuk hari ini.” Suara Jodi membuyarkan semua rasa yang sahabatnya rasakan itu.


“Oke.” Jawab Harvan perlan.


Kemudian Jodi menghampiri Harvan dan melepaskan VR tersebut dari mata Harvan.


Semua crew terdiam kala melihat Jodi membawa Harvan kearah mereka yang berdiri di depan layar monitor.


“Bagaimana Har? Apa produk ini cukup dapat mewakilkan perasaan orang yang rindu akan seseorang yang telah pergi?!.


“Gue yakin produk ini tepat untuk mereka yang rindu pada seseorang yang ia kasihi.” Ucap Harvan sembari menyeka sisa air mata pada pipinya.


Kemudian mereka semua mengakhiri uji coba pada produk baru yang akan mereka distribusikan di pasar dunia termasuk negara kita tercinta ini.


Tanpa terasa waktu pun telah menunjukan bahwa mereka harus mengakhiri segala aktivitas kantornya.


Harvan seperti biasa memangku anaknya meninggalkan gedung kantor itu, di ikuti Jodi yang selalu setia mendampingi mereka dimanapun.


Setelah mereka menempuh perjalanan yang cukup melelahkan karena kemacetan yang telah mereka lalui, akhirnya mereka sampai di rumah yang memberikan kenyamanan untuk mereka beristirahat.


Harvan langsung membawa putrinya kedalam kamar mereka. Membersihkan diri bersama putrinya, kemudian setelah selesai mereka berdua berlalu ke lantai bawah.


Jodi terlihat dilantai bawah pada sebuah taman, tengah menggunting daun-daun kering pada beberapa tanaman.


Harvan dan putrinya mendekat kearah Jodi.


“Elo udah lihat ruang green screen di rumah ini? Yang di pakai ruang sebelah kamar elo.” Kata Jodi yang tetap sibuk menggunting daun kering tanpa melihat ke arah orang yang ia ajak bicara.


“Belum, nanti saja, yang penting udah selesai.” Jawab Harvan yang melepas pangkuan putrinya, dan membiarkan putrinya itu berlari ke arah gazebo yang terletak agak jauh dari taman tempat mereka berbincang.


Sepanjang mereka berbincang, mereka memperhatikan Harin yang tengah duduk pada gazebo yang tidak jauh dari kolam renang.


Namun ada penampakan yang sedikit aneh. Terlihat Harin sesekali tertawa lepas dan seperti tengah berbicara dengan seseorang. Sementara yang mereka lihat Harin hanya duduk sendiri di gazebo tersebut.

__ADS_1


“Eh Har, coba elo perhatiin putri elo baik-baik.” Kata Jodi menunjuk Harin dengan wajahnya pada Harvan.


“Iya, gue lihat, dia senang banget ketawa-ketawa.” Kata Harvan sembari menjuruskan pandangan pada putrinya.


“Tapi ada yang aneh loh Har, dia kelihatan kayak lagi ngobrol sama seseorang gitu, sementara yang kita lihat gak ada siapa-siapa disana.” Jelas Jodi yang matanya terus memperhatikan Harin.


Harvan memperhatikan putrinya dengan serius, ia pun mulai tersadar akan keanehan yang Jodi tuturkan padanya. Memang ia melihat Harin seperti tengah berbincang dengan seseorang namun mereka melihat tak ada siapun yang bersama putrinya itu.


Kemudian Harvan dan Jodi mendekati Harin yang tengah tertawa-tawa riang.


“Anak ayah terlihat sangat bahagia sekali.” Kata Harvan yang tiba-tiba muncul di belakang putrinya.


“Iya ayah aku sangat senang sekali.” Jawab Harin.


“Eh Harin, tapi om lihat kamu seperti sedang berbincang dengan seseorang.” Ujar Jodi yang mendekati Harin dan duduk di sampingnya.


“Hehe, iya aku sedang berbincang dengan tante Ihot.”


“WHAT!!!” Jodi terkejut dan sedikit melompat menjauh dari Harin, kemudian ia mendekat pada Harvan lalu menarik Harvan menjauh sedikit dari Gazebo itu.


“Eh Har, bukannya Ihot itu nama macan putih miliknya si Emak?. Putri elo panggil makhluk itu tante, berarti macan betina kali ya?.” Bisik Jodi pada Harvan yang matanya tidak lepas memperhatikan Harin.


“Iya mungkin saja, tapi apa benar ya apa yang Harin bilang itu.” Heran Harvan yang matanya juga sama memperhatikan Harin.


“Bisa saja benar Har, soalnya ini kan jelang Maghrib, kata orang tua dulu, waktu-waktu seperti ini waktunya makhluk alam gaib keluar.” Jodi yang mulai merinding mengusap tengkuknya.


“Mungkin cuman Harin yang bisa melihat kehadiran si Ihot itu ya Jod?.” Selidik Harvan dengan matanya yang terus melihat aktivitas putrinya itu.


“Iya Har, mungkin mata kita sudah banyak melihat dosa jadi tidak bisa menembus alam gaib.” Ujar Jodi.


“Iya bisa jadi begitu, apalagi mata elo dah banyak ditutupin pandangan buaya elo haha.” Kelakar Harvan.


“Anjir! Haha, bisa aja luh, ayo ah kita masuk, perasaan gue udah gak enak, mulai menangkap aroma mistis disini.” Bergidik Jodi yang kemudian berlalu pergi masuk kedalam rumah.


Lalu Harvan mendekat ke arah Harin,


“Ayo sayang kita masuk, udah mau adzan Maghrib, gak baik anak kecil diluar.” Ajak Harvan pada putrinya seraya membawanya kedalam pangkuannya dan masuk ke dalam rumah mereka.

__ADS_1


❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️


__ADS_2