
Pada saat pak Ahmad akan melangkahkan kaki nya ke dapur tempat suara anak-anak perempuan itu berasal, tiba-tiba sang istri menarik tangannya dan membawanya ke kamar mereka.
“Bapak sudah pulang?.” Sapa sang istri yang kemudian mencium punggung tangan suaminya.
“Iya tadi sedikit ramai di dermaga. Oya ma, itu di dapur saya mendengar Sulaiman seperti tengah berbincang, dan saya mendengar suara anak-anak perempuan.” Tanya pak Ahmad.
“Ya itu dia pak, ada hal yang ingin saya ceritakan pada bapak mengenai anak-anak perempuan temannya Sulaiman itu.” Kata bu Aminah.
“Emangnya ada apa ma?.” Tanya pak Ahmad penasaran.
“Sulaiman menemukan dua anak perempuan itu di dekat terminal. Menurutnya anak-anak itu korban penculikan.”
“Apa! Korban penculikan!.” Pak Ahmad terkejut.
“Iya pak, katanya mereka kabur dari penculik itu, mereka berasal dari Jakarta dan datang ke tempat ini untuk mencari neneknya, cuman mereka tidak hafal nama daerah neneknya itu. Jadi mereka meminta bantuan kita untuk menemukan dimana neneknya itu tinggal.” Jelas bu Aminah.
“Kenapa Sulaiman tidak membawa anak-anak itu ke kantor polisi saja. Bukankah polisi akan lebih mudah mencarikan nenek mereka?.” Kata pak Ahmad.
“Kata Sulaiman tadi juga dia mau membawa mereka ke kantor polisi, tapi mereka tidak mau, mereka ketakutan makanya Sulaiman membawa mereka kesini.” Jelas bu Aminah kembali.
“Oh begitu?.”
“Iya, makanya nanti sehabis shalat maghrib kita duduk bersama dengan mereka, kita tanyai mereka, mudah-mudahan dalam waktu yang cepat kita bisa mengantarkan mereka ke rumah neneknya.”
“Baiklah kalau begitu ma, ya sudah bapak mau ke dapur dulu menemui mereka.” Kata Pak Ahmad.
Lalu pak Ahmad berjalan ke arah dapur di mana Harin, Revy dan Sulaiman tengah menikmati makannya.
Pada saat pak Ahmad memasuki dapur, ketiga anak yang berada di sana melihat ke arah pak Ahmad, kemudian.
“Pak.. ini mereka….” Sebelum Sulaiman menjelaskan, pak Ahmad sudah memotong.
“Iya bapak sudah mendengar tadi dari ibu. Nanti kita bicarakan sehabis maghrib ya, sekarang kalian makanlah dulu.” Ucap pak Ahmad yang terkenal bijak itu.
“Bapak terima kasih sudah menerima kami disini.” Kata Revy.
“Sama-sama nak, bersyukurlah Sulaiman yang pertama melihat kalian, yang di khawatirkan adalah kalian ditemukan oleh orang jahat yang akan memanfaatkan kalian.” Kata pak Ahmad seraya mengambil nasi dan lauk pada piring yang berada ditangannya.
“Ayo kita makan bersama, hanya saja begini keadaan disini, tentunya sangat jauh berbeda dengan keadaan kalian.” Kata pak Ahmad yang kemudian duduk di samping Sulaiman.
__ADS_1
“Kami betah disini kok pak, kalian orang-orang yang baik, begitu care pada kami dan mau menolong kami yang tersesat.” Jelas Revy.
“Sesama makhluk bukannya kita harus tolong menolong nak, selama bapak bisa bantu, bapak akan bantu kalian semampu bapak, jadi kalian jangan khawatir. Sekarang habiskan makannya kemudian mandilah, nanti sehabis shalat maghrib kita bicarakan masalah kalian ya.” Kata pak Ahmad.
“Baik pak.” Jawab Revy.
“Bapak, ikan Indosiar ini sangat enak, apakah bapak yang menangkapnya sendiri?.” Tanya Harin.
“Hehe, tentu saja bapak yang mengambilnya dari laut, karena menangkap ikan adalah pekerjaan bapak sehari-hari nak.”
“Wah bapak keren sekali, pasti ikan Indosiar ini susah nangkapnya karena dia bisa terbang.” Celoteh Harin.
“Hehe, bapak kan sudah berpengalaman nak, jadi urusan menangkap ikan bapak jago nya haha.” Kata pak Ahmad menghibur anak-anak itu.
Pak Ahmad begitu hangat saat bersama mereka, sehingga memberikan kenyamanan pada Harin dan Revy yang jauh dari orang-orang yang menyayangi mereka.
Bertemu dengan Sulaiman merupakan keselamatan bagi mereka, karena kini mereka berada bersama orang-orang yang baik, yang akan memberikan ke amanan bagi mereka.
*
Sementara itu di pondok emak, nampak Harvan dan Jodi tengah bersama emak di ruang tamu sederhana pondok itu.
Setelah tadi mereka menikmati mie ayam dan tertidur di atas dipan, tak lama dari itu emak pulang dari padepokan ke pondoknya, dan menemukan mereka yang tertidur pulas. Kemudian emak membiarkan mereka sampai mereka terjaga dengan sendirinya.
Jodi yang menyaksikan kesedihan Harvan hanya melihat dengan perasaan sedihnya, meski banyak usaha yang telah ia lakukan, tetapi tetap saja kejadian yang tidak ia inginkan terjadi. Karena kita sebagai manusia hanya bisa mengusahakan, namun kembali yang menentukan adalah Tuhan.
“Jangan terlalu bersedih nak, yakinlah putrimu akan baik-baik saja, dia adalah putri yang sangat kuat, emak yakin dia mampu bertahan hidup walau jauh darimu.” Kata emak.
“Sudah beberapa malam dalam mimpi, emak didatangi Intan, di dalam mimpi itu ia nampak sedih, emak tidak tahu kenapa dia se-sedih itu. Tanpa mengatakan apa pun ia terus saja pasang muka muram. Hanya kata Harin yang terus ia ucapkan. Akhirnya malam kemarin emak menyuruh anak emak Ihot untuk melihat keadaan Harin, setelah tengah malam Ihot kembali pada emak, dan mengatakan bahwa ia menemukan putrimu dengan temannya di sebuah bangunan yang terkunci rapat, akhirnya Ihot membawa merela keluar dari sana.” Jelas emak.
Mendengar penjelasan emak, sontak Jodi dan Harvan terperanjat membulatkan matanya.
“Jadi yang membantu Harin keluar dari sana Ihot mak??.” Tanya Jodi terkejut.
“Iya, Ihot bilang dia telah membebaskan anak-anak itu.” Kata emak.
“Lalu dimana Harin dan Revy sekarang mak?.” Tanya Harvan.
“Pada saat Ihot akan mengantarnya pulang mereka tidak mau.” Kata emak kembali.
__ADS_1
“Apa! Tidak mau! Kok bisa begitu mak, apa Harin tidak rindu padaku?.” Kata Harvan dengan mata yang sembab.
“Biarkanlah mereka mencari jalan pulang sendiri nak, percayakan pada mereka, bahwa alam mengajarkan kemandirian pada mereka dan mengajarkan Bagaimana mereka dapat bertahan hidup diluar sana.” Jelas emak.
“Tapi mereka masih kecil-kecil mak, bagaimana bisa Harin bertahan hidup, makan dan mandi saja dia masih dibantu oleh orang lain, diluar lebih jahat mak, saya khawatir Harin kenapa-napa.” Harvan dengan penuh kecemasan.
“Putrimu itu anak yang hebat, Ihot mengatakan pada emak ia mampu bertahan dalam kondisi yang sulit, dan percayalah dalam waktu dekat mereka akan pulang kesini.” Jelas emak kembali.
“Apa!! Tidak mak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana Harin dapat bertahan hidup diluar sana.” Kata Jodi dengan kekhawatirannya.
“Dugaan kalian adalah hasil dari ketakutan yang kalian ciptakan sendiri, dan perlu kalian tahu! Apa yang kalian pikirkan itu tidak sama dengan apa yang mereka rasakan sekarang, bahkan Harin banyak mendapatkan pelajaran hidup dalam petualangannya.” Jelas emak.
“Benarkah itu mak?.” Tanya Harvan
“Tentu saja benar, makanya buang kecemasan yang berlebihan itu dalam dirimu dan yakinlah bahwa putrimu sekarang baik-baik saja. Ia kini tengah bersama keluarga yang sangat baik dan dalam waktu dekat mereka akan mengantarkannya kemari.” Jelas emak kembali.
“Kapan mak mereka akan mengantarkan Harin kesini?.” Tanya Jodi.
“Kalau Harin sudah siap pulang, tapi sepertinya dia masih menikmati petualangannya, saking menikmatinya sampai ia tak ingat dan tak merindukan kalian hihi…” tutur emak.
(Yaelah.. selalu aja ada tawa lampir nya ah, dasar emak.) bathin Jodi.
“Apa! Bagaimana mungkin Harin tidak merindukanku mak. Selama hidupnya dia tak pernak lepas dariku, apa dalam waktu yang hanya hitungan hari, bisa dengan cepat mengubah dirinya?.” Protes Harvan.
“Petualangannya telah banyak mengajarkan padanya tentang arti kehidupan nak, maka jika memang kau sayang padanya, biarkanlah ia menikmati pengalamannya, karena pengalaman ini yang mendewasakan dirinya. Waktu tidak akan pernah diputar kembali, maka doakan lah ia dalam pencarian jati dirinya.” Jelas emak.
Harvan dan Jodi terdiam, meski hati mereka tak rela dengan apa yang emak ucapkan, tapi semuanya memang benar. Kecemasan yang berlebihan lah yang telah menciptakan rasa takut dalam diri mereka.
“Kalian tunggulah disini atau kalian mau kembali ke Jakarta sampai Harin tiba disini, silahkan terserah kalian. Yang jelas Harin sekarang dalam keadaan baik-baik saja.” Jelas emak.
“Jika kalian tidak percaya, nanti malam kalian boleh tanya sendiri pada anak emak Ihot.” Sambung emak.
“Oh tidak. Tidak mak, terima kasih, rasanya aku belum siap bertemu dengan putri emak yang berbulu lebat itu, mungkin ayahnya Harin yang telah siap bertemu dengan adik Ihot yang manis itu.” Kata Jodi yang mulai merinding.
“Sialan luh!.” Bisik Harvan pada Jodi.
“Hehe, saya juga belum siap mak, bukan takut tapi saya malu he.” Sambung Harvan Ciut, kala membayangkan seandainya ia bertemu dengan macan putih betina itu.
“Baiklah kalau begitu. Kalian pikirkanlah dulu, mau menunggu disini dalam beberapa hari atau pulang dulu ketempat kalian, dan baru datang kemari lagi seandainya putrimu telah kembali kesini.” Kata emak seraya berlalu kedalam kamarnya karena adzan maghrib telah berkumandang.
__ADS_1
Akhirnya Jodi dan Harvan pun berunding yang hasilnya mereka ingin menunggu Harin di pondok emak saja sampai beberapa hari kedepan.
😻😻😻😻😻😻😻😻😻😻😻😻😻😻😻😻